Karma Wibangga 2

Dewasa ini, dengan tingkat kesulitan ekonomi di semua sector, membuat banyak kalangan yang melupakan etika, dalam mengumpulkan benda sepele bernama: UANG. Bukan hal yang berlebihan, kalau petugas Hotel memprospek tamu yang menginap di hotel mereka untuk mengikuti program tour mereka. Ada yang secara sembunyi sembunyi, alias dilakukan oleh oknum hotel (kantor depan utamanya), atau bahkan secara sistemik. hal hal diatas, sudah sangat sering terjadi, meminjam istilah mas Bambang Mur (sejak ulo ndas kayu), atau meminjam istilah mas Edi Jerman (Jakarta), sejak kuda gigit besi. di Jaman kejayaan Ambarukmo pun, sudah terjadi!! Penulis mengatakan sistemik ? ya, Karena business jegal menjegal tamu/sabotase, direstui atau menjadi kebijakan resmi hotel dimaksud. Boleh lebih saya perkejas disini, hotel itu bernama PHOENIX, satu hotel yang masuk ranking taratas versi Agoda maupun trip Advisor, tetapi, sah sah saja, kalau Penulis memberi rating lain untuk hotel top tersebut. Apa rating untuk Phoneix? Ratingnya adalah: Not recommended hotel!!!!! Mengapa? Penulis akan menuliskan dalam kesempatan terpisah, dengan status diatas, Penulis berhak, untuk member suggestion kepada Clients penulis, untuk tidak menginap di Phoenix. Memang secara manajemen, Phoenis, kalau tidak salah dimiliki (sebagian besar sahamnya) oleh Sun Motor–Solo…. Sehingga mereka memilki jumlah armada yang cukup secara jumlah, dan sangat layak secara teknologi (mobil mobil terbar ). Itu, barangkali yang membuat Phoenix merasa mampu menyelenggarakan praktek sewa mobil, sampai tour arranger!! brosur mengenai acara perjalanan di daerah Jogja dan sekitarnya, tidak hanya di bagikan dnegan sangat ramah oleh receptionist, tetapi, terlalu sering (saat hubungan penulis dengan Phoenix masih mesra), penulis menginap di kamar mereka (dari kamar Deluxe , Superior, sampai junior Suite ) pernah Penulis tinggali…apa lacur?? Benar adanya: brosur mereka sampai di distribusi ke kamar kamar. Rival Tour guide, terlalu berat, kalamana, hanya menghandle tamu yang in/out saja. Walah, susah susah belajar bahasa asing, mana Jepang, Jerman, Prancis, ora mung Inggris lho dab….Itali, dll, kok mung dikon methuk tamu in/out… .. Tetapi justru disitulah seninya..barangkali!  Selling ability kita teruji…dan mohon maaf, harus Penulis akui, kalau sampai Tour guide in charged, kalah berlomba menjual tour / excursions, dengan pihak hotel…berarti?? Guide tadi belum tuntas mempelajari Guiding technique. Kita sebagai front Liner, istilah sepak bolanya: starter, berkesempatan mengakses bertemu tamu jauh lebih dulu ketimbang siapapun, tamu yang kita jemput di bandara, ataupun stasiun ataupun Cruise ship port, tentunya akan jauh lebih percaya untuk menyerahkan acara tournya, diatur oleh orang yang lebih kompeten, dibanding, misalkan petugas Hotel, yang hanya mengandalkan SOPIR !!! masak kita kalah ???”””

Divisi Sabotase tamu di Phoenix, berstatus English Speaking driver. Mereka, dimanapun berada, tidak pernah di –welcome, oleh kolega senasib. Saat mereka menunggu tamu yang disopirinya ( bukan dipandunya, karena mereka bukan pemandu), di Borobudur, misalkan, sontak, sopir sopir yang lainnya, langsung menyingkir, menjauhi orang orang macam petugas Phoenix yang keliaran sampai Taman Wisata Borobudur. Petugas hotel kok, sampai keluyuran di Borobudur, wagu !! Tetapi, mereka bisa eksis, sebenarnya (salah satu factor) adalah karena guide  lemah !!!!! Kalau status mereka, kemudian sudah melakukan praktek menghandle tamu, yuridis official, ada aturan yang membatasi…lisensi misal…hanya yang berlisensi yang berhak memandu turis, tetapi sampai batas mana Screeningnya??? Toh tidak pernah ada Sweeping ??? Jadi, cara smart menghindari terjadinya sabotase, tentu sekali lagi, tidak cukup sekedar berwacana membawa kasus per kasus ke meja seminar, atau anjangsana ke PHRI… kurang efisien, kembali lagi kita-lah, front liner yang memiliki kesempatan luas memprospek acara tour, sebelum orang lain melakukannya (if any — misal belum ter include dalam paket yang mereka beli), kalau kemudian memang kita lagi apes, tamu tetap tidak mau tour sama kita, ya apa boleh buat. barangkali, memang tamunya tidak berminat tour. Atau mungkin soal harga? Setahu penulis, harga hotel (sewa transport), justru lebih mahal, daripada harga sewa di pasaran.

Kata orang dari kalangan Kapitalis barat…untuk maju, dan terus maju , kita perlu stumulan, dan salah satu stimulasi untuk maju adalah kompetisi Dengan adanya Kompetisi, maka akan timbul kreativitas yang inovatif Masih meminjam istilah sepakbola, output dari kompetisi hanya ada 2 macam: yaitu, naik kelas (promosi) atau terdepak ke jurang dalam (degradasi) mana yang akan kita dapatkan ? pilihan ada di tangan kita.

Selamat Berkompetisi

Note: Hanya untuk kalangan sendiri

One thought on “Karma Wibangga 2

  1. Ping balik: Karma Wibangga 1 « HPI JOGJA-Jogjakarta Tour Guide Association Official Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s