Membaca Perencanaan Pariwisata DIY 2025

Pembangunan kepariwisataan Daerah Istimewa Yogyakarta terus berbenah termasuk usaha menaikkan okupasi kunjungan wisatawan dari rata-rata 2 hari. Hasil questioner tahunan Dialog Pasar Wisata DIY ke beberapa Kota se-Jawa sejak 2009 menyebut antara lain study tour ke Jogja sebagai pilihan utama di luar Jakarta dan Bali. Masalah mereka selama kunjungan ke 235 obyek daya tarik wisata DIY meliputi; transportasi, akomodasi, makanan, daya tarik wisata dan jasa pemanduan wisata.

Setelah disahkan RIPPPNAS 2011, lahirnya Peraturan Daerah No 1 Tahun 2012 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah Propinsi DIY diharap agar pembangunan destinasi, pemasaran, industri maupun kelembagaan pariwisata meningkat lebih baik ke depan hingga tahun 2025. Insan pariwisata patut bangga namun tetap kritisi memperhatikan Perda tentang Cagar Budaya, Tata Nilai Budaya dan Pendidikan Berbasis Budaya.

PEMBANGUNAN MULTISEKTOR

Kunjungan wisata 1994 sejumlah 963.995 orang naik menjadi 1.792.000 orang (2004), lalu 1.6 juta (2005), sebanyak 1,3 juta (2007) serta tahun 2010 sebanyak 152.843 wismanca dan 1.304.137 wisnus. Mereka terhubung layanan jasa 354 Biro Perjalanan Umum/Wisata, antara lain jasa pemanduan sebanyak 418 Pramuwisata dengan spesialisasi 11 Bahasa. Selain Rumah Makan dan Restoran terus bertambah, data akomodasi DIY tercatat lebih 8.500 kamar dari 40 hotel bintang (1.900 kamar) dan 389 hotel melati.

Diproyeksikan kunjungan wisatawan ke Jogja akan terus meningkat melalui Stasiun Tugu, perjalanan darat dan pintu Bandara Adisucipto total sebanyak 2,5 juta wisatawan (2025) dengan portofolio 90 % wisnus. Selain pembangunan bandara baru, tak kalah perencanaan sarana transportasi darat dan pelabuhan laut yang memungkinkan kapal pesiar merapat.

Penerimaan devisa nasional sektor pariwisata asal kunjungan wisman senilai Rp 80 triliun dan sebesar Rp 123 triliun dari wisnus. Penghasilan Asli Daerah Kota Yogyakarta terealisasi 106,43% senilai Rp 391,886 M (2005) dari Pajak Hotel-Restoran saja sebesar Rp 46 M, tahun 2011 senilai Rp 44,3 M. Potensi industri kreatif DIY tak kalah pentingnya menaikkan devisa, seiring makin dikenalnya Jogja sebagai lokasi event MICE. Industri seni budaya (2011) terdapat tiga shooting film hollywood disini yaitu Java Hit, The Philosopher dan judul Amazing Race tentang petualangan karst Gunungkidul.

PERENCANAAN HINGGA 2025

Perda RIPPARDA No 1/2012 adalah amanat pasal 8 dan 9 UU No 10/2009 yang merencanakan pembangunan destinasi, pemasaran, industri dan kelembagaan pariwisata DIY. Rambu destinasi menyasar pembangunan kewilayahan, daya tarik, fasilitas umum, aksesibilitas, investasi pemberdayaan masyarakat dan pembangunan kelembagaan kepariwisataan daerah. Bahwa aplikasi peningkatan kapasitas – kualitas – kuantitas Sumber Daya Manusia Pariwisata DIY terkait pasal strategi kebijakan beserta tahapan jangka waktu dan uraian program pembangunan agar SDM mampu tetap berdaya saing tinggi dengan layanan standar.

Bidang pemasaran perlu meluaskan pasar dan lebih kreatif menawarkan produk, termasuk strategi memasarkan Jogja bagian dari tujuan wisata tunggal ASEAN. Para repeater membutuhkan alternatif paket wisata alam, tradisi pedesaan, kuliner, heritage, belanja disamping seni kerajinan, wisata museum, Taman Pintar, Kraton melebihi daya tarik kunjungan segitiga Candi – Malioboro – Kotagede. Disinilah pentingnya optimalisasi arah kebijakan pembangunan SDM Pariwisata DIY agar mampu terakselerasi baik dengan kompetensi yang handal.

Lahirnya Perda ini melengkapi sisi lain DIY yang menduduki urut ke-24 termiskin dari 34 Propinsi, index pembangunan masyarakat ke-4 dengan usia harapan hidup (index kebahagiaan tertinggi) 73 tahun, pengeluaran perkapita ke-2 setelah Propinsi Riau senilai lebih Rp 600.000 /bulan, dan Yogyakarta paling nyaman dibanding Kota lain. Program pemberdayaan perlu lebih tegas menyinggung pola-pola kebijakan pembangunan ekonomi kreatif yang memihak Usaha Mikro; sebab dari data BPS 2007, mereka sebanyak 82% tapi menyerap 91% dari total 915.100 tenaga kerja DIY.

Terakhir, pembentukan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia dan Badan Promosi Pariwisata Daerah harus mampu bersinergi mengoptimalkan kinerja Badan Promosi yang sudah ada di Kabupaten Kota dalam memasarkan seluruh potensi dan menembus ragam batasan sektoral yang sering menghambat. Seperti BP2KY yang mengharumkan DIY diantara 63 Kota Se-Dunia anggota Tourism Promo Organisation dengan perolehan Award best public relation campaign (2009), best marketing campaign (2010), best tourism brochure (2010), best website pada laman www.jogjatogo.com (2011) dan most improved tourism award (2011) atas peran fasilitasi dan regulasi pengembangan kepariwisataan. []

*) Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat edisi 20 Juni 2012 halaman OPINI dan bisa pembaca klik di http://www.krjogja.com atau http://www.kr.co.id dimaksud agar para pemerhati pembangunan pariwisata dimanapun tidak terlena pertumbuhan sektoral sesaat namun tetap berkontribusi riel meningkatkan kesejahteraan bersama lebih dari keuntungan satu dua pihak.

2 thoughts on “Membaca Perencanaan Pariwisata DIY 2025

  1. kta dbs

    Kunjungan wisata jogja kalo dilihat dari info diatas cenderung mengalami kenaikan yang signifikan jika dihubungkan dengan keadaan perekonomian negara. semoga jogjaku selalu menjadi barometer pariwisata di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s