Karma Wibangga 1

Di dalam arsip  (bank artikel)  tersimpan sebuah tulisan yang  yang sangat tepat untuk dimunculkan kembali 

KARMA WIBANGGA

Dalam ilmu fisika, ada hukum bejana berhubungan, sekedar untuk mengilustrasikan relasi yang kait mengait. Ada juga hukum Archimedis, hukum Boyle, dan masih banyak lagi. hukum diatas, bersifat pasti adayna (exacta). Sedikit yang mirip hukum diatas, adalah hukum Cause and Effect atau sebab akibat, sebuah akibat timbul karena sebab yang mendahuluinya. Ceritamya seperti berikut ini:

Suatu hari, penulis memasuki Regol (main gate) sebuah hotel di Jogja dengan (hanya ) mengendarai motor, satu moda yang sangat efisien. Hotel itu bernama Novotel, dengan sangat arogan, timbul pertanyaan procedural dari penjaga regol yang disebut Satpam, bagai anjing ber-rabies yang ditugaskan manajemen memfilter masuknya teroris , atau orang yang tidak berkepentingan memasuki hotel berbintang. Pertanyaannya, terdengar sederhana, tetapi sangat menandakan, bahwa si Satpam tadi bekerja dengan sangat teorotis, tanpa melihat siapa yang datang terjadi satu interograsi kasar secara oral, walau semestinya, Satpam, apapun namanya, mereka bekerja di sector hospitality, tentu harus juga dibekali dengan manner yang hospitalized, mereka bertanya kepada penulis “Mau kemana?” Petugas Regol bertanya. Pertanyaan yang sangat bodoh, itu sebabnya, penulis menjawab dengan sedikit lebih smart, sekedar membuka mata si petugas, bahwa pertanyaan diatas, tidak semestinya diucapkan. “Kalau saya mau ke Rumah Sakit, tentunya saya ke Bethesda, kalau saya kearah sini, tentu ya..saya mau ke hotel sampeyan, mas “ jawab penulis , masih dengan intonasi datar. Petugas Regol belum puas dengan jawaban tadi, sehingga diapun bertanya lagi: “Ada perlu apa mau ke hotel?” Mendengar pertanyaan kedua, penulis jadi merasa ada tindakan diskriminatif, kaitanya dengan bagaimana penulis dating ke hotel diatas. Mungkin sudah ratusan kali penulis memasuki Novotel, hanya 99% Penulis dating ke hotel tadi dengan mengendarai mobil (pribadi) atau dengan mengendarai kendaraan roda 6 (maksudnya bus wisata kapasitas 45 seats), sehingga tidak terjadi interograsi diatas. kebetulan, pagi itu, mobil Penulis sedang bermasalah, sehingga , penulis mengandalkan moda cadangan, dengan jenis sepeda motor. Disinilah awal permasalahan, ketika penulis bermobil, tidak pernah pertanyaan ada yang diskriminatf, hanya karena saat itu, penulis mengendarai motor, maka terjadilah interograsi yang berlebihan. Penulis tidak memiliki banyak waktu untuk ber argumentasi dengan petugas regol, itu sebabnyam masih dengan meninggalkan motordidepan regol, dalam posisi stang tidak terkunci, penulis berkata: “Mana GM samapeyan ?” sambil saat itu juga berlari menuju lobby, yang hanya berjarak 10 an meter dari regol utama. Pagi itu, tentu perlu waktu extra, untuk bisa bertemu GM, tetapi di salah satu desk, penulis melihat tulisan Duty Manager, dan kesanalah penulis menuju :“Mas, sampeyan bisa kasih tahu Satpam didepan regol, bagaimana harus bersikap terhadap tamu?” Saya sudah ratusan kali berkunjung ke sini, dan sudah ribuan tamu saya supply ke hotel sampean, Tanyakan sama Sales manager, kalau sampean tidak percaya? Saya memberi kontribusi yang tidak sedikit sama hotel sampean, sementara saya mau menemui tamu saya saja, hanya karena saya naik motor, penjaga regol sampean memperlakukan saya seperti seolah olah saya pendatang illegal yang tidak dikehendaki kesini!” Penulis berkata sambil menunjuk hidung Satpam dimaksud. Duty Manager, spontan minta maaf, karena diakhir orasi singkat tadi, penulis menutup dengan statement :”Apa saya perly memindah tamua saya ke hotel lain ?”. Sejenak kemudian, Satpam dimaksud dipanggil, dan saat itulah, penulis masih bisa member pesan terakhir: “ Mas Satpam, Rumah Saya juga ada Satpamnya, 3 malahan , bukan Cuma sampean yang bisa jadi Satpam, karena di rumah sayapun, saya juga mempekerjakan Satpam. Apa potongan saya seperti teroris ?” Percakapan diatas, mungkin terjadi juga pada diri kawan kawan. Petugas hotel, dewasa ini, memang terkesan arogan, dalam berbagai kasus yang lebih luas, petugas di departemen yang lain, seperti reservasi dan front office, pun setali tiga uang. Suatu saat, setelah terbang 15 jam dari Eropa – Singapore – Solo, kemudian berkendara 2 jam ke Jogja, dan setelah melakukan prosedur registrasi 20 an menit, jawaban yang disampaikan petugas kantor depan adalah ; we are so sorry, the rooms are not ready yet !! Please wait for about 2 more hours! saat itu menjelang pukul 13 an, berarti sudah memasuki official check in time, dengan kata lain, tidak ada alasan untuk tidak memeberikan kunci seperti yang sudah di confirm di reservasi awal. Penulis tidak mengalah begitu saja : mbak bisa saya bicara sama manager sampean ? FO manager ada? Ada RDM ? Maksudnya Room division. Sepertinya ada petugas lain yang mendengar, kemungkinan dia adalah Supervisor receptionist tadi, ya pak, ada yang bisa dibantu ?” Eh, mbak..saya juga pernah kerja di hotel…25 tahun lalu belum ada Komputer, semua dilakukan dengan manual, tetapi tidak lebih dari 5 menit, setelah grup saya memasuki lobby, kunci sudah ditangan grup member. Dengan adanya Komputer, tentunya lebih memudahkan pekerjaan kalian, mengapa jadi tambah lama? Dan masih harus tunggu lagi? Saya Cuma perlu 3 kamar, apa hari ini, hotel sampean betul betul 100 % full?” Apa jawab Supervisor tadi ? “ Mohon tunggu sebentar, pak…kemudian dia bermain dengan keyboard Komputernya, dan tak lama kemudian memberikan magnetic Cards, dengan nomor kamar yang sngat jelas tertulis!” Nah, akhirnya, dengan sedikit ber sitegang, kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan (atas nama tamu). Saya selalu mengikuti dengan sangat kronologis, bagaimana arus kedatangan tamu yang saya pandu saat itu, mulai kontak pertama, sampai kemudian confirm, mengirim deposit dan kemudian saya sendiri yang melakukan reservasi kamar, saat itu di hotel Phoenix ! Sehingga Penulis sangat yakin, bahwa ke-3 rooms dimaksud sudah officially confirmed, nah apabila memang sudah OK, maka tentunya tidak aka nada alasan apapun, untuk men-delay pemberian kunci kepada tamu kita. Tetapi, kalau kita hanya menyerah, mengikuti apa omongan Petugas kantor depan, maka, ya kita akan semakin tersia-siakan..yang tentu akan berakibat, bahwa tamu yang kita bawa,  jadi tidak nyaman…satu impresi awal yang sangat tidak menguntungkan. Kita adalah jendral di lapangan, yang harus melakukan tindakan tindakan spontan, bila terjadi hal hal diatas. Dan, Penulis terlanjur berpola pikir Praktis dan Efisien. Kembali ke judul tulisan diatas: Sebab Akibat.

AKibat yang timbul karena suatu sebab, nah solusi dari masalah diatas adalah, mengurai penyebabnya, kemudian mencari solusi akurat, dengan salah satunya, mencari pentolan yang lebih tinggi , untuk membuat semuanya menjadi Proper. Cara cara seperti ini, tentu jauh lebih efektif, daripada hanya ber wacana membawa kasus kasus sepele (tapi prinsip) diatas, ke meja seminar!

Untuk keperluan yang lebih panjang, barangkali, memang ada perlunya, tetapi akan lebih efisien, kalau kita mengaplikasikan hirarki yang sudah tersusun dalam struktur job mereka. Di awal pembukaan hotel melia, kawan se profesi kita, mas BINO, turun dari bus kota, berwarna oranye, tepat di depan Pos Satpam Melia. Spontan, mas BINO di berhentikan oleh Satpam, dengan pertanyaan interogratif, dan ketika tiba pertanyaan : ada keperluan apa mau ke sini?” Adalah hak seorang Tour guide, ada siapapun, dan apapun profesinya, untuk mengakses sebuah hotel. Karena, hotel, begitu juga Mall, adalah sebuah PA (Public Area), yang bisa dan boleh di akses oleh siapapun, walaupun, sebenarnya tidak ada kepentingan yang urgent, tidak ada larangan, orang memasuki sebuah hotel “A“, misalkan. Bukan mas BINO kalau tidak pandai berkelit… pertanyaan Satpam tadi dijawab,dengan mengeluarkan beberapa lembar 50 an US $ dari dompetnya: saya punya sedikit uang, kira kira cukup nggak ya, ini, untuk sekedar minum minum di coffee shop?” Jawaban yang spontan membuat Satpam, mempersilahkan mas BINO, memasuki lobby Melia. Sekali lagi, interograsi diatas terjadi, karena mas Bino, hanya naik  bus kota, sama dan sebangun dengan yang dialami Penulis di Novotel. (next..)

2 thoughts on “Karma Wibangga 1

  1. Bambang .S

    Sebuah artikel yang menarik, bagus. Sepanjang yang saya amati beberapa waktu, sungguh dan amat memprihatinkan dunia pariwisata di Indonesia. Meski bukan profesi saya sebagai Pemandu Wisata atau Biro Perjalanan. Banyak hal yang ingin saya sampaikan sebab bagaimana pun sektor pariwisata adalah salah satu sumber devisa bagi negara dan daerah ybs.
    Terima kasih

  2. Liem Sondakh

    Kalau kawan kita yang smart, seperti mas VS, kayaknya, sulit men-sabotase tamu beliau, karena beliau sudah menerapkan prinsip sabotase di fase-fase awal, dengan judul: SABOTASE LAH TAMU SEBELUM KELUAR PINTU RUMAHNYA, sebenarnya banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mem-filter, agar tamu kita tidak jatuh ke tangan orang yang sebenarnya tidak berhak ya, mari kita lakukan ala mas VS, sebelum tamu take off menuju pulau Jawa, bahkan, sudah ter sabotase habis, semua tour di borong, paling hanya menyisakan RAMAYANA di THR, sedikit ruang toleransi, agar guide yang in charged , bisa sedikit ber improvisasi, dan mas VS tidak pernah meminta jatah oseng oseng2 THR justru…mari, jangan biarkan sabotase berlangsung, kita perketat filternya

    salam sabo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s