Arsip Kategori: Cerita Budaya

One Day Borobudur and Prambanan Tour

Borobudur Temple

Borobudur temple

Buddhist monument constructed at 8th century when Central Java still a Buddhist kingdom.  Borobudur devided into three levels that symbolize of Buddhist cosmology: Kāmadhātu (the world of desire), Rupadhatu (the world of forms) and Arupadhatu (the world of formlessness).  The monument consists of six square platforms topped by three circular platforms and is decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues. A main dome, located at the center of the top platform, is surrounded by 72 Buddha statues each of which is seated inside a perforated stupa. It is the world’s largest Buddhist temple, as well as one of the greatest Buddhist monuments in the world. The nearest temples are  Pawon Temple , Mendut Temple (with biggest Buddha statue in one piece andesit stone)  that located on the way to Borobudur temple from Jogjakarta

Prambanan Temple

Prambanan temple in Jogjakarta

Prambanan Tempel The biggest  encient Hindu Temple

Shiva temple derives it name from the village where it is located Prambanan, was first built at the site around 9th Century by Rakai Pikatan Locally well known as the Loro Jonggrang Temple, or the temple of the “Slender Virgin”, it is the biggest and most beautiful Hindu temple in Indonesia. Seventeen kilometers east of Jogjakarta, it is believed to have been built by King Balitung Maha Sambu in the middle of the ninth century. Its parapets are a domed with a bas-relief depicting the famous Ramayana Story. The complex of Prambanan Temple lies among green fields and villages. It has eight shrines, of which the tree main ones are dedicated to Shiva, Visnu and Brahma. The main temple of Shiva rises to a height of 130 feet and houses the magnificent statue of Shiva’s consort, Durga.

Borobudur Prambanan Tour Package is a one day Tour  to visit the main tourist objects in Jogjakarta (visit Borobudur temple and visit Prambanan Temple) and this tour package organize in one day (10 Hours)  so you no need to stay overnight. Take Borobudur in the morning and Prambanan in afternoon or Borobudur in the afternoon and prambanan in afternoon. Take the first flight to reach Jogjakarta from Bali or from Jakarta  and take the evening flight to leave Jogjakarta. Further information pleas click  www.borobudurprambanantour.com

 

Seni Guiding Cara Membuat Tour Berkesan

Ada perbedaan yang jelas antara  teknik guiding dengan seni guiding ?

Teknk guiding adalah SOP yang harus dimiliki seorang guide ketika harus membawa tamu, misalanya ketika di obyek seorang guide harus menjelaskan sejarah candi atau mengatur jadwal keberangkatan ke suatu obyek adalah termasuk guiding teknik, tentunya hal hal ini telah diketahui oleh semua tour guide karena diajakan dalam pendidikan untuk menjadi seorang tour guide.

Sedangkan yang disebut dengan seni guiding adalah  cara-cara atau dapat dikatakan sebagai ruh atau warna bagaimana seorang tour guide mengaplikasikan tehnik guiding selama mambawa tamu  sehingga memberikan rasa senang, puas. Tanpa seni guiding, seorang tour guide yang hanya mempraktekan guiding teknik selama pemanduan itu dapat dikatakan tidak menyalahi aturan dan tidak dapat dipersalahkan pemanduan tamu tidak akan menarik, kan monoton, menjemukan, pucat, absurd. Dapat dibayangkan apabila tour guide hanya menerangkan sebuah obyek hanya seperti tetulis pada brosur, ataupun seperti mendengarkan kaset, tentunya sebuah kunjungan akan tidak berkesan.

Apakah seni guiding dapat dipelajari ?
Seni guiding dapat dipelajari tentunya, bagi orang yang introvert akan lebih sulit untuk mengaplikasikan seni guiding dari pada orang yang extrovert yang dapat dikatakan mempunyai bakat seni guiding. Akan tetapi semua orang dapat mempunyai seni guiding dengan cara belajar seni guiding dengan cara yang sangat sederhana, namun tergantung dengan kemauan dari personal masing-masing memperbanyak perbendaharaan kosa kata, memperbanyak pengetahuan sejarah, teknik, social, memperkaya berita actual local atau international, sehingga akan seorang tour guide akan banyak ide untuk menjadi bahan pembicaraan selama pemanduan.

Apa yang termasuk dalam seni guiding?

 

 

Kapan Tour Guide Harus Pensiun

Ada tulisan mas Andi tentang enaknya menjadi tour guide dan juga ada lagi tulisan tentang mau kemana tour guide, semuanya adalah tulisan yang sangat menarik dan perlu dibaca, untuk dijadikan  sumber inspirisi kalau ingin menjadi tour guide yang sungguhan, diposting kali ini disuguhkan tentang tour guide yang pensiun.

Sekitar tahun 2006 setelah gempa bumi… selama tiga bulan sama sekali tidak ada jobs, dengan alasan situasi tidak aman, dunia pariwisata tergoncang, semua reservasi terkensel semua, semua kedatangan tertunda, effeknya masih terjadi tiga bulan kemudian, bahkan memerlukan bertahun-tahun untuk memulihkan image lagi sehingga orang akan merasa aman untuk datang lagi ke Yogyakarta, itulah masa yang teramat sulit bagi kehidupan tour guide

Betapa rapuhnya profesi tour guide hanya karena kaki lecet atau hanya dengan sakit  pilek dia harus kehilangan peluang minimal 1 hari kerja, apalagi ada isu yang lebih mendunia misalnya  penyakit menular seperti diare SEARS, Menengitis dll .. order langsung lepas, tourist kabur dan tak mau datang lagi,  ada isu terorist .. semua memindah liburan dari Indonesia ke negara lain yang lebih aman.., bencana alam apalagi .. turis tak lagi mau datang takut terken bancana..  Oleh karena bagaimananapun juga profesi tour guide adalah berhubungan langsung dengan turis , maka kehidupan tour dapat digambarkan dengan proverb “tourist datang,  ada uang,  itupun kalau ordernya tidak nyasar ke orang lain, tak ada tourist tak ada uang !!”

Inflasi sangat mempengaruhi nilai pendapatan tour guide, semakin hari  nilai rupiah yang didapat tidak digunakan untuk memenuhi kehidupan keluarga,  semakin hari semakin sulit  dengan pendapatan sebagai tour guide.  Ingin meningkatkan pendapatan tidak mungkin , manusia ada titik lelah sehingga order yang didapat maksimal  4 order perbulan, itupun kalau tanggalnya tidak bertabrakan satu  order dengan order yang lain, sebagai contoh order yang sangat tidak berisi  untuk satu order terdiri dari itinerary seperti dibawah ini:
hari 1 check in.(1 Jam)
hari 2 Borobudur dan City Tour. (5 Jam)
Hari 3 Prambanan tour .(3 jam)
hari 4 transfer to Airport. (1Jam)
Order yang  seperti di atas sangan tidak menguntungkan  walau durasi kerja adalah 4 hari akan tetapi  fee dihitung berdasarkan jam kerja sehingga  4 hari kerja hanya mendapatkan 10 jam kerja.  Satu kali order mendapatkan fee dari hasil kerja adalah  sebesar RP 150.000  dan sebulan  hanya dapat mengerjakan x 4 order (Rp 150.000x 4 = Rp 600.00), Rp 600.000 nilai yang teramat tipis untuk memenuhi kebutuhan pokok sebulan.  Pendapatan yang tidak dapat diprediksi adalah dari hasil  komisi, tips tamu yang apabila dikumpulkan sebulan hanya berkisar RP 400.000. Jadi kalau ditotal semua satu bulan mendapatkan RP 1.000.000, sehingga untuk mendapatkan tambahan biasanya menjual tour optional, misalnya menjual  Ramayana Ballet, dan hasilnya akan masuk kantong sendiri setelah dibagi dengan driver dll.

Dengan nilai sebanyak itu ketika harus di bagi-bagi  sesuai kebutuhan ternyata hanya dapat memuhi sebagaian kebutuhan pokok, untuk keperluan yang lain seperti jaminan social, kesehatan,  pengadaan kendaraan, tempat tinggal tidak pernah terpikirkan bagaimana caranya, karena memang tidak ada uang pendapatan yang tersisa untuk itu.

Seperti pada umumnya  tour guide akan bermimpi mendapatkan kehidupan yang sejahtera dan  lebih baik, mampu membeli pakaian baru buat anak dan istri, mempunyai rumah yang bagus, kendaraan yang nyaman, akan tetapi masa menjadi tour guide adalah masa dimana kita memenjarakan diri atau memaksakan diri dengan keadaan,  keadaan dimana  tour guide mau tidak mau, untuk sehari berkerja selama 10 jam hanya mendapatkan maximal RP 75.000. Ingin meminta tambah fee, tidak memungkinkan karena pasar mengatakan bahwa guide fee itu sehari hanya sampai Rp 75.000, apabila tour guide  meminta kenaikan tour guide  akan terdesak oleh  teman seprofesi yang mengatakan “Mas …. (isilah titik ini) order kanggo aku wae, aku dibayar berapun mau, asal order itu buat aku  !”.

Masa pakai tour guide digambarkan sebagai diagram hiperbola, yang manjelaskan bahwa fase  masa pakai seorang  tour guide, seperti berikut:

Fase 1, seorang tour guide pemula setelah keluar dari  masa penggemblengan di kawah candradimuka akan mengalami masa dimana dia harus mendapatkan existensi dengan mempromosikan dirinya ke mana saja agar dirinya dikenal sebagai pendatang baru.
Fase 2  adalah fase di mana tour guide mampu mangatasi fase pertama dan pada fase ini tour guide dapat  bekerja full power, laris manis dipakai dimana-mana  banjir duit tips, komisi dan optional.
Fase 3  adalah fase dimana tour guide menjadi low power karena  semakin aus, semakin lelah jiwa dan raga, jenuh dengan kegitan monotone dan  semakin dekat dengan banyak penyakit dan semakin tidak mendapatkan order, karena ditinggalkan oleh travel biro.

Melihat fase diatas sangatlah penting bagi tour guide melihat berbagai kemungkinan yang terjadi dengan diri tour guide sendiri dimasa mendatang, masa tua adalah masa masa dimana tour guide sudah tidak kuat lagi memanjat candi Borobudur, tidak kuat lagi naik ke gunung  Bromo, melihat teman seprofesi yang terkena strok ,yang  mati terkena serangan pada saat berkerja, masa dimana anak-anak tour guide mulai memerlukan biaya yang sangat tinggi untuk melanjutkan sekolah.  Berprofesi sebagi tour guide, bukan  seperti buah kelapa semakin tua semakin banyak santannya, guide semakin tua, bukan semakin baik, akan tetapi semakin tua tour guide semakin tidak ada yang mau memberi order, dengan alasan semakin tua tour guide semakin beresiko mati saat sedang guiding, atau semakin tua semakin pikun , sedangkan  sang pemberi order tidak mau mananggung resiko itu kematian tour guide, atau dikomplain tamu karena mempekerjakan seorang yang sudah udzur.

Keadaan semakin lama semakin tidak menguntungan, oleh  karena itu  tour guide harus memikirkan untuk segera menggantungkan seragam batik sebagai  tour guide, dan harus dipertimbangkan dan dikaji akibat buruk dan akibat baiknya terlebih dahulu, sehingga tidak manyesal dikemudian hari dengan keputusannya untuk menggantungkan seragam batiknya,  dan setelah itu  tour guide diharapkan segeralah berpamitan dari dunia perguide-an dan pensiun menjadi tour, adalah sebuah solusi yang terbaik… selagi ada waktu untuk bermanuver mengatasi waktu tua seorang tour guide.

Loh kok pensiun bukannya nanti tidak ada pendapatan ?? Iya betul tidak ada pendapatan dari bekerja memandu, akan tetapi  sangat disaran untuk tour guide yang sudah tidak enjoy dengan profesi, atau lelah psikis dan fisik untuk segera mengakhiri profesinya sebagai tour guide,  karena dengan mamaksakan diri untuk bekerja dengan semangat yang tidak maksimal akan mengakibatkan hasil yang tidak maksimal sama sekali, dan dengan hasil yang tidak maksimal karena kelelahan psikis dan fidik, yang akan mengakibatkan tour guide menjadi bahan pergunjingan bagi orang yang melihat misalnya “wong wes tuwo kok isih guiding,  gak tahu diri, wes tuwo  kok srakah, dll “. Oleh sebab itu untuk mengantisipasi masa tua yang  tidak sejahtera,  tour guide harus jauh-jauh hari memikirkan usaha lain di luar dunia perguidan.

Usaha apakah yang cocok untuk tour guide atau tour guide yang sudah pensiun ?
untuk seorang guide tentu saja yang berhubungan dengan dunia pariwisata betahun-tahun tentunya akan lebih baik kalau mempunyai usaha yang berhubungan dengan dunianya karena tidak perlu belajar dari nol, misalnya punya transport, punya hotel resort, atau ikut usaha yang dirintis oleh istri misanya buka restaurant, toko pakaian dll ataupun usaha yang berhubungan dengan hobinya misalanya buka bengkel atau beternak ikan lele ataupun buka pemancingan yang membuka terjadinya perjudian yakni mancing dengan sistem kompetisi atau membuka lahan yang ditanami tanamana misalanya pohon gaharu, jati atau tanaman dll.

Kesimpulan:
Dengan  pensiun  sebagai tour guide akan mandapatkan waktu  akan terfokus untuk menciptakan aktivitas yang akan lebih mandapatkan banyak uang dengan tanpa berpanas-panasan diterik matahari, tampa mengeluarkan air liur untuk berbicara didepan bus.., ngajak tamu berkunjung ke segitga emas  atau ke KKK, tanpa stress dengan pedagang asongan, tanpa makian karena tidak mendapatkan gratuity, tanpa kekecewaan dengan order yang terkensel, dan yang penting tampa dering telephon… ah tidur nyenyak , dan bulan Agustus dapat berlibur bersama anak-anak………

Note: Posting ini adalah pendapat pribadi penulis, bukan pendapat HPI

Tour Guide Futuristik (2)

Futuristik, berarti berwawasan kedepan. Masih ada kaitanya dengan statement sdr.ketua hpi diy , mas andi , dengan repositioning tour guide. Selama ini,yang menjadi masalah adalah perlakuan dari user, misal Asita yang tidak akomodatif. Ok, bagi segelintir orang, mungkin tidak masalah, karena dia bertarif tinggi, aku ikut senang, ada guide bertarif tinggi. Karena muara dari semua pekerjaan adalah rezeki, that`s all about money. Tetapi tidak banyak teman teman yang bisa mengaplikasikan fee sangat tinggi. Dan saya juga khawatir, frekwensi fee tinggi juga tidak akan sering, occossionally, mungkin iya. Saya kira semua kawan kawan juga pernah mendapat fee tinggi, bahkan super tinggi. Kalau kemudian, ada kawan yang pinter ngutak atik suatu equipment, dan diterima oleh dunia international, dalam hal ini adalah SEO ( searching engine optimazation ), yang di provide oleh Google, dan Yahoo, Alta Vista dll. Dan sangat luar biasa, coba kawan kawan membuka Google, dengan keywords, apapun yang berhubungan dengan tour di jogja atau java bali sekalipun, seperti misal : tour to java atau tour to borobudur , atau bromo tour, atau cruise ship ground handling, dll, tentu di halaman utama yang bercokol adalah situs situs milik kawan-kawan hebat itu.

Disinilah, maka sah-sah saja kawan-kawan itu menyebut dirinya futuristik. Istilah ini, berarti juga seseorang tour guide, yang sudah bisa membaca selera pasar ! Bahwa suatu saat tamu akan melakukan kontak langsung, suatu bentuk efisiensi dan efektivitas, untuk mendapat harga yang affordable dan service yang excellent. Dia / tour guide itu, tidak mewakili kapitalis, mereka masih mewakili guide, sehingga, sebelum hpi menerapkan fee standart 250.000, 3 tahun lalu pun, kami pelaku wisata dengan cara ini, sudah membayar dgn nominal yang baru di rekomendasikan oleh musda 2009 (2 tahun lalu). Padahal sampai hari ini, masih banyak juga biro/Asita yang membayar di bawah angka itu ! Fee tanpa diskriminasi , mau guide bahasa arab, bahasa korea,bahasa indonesia pun, mereka akan dihargai sama..

Trend wisata tamu, bagaimana, dst, sudah terprediksikan oleh kawan kawan itu., mereka sangat rajin menyebar questionaire,  kepada tamu, untuk mengetahui selera pasar. Dan mereka juga melakukan survey dan observasi di semua destinasi wisata , baik di java maupun luar java. Pun, mereka bukan orang orang serakah yang mau memonopoli semua unit usaha sendiri. Mereka selalu berbagi, dengan semua elemen, tak terkecuali hpi sendiri. Mereka adalah juga anggota hpi. Perlu dicatat, masih berlisensi valid, sehingga, hpi , anggota hpi yang memberi order kepada anggotanya sendiri. Mereka boleh menyebut futuristik, karena biro Asita yang lebih kredible, masih terlelap dalam tidurnya, mereka juga laskar-laskar yang efisien. Tidak perlu membuang ribuan dollar untuk promosi ke luar negeri. Tetapi hanya duduk manis di rumah, bisa menyebar virus, agar tamu / grup berkenan datang, semua promosi dilakukan dgn sangat up to date, sangat inovatif dan sangat menarik,lewat brosur brosur dan testimoni digital. Mereka diakui di 5 benua. Coba kita sebut nama di bawah ini : Panorama atau Ayu mandiri, tidak bermaksud meremehkan mereka, tetapi mereka saat ini adalah raksasa biro perjalanan di tanah Java. Keperkasaan mereka hanya diketahui di forum expo atau travel mart. Tetapi di pelosok afrika, atau di belantara amazone, atau di pinggir pantai mediterania, nama mereka tidak akan terdengar. Sementara , tamu / calon tamu yang sudah jauh melek teknologi, dengan hp di tangan, akan mengakses wifi di manapun, atau nir kable koneksi internet lainnya, dengan satu key word: tour to java ataupun visit bromo, maka yang muncul adalah kawan akwan itu, kemudian akan terjadi korespondensi yang efektif, dan di follow up dengan transaksi bisnis tours, dan datanglah tamu tamu itu.

Dan kami selalu berbagi, mengingat banyak nya frekwensi tamu. Di seantero java dan luar java, kami sudah memiliki net work yang solid. Dan kebanyakan dari kawan kawan network itu, juga adalah guide guide seperti kawan kawan di jogja. Singkat kata, semua konsep futuristik ini, bermuara kepada tujuan kesejahteraan. Dan prestasi mereka sangat luar biasa. Grup dari kampus ternama universitas di california, perusahaan asuransi di Moscow,  group  62 yang menginap di Sheraton awal Januari lalu, juga Oktober lalu, grup business diwakili kementrian pertanian Thailand, juga lebih memilih mereka daripada biro konvesional. Bahkan, si pelaku tidak perlu bertemu dengan konsumen, karena semua sudah dikerjakan oleh sistem yang mereka konsep   jauh jauh hari,  pada saat kawan kawan lainnya masih sibuk demo kenaikan fee, dari 3.500 menjadi 5000, di tahun 1994 lalu.

Begitulah, kami hanya ingin mengajak kawan kawan memanfaatkan kesempatan yang ada. Semua memang akan menjadi pilihan masing masing. Tetapi, berbuat sesuatu,untuk perbaikan kesejahteraan,adalah sebuah keniscayaan. Apakah kawan kawan yang mendekati kepala 5 , seperti usia saya, masih akan terus produktif naik candi borobudur atau mendaki Gunung Ijen ? Kalau itu bisa kita pikirkan, berarti kita berpikiran ke depan, untuk membuat sistem yang tetap akan membuat kita beraktivitas sebagai tour guide, di belakang layar, masih  tetap menikmati rezeki yang mengalir ke tanah Java, maka itulah yang kawan maksud sbg bentuk futuristikasi perjalanan seorang tour guide.

Sekali lagi, itu versi kami, dan konsep ini, tanpa banyak bicara, wawasan dan wacana , sudah banyak mensejahterakan kawan kawan hpi. Sekecil apapun, diakui atau tidak eksistensi kami sudah menginternasional!!!!!! Dan kami akan terus berkarya , dan berkarya , untuk kesejahteraan kawan kawan anggota hpi juga wassalam.

Baca artikel yang berkaitan dengan posting diatas, klik disini.

Note: Tulisan ini hanya untuk kalangan terbatas, tidak dapat dipertanggung jawabkan secara akademis

Evakuasi

Highlight menjadi seorang guide terjadi pada tahun 2005 ketika harus memandu 2 orang wistawan yang dari seorang ibu yang berumur 70 tahun dan anaknya yang berumur sekitar 40 tahun.  Tour dimulai dari Yogyakarta untuk mengunjungi Borobudur, Prambanan Yogyakarta city Tour dan dilanjutkan dengan overland tour menuju ke Bromo, semua berjalan lancar seperti itinerary, hingga menjelang hari terakhir tour ketika stay di Margo Utamo.

Sore itu pukul 15.00 kita sampai ke hotel cuaca saat itu gerimis .. setelah check in di hotel kita tertidur pulas melepas kepenatan perjalanan yang teramat melelahkan., menjelang sore pukul 17.00, reception mengetuk pintu, tergesa-gesa, “Mas tamu anda kecelakaan jatuh terpeleset di tangga dekat kolam renang…!” Ah kita lari-lari… ke kamar tamu untuk melihat keadeaan… Ah sangat mengenaskan.. sang ibu merintih kesakitan…, segera saja hotel memanggil ambulan untuk penanganan emergency di sebuah rumah sakit kecil di Kalibaru… setelah di analisa oleh rumah sakit tidak ditemukan frakture…akan tetapi si ibu tetap mengerang kesakitan…  sebagai guide kita bolak balik ke rumah sakit selalu siap apabila jasa kita diperlukan..!!

Di hari kedua pagi itu kita stand by di Rumah Sakit lebih pagi, sementara si anak sibuk menelephon kantor asuransi di Perancis untuk kondinasi penanganannya. ..oleh perwakilan asuransi dijelaskan bahwa si ibu akan dievakuasi dengan helicopter menuju rumah sakit international di Bali besok pagii, karena memang keadaannya yang tidak memungkinkan dievakusi dengan mobil ambulant,… sehingga  sore itu kita harus menyiapkan segala sesuatunya untuk  persiapan pendaratan dan kalkulasi biaya rumah sakit yang kelak akan ditagihkan ke pihak  asuransi.

Di hari ketiga, pagi hari satpam berkordinasi dengan polsek setempat untuk mengamankan lokasi pendaratan helikopter di lapangan sepak bola yang terletak tidak jauh dari Rumah Sakit. Pukul 9 sebuat Helikopter Bell.. melintas di atas rumah sakit.. ternyata  sang pilot kurang awas untuk melihat lokasi pendaratan sehingga Helicopter melewati  sejauh 10 km dan harus berbelok lagi menuju lokasi pendaratan…

Sang dokter menelephon bahwa Helicoter sudah menemukan lokasi dan segera mendarat.. Ambulan rumah sakit segera datang  ke lokasi pendaratan menjepur sang dokter yang datang bersama Helicopter… ngobrol sejenak dengan dokter.. ternya beliau berasal dari Yogyakarta. .. ah ketemu tetangga…!. Dokter memeriksa si ibu dan brifing sejenak dengan kru rumah sakit bagaimana cara mengevakuasi sang ibu yang dari hasil diagnosa sang dokter siibu diperkirakan mengalami cidera tulang punggung. Sang dokter memberi inrtuksi tata cara menggunakan tandu khusus  untuk helikopter yang tandu yang terbuat dari kantung, agar mengeras dan dapat digunakan sperti tandu pada umumnya harus dipompa. Dengan disaksikan oleh kru rumah sakit akhirnya dokter mempraktekan cara kerja perlatan tersebut… satu…. dua tiga.. digotonglah menuju ambulant. dan semuanya lancar.. terbanglah si ibu ke Bali..

Ayo ke Jogja lagi

Jalan menuju Nagari Ngayogyakarta Hadining Rat mulai berliku dan berkelok setelah erupsi pertama tanggal 25 Oktober 2010, lalu yang lebih besar lagi 30 Oktober dan ternyata melewati bulan kedua pasca erupsi masih juga kian meruntuhkan beberapa waduk dan Jembatan Srowol di Magelang. Rupanya sejarah masalalu Jogja berulang, rakyat disini lebih arif memberi (silahkan kembali ke Jogja!), sebab mereka terbuka santun pun bijak dari prilaku sang Penguasa Negeri RI dan yang terjadi dari aktivitas puncak gunungapi setelah erupsi bukan saja warna bencana, tapi berkah pasirnya juga pembelajaran atau teguran yang disimbulkan oleh Maridjan – Merapi – Mataram.

Rakyat yang melimpahkan kewenangan kepada Sang Wakil terhormat di Dewan Perwakilan Rakyat tak lagi amanah memegang janji, padahal Wakil bertugas mewakili aspirasi dan Keistimewaan Yogyakarta bukan sekedar keinginan tapi simbol sabda rakyat Mataram yang selalu memberi kepada NKRI, tapi bahkan jauh sebelum Republik berdiri. Sultan Banaran atau Hamengku Bhuwana I telah meletakkan dasar-dasar kosmos berdirinya Mataram hingga Sultan VII – HB IX peran beliau terhadap bangsa ini melampaui eksistensi Ripublik.

Daya tarik keistimewaan Yogyakarta tentu bukan soal Merapi, namun menurut KH. M. Jazir ASP bahwa jiwa kemerdekaan RI itu telah berakar di Mataram, bahkan utusan Khilafah Islam tertinggi Turki saat itu sudi datang ke Jogja memberi tanda keistimewaan dengan secarik kain bertuliskan La ilaha illa Allah, Muhammad rasulullah yang kini menjadi tanda keistimewaan (Kyai Tunggul Wulung) sebagai satu-satunya kerajaan islam sejagad pasca era kenabian yang tersisa. Bahkan utusan Turki itu dinikahkan dengan salah satu keluarga Pembesar Kerajaan, saat ini makamnya berada di Nitikan. Hal ini diungkap dialog Budaya dan Seni Yogya Semesta 11/1 malam di Bangsal Kepatihan bertema Keistimewaan Yogyakarta menghadirkan Sejarawan dari UGM Prof. Dr. Suhartono Wiryopranoto dan narasumber Romo Banar. Bahkan keistimewaan Jogja merambah lebih dari sekedar Seni dan Budaya bangsa, karena itu tugas pemuda mengisinya lebih mekar menafasi jiwa pembangunan yang selalu memberi kepada rakyat lebih dari sekedar pembangunan materi.

Maka keistimewaan Yogyakarta bukan sekedar persoalan Kuasa Raja sebagai pusat jiwa semesta peradaban yang memayu ayuning bhuwana, tetapi juga kemanusiaan Jogja yang berjiwa memberi kepada Bangsa dan Negara saat diserang VOC. Cermin pendidikan sahabat Merapi http://hpijogja.org/wisdom-lokal-anak-merapi.htm serta budaya demokrasi dari kuasa Raja Mataram ini terpantul hingga era ini, yakni Sultan HB X yang mandiri dan selalu mengayomi warga bangsa. Dikisahkan mantan Kepala Dinas yang hadir disana, bahwa beliau mengunjungi rakyat atau ke LN atas beaya sendiri, karena memang dana anggaran Negara amat terbatas. Seperti diungkap pula bahwa Soekarno menerima pemberian Raja Jogja sejumlah 60.000 Gulden untuk menghidupi pembesar RI, inipun dibenarkan catatan sejarah oleh Ibu Rahmi Hatta.

Maka ketika Merapi meletus dengan jarak bencana yang amat tipis dari anugerah, rakyatpun bertanya dalam gumam; seharusnya bangsa ini banyak belajar dari kesempurnaan penciptaan gunungapi dan kelimpahan daya tarik seni, budaya atas peradaban rakyat Ngayogyakarta Hadining Rat. Jasa pariwisata telah menanti bagaimana melayani manusia sejagad akan berguru dan menimba pengalaman serta mengumbar rasa ingin tahu terhadap isi semesta Yogyakarta termasuk Desa-desa Wisata di lereng Merapi maupun keindahan alam yang kini mulai memanggil-manggil ketertarikan wisatawan untuk dikunjungi. Ayo ke Jogja Lagi!!! ***

Episode of Baratayuda

Durna and Drupada were best friends since they were young. In his youth Durna’s name was Kombayana. He was a handsome and smart son of Resi Baratwaja, a renowned priest. Baratwaja was so well known that many people came to him to learn many skills. One of them was Sucitra. Sucitra was also a smart student like Kombayana so they soon became best friends. They even vowed they will support one another in good times and in bad times. Several years later both of them passed their studies. Sucitra came home to Pancala, his home country and Kombayana left his house to find a job.

Years later the young Sucitra became king of Pancala. His name was then King Drupada. Meanwhile Kombayana was still struggling by working as a teacher. The news about the new king spread to the whole country and reached the ears of Kombayana. He was very happy and expectant. He had a high hope in his old friend. He remembered their student days and their vow to help each other in bad times and in good times.

So one day he decided to see his old friend. Traveling was hard in those days as there was no vehicle. After walking for several days or maybe weeks, he got to the kingdom of Pancala. Kombayana directly went to the palace. He was amazed to see the grandeur of Sucitra’s palace. Then he talked to the guard.

“Hey, I’d like to see Sucitra”
“Who is Sucitra? Nobody here named Sucitra”
“I mean the king, your king”
“His name is King Drupada, not Sucitra”
“OK, whatever. I’d like to see him”
“Hey, it is not easy to have an audience with the king. Only high ranking officials and respected people can have audience with the king. Who do you think you are?” The guard said.
“I am Kombayana, the son of Resi Baratwaja. I was his friend”
“You were his friend? I guess not anymore”
“Just tell him that Kombayana the son of Resi Baratwaja wants to see him”
Then the guard said,”Ok, I will ask his grace to grant you permission to have an audience. But I have warned you. He might not recognize you. I cannot promise you anything”
“Thank you”
Then the guard told Kombayana that he was granted the permission to have an audience with the king on the following day.
“The king is very busy right now. His majesty has no time for you today. But King Drupada is very kind and very gracious so he granted you permission to have an audience with him tomorrow”
“Thank you very much, I’ll be waiting”.

The next day Kombayana woke up very early in the morning. He took a bath and wore his best dress. He could not wait to see his old friend. He was sure that the king would grant him good job and wealth. He could imagine that he would become a high ranking official. He would wear luxurious dress and he would have a big luxurious house. People would respect him. When he was ready he left to the palace. In front of the palace, the guard asked him to wait.
“Wait here for a moment. When his majesty is ready you will be called”
“Ok, I’ll be waiting”

Kombayana had to wait for a long time. He was sitting the whole day in the guard’s booth. In the afternoon after the king finished working Kombayana was called.
“His majesty granted you an opportunity to have an audience. Although you used to be his friend, please be polite at all times. Please address him nicely. You are not allowed to stare at his eyes. You have to sit on the floor. Do not say a word unless you are asked”
“Ok, I know”
“Follow me”, the guard said. “And do as I said”
As they met inside the palace Kombayana could not control his emotion and his behavior. Soon he greeted the king.
“Sucitra, long time no see. How are you?”
The he hugged the king warmly. The guards were very surprised then they quickly held him back and forced him to sit on the floor.
“Behave! Mind your manner! I told you that you have to be polite! Now sit down!”
Then Kombayana sat on the floor. He said further,
“Sucitra, I am your best friend Kombayana. Do you still remember me?
Suddenly the king said calmly.
“Kombayana, I still remember you. It is true that you used to be my best friend. But time has changed. There is no Sucitra here. I am no longer Sucitra. Now I am King Drupada. Everybody must respect me”
“Sucitra, do you still remember our vow? We will help each other in good times and in bad times”
“But friendship is only possible among equals Kombayana. Do you think we are equals?
“Sucitra, I am in a desperate situation. Please help me”
Suddenly the king yelled.
“Enough! Bring him out. Punish him for impolite behavior to the king!”
The guard quickly pushed him. Then outside the palace they hit him many times and repelled him. Kombayana was deeply hurt. The wound is his body healed not long after that but deep inside his heart he had hatred to Drupada. He promised to himself that he would take revenge to Drupada.

Some years later Kombayana got a good job. Because of his skills in the art of archery and military he became the teacher for the royal family of Hastinapura or Ngestina in Javanese language. He had official name of Resi Durna. His duty was to train the son of king Dasarata and ex King Pandu Dewanata. King Dasarata was the older brother of King Pandu Dewanata. Since he was blind it was Pandu who became king. But when Pandu died when his children were very young, then Dasarata succeeded him.
Dasarata had one hundred children from his wife Gendari while Pandu Dewanata had five sons from his two wives – Dewi Kunti and Dewi Madrim. So Durna had one hundred and five students. He taught them archery, politics, martial art and religion. The sons of Pandu were called the Pendawa and the sons of Dasarata were called the Kurawa. The Pendawa were much smarter than the Kurawa.

One day Durna decided to hold a military exercise for both Pendawa and Kurawa. They would be assigned to lead an army in the exercise. His plan was approved by King Dasarata. So he prepared the army and on the D – day he led them to attack the kingdom of Pancala. The Pancala army was no match for the mighty Hastinapura army. They could easily be beaten and the king was arrested.
“Sucitra, now your life is in my hands. If you want to live longer let me hear you beg for your life”
“Kombayana, you can do whatever you want now. You can take my life, but not my dignity. If I have to die now, then I will die now. But I will never beg you for anything”
“Sucitra, never call me Kombayana. I am Resi Durna, the great teacher of the Barata family in Hastinapura. I am the advisor to the great king of Hastinapura. If you want to die now, then you will die now”
“Kombayana, I warn you. The power in your hands must be used wisely. You cannot kill me just because you hate me. If you kill people based on hatred then you are a murderer not a great teacher. You are a criminal although you are a high ranking official”
“Shut up! I don’t need your sermon. Soldier, kill him!’
Just as the soldiers of Hastinapura would kill king Drupada, one of the Pendawa talked to Durna.
“Excuse me, may I say something?’
“Sure Arjuna. What do you want to say?”
“I think he is right. You cannot kill people just because you hate him. You taught me that people must love each other. You taught me that a state may give death penalty but it must be based on justice and law, not on hatred or anger”
“Sucitra, do you hear that? My beloved and smart student Arjuna saves your life today. I will give you clemency on condition that I will take a half of your country and remember Sucitra I will take revenge in the great war of Baratayuda”.
So since that day the territory of Pancala was divided. King Drupada was back in his throne. But Durna was not satisfied. He still had hatred and he wanted to kill Drupada by his own hands.

When Pendawa and Kurawa grew up hostility between the two parties mounted Pendawa thought that the throne of Hastinapura was their right because their father Pandu Dewanata was the king of Hastinapura. On the other hand Kurawa thought that it was their right to become king since their father was also the king and older brother of Pandu.

Many years later a great war of Baratayuda broke out in a land called Kurusetra. The war was between the Pendawa and the Kurawa. Durna was in the side of the Kurawa and Drupada was with the Pendawa. In one of the battle Durna was assigned as a commander of Hastinapura army. There in the battle he met his long awaited enemy. Finally Durna could satisfy his hatred by killing Drupada.

About the story.

The Javanese culture was influenced by the Indian culture. They translated the Mahabarata story (the story of the Barata family) and Ramayana (the story of King Rama) between the 8th – 11th century. Over these centuries the Javanese writers had written their own version of the story. This story is the Javanese version. The details of the story might be different from the Indian one. Today these stories are still very popular in Indonesia especially in Java, Bali and Madura islands. People in these areas have shadow puppet shows using these stories. The show called wayang kulit in Javanese language. The story is very long that this episode is only a part of  it.

Text storyline is taken from Bambang Udoyono http://www.squidoo.com/the-story-of-durna-and-drupada.