Kartinian renungan untuk kehidupan yang lebih baik

Setiap tanggal 21 April , kita selalu diingatkan untuk mengapresiasi perjuangan seorang putri REGENT yang terkendala mengakses pendidikan pada jamannya Di semua lini kehidupan di tanah air , dari kalangan terpelajar , ibu-ibu anggota PKK di kampong, sampai Pramusaji restaurant wara laba maupun Pramuniaga di berbagai macam gerai, diwajibkan mengenakan pakaian tradisional dari beragam daerah pada hari ini. Kaum hawa, diharuskan berpakaian sefeminim mungkin Sementara kaum Adamnya, mengimbangi dengan mengenakan pakaian adat dari daerah yang menjadi pilihan mereka masing masing. Agak dipaksakan, barangkali karena, agak kesulitan meng akses kain bawahan, sebagai ganti ROK modern, ada beberapa pramuniaga dan siswi sekolah yang justru mengenakan jeans warna gelap. Kalaupun semangat kartini, belum sampai menginspirasi generasi kita saat ini, jadi penggunaan pakaian tradisi daerah, masih sebatas kegiatan rutin seremonial , itupun masih bisa Van Suryo terima sebagai suatu kegiatan variatif, hitung hitung refreshing sambil karnaval. Van Suryo sering, teramat sering bahkan mengenakan Surjan, dari selop sampai blangkon khas mataraman, plus atribut senjata tradisional dan hiasan MELATI RINONCE, dll, dalam event menemani tamu tamu asing menghadiri acara ROYAL DINNER (makan malam ala kerajaan) di berbagai nDalem di seantero Jogja (Rayi nDalem, adik adik Sultan, ataupun Paman / Bibi dan kerabat dekat lainnya, baik dari kraton Ngayogyokarto maupun Puri Ageng pakualaman , memiliki rumah yang sellau berbentuk pendopo joglo , dan di Pendopo inilah, sering mereka , mengadakan jamuan makan malam, untuk menyambut tamu tamu agung tersebut ) Ritual ini, sedikit sudah bergeser , semakin langka kita temui. Van Suryo akan membahas, event Royal Dinner ini , dalam kesempatan lain. Yang agak membuat V S sesak napas , adalah kelirumologi yang sudah lebih dari 3 generasi terjadi, berkaitan dengan hari kartini. Sepengetahuan VS, mohon maaf, VS bukan ahli sejarah, tetapi yang VS ketahui ( let me know if I am wrong ), mengenai hari KARTINI adalah, apresiasi terhadap jasa putrid Regent jepara, dalam memperjuangkan kesetaraan jender, atau lebih popular dengan sebutan EMANSIPASI. Kalimat ini, memang sudah asing justru di beberapa Negara, karena kawan kawan dari Eropa , selalu terkejut, kalamana VS menceritakan bahwa di RI ada seorang mentri khusus menangani isu Emansipasi Wanita 9 sangat seriusnya masalah ini, sampai diurus di level kementrian )—- mentri urusan wanita. setidaknya kementrian ini, pernah memprotes penggunaan kata WTS ( wanita tuna susila ), karena definisi kalimat diatas terlalu agung, untuk kemudian diubah menjadi kata yang lebih KLOP , yaitu PSK ( pekerja seks komersial ), yang tidak lagi membawa bawa kata WANITA yang agung. Sekali lagi, substansi hari Kartini adalah , memperingati peran Kartini , dalam perjuanganya meraih kesetaraan jender ( EMANSIPASI ) Jadi, pengharusan / himbauan mengenakan pakaian tradisional , sudah barang tentu tidak RELEVAN dengan permasalahan / isu yang dimaksudkan dalam peringatan ini. Pakaian daerah, dari Sabang sampai Merauke ( bukan hanya kebaya + kain ), ada juga yang mengenakan baju ala perempuan Padang , Menado, Bali , Lombok , dll, keberagaman kultur di Nusantara , yang diantaranya di manifestasikan dalam media BUSANA, setahu Van Suryo, hanya erat berhubungan dengan KEBHINEKAAN ( keberagaman kultur / etnis ) Bila hal ini yang menjadi tujuan, tentu lebih PAS, dan akurat apabila , mengenakan pakaian daerah justru dilakukan pada saat kita memperingati SUMPAH PEMUDA ( 28 Oktober , satu nusa, bangsa dan bahasa ), dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika ) Kesimpulannya : Emansipasi sangat jauh , jauh sekali relevansinya dengan Kebhinekaan ! Kebodohan yang sudah berlangsung bertahun tahun, apakah masih harus kita pelihara?? Siapa berani melakukan perubahan ini ? mulai tidak usah mengenakan pakaian adat per peringatan Karini? Untung anakku libur hari ini, menikmati hari tenang menjelang Unas. Selamat hari Kartini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s