Arsip Tag: tour

Rent Jeep in Bromo

Bromo Tour tour to visit Bromo will better when you profite  your moment, to see the most splendor sunrise and see the panoramic view of Bromo you need climb up to the higher point  Penanjakan Peak, and to get to this point the  route is accesible only by Jeep 4×4 from Cemoro Lawang Village or from Ngadisari Viilage,  jeeps  4×4  during week end or public holiday, perhap  will be an tresors as the jeep demand is very high but total jeep  available will not sufficient.

Rent jeep 4×4 in Bromo

Being located  in Bromo, our team offers  reservation service to book Jeep 4×4 for Bromo Tour as  along time as possible before you tour to Bromo. Our team supported by 50 jeeps driver Bromo area who have a good atitude and dedication,  we ready to pick you up from your  Hotel in Bromo Area or from Probolinggo train station or in Surabaya or Malang.

You need to book Jeep 4×4 for Bromo Tour ?

Please book jeep 4×4 for Bromo Tour to BROMO IJEN RENT CAR our team  ready in 24 hours to provide you the service and contact us !

Iklan

Borobudur and Prambanan Tour from Semarang Port

Borobudur Prambanan Tour
is Semarang shore excursions to visit both Borobudur Temple the world’s biggest Buddhist ancient monument built at 8th century and Prambanan Temple the most biggest Hindu temples complex in central Java built at 9th century from Semarang Port. Borobudur Prambanan Tour Package only suggested if your ship stay longer at Semarang Port with departure after 19.00… further information http://semarangtour.com/borobudur-and-prambanan-tour-from-semarang-port.htm

Yogya Tour Indonesia

You seek an reliable tour operator and travel service in Jogjakarta ?

Yogya Tours Indonesia (www.yogyatours.com) is very recommended tour operator and travels service  located in Jogjakarta  for you to visit the tourist objects in Jogjakarta  Yogya Tours Indonesia is a travel shop offering the tour service to visit Jogjakarta such as:

Jogjakarta Tour Packages
Yogya Tour Indonesia (www.yogyatours.com) has a good experience to provide the best tour package on regular tour package or tour package by client request for individual or by group. We offer tour packages both local tour package such as: Borobudur One day Yogyakarta Dieng Tour Package or overland tour package such as: Jogjakarta Bromo Ijen Tour Package.

Rent Car in Jogjakarta
Yogya Tour Indonesia c(www.yogyatours.com) offer you the rent car service to run the tour itineraries as mentioned as tour package use all new kind of coach and conducted by English speaking driver

Yogyakarta Bromo Ijen Tour (5 days 4 Nights)
This tour package allow you to visit tourist attractions such as Jogjakarta, visit Borobudur, visit Bromo and visit Ijen Crater before transfer to Bali. Yogyakarta Bromo Ijen Tour Itinerary is as followed:

Day 01Arrival at Yogyakarta Prambanan Temple Tour
On arrival in Yogyakarta airport pick up and Visit Prambanan the biggest and the most beautifull hindu temple in Java where we could see the Ramayan History depicting on the wall of the temple , direct transfer to hotel for overnight.

Day 02 Yogyakarta City Tour and Borobudur Temple Tour
Breakfast at hotel. Morning, proceed Yogya City Sightseeing visiting Kraton (Sultan’s Palace), Bird Market, Water Castle, Sonobudoyo Museum, Batik Home Industry and Silversmith at Kotagede with its processing and beautiful collections. Then, drive to Borobudur to admire one of the wonder worlds, Borobudur temple. On the way back to Yogya, visit Mendut and Pawon temples as well. Overnight at Santika. In the evening drive to Purawisata to have dinner and see the Ramayana Ballet Performance (as optional program)

Day 03 Yogyakarta Transfer to Bromo
Breakfast at hotel. Morning. drive to Bromo with stop at Solo visiting Mangkunegaran Palace and Triwindhu Antique Market. Then continued to Bromo for overnight at hotel in Bromo Area

Day 04 Bromo Tour and Transfer to Banyuwangi
Morning call at 03.00 AM and start BROMO TOUR at 04.00 AM to enjoy the Panoramic view of Tengger (Bromo and Semeru) and the splendid sunrise at Penanjakan the proceed to Mt. Bromo crater through the shimmering sea of sand. Breakfast at hotel. Leaving for Ijen crater via Banyuwangi

Day 05 Ijen Crater Tour and transfer to Bali
Breakfast at Guest House. Early morning depart to the whole day excursion to Mt. Ijen. Ijen Crater shows a special type of volcanic feature common to Indonesia, about 1 km in diameter and 175 meters deep. The floor is covered completely by a warm lake, milky blue green in color, held back by a dam built many years ago by the Dutch, in order to keep the hot mineral, laden water from raining for the crop lands below. Trekking down the mountain and rejoin the coach and directly drive to Ketapang, Banyuwangi, the ferry harbour, to cross to Gilimanuk harbour Bali. Three hours later you will arrive at your hotel in Kuta / Sanur / Nusa Dua area.

Inclusions
1.Hotels
– 2 Nights at Jogjakarta
– 1 Night at Bromo
– 1 Night at Banyuwangi
2. Transport with AC Van
3. All entrances fees and admission
4. Local Tour guide
5. Jeep 4×4
6   Ferry boat fees

Need assistance or buy this tour package please contact us

Kapan Tour Guide Harus Pensiun

Ada tulisan mas Andi tentang enaknya menjadi tour guide dan juga ada lagi tulisan tentang mau kemana tour guide, semuanya adalah tulisan yang sangat menarik dan perlu dibaca, untuk dijadikan  sumber inspirisi kalau ingin menjadi tour guide yang sungguhan, diposting kali ini disuguhkan tentang tour guide yang pensiun.

Sekitar tahun 2006 setelah gempa bumi… selama tiga bulan sama sekali tidak ada jobs, dengan alasan situasi tidak aman, dunia pariwisata tergoncang, semua reservasi terkensel semua, semua kedatangan tertunda, effeknya masih terjadi tiga bulan kemudian, bahkan memerlukan bertahun-tahun untuk memulihkan image lagi sehingga orang akan merasa aman untuk datang lagi ke Yogyakarta, itulah masa yang teramat sulit bagi kehidupan tour guide

Betapa rapuhnya profesi tour guide hanya karena kaki lecet atau hanya dengan sakit  pilek dia harus kehilangan peluang minimal 1 hari kerja, apalagi ada isu yang lebih mendunia misalnya  penyakit menular seperti diare SEARS, Menengitis dll .. order langsung lepas, tourist kabur dan tak mau datang lagi,  ada isu terorist .. semua memindah liburan dari Indonesia ke negara lain yang lebih aman.., bencana alam apalagi .. turis tak lagi mau datang takut terken bancana..  Oleh karena bagaimananapun juga profesi tour guide adalah berhubungan langsung dengan turis , maka kehidupan tour dapat digambarkan dengan proverb “tourist datang,  ada uang,  itupun kalau ordernya tidak nyasar ke orang lain, tak ada tourist tak ada uang !!”

Inflasi sangat mempengaruhi nilai pendapatan tour guide, semakin hari  nilai rupiah yang didapat tidak digunakan untuk memenuhi kehidupan keluarga,  semakin hari semakin sulit  dengan pendapatan sebagai tour guide.  Ingin meningkatkan pendapatan tidak mungkin , manusia ada titik lelah sehingga order yang didapat maksimal  4 order perbulan, itupun kalau tanggalnya tidak bertabrakan satu  order dengan order yang lain, sebagai contoh order yang sangat tidak berisi  untuk satu order terdiri dari itinerary seperti dibawah ini:
hari 1 check in.(1 Jam)
hari 2 Borobudur dan City Tour. (5 Jam)
Hari 3 Prambanan tour .(3 jam)
hari 4 transfer to Airport. (1Jam)
Order yang  seperti di atas sangan tidak menguntungkan  walau durasi kerja adalah 4 hari akan tetapi  fee dihitung berdasarkan jam kerja sehingga  4 hari kerja hanya mendapatkan 10 jam kerja.  Satu kali order mendapatkan fee dari hasil kerja adalah  sebesar RP 150.000  dan sebulan  hanya dapat mengerjakan x 4 order (Rp 150.000x 4 = Rp 600.00), Rp 600.000 nilai yang teramat tipis untuk memenuhi kebutuhan pokok sebulan.  Pendapatan yang tidak dapat diprediksi adalah dari hasil  komisi, tips tamu yang apabila dikumpulkan sebulan hanya berkisar RP 400.000. Jadi kalau ditotal semua satu bulan mendapatkan RP 1.000.000, sehingga untuk mendapatkan tambahan biasanya menjual tour optional, misalnya menjual  Ramayana Ballet, dan hasilnya akan masuk kantong sendiri setelah dibagi dengan driver dll.

Dengan nilai sebanyak itu ketika harus di bagi-bagi  sesuai kebutuhan ternyata hanya dapat memuhi sebagaian kebutuhan pokok, untuk keperluan yang lain seperti jaminan social, kesehatan,  pengadaan kendaraan, tempat tinggal tidak pernah terpikirkan bagaimana caranya, karena memang tidak ada uang pendapatan yang tersisa untuk itu.

Seperti pada umumnya  tour guide akan bermimpi mendapatkan kehidupan yang sejahtera dan  lebih baik, mampu membeli pakaian baru buat anak dan istri, mempunyai rumah yang bagus, kendaraan yang nyaman, akan tetapi masa menjadi tour guide adalah masa dimana kita memenjarakan diri atau memaksakan diri dengan keadaan,  keadaan dimana  tour guide mau tidak mau, untuk sehari berkerja selama 10 jam hanya mendapatkan maximal RP 75.000. Ingin meminta tambah fee, tidak memungkinkan karena pasar mengatakan bahwa guide fee itu sehari hanya sampai Rp 75.000, apabila tour guide  meminta kenaikan tour guide  akan terdesak oleh  teman seprofesi yang mengatakan “Mas …. (isilah titik ini) order kanggo aku wae, aku dibayar berapun mau, asal order itu buat aku  !”.

Masa pakai tour guide digambarkan sebagai diagram hiperbola, yang manjelaskan bahwa fase  masa pakai seorang  tour guide, seperti berikut:

Fase 1, seorang tour guide pemula setelah keluar dari  masa penggemblengan di kawah candradimuka akan mengalami masa dimana dia harus mendapatkan existensi dengan mempromosikan dirinya ke mana saja agar dirinya dikenal sebagai pendatang baru.
Fase 2  adalah fase di mana tour guide mampu mangatasi fase pertama dan pada fase ini tour guide dapat  bekerja full power, laris manis dipakai dimana-mana  banjir duit tips, komisi dan optional.
Fase 3  adalah fase dimana tour guide menjadi low power karena  semakin aus, semakin lelah jiwa dan raga, jenuh dengan kegitan monotone dan  semakin dekat dengan banyak penyakit dan semakin tidak mendapatkan order, karena ditinggalkan oleh travel biro.

Melihat fase diatas sangatlah penting bagi tour guide melihat berbagai kemungkinan yang terjadi dengan diri tour guide sendiri dimasa mendatang, masa tua adalah masa masa dimana tour guide sudah tidak kuat lagi memanjat candi Borobudur, tidak kuat lagi naik ke gunung  Bromo, melihat teman seprofesi yang terkena strok ,yang  mati terkena serangan pada saat berkerja, masa dimana anak-anak tour guide mulai memerlukan biaya yang sangat tinggi untuk melanjutkan sekolah.  Berprofesi sebagi tour guide, bukan  seperti buah kelapa semakin tua semakin banyak santannya, guide semakin tua, bukan semakin baik, akan tetapi semakin tua tour guide semakin tidak ada yang mau memberi order, dengan alasan semakin tua tour guide semakin beresiko mati saat sedang guiding, atau semakin tua semakin pikun , sedangkan  sang pemberi order tidak mau mananggung resiko itu kematian tour guide, atau dikomplain tamu karena mempekerjakan seorang yang sudah udzur.

Keadaan semakin lama semakin tidak menguntungan, oleh  karena itu  tour guide harus memikirkan untuk segera menggantungkan seragam batik sebagai  tour guide, dan harus dipertimbangkan dan dikaji akibat buruk dan akibat baiknya terlebih dahulu, sehingga tidak manyesal dikemudian hari dengan keputusannya untuk menggantungkan seragam batiknya,  dan setelah itu  tour guide diharapkan segeralah berpamitan dari dunia perguide-an dan pensiun menjadi tour, adalah sebuah solusi yang terbaik… selagi ada waktu untuk bermanuver mengatasi waktu tua seorang tour guide.

Loh kok pensiun bukannya nanti tidak ada pendapatan ?? Iya betul tidak ada pendapatan dari bekerja memandu, akan tetapi  sangat disaran untuk tour guide yang sudah tidak enjoy dengan profesi, atau lelah psikis dan fisik untuk segera mengakhiri profesinya sebagai tour guide,  karena dengan mamaksakan diri untuk bekerja dengan semangat yang tidak maksimal akan mengakibatkan hasil yang tidak maksimal sama sekali, dan dengan hasil yang tidak maksimal karena kelelahan psikis dan fidik, yang akan mengakibatkan tour guide menjadi bahan pergunjingan bagi orang yang melihat misalnya “wong wes tuwo kok isih guiding,  gak tahu diri, wes tuwo  kok srakah, dll “. Oleh sebab itu untuk mengantisipasi masa tua yang  tidak sejahtera,  tour guide harus jauh-jauh hari memikirkan usaha lain di luar dunia perguidan.

Usaha apakah yang cocok untuk tour guide atau tour guide yang sudah pensiun ?
untuk seorang guide tentu saja yang berhubungan dengan dunia pariwisata betahun-tahun tentunya akan lebih baik kalau mempunyai usaha yang berhubungan dengan dunianya karena tidak perlu belajar dari nol, misalnya punya transport, punya hotel resort, atau ikut usaha yang dirintis oleh istri misanya buka restaurant, toko pakaian dll ataupun usaha yang berhubungan dengan hobinya misalanya buka bengkel atau beternak ikan lele ataupun buka pemancingan yang membuka terjadinya perjudian yakni mancing dengan sistem kompetisi atau membuka lahan yang ditanami tanamana misalanya pohon gaharu, jati atau tanaman dll.

Kesimpulan:
Dengan  pensiun  sebagai tour guide akan mandapatkan waktu  akan terfokus untuk menciptakan aktivitas yang akan lebih mandapatkan banyak uang dengan tanpa berpanas-panasan diterik matahari, tampa mengeluarkan air liur untuk berbicara didepan bus.., ngajak tamu berkunjung ke segitga emas  atau ke KKK, tanpa stress dengan pedagang asongan, tanpa makian karena tidak mendapatkan gratuity, tanpa kekecewaan dengan order yang terkensel, dan yang penting tampa dering telephon… ah tidur nyenyak , dan bulan Agustus dapat berlibur bersama anak-anak………

Note: Posting ini adalah pendapat pribadi penulis, bukan pendapat HPI

Berkah Pasir Merapi

Berkah aktivitas Merapi 2010 sungguh mencengangkan bersanding dengan penderitaan dan ujian kesabaran. Erupsi besar sejak 26 November itu telah mengeluarkan lava dan lahar efeknya mematikan, abu panas 400an derajat menggumpal tebal bergulung-gulung mengandung pyroclastic sehingga warga menyebut karakter erupsinya‘wedhus gembel’. Namun erupsi Merapi membuat endapan tanah kelak sesudahnya menjadi amat subur menghidupi penduduk, melahirkan peluang lava tour dan berkah butiran material pasir terbaik di dunia dalam jumlah fastastik dan merupakan bahan material bangunan kwalitas nomer satu paling diburu Toko-toko Penjual Bahan Bangunan.

Tujuh bukit sekitar puncak gunung kini rata dipenuhi pasir vulkanik. Dari 12 Sungai yang mengalirkan lahar Merapi, erupsi kali ini membuat Sungai Gendol dan Boyong yang berkedalaman 3-5 meter jadi penuh tumpahan material pasir. Total volume pasir yang dimuntahkan sejumlah 140 juta M3. Jika diperkirakan per-M3 sesuai harga pasar sekarang maka erupsi kali ini, menurut sebuah sumber melahirkan keuntungan bagi penduduk sepanjang Kali yang dilewati mencapai nilai Rp 7 Triliun, subhanallah.. Inikah nikmat di balik anugrah bersahabat dengan aktivitas Merapi..

Kian jauh aliran material pasir Merapi mengalir, berarti kualitas pasirnya kian bagus, otomatis harga jual jadi lebih mahal. Tumpukan material vulcanik Sungai Gendol di hulu atas mengalir ke Cangkringan terus menuju hilir Kali Opak di bawah hingga wilayah Prambanan, di Klaten dst..Sedangkan aliran pasir Sungai Boyong bergerak ke arah Kali Code dan menumpuk di selatan. Warga sepanjang kali 12 Kelurahan se-Kotamadya misalnya siaga memantau ketinggian lumpur, berjibaku mengeruk endapan dan meninggikan bantaran Code dengan karung berisi pasir dilengkapi tiga buah back-hoe, tak sedikit pula yang menambang dadakan untuk penghasilan mereka.

Di daerah Surokarsan selatan Jembatan Sayidan Kota Yogyakarta, usai masa kerja bakti warga bekerjasama dengan Pengusaha Material Bangunan menambang pasir Merapi. Kendaraan truk besar berjejer dan bergantian keluar masuk membawa material pasir. Hingga hari Rabu 24/11 seorang Pengurus Rukun Warga mengatakan telah berhasil menambang 20 truk dan sebelumnya 25 truk berisi pasir hingga total sejumlah 45 truk mereka peroleh. Lebih ke selatan lagi ke wilayah Bantul, tak sedikit pula warga memiliki penghasilan tambahan dari menambang pasir kiriman Merapi.

Jika saja gedung-gedung tinggi kota-kota seperti Jakarta tak lagi mendapatkan material pasir Merapi, pasti kualitas bangunan tak sekokoh yang diharapkan. Jika saja penghuni tiap kantor mengetahui, bahwa material gedung berasal dari pasir Gunung Merapi, penderitaan paska erupsi 2010 akan dibayar dengan jalinan tali rahim kemanusiaan, seperti Semangat Rakyat Jogja memulihkan kondisi paska bencana yang mulai berlalu. Bahwa butiran pasir itu bagai alunan harapan masa depan kehidupan yang asri bersama warga lereng Merapi.***

Website milik seorang guide

Ketika http://www.hpijogja.wordpress.com dibuka .. loh kok di bagian bawah kanan ada link ke Java Voyages, terus mengapa  itu mesti dibahas dalam blog HPI Jogja ??

Ya itu betul ada link ke www.javavoyages.com, dan sangat perlu untuk dibahas karena itu sebuah website yang pertama kali di Jogjakarta yang dibangun oleh  tour guide member HPI Jogja  yang dirintis mulai tahun 2000 dan mulai on line pada tahun 2004, dibuat hanya dengan menggunakan bahasa pemprograman dan html editor yang sangat sederhana yaitu MS Front Page.  Masa  itu internet adalah barang langka dan mahal, warnet belum marak seperti pada saat ini, alat komunikasi tercanggih adalah handphone itupun belum ada fasilitas SMSnya. Itulah  awal dari terobosan yang luar bisa yang dilakukan oleh  salah seorang member HPI untuk berpartisipasi  di dunia pariwisata, yang telah melampaui travel biro dalam berkiprah di dunia pariwisata pada saat itu dan  masih berlaku pada masa sekarang, betapa tidak saat itu memberi kartu nama kepada tamu yang dibawa adalah tabu dilakukan oleh seorang guide, akan tetapi tour guide ini tour guide ini malah membuat website !!. Website yang ada pada saat saat itu hanya dimiliki oleh perusahaan-perusahaan  besar seperti Hotel, Exporter, Pemerintah, Sekolah, bukan individu seorang Tour guide  sedangkan website travel biro, kadang tidak berdiri sendiri, hanya titip iklan di sebuah website yang memang mengiklankan perusahaan  penyedia jasa atau  services, bareng-bareng berjamaah dengan yang lain.

Terobosan yang sangat furistik untuk seorang guide pada saat itu, tidak saja satu langkah lebih maju, akan tetapi ribuan langkah lebih maju dari pada stokholder pariwisata Jogja yang ada hingga saat ini belum ada yang dapat menandinginya, sehingga tour guide semacam itu dapat dikatakan sebagai tour guide yang futuristic tour guide atau sophisticated tour guide, sebutan yang pantas untuk seorang tour guide yang bervisi  jauh maju ke depan menyongsong era globalisasi dengan memanfaatkan teknologi internet yang menjadi  sarana utama komunikasi di jaman modern, dengan mengabaikan aura kehebatan Jogja Golden Triangle seperti yang pernah dibahas dalam artikel sebelumnya yang merupakan daerah mistis yang ada ditengah kota Jogjakarta.

Website tersebut sempat menggegerkan dunia pariwisata Jogja, sampai pada seorang manager travel biro di Jogja kebakaran rambut, sehingga harus memprovokasi travel biro yang lain untuk tidak memberikan order, akan tetapi aksi ini pada akhirnya tidak berhasil, karena tidak dapat membendung sedikitpun langkah maju yang dilakukan tour guide tersebut, hingga akhirnya sang manager malu sendiri dengan ucapannya yang telah menuduh tour guide yang membuat website sebagai terorist pariwisata. Kok bisa ….ya seperti itu ?? Padahal dia  hanya seorang manager travel biro di Jogja yang hanya sebagai tangan kanan travel biro di Bali, yang notabene hanya menengadahkan tangan untuk mendapatkan order dan hanya  tahu  urusan mbagi transport,  ngorder guide, ngumpulke komisi artshop dan tidak pernah sama sekali terlibat dalam marketing, meyakinkan calon client untuk datang ke Jogja, … kok berani-beraninya menuduh tour guide yang harus membuat iklan obyek sendiri, setelah itu meyakinkan calon tourist untuk datang, mengquote sendiri, sebagai seorang tour guide sebagai terorist ???    Bagaimana nalarnya?? …mengapa banyak orang yang tidak menginginkan tour guide sejahtera dengan pariwisata.

Tujuan pembuatan website ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan sang tour guide, terhadap peranan seorang guide di bidang pariwisata di Jogja.  Dari tahun-ketahun tour guide suara tour guide tidak pernah didengar,  tour guide dilihat dari sebelah mata karena hanya dianggap sebagai pekerja yang hanya mempunyai pendapatan hanya dari blas kasihan dari pemilik travel biro yang memberi  guide fee yang hanya dihitung berdasarkan durasi  jam kerja, belas kasihan art shop untuk memberi komisi , belas kasihan touris yang dihandle untuk memberi tips,  gresek-gresek memanfaatkan sisa expend, dan menjual tour optional, akan tetapi tour guide ini mampu membuktikan  bahwa tour guide mampu berperan dalam  terjun langsung dalam dunia pariwisata, dengan membuat hubungan dengan calon tourist dari berbagai penjuru dunia secara langsung tanpa melalui  tangann ke-dua  ke-tiga  dan seterusnya.

Adalah kesalahan besar untuk seorang tour guide yang perkerjaannya sehari-hari berhubungan dengan tamu asing bahkan karena kedekatannya dengan tamu asing,  tour guide mendapat julukan sebagai ujung tombak pariwisata, akan tetapi tour guide tidak mempunyai keinginan, untuk memanfaatkan ladang pariwisata, hanya bergantung dengan travel biro-travel biro di Jogja, yang konon juga tergantung dengan tour operator-tour operator yang bermarkas di Bali. Borobudur, Prambanan dan  ladang emas lainnya  dibiarkan  saja dimanfaatkan oleh orang asing, sementara orang lokal hanya menunggu order dari orang asing yang mampu memanfaatkannya. Menunggu campur tangan birokrat, tidak mungkin, menunggu aksi dari travel biro, juga tidak mungkin,  semua stagnan akibat cara-cara yang tidak  sangat praktis sehingga Java Voyages  adalah acuan atau basic dari solusi praktis dan ekonomis  hasil  dari  reaksi  keprihatinan seorang guide sebagai ujung tombak pariwisata terhadap  keadaan Pariwisata di Jogja, yang diibaratkan sebagai “wanita telanjang, tetapi tidak ada seorang lelakipun yang berani memperkosanya, karena semuanya  impotent !!”. Sebagai tour guide yang langsung berhadapan dengan konsument harusnya lebih tahu apa kemauan, keinginan para pelencong yang datang ke Jogja, tapi mengapa tidak beraksi, mengapa tidak memanfaatkan moment yang sangat potensial ??

Lima tahun telah berlalu, sekarang tahun 2010, tapi ternyata sebagian besar  tour guide Jogja masih juga diam tidak ada reaksi, stagnan, menggantungkan nasib kepada orang lain lambat dan pasif tidak  terinspirasi  untuk  berani membagun website,  namun pernah terdengar ada seorang tour  guide  Jogja specialis bahasa Spanyol yang ingin yang mengikuti Java Voyages, dengan  sebuah membangun website dengan label http://www.yogyatourguide.com, dan website yang lainnya adalah http://www.javaholiday.com atau website bayangannya  http://www.javaholidays.com akan tetapi oleh tour guide pemiliknya website ini disuspended sampai sekarang ,  dengan berkamuflase  bentuk ke account facebook  dengan identitas yang sana yogyatourguide.

Ini besar kemungkinan tour guide pemilik website ketakutan dengan  ancaman sanksi travel buro untuk tidak memberi order lagi, atau memang yang bersangkutan ilmunya tidak sampai, sehingga secara psikologis  dan materi tour guide pemilik website itu belum siap dengan  segala resiko yang bakal diterimanya. Iya memang tour guide yang membuat website tidak akan lagi diberi order oleh travel biro  adalah wajar karena tour guide mempunyai kemampuan untuk mencari tamu sendiri dan menghandle sendiri  sudah  tidak lagi  selevel dengan pekerja  pariwisata,  tetapi dia telah mencapai tingkatan yang selevel dengan pemilik travel biro, hanya ada sedikit perbedaan, tour guide bekerja sendiri dan travel biro mempunyai banyak pekerja.

Betul sekali manusia dituntut untuk berinovasi, layaknya iklan sebuah motor, inovasi tiada henti, perkembangan yang ada harus disikapi dengan bijak, dan bervisi ke depan, jaman terus berubah, inovasi juga harus terus ber akselerasi, bila tidak , tentu hanya kan menambah jumlah penonton.  Thousand staeps ahead……seribu langkah ke depan…..betul terobosan yang dalam ilmu Fisika, sumbernya ilmu alam, sering dikatakan menembus batas ruang dan waktu.

Javavoyages.com, dengan kecurangan provider / server yang serakah, kebetulan mereka server lokal, pernah koma , alias sekarat, atau beku  atau hibernate, untuk tidak mengatakan SUSPENDED, yang tepat barangkali adalah dipause  break sebentar, karena sesuatu hal teknis, website  bersejarah ini, pernah di pecundangi server lokal yang ortodoks konvensional, sehingga request transfer, a la pemain bola Eropa, tidak di luluskan, sehingga pada saat masa tenggang umur sebuah web, habis, server dimaksud, dengan arogan memaksa perpanjangan di server asal, padahal server orisinalnya, sangat memiliki  banyak kelemahan.
Sekarang ini, membangun web, semakin selektif, sebentar lagi tentu akan ada peraturan mentri yang semakin menghambat, maklum birokrasi Indonesia setali tiga uang, susah diajak maju bersama. Bersyhukur pemain inovatif  berpikiran maju dan revolusioner seperti kawan kawan web designer yang sudah eksis di jagad lelmbut, mampu  melalui pencarian yang melelahkan, sampai mengadakan survey ke manca negara, mampu mendapatkan server internasional yang bermaskas di USA, tidak tanggung tanggung, bahkan kawan kawan tersebut, memiliki Portal  sendiri, yang adalah wadah pemain kawakan di jagad lelembutnya, Portal yang mewadahi paguyuban berskala nasional, satu tingkat di atas gabungan biro perjalanan yang semakin ter fragmentation, bila biro perjalanan masih menyusu induk biro travel besar di bali sebagai  penjual Grosir, maka paguyuban ini, justru hanya mewadahi penyedia wisata, yang mandiri, dalam arti yang sudah mampu menjual paket wisata langsung ke konsumen di  5 benua , sehingga dalam perkembangannya, justru kawan kawan revolusioner inilah, yang akan mendistribusikan clients mereka, ke Bali dan seluruh Nusantara, seperti yang pernah disebut dalam artikel Sumpah Palapa inspirasi tour guide.

Investasi memang mahal, tetapi   perubahan dan paradigma pariwisata sudah bergeser, perubahan yang high speed , “Tidak dapat menunggu” kita  jawaban ada di tangan kita, apakah mau ber inovasi, atau stagnan dengan sirkulasi turis seperti saat ini?????

NB: Tulisan ini untuk kalangan sendiri.

Tour guide sebagai pekerja atau pelaku pariwisata?

Ada wacana tentang tour guide, didalam dunia pariwisata tour guide itu menduduki fungsinya sebagai pelaku pariwisata atau sebagai pekerja pariwisata?? Sebelum berkesimpulan kita akan bahas terlebih dahulu  apa makna kata “perkerja” dan apa “pelaku” pariwisata itu ??

“Pekerja”  maknanya adalah orang yang bekerja di suatu lembaga atau pabrik, hanya sebutan yang berbeda yang  misalnya pekerja yang bekerja di rumah namanya jongos atau babu, di pabrik namanya buruh sedangkan yang berkerja di kantor swasta  adalah karyawan sedangkan yang bekerja di instasi pemerintah disebut pegawai., sehingga makna  “pekerja pariwisata” adalah orang yang bekerja di sebuah lembaga atau travel biro, sedangkan “Pelaku'” maknanya orang yang melakukan suatu kegiatan untuk menggerakan pariwisata, makna ini akan lebih jelas apabila digambarkan dengan contoh misalnya, “pedangang bakso adalah pelaku ekonomi mandiri”, makna ini dapat diturunkan di pariwisata sebagai “orang yang melakukan kegitan didunia pariwisata”

Di dunia nyata  pariwisata  yang disebut “pekerja pariwisata” adalah orang orang yang bekerja  di sebuah instansi yang bergerak dalam dunia pariwisata seperti karyawan sebuah travel biro, karyawan hotel, sopir bis wisata. Sedangkan yang disebut “pelaku pariwisata’ adalah orang yang berkatifitas menggerakkan parivisata  misalnya: pengusaha treval biro, pengusaha hotel, pengusaha transport jadi lebilnya lebih tinggi dari pekerja pariwisata.

Kedudukan tour guide adalah sangat flexible karena dapat menjadi “pekerja” atau  “pelaku” pariwisata bahkan guide dapat menjadi kedua-duanya sekaligus  “pekerja dan pelaku” pariwisata tergantung kemauan tour guide itu sendiri:

1. Menjadi “pekerja” pariwisata  ketika dia bekerja untuk sebuah travel biro dia adalah perkerja pariwisata, sehingga kreatifitas dan inisitif kerjanya dibawah kontrol sebuah travel biro dimana dia bekerja. Guide tinggal duduk manis nunggu order, jika tidak ada order ya harus  telpon kantor biro perjalanan

2. Menjadi “pelaku” pariwisata  ketika tour guide mampu mengontrol secara absolut kegiatan perjalanan wisata mulai dari mendatangkan pelancong, mengurusi, sebuah perjalanan wisata, dalam hal ini dia bertindak sebagai mempunyai kekuasaan untuk memperkerjakan tour guide yang lain, transport, hotel, dan tentunya mendapatkan profit sesuai dengan fungsinya sebagai pelaku pariwista

Namun  sebagian besar tour guide menempatkan dirinya pada posisi no1  yaitu sebagai “pekerja” karena hanya mengambil segi praktisnya saja…   tidak ingin sesuaitu yang agak sulit.  Sesuatu yang perlu difahami bahwa sebaik-baik  dan sesukses apapun “pekerja” adalah tergantung orang lain.

Artikel ini tidak dapat dipertanggung jawabkan secara akademis dan ditulis untuk kalangan sendiri