Reposisi dan Kompetisi sebuah renungan akhir tahun 2011

SALAM PRAMUWISATA selamat pagi, rekan rekan semua
Penulis ingin mengevaluasi perjalanan dunia tour guides, khususnya di Jogjakarta dan pulau Jawa pada umumnya, hari ke hari , dan tahun demi tahun yang berlalu, setidaknya dalam 20 (dua puluh tahun) terakhir ini, di akhir tahun 80an, awal sejarah berdirinya HPI, adalah tahun keemasan kawan kawan seprofesi, di awal tahun 90 an, masih di era ORBA, dengan stabilitas yang dipaksakan, membawa dampak sangat positif di dunia pariwisata. saat itu, peruntukan ijin memandu (baca Lisensi) juga murni pengakuan kualifikasi kualitas, sehingga pemberian lisensi berjenjang dengan kontrol dari Dirjen pariwisata, membuat koordinasi dan pembinaan yang tidak pernah tumpang tindih. Intinya, segala aspek, sangat kondusif, membuat keberadaan Tour Guide, sangat diperhitungkan, stabilitas keamanan nasional mantap, otomatis (walau dengan promosi yang tersendat), wisatawan mengalir deras, lembaga pendidikan yang fasih memproduksi SDM berbahasa asing, relatif juga belum menjamur, sehingga kebutuhan akan Tour Guide, selalu saja kurang dan kurang. Jaman berubah, keberadaan Tour Guide, dan asosiasinya, mulai mendapat gangguan dan ancaman, bukan ancaman terhadap eksistensi organisasi ini, tetapi yang penulis maksud adalah ancaman terhadap taraf kesejahteraan anggotanya sejak dulu, anggota hampir selalu, berjuang sendirian, karena asosiasi sebagai fasilitator justru malah digerogoti oleh anggotanya sendiri. kebijakan asosiasi berupa standarisasi FEE , tentunya akan berujung kepada kesejahteraan anggota, tetapi saat asosiasi mematok nominal tertentu, justru anggotanya sendiri yang ribut !! Lebih parah lagi, bahkan di akhir tahun 2011, dan sangat mungkin akan di aplikasikan pada tahun 2012 mendatang, 2 anggota asosiasi, dengan inisial Y dan B sudah merelesae statement resmi di biro yang kemungkinan akan menggunakan jasanya , untuk rela bekerja, terus menerus TANPA FEE sepeserpun, dengan satu syarat bahwa yang bersangkutan digelontor grup seri yang sambung menyambung sepanjang tahun. 2 anggota tadi, belum jelas apakah masih valid keanggotaannya atau sudah kadaluwarsa, sebenarnya sudah terdepak dari percaturan biro raksasa yang mempekerjakannya, mengapa itu terjadi ? pertama karena faktor umur, mereka sudah terlalu uzur di usis senjanya. yang berikutnya juga karena berbagai tindakan indisipliner dan short cut, seperti membuat laporan akhir tour (statement) sendiri, yang seharusnya di tada tangani oleh pihak tamu, statement tadi kemudian dilaporkan dengan evaluasi super excellent, seolah olah memang mereka Tour guide paling jempol !! Bagaimana mungkin Tour Guide bekerja tanpa harus dibayar ! Substansinya, adalah bahwa Tour Guide sebagai profesi hidup dari FEE ( lauak atau tidak ), kalau ada yang berani bekerja ( dengan medan overland berat ) tanpa dibayar, tentu karena ada imbalan lain yang lebih menggiurkan, dan hal hal seperti inilah, yang harus kita sadari justru menunjukkan keserakahan, dan ke tidakprofesionalitasan Tour Guide yang bersnagkutan Anggota semacam inilah, yang merusak eksistensi Tour Guide, tentunya pihak Biro juga sudah mempekerjakan Tour Guide lain sebelumnya, dengan agreement natural, dan mungkin konvensional, akhirnya mereka yang konvensional (walaupun lebih kompeten), justru malah tersingkir, oleh mereka yang tamak.

Adalah menjadi hak setiap orang untuk bekerja se maksimal mungkin. dan sampai saat ini, belum ada batasan limit umur seseorang sampai umur berapa bisa dipekerjakan sebagai seorang Tour Guide. Tahun 2011 ini, Penulis masih menjumpai sosok energik, angkatan 45 yang masih tersisa, beliau adalah ibu I B R A H I M, salah satu Guide belanda terbaik yang dimiliki HPI Terbaik bukan versi ASITA, atau versi art shop, tetapi versi Tour Operator di Eropa, sebutlah : Holland International, Unitravel, Van Ginkel, ARke reisen, dll. beberapa nama Tour operatornya saja sudah almarhum, tetapi Guide terbaik mereka masih survive !! Luar Biasa !! saat ini, ibu Ibrahim berusia, sekitar 84 tahuan-an. Dan amsih sangat bugar !!!! Mungkin beliau adalah Guide yang tertua di negara kita tercinta, Republik Indonesia ! perlu dicatat, bu Ibrahim melakukannya bukan semata mata untuk mencari uang. ada 2 hal yang membuat beliau kembali turun ke lapangan: 1). Pihak biro yang sangat kekurangan SDM Guide Belanda (di peak season, Juli-Aug) 2). Bu Ibrahim memiliki waktu, dan ingin menikmati masa tuanya untuk jalan jalan bersama Tamu Belanda khususnya, mengisi waktu luang beliau Yang menjadi masalah adalah, saat kekurangan (faktor umur atau skill lainnya), ditutup dengan kong kalingkonk MURTAD tidak usah dibayar, begitu kurang lebihnya, dengan maksud menyingkirkan rival sesama tour guide itulah yang penulis perlu garis bawahi, bahwa saat ini, Tour guide mendapatkan ancaman, salah satunya justru dari sesama temannya sendiri. Lihatlah betapa setia dan ikhlas kawan kawan menengok kawan kita Edi Amplop, yang saat ini masih tergolek sakit, sakit yang menguras energi dan beaya tentunya. satu per satu, kawan kawan anggota HPI berkunjung ke Happy land, menunjukkan simpati dan perhatiannya untuk kesembuhan kawan kita Sementara di pihak lain, orang orang serakah yang Penulis sebut diatas, tentu akan sangat merasa senang apabila memiliki kawan yang sakit. Sedikit yang penulis ingin share dalam forum ini adalah, ketika Tour Guide hanya merupakan satu satunya profesi tempat mana kita menyandarkan periuk nasi kita, tentu akan sangat rentan kita mendapat tekanan eksploitasi, dari bermacam sumber. eksploitasi berupa FEE Murah/bahkan tanpa FEE, medan tempur tour yang semakin berat, obyek kebijakan penguasa yang justru tidak memihak Tour Guide, fitnah Jurnalis arogan yang tidak proporsional mewartakan kabar aktual, USER (biro travel) yang tidak koperatif, dll

Kita perhatikan foto Tour Guide era tahun 90-an diatas (foto diambil saat berlangsungnya Tour Leader Course, pada bulan januari 1991 di Wisma joglo), mas DIDIK masih sangat ganteng, lebih ganteng dari Liem Swie King , pak CANDRA MULYADI ( guide mandarin – almarhum), masih sangat gagah, ada juga mas Joko Purwanggono yang mesam mesem, kemudian mas PUNTO ( yang belum mengenal check up rutin, dan masih merokok ala lokomotif ), mas SEDIAJI juga masih sangat walafiat waktu itu, ada Guide belanda sangat belia waktu itu, baru berusia 21 tahun, Wawan namanya ( foto kedua dari kiri atas ), MORIS (moris, juga masih sangat menikmati rokoknya), TONI juga masih sangat lebat rambut kribonya, dll

Ya, waktu bergulir, tanpa bisa berhenti sejenakpun, dan perlahan stamina kita menurun, daya tahan tubuh pun berkurang, saat terhempas badai gunung Bromo, dengan sendirinya kita akan masuk angin, atau bahkan yang lebih parah dari itu. sementara output finansial yang kita dapat dari pengantaran perjalanan overland, kadang bahkan hanya cukup untuk beli beras, tidak seperti masa masa dimana kawan kawan masih sangat gagah dulu, dimana income mengantar tamu transit cukup untuk menebus sebuah motor baru, lain dulu lain sekarang. Memang tidak semua kawan kawan kita bernasib seperti cerita diatas, ada yang masih sangat eksis dengan FEE lebih dari layak: US $ 100,- /day Ada juga yang sukses mengelola usaha transport seperti kawan kita YUWONO, atau mengelola usaha kost kost an seperti mas YUNI (Jerman), atau mengoperasikan restoran mandiri , seperti mas SURYADI (jerman), dll Tetapi, masih lebih banyak yang menderita dari pada yang sejahtera

Tidak banyak yang bisa kita lakukan, selain, menurut hemat Penulis, merapatkan barisan, sehingga posisi tawar seorang Tour Guide, yang diwakili asosiasi, akan semakin diperhitungkan, dan tidak ada salahnya, walaupun sangat terlambat, mencoba pengembangan network, untuk mengarahkan setiap tour guide sebagai salesman, setidaknya untuk dirinya sendiri

Kita ucapkan selamat tinggal tahun 2011, dan mari kita sambut cerahnya asa kita di tahun mendatang 2012 Salam

One thought on “Reposisi dan Kompetisi sebuah renungan akhir tahun 2011

  1. sulis

    ha ha ha , luar biasa!! siapa yang memuat foto ini?? sopo je?? formasi lengkap !!!! ada mbak AGATHA, mamik jerman, mbak LIS jepang , uayuu banget jaman dulu ya?? mas Joko P..wah kumisnya masih tebal, kayak pak raden ( Pak KUMIS ?? ) , Moris, lemu banget, Toni kribo??? siapa lagi yang kurus, kayaknya kenal, mas TORO kah?? juga mas ALI yang pakai seragam Pacto, terus siapa lagi itu, mas WIKAN jerman, ketut prancis, eh ada juga senyum mas Bobby !!! dimana kau sekarang? wis krasan ono kono, brur?? wah aku rung sido njahitke gaun manten, dirimu sudah tergesa berpulang, moga kau happy di sana, pasti luwih happy timbang ono kene, golek guide order wae susah je mas !!
    Hidup Tour guide, kudune guide 2012 memang harus lebih mandiri !! sukses untuk kawan kawan semua ! jaga kesehatan, tingkatkan kemandirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s