Travel Biro Tidak Berbadan Hukum

JOGJA—Pemerintah Provinsi DIY kehilangan potensi pendapatan hingga ratusan juta rupiah dari puluhan travel agent tak berbadan hukum yang seharusnya memberi pemasukan kas daerah lewat pajak. Tak hanya itu, keberadaan travel agent tak berbadan hukum ini juga dikeluhkan Asosiasi Tour and Travel Indonesia (ASITA) DIY karena dinilai memperburuk citra jasa perjalanan lantaran tak memberi pelayanan memadai. Hal tersebut terungkap saat Ketua ASITA DIY, Edwin Ismedi Himna, Senin (13/2) beraudiensi dengan Komisi B DPRD DIY. Edwin mengatakan, saat ini jumlah travel agent tak berbadan hukum mencapai sekitar 70-80 agen, atau separuh dari total anggota ASITA sebanyak 165 yang telah berbadan hukum. Menurut Edwin, tiap tahun jumlahnya kian menjamur. Keberadaan agen perjalanan tak berbadan hukum itu menurutnya memukul anggota ASITA yang telah berbentuk perusahaan dan rutin membayar pajak. Pasalnya, mereka menawarkan paket wisata lebih murah hingga 30% dibanding yang ditawarkan agen perjalanan yang tergabung dalam ASITA. Potensi yang hilang akibat keberadaan puluhan travel agent itu mencapai ratusan juta rupiah. “Kalau potensi pendapatan lewat pajak bisa mencapai ratusan juta,” tandasnya. Anggota Komisi B DPRD DIY Ternalem mengatakan, menyikapi laporan tersebut pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata, guna mengetahui sejauh mana pengawasan yang dilakukan selama ini.(Harian Jogja/Bhekti Suryani)

Tulisan diatas bagi tour guide di Jogjakarta ini adalah tamparan telak, atau tuduhan secara tidak langsung kepada tour guide, karena siapakah  yang bermain ngurusi tamu selain travel biro?  Ya tentu salah satunya adalah tour guide yang kerjanya ngurusi tamu dan letaknya yang tidak jauh-jauh amat dari travel biro. Dari posting internet diperoleh comment-comment sbb:

Terlalu banyak yang dipolitisir kertidak mampuan, mengakses tamu direct (konsumen), menjadikan Ed, memberikan statement sepihak, kenyatanya, adalah, bahwa mereka justru menjual lebih murah!!!!! Paket mereka hanya akan laku kalau mau membanting harga, karena, mereka hanya menggantungkan nasib operasional travel ala ASITA , melalui agen agen besar /kecil di Bali sehingga harga mereka tidak akan kompetitif, menerima order setelah melalui penekanan, itulah  yang sebenarnya terjadi. Ada atau tidak adanya kehadiran travel non ASITA, adalah suatu perkembangan yang alamiah yang harus mereka sikapi.

Konsumen, saat ini, mendapat banyak sekali opsi, apakah harus dgn asita, dengan edwin, atau dengan pemilik transport langsung misalkan!! Dieng Transport, banyak sekali mendapat order langsung dari Belanda, apa ini suatu pelanggaran hukum ? tamu berhak untuk memilih. seperti halnya mau makan siang, bisa makan di warung padang, di Bale Bengong, di Pesta Perak,  Dan apa yang di wacanakan Edwin, as always, rasah di gagas ora marai pinter, mung waste energy.

Dunia Pariwisata milik siapa? apakah milik travel biro saja, apakah milik pak Ed saja?  Jawaban yang masuk akal adalah pariwisata milik semua orang dan juga tanggung jawab semua orang yang bermain didalamnya. Dunia pariwista adalah lapangan kerja yang sangat-sangat luas dan dinamis, dikatakan sebagai lapangan kerja yang luas karena di pariwisata terdapat banyak komponen yang bekerja  mulai dari hotel, restaurant, guide, travel biro, transport, artshop, tukang becak sampai dengan pengemis, dikatakan sebagai hal yang dinamis karena pariwisata berkembang sesuai kemajuan jaman, tingkat ekonomi yang berlaku saat itu, jadi tidak statis diam ditempat.

Retorika lama yang mengatakan bahwa yang berhak melayani wisatawan adalah travel biro sudah sangat tidak relevan dengan perkembangan jaman dan tidak lagi masuk akal bahkan dapat dikatakan  sebagai tindakan yang kontra produktif yang manghambat perkembangan pariwisata. Apabila dikatakan bahwa pariwisata adalah milik travel biro maka pariwisata justru tidak berkembang karena travel biro hanya mempunyai kapasitas yang terbatas, sedangkan wisatawan yang tidak tertampung travel biro akan meluber kemana-mana ke siapa saja yang dapat memberikan service.

Sebagai contoh apabila ada calon wisatawan yang mau datang ke Jogja dan meminta pertolongan ke sesesorang, apakah harus mengatakan bahwa anda harus ke travel biro ABCD?  Tourist tanpa pemilik kok dikasihkan orang lain…. kesuwen mas ! duwit  kuwi  mas tur sikat langsug mas  selak tamune mletas..

Mengenai pembayaran pajak, jangan dianggap travel biro tidak terdaftar tidak bayar pajak, mohon dicatat bahwa secara tidak langsung travel biro yang tidak tercatatpun tetap mendatangkan pajak, misalnya dengan hotel, hotel akan membayar pajak, makan direstauran kena pajak, menggunakan transport juga kena pajak, tamu beli ditoko atau diartshop juga kena pajak, menukarkan mata uang asing juga kena pajak, yang seperti ini kok dibilang tidak mambayar pajak.. bagaiman nalarnya kok iso-isane ngomong koyo ngono ?? Perlu juga dicatat bahwa travel biro tidak berbadan hukum dapat mendatangkan tamu langsung dari luar negeri dengan tanpa menganggu uang rakyat, adalah hal yang terhormat.

Secara logika semakin banyak tamu yang datang ke Jogja semakin banyak pula pendapatan pajak yang diperoleh negara, semakin banyak tamu yang datang semakin sejahtera orang yang bermain didalamnya  mulai dari pedagang asongan sampai hotel berbintang . Patut dicatat untuk meyakinkan tourist untuk memilih Jogjakarta tidak mudah loh.. ongkosnya sangat mahal.. bahkan menguras anggaran negara…  dan perlu menjadi catatan bahwa travel biro tidak berbadan hukum itu bisanya mempromosikan obyek-obyek sendiri..  menghandle sendiri .. dan bahkan service juga lebih baik.

Apakah dianggap sebagai suatu kesalahan apabila orang menyejahterakan dirinya sendiri .. apabila orang sejahteran orang dapat  membayar pajak, orang dapat mempunyai barang yang terkena pajak, dan pajak akhirnya masuk negara.

Jadilah pemimpin yang dapat dipercayaMembuat quotation juga menggunakan trik–trik yang merugikan orang lain misalnya tips untuk tour guide, kadang ada travel biro yang berbadan hukum yang memasukkan tip dimasukan dalam quotation sehingga harga yang ditawarkan termasuk tip buat tour guide, akan tatapi pada kenyataannya tip tersebut diberikan tour guide sebagai fee, bukankah hal itu adalah membayar pajak pendapatan dengan mengorbankan orang lain, dalam arti pajak yang dibayarankan travel biro adalah hasil ngungkret jatah tour guide. Statement diatas adalah ekpresi ketidakberhasilan seseorang menjadi pemimpin, tapi yang disalahkan adalah orang lain. Lagipula yang perlu dicatat bahwa travel biro yang dianggap tidak berbadan hukum selalu membayar hotel dengan cash, mambayar transport dengan cash, semua dengan cash payment upon arrival berbeda sebagian dengan travel yang disebut sebagai travel biro berbadan hukun yang membayar tetapi hotel dengan voucher, membayar makan siang atau malam dengan voucher, yang tentunya pelunasannya akan mundurr 3 bulan. Travel agent yang tidak berbadan hukun adalah expressi untuk menampung tututan jaman dimana orang modern lebih suka hal yang praktis efisien dan cepat, hal inilah yang tidak dapat dilakukan oleh travel biro yang mangaku berbadan hukum yang mengaku membayar pajak… hanya dapat melayani request hanya selama hari kerja dan jam kerja.. ..

Seperti di dunia IT ada Microsoft yang berbayar tetapi ada juga Linux yang free , konsumen tidak harus menggunkan yang berbayar iyo to ?? Travel berbadan jalurnya lain jadi sebagai ketua Asita bang Ed tidak perlu mencampuri urusan orang lain, uruslah rumah tangga sendiri agar menjadi lebih baik, dan tidak ditinggalkan customer.

Selanjutnya silakan baca comment yang masuk.

Hanya untuk kalangan sendiri

23 thoughts on “Travel Biro Tidak Berbadan Hukum

  1. Djarot

    NdaK disana ndk disini ASITA mung usreg……..

    Di solo banyak agent anggauta Asita klu dpt job yg garap juga biro non Asita…. py ki dab…..
    Asita seharusnya bertanya kenapa banyak yg tidak mau gabung Asita…..
    Kami berbadan hukum tapi non Asita…. tapi kami taat pajak loh…pph..ppn..

  2. Yani

    aku dukung apapun usaha di wisata syah, siapapun punya hak untuk berusaha mbukankah dengan usaha sendiri mengurangi tingkat pengangguran ,mending dia bisa cari kerja, dari pada dia rampok perusahaanmu Gm hayo…..

  3. The Wiedy Antara Tourism Services & Marketing Consultant

    Wadddoh! … Iki kepiye. Alah moco wae. Arep komen ora sido. Ora mudeng karepe. Sing ASITA yo tiidak berbenah sesuai garis Organisasi dan aturan Hukum. Sing Guide yo ngono, njuk kabeh dunia IT ki rasah perlu aturan ngono pho? Iki nek diteruske, sing moco dadi wong paling pinter. Nonton argumentasi berbantahan orak karuwan. Mulane, aku arep ora nulis koment …. Ha ha ha …

  4. Parwono

    Menurut saya yang lebih tidak rasional adalah yang menulis/upload karena 1. katanya utnk kalangan sendiri tapi kenapa di upload ke media publik? jelas anda yang katanya ahli IT kan tau wordpress bisa diaksess siapa saja berarti itu utk konsumsi publik.
    2. penulis berpendapat yang siafatnya asumsi dan bisa juga dikatakan menjustify seseoarang dengan mnyebut nama seseorang tetapi penulis sendiri tidak menyebutkan jatidirinya. itu bisa dikatakan pengecut yang bersembunyi dibalik organisasi HPI. karena di upload di web nya HPI.

    Parwono

  5. imron

    akan lebih menyenangkan kalo kita semua bersinergi antara travel dan guide. Smua saling megang komitmen untuk tidak banting harga, buat standarisasi fee dan semua harus mematuhi, tapi semua juga harus pegang kejujuran….. ben sugih bareng bareng ora ambruk bareng bareng.

  6. bento

    Kalo ada travel biro yg tidak berbadan hukum, bukan berarti harus diberangus tetapi diajak untuk adi anggota, tawarkan keuntungan apa yg didapat jika menjadi anggota dan kerugian jika tidak jadi anggota ASITA. Bukannya komplain di koran dsb….

  7. luna

    dulu waktu ketemu dengan pak edwin, di kantor ashita timoho.. saya pernah sampaikan agar hargai guide denga fee yang layak krena guide sudah tahu semuanya, gian dapat tamu,harga,hotel dll agar profesi ini maju dan pada dilirik. jika tidak nanti tiap guide akan pada nyari sendiri karena tehnologi tidak dapat dibendung: INTENET DAN HAPE adalah kemajuan yang tida dapat ditolak oleh siapa saja. itu idea aku sampaikan : jawabya: jika tidak ada guide nanti bikin lagi… sangt sakit hati aku waktu itu,. maka saya sangt suka dan setuju untuk eman yang punya kemampuan tehnolgi maju dan dapat handel sendiri. hidup rus maju. lha yen tidak dihargai bags dan kita tahusemua gimana dapat duit.. golek dhewe to… salam.. trus maju. jika tidak ada yang hargai kita,mari kita hargai diri kita sendiri.. aku dah ingatkan…sampaikan. aku wae yen mersa untung aku kerjakan yen ora ya tidak usah.. itu manusiawi. orang melakukan sesuatu karena untung… .. ok tetap maju dan do what you can… … ok.. maju

  8. Heri

    Kalau ada Travel BELUM berbadan hukum SEKARANG tdk perlu menjadi masalah. saya katakan belum karena pasti Kita mau mendirikan Usaha pasti punya keinginan berkembang!! Hanya masalah waktu saja. Mari bersama2 Kita sarankan untuk melengkapi Ijin seperti juga seorang Guide mestinya harus punya Lisensi !! Mempunyai Ijin sebagai salah satu bentuk Profesionalisme! Tidak mempunyai Ijin baik travel maupun Guide berarti masih dipertanyakan profesionalismenya !! Seorang Profesional salah satu cirinya Taat Hukum.

    Travel yang tdk belum berbadan Hukum tdk selalu menjual harga lebih murah! dan tdk selalu membayar Guide lebih murah.. dan tidak selalu membayar hotel lebih murah walaupun mereka membayar selalu kontan!!
    Harga lebih murah terjadi karena Travel banyak yang malas untuk mengembangkan produk. Travel Jepang terkenal dengan Market yang paling Jelek. Maaf kalau ada yang tdk berkenan. tetapi kenyataannya memang begitu. Guide jepang masih ada yng menerima fee kurang dari 100rb/day dan travelnya katanya (saya tdk tahu persis) hanya mendapatkan untung 50rb atau 100rb..Hal ini terjadi karena Market Jepang hanya berkutat pada program tour transit 1 hari saja… Mau diolah seperti apa kalau tour hanya 1 hari saja!! ya jadinya Produk hanya Jualan Borobudur dan Prambanan!!!! Ini sdh berjalan paling tdk 20 tahun!! Anda bisa membayangkan produk yang sama dijual selama 20 tahun.. pasti pemainnya sdh sangat banyak.. terjadilah perang harga. Karena travel si Karto menjual 1$ lebih murah, Tamu pindah ke Travel Karto. Besok pagi ada Travel si Warso menjual 1$ lebih murah Tamu pindah ke travel si Warso.. begitulah seterusnya. nah Kalau Travel tadi menjual dengan cara cash and carry.. datang lagi travel si Dewi, menawarkan harga lebih murah dan bisa bayar hutang sebulan. nanti ada tawaran lagi berikutnya yang menawarkan harga lebih murah dengan Hutang 2, 3 bulan kebelakang atau bahkan lebih… Kita punya sifat turunan yg menjadi ciri yaitu tidak bisa menolak!!! Dan Hal tersebut banyak dilakukan oleh travel2 resmi, berijin dan anggota ASITA.

    Marilah kita sama2 menghargai kerja keras dan profesionalisme dengan tdk menjual paket perang harga!!

    Selamat Berkarya dan Salam Pariwisata.
    Heri

  9. Rahmat

    BK pernah berkata : we ordelen de mensen niet van de woorden , maar wel van de daden
    orang dinilai bukan karena kata katanya, tapi karena perbuatanya
    mau di nilai dari sudut manapun, mboh resmi maupun tidak resmi, itu tidak dilihat clients yang smart, konsumen hanya akan melihat praktik di lapangan, siapa bisa membuat konsumen happy, mereka lah yang akan memenangkan persaingan yang semakin tak berbatas
    konsumen akan happy, bila dipandu guide yang berkualitas
    guide yang qualified, akan didapatkan , apa bila guidenya happy
    guidenya happy apabila dibayar layak
    guide domestik saja, di banyak biro non asita, sudah dibayar Rp.250.000 / day , ket jaman ULO NDAS JAYU
    yang katanya member ASITA, isih mbayar Guide berbahasa asing, dengan fee Rp.60.000/day, kalah sama tukang ojek prapatan Pingit wis
    kuwi mboh Guide beneran, iso ngerti bahasa aisng ( jepang ), po mung mergo iso muni sayonara…mboh, sing jelas , yo mung nyuwidak ewu regane

    ono kapan kae sing nulis, everybody happy, kudu koco sing di ngendikakne kangmas sing pinter nulis kae, artikele DALANG RA KURANG LAKON, pinter tenan kae, ngango nanggap jatilan barang, intine, yo kuwi mau, everybody happy, kabeh kecipratan tur, yo sembodo, le ngregani fee mau
    nek ora cucuk, yo bener wae, macul ning omah, nandur telo
    Guide si sakiki, mung ampas turahan, ora koyo jaman biyen, mung methuk transfer in wae, iso mampir kidul rel, tur mesti netel separo jendelo bus ukurane gambar

    nek sakiki, gelem tuku bakpia 2 besek wae, kudu wis di syukuri
    mulo, guide kudu menghargai profesinya sendiri
    termasuk menghargai FEE nya
    lha nek dudu guide , sopo menih sing kudu menghargai??

    nek ASITA, karepe yo mung arep bati sak okeh okeh-e, mereka kan saudagar , engan orientasi profit
    wajar
    nek iso mungkin, bahkan, karepe ASITA ki ngango guide kemampuan guru besar, dinggo terus ra tau prei, rasah dibayar sak modare

    mulo, pilihan ada di tangan kita
    arep terus mempertahankan status survival dengan fee rendah, yo ora popo
    ning nek pancen rumongso wani bersaing dengan kualifikasi tenanan, yo selayaknya wani ngarani fee sing layak sisan
    dalam batas wajar dan profesional

    wassalam

  10. Gopar

    Wah wah, apik tenan le adu argument..
    Intine aku setuju yen manungso kuwi mesti iso urip luweh maju lan ojo di ireni. Ayo podho mlaku bareng bareng lan rak usah ngelek elek kancane, kabeh butuh urip lan rak usah podo padu sedelok maneh bodho dab… Salam damai

  11. Suzuki Jogja

    YOGYA (KRjogja.com) – Keberadaan travel agent illegal di DIY dikhawatirkan akan berdampak buruk pada image pariwisata DIY. Selain mematikan bisnis karena persaingan pasar yang tidak sehat, travel agent illegal juga diketahui banyak melakukan penipuan pada konsumen.

    === tidak semua bung travel biro ilegal nipu dan tidak semua travel yang legal tidak nipu.. berapa banyak tarvel yang legal yang ditipu partner sendiri atau malah nipu client ata partner hotel restaurant .. ada juga to bung… ?

    Ketua Asosiasi Tour dan Travel Indonesia (Asita) DIY, Edwin Ismedi Himna mengungkapkan, saat ini diperkirakan ada sekitar 70 sampai 80 travel agent illegal yang masih beroperasi. Keberadaan mereka jelas dikeluhkan oleh travel agent resmi karena perang harga yang dianggap tidak realistis.

    == Pangsa pasarnya berbeda bung travel biro milik anda pasarnya ya partner anda di Luar Negeri atau luar Daerah.. sedangkan yang and sebut illegal pangsa pasarnya adalah tourist yang tidak kontak travel agent, pribadi atau walking guesst, misalnya ada tourist mau naik becak apakah harus laporan dulu ke sodara ketua.. misalanya ada wistawan mau ke Purawisata apakah harus laporan dulu ke sang ketua ???

    “Travel agent illegal memberikan harga paket wisata yang bisa lebih murah hingga 30 persen. Sementara travel agent resmi tidak bisa membuat harga di bawah standar karena perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas (PT) dan memiliki karyawan yang harus digaji,” ujarnya saat audiensi dengan anggota DPRD DIY di gedung dewan setempat, Senin (13/2).

    == Belum tentu bung, banyak travel yang anda sebut legal di Jogja banting harga dengan dengan travel bali.. sebagai konsekwensi.. guide diwajibkan untuk mgantar ke pijet, artshop .. dan lain-lain, untung meneng diam seribu bahasa, untunge kurang koar-koar ben entuk tax holiday.

    Menurutnya, selain mengganggu iklim bisnis, tidak jarang travel agent illegal juga dikeluhkan banyak konsumen. Misalnya layanan di bawah standar hingga penipuan. “Kejadian ini tentu bisa mengancam image pariwisata DIY dan berpotensi membuat wisatawan malas untuk ke Jogja,” tuturnya

    == Iklim bisnis yang mana bung, malah justru sebaliknya .. dengan adanya travel illegal orang akan dolan ke jogja makin murah dan banyak pilihan… bukankan prinsip-prinsip pariwisata itu mendatangkan toursis sebanyak banyaknya…

    Travel agent illegal, lanjutnya, menjalankan bisnis hanya dengan sambungan internet. Mereka juga menghilangkan potensi pajak yang diterima oleh pemerintah. “Travel agent yang tergabung dalam Asita wajib menyumbang pajak, sedangkan mereka yang illegal tidak menyetor pajak. Pemeritah jelas kehilangan potensi pajak hingga ratusan juta rupiah,” tegasnya.

    == Ya bukan travel illegal yang disalahkan, banyak member sampeyan yang buta malasalah IT hanya melek masalah keuntungan sunat sana-sini . Anda iri dengan orang lain yang lebih pinter .. Dari awal anda juga bukan siapa-siapa polos seperti orang lain… Travel ilegal juga mbayar pajak.. loh punya mobil.. beli tiket pasawat, hotel restaurant dll juga kena pajak…

    Pihaknya berharap, dewan bisa segera membuat legislasi atau perda yang mengatur tentang travel agent. “Kondisi demikian harus segera diatasi agar travel agent illegal tidak semakin menjamur. Termasuk antisipasi agar jangan sampai image pariwisata kita tercoreng,” imbuhnya. (Aie)

    == kemajuan jaman yangb harus diantisipasi bukan menyalahkan orang lain .. begitu bung jangan selalu menyalahkan orang lain

  12. Edy

    Sing ngapusi sapa kuwi…? ojo-ojo ming nggawe perkoro anyar….
    Wah, iki ana-ana wae…. mas Edwin Bisa membuat peluang kerja untuk masyarakat pengangguran ora? Terus DPRD ne Iso ngatasi pengangguran ora? Lha wong golek pangan apik-apik kok ish di jegal-jegal. Nek pancen ono sing ngapusi, Tunjukkan saja siapa orangnya? toh beres…. Gawe gawean ki angel..nek pengangguran dho kagol pie dadine negara iki….Sapa sing isa ngatasi pengangguran…endi buktine tekan saiki pengangguran nek kurang. Tingkat penganggura semakin lama semakin meningkat…pemerintah po iso ngatasi po? endi buktine..nek wong dho iso nggawe website dan mendatangkan tamu dengan sarana website mereka berarti telah ikut mendukung program pemerintah. Opo kaya ngono kuwi salah… saiki tamu nek golek barang murah kuwi wajar, tamu juga manusia. Manusia mana yang nggak mau dengan harga murah… lha wong nek di larangke ya podho ora gelem…..Semua harus berpikir…nek pancen iso ngatasi pengangguran silahkan koar-koar. nek raiso yo uwis. Jangan mengusik orang mencari rejeki. Allah mewajibkan kita untuk mengais rejeki-NYA.

  13. tour guide association Penulis Tulisan

    HPI Jogja adalah buletin atau majalah online .. siapapun boleh nulis dan koment

  14. dab jogja

    Sebetulnya aktivis ASITA dan HPI bertemu saja mencari solusi bicarakan issue2 positif tentang program kemajuan pariwisata, bersama meningkatkan jumlah ocupansi kunjungan wisata ke Jogja, daripada ngudoroso saling membuka aib antar pencari nafkah; soal pajak dan lain-lain ben diurus ahline…ra sah komen sing ra perlu, isane mung nesu nggerutu ro nggowo kayu bakar rono-rene tur ngapikne awake dewe…sing liyan mesti elek ora bener

  15. Susanto Edi Wibowo

    Masalahnya bukan antara HPI dan asita, tetapi yang menimbulkan tensi adalah pernyataan saudara ketua yang mengorbankan/menyalahkan orang lain… dan betul seperti yang anda katakan tidak perlu macem2 sing penting mendatangkan banyak tourist..tetapi bagaimana orang lain tidak terusik .. lah wong usaha-usaha sendiri nggak ngganggu orang lain kok oleh ketua dikatakan ilegal, tidak mbayar pajak dll, bahkan dikatakan sudah mengganggu pariwisata DIY dll, bukankan masih banyak pilihan kalimat yang lebih bijak dengan tidak menyalahkan orang lain dengan mengatakan kepada anggota “sebagai anggota asita harus bersiap diri menyongsong pasar global, karena semakin banyak saingan” dengan demikian saudara ketua tidak menyinggung pihak lain.
    Komen tuan ketua ditunggu, kalau sekarang hotel menjual room melalui Agoda.com, Asia room atau melalui portal yang lain ? juga bagaimana kalau hotel menjual paket wisata, bukankan meraka juga melakukan shortcut.. hingga tidak ada pajak yang masuk ke pemerintah? Harusnya anda juga mengadu juga ke DPR kalau hotel harus menjual room atau transport atau paket wisata ke member assosiasi.
    Kiranya orang yang selevel dengan ketua assosiasi yang terhormat, saudara ketua dapat mengunakan bahasa yang lebih intelektual.

  16. Gopar

    Sik Sik, aku pingin krungu komentar dari saudara ketua..
    Pak ketua, kapan nie kasih argumen ke teman teman /

  17. Yamada

    Mantap banyak argumen. Sedikit saja saya ikut nambahi. Saya mau tanya buat semua, yang legal itu yang bagaimana? yang ellegal itu yang bagaimana? yang banting harga itu yang gimana?

  18. LALU ARJUNA

    Membaca hasil Tulisan dari Bung Ketua Asita Yogya, bukannya di Yogya saja yang mengalami seperti yang di komentari itu, di Lombok – Nusa Tenggara Barat menghadapi hal yang sama bahwa separuh saja yang masuk gabung sebagai anggota asita walaupun Travel Agent di Lombok NTB lumayan banyak, demikian Bung terima kasih

  19. kuswahyudi

    Well..it is a sign that we all care about our tourism. Tourism is a miryad chain of components, so there is always problem somewhere and there is no perfection. It is a matter of how we handle tourism for quality and not for quantity….but it is also a matter of future process of improvement. Argumentation is ok but it should end in improving quality for our next generation….and we have to see it as one. Remember tourists will finally view Indonesia generally and not speciffically. So be open mind, think globally for future quality ’cause all are from God n we have to thank for what was given by Him and we have to contribute our expertise n skill and in doing so financial rewards will also come in line with what we sacrificed…..Hidup Yogya n Hidup Indonesia

  20. Putra Wijaya Tours

    Mau Biro Anggota ASITA atau pun Non ASITA, yang penting pelayanannya wajib di perhatikan.. Karna bukan hanya Biro Kita yang di Jual, Tapi Kita Jual Kekayaan yang di miliki Atas Nama Indonesia / Provinsi / Kabupaten / daerah masing-masing.

    Jika Biro tidak resmi sebagai anggota ASITA, namun resmi dalam bentuk usahanya adalah hal yang wajar dan tidak perlu di ungkit2. Lihatlah mereka biro-biro yang ingin menjadi anggota ASITA, mungkin kesulitan dalam mencukupi prosedur pengajuannya.

    Lihatlah mereka sebagian biro-biro yang menjadi anggota ASITA, selalu memaksimalkan nama ASITA-nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s