Hak Jawab HPI Soal Komisi Artshop

Berita Harian Jogja 21/11 berjudul Komisi Perantara Wisatawan Perlu Diatur tidaklah bermasalah jika 3 wartawannya Devi, Intan dan Rina mengimbangi isi tulisan dengan kelengkapan informasi narasumber Wakil Guide sebagai perantara yang dimaksud Harjo tersebut. Toh, atas niat baik dan kepentingan lebih besar, kami (HPI-Asita DIY) bersepakat ‘mengklarifikasi’ untuk dimuat di berita Harjo 2/11 namun abai atas kepentingan redaksional.

Oleh sebab itu mohon keempat isi hak jawab ini diperhatikan agar terhindar dari konsekwensi lebih luas ditanggung pihak-pihak pelaku Bisnis Pariwisata Jogja, sebagai ekses dari kelengahan fatal kinerja Harian Jogja dari narasumber sahabat kami Ketua DPD Asita DIY :

1 Judul dan isi berita Harjo 21/11 bersumber dari jawaban Ketua Asita DIY yang sudah diedit oleh mekanisme redaksional Harjo, sehingga menciptakan stigma negatif bahwa seluruh perantara wisatawan yaitu guide, supir dan tukang becak membuat citra destinasi Jogja kurang nyaman dan dipertaruhkan bagi calon wisatawan. Sebagai narasumber, Sdr. Edwin Ismedi Himna TIDAK jujur bahwa Biro Perjalanan Wisata juga ‘minta’ jatah komisi tersebut bahkan beberapa BPW Anggota ASITA mencantumkannya sebagai TUGAS kunjungan resmi di Guide Order yang harus dipenuhi, artinya Guide yang tidak membawanya ke tempat2 dimaksud akan di black list.

2 Peran wartawan sebagai penyaji FAKTA tidak maksimal dipenuhi, yaitu tanpa cover both side, ferivikasi dan recheck kebenaran siapa yang dimaksud dengan perantara di berita 21/11, meski ditutup bahwa ‘belum ada laporan khusus yang mengadukan kenakalan layanan pariwisata.’ Guide Himpunan Pramuwisata Indonesia memiliki norma dan etika kerja tak bedanya dengan profesi jurnalis, lawyer, akuntan dst., sehingga benarkah oknum dimaksud perantara adalah tourist guide atau illegal guide. Masalahnya, stigma negatif kepada profesi ini akan kembali kepada Media sendiri, ternyata masih banyak wartawan pariwisata yang kurang mengerti bagaimana mengabarkan FAKTA tanpa menusuk pihak-pihak tertentu. Media tidak mengedukasi, malah mengesankan guide ya seperti tukang becak itu, publik harus tahu bahwa tugas fungsi profesi ujung tombak ini kompleks bukan sebatas urusan komisi dan tak lebih. Dalam hal ini berarti 300an guide HPI yang bagian dari World Federation Tourist Guide Association itu dinistakan oleh penyaji berita dari Media Harian Jogja.

3.Atas inisiatif Mas Edwin sekitar satu jam kami akhirnya bertemu (1/12) di Hotel Sahid Raya di tengah workshop Lembaga Sertifikasi Usaha, kami berempat keluar dari acara demi menemui Mas Edwin bersama 3 Pengurus ASITA untuk menemukan solusi kesepakatan. Forum klarifikasi ini diikuti dan direkam Sdri. Intaningrum dari Harian Jogja,  berisikan ;

  1. Membuat berita kesefahaman berupa komitmen tekad & dukungan ASITA turut meningkatkan kompetensi guide HPI, di ujung berita diselipkan permintaan maaf Mas Edwin kepada pihak2 pengantar wisatawan (guide) yang dirugikan Berita 21/11 serta dalamnya disebutkan bahwa semua pihak sebagaimana lazimnya termasuk Biro Travel Asita mendapatkan bagian dari komisi belanja klien wisatawan. Kemasan berita diserahkan kepada wartawan.
  2. Solusi kesepakatan ini diikuti forum meeting berkelanjutan antara HPI-Asita, dimulai dengan menggelar Dialog Akhir Tahun Pariwisata DIY yang  melibatkan stakeholder luas terutama teman-teman Wartawan Pariwisata Jogja.

4. Jika saja kebijakan redaksional Harjo sudi memuat tuntas dan membungkus berita 2/12 yang berjudul Dibutuhkan Guide Berbahasa Rusia, dengan komitmen yang telah dicatat sdri Intaningrum, bukan hanya memuat justru dari wawancara penutup dengan Ketua HPI dan tak satupun kata klarifikasi Ketua Asita diberitakan seperti dalam kesepakatan. Mari ikut memikirkan solusi, ataukah ini sudah diset sebagai policy redaksi. Bahwa posisi profesi guide perlu diindahkan setara sederajad dan berita tulisan media anda ikut menjaga harmoni Citra Pariwisata Jogja. Ataukah anda sengaja (mau atur) mempertemukan sistem pembagian komisi yang itu juga berlaku di dunia dan profesi manapun sejak doeloe, termasuk jurnalis, broker, jasa wisata dst dst.

Diperlukan klarifikasi disini jiwa besar Mas Edwin dan terutama kejujuran redaksi Harian Jogja. Mari kita tunggu apakah jiwa besar dan ketulusan itu muncul di pemeritaan Harian Jogja. Selanjutnya tentu pertemuan berkelanjutan yang menyentuh soal GUIDE FEE, Asuransi Keselamatan Kerja dan ketentuan penggunaan GUIDE Berlisensi. Terimakasih ikut menjaga harmoni kerjasama insan pariwisata Jogja yang terbangun baik selama ini.

Yogyakarta, 2 Desember 2011

Dewan Pimpinan Daerah

Himpunan Pramuwisata Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta

4 thoughts on “Hak Jawab HPI Soal Komisi Artshop

  1. agus

    Berita jelek atau yang kurang baik malah jadi bumerang bagi diri sendiri, jogja. Mbok wartawan nulis yang baik.. jika orang nulis hal hal jelek malh bikin orang jadi berpikir jelek: jika ada tulisan: awas copet, artnya tempat itu tidak aman dan banyak copet…di Bali dan daerah lain mungkin ada juga kekurangan,tapi tidak dijadikan bahan untuk dijual ke publik yang akhirnya jadi bumerang. lha piye arep maju? dikit dikit diekspos.. padahal itu hal yang lumrah… di seluruh dunia. mau ke singapore,pernacis ya semua dapat komisi. orang bekerja berhak dapatkan sesuatu… orang asing paham kok…jangan sering dijadikan “pancingan”….thanks…luna

  2. sulis

    lha wong kemungkinan besar, wartawane ki, dibayar edwin je brur
    mulo ora netral lan independent berpihak ke nara sumber lha kuwi, wong waertawane yo nampani amplop kok ngono

  3. Asoneday

    Iyo bro.. ditengarai hal itu bener, karena tujuannya pencitraan bahwa pihak Edwin travel biro bersih dari praktek perkomisian, karena Edwin dalam pernyataan ke wartawan secara halus menghilangkan fakta yang menyebutkan kalau tourist melakukan transaksi dengan art shop, travel biropun mendapatkan bagian dari komisi.. jumlahnya banyak loh brur sampai 20% total pembelian.

    Fakta praktek perkomisian yang diterima travel biro kalau ditotal lebih banyak dari pendapatan komisi yang diterima guide loh.. Banyangkan apabila dalam 1 hari ada 10 guide yang bekerja dan ketika mengunjungi artshop terjadi transaksi semua belanja.. maka guide hanya dapat 1 sedangkan travel biro yang mempekerjakan guide mendapat 10. Wah hebat.. Ini asset yang cukup besar loh brur.. lebih besar daripada pendapatan resmi perusahaan yang terkena PPN.. Kalau ditotal pendapatan dari komisi artshop dalam waktu sebulan saja dapat digunakan untuk membayar karyawan loh..

    Komisi artshop juga sangat berpengaruh dalam penentuan harga jual paket wisata, travel biro mau banting harga untuk mengalahkan competitor karena memang travel biro bersimbiosis mutulaisme dengan artshop, bayangkan mau untung dari mana apabila harga tour ditawarkan sangat rendah bahkan kadang tidak untung sama sekali.. bahkan masih lebih murah lagi yaitu dengan menekan guide fee, transport fee semua dilakukan, karena apa ?? Faktor komisi artshoplah yang diharapkan dapat meng-cover semua kekurangan. Secara official tidak ada keuntungan akan tetapi secara gaib travel biro untung lebih banyak. Sebagai Fakta diguide selalu order tertulis nama-nama artshop, ataupun penulisan peringatan untuk tidak mengunjungi artshop ABCatau D karena ibu juragan dari travel biro tidak dapat jatah amplop ataupun karena travel biro menginginkan komisi yang lebih tinggi ataupun kewajiban tour untuk mengisi questionair ke artshop mana saja tourist diajak mampir dengan harapan, travel biro dapat mengkalkulasi pendapatan dari artshop.

    Invasi artshop di pariwisata ternyata juga sangat kuat,tidak dapat mendatangkan tamu tapi sangatkuat cengkeramannya ….. banyangkan bro spy ada dimanan-mama, berapa order yang masuk, total person dan tanggal kedatangan, sang spy artshop sudah mengetahuinya… tamu datang di airport diverifikasi order yang diterima travel biro …. tamu berkunjung di obyek sampai dengan tamu check in di APT selalu diawasi oleh spy-spy artshop.. dan sampai dengan pembagian order ke tour guide kena invasi misalnya tour guide yang tidak mengantakan tamu ke artshop yang ditunjuk travel biro atau berkunjung akan tetapi tamu tidak beli.. ..biasanya sang spy akan urun saran ke travel biro untuk menyarankan pembagi order untuk tidak memakai ataupun untuk tidak membagi tamu lagi kepada tour guide karena dianggap kurang kooperatif dengan artshop, atau dianggap guide yang bodoh karena tidak dapat mengarahkan tamu untuk berbelanja.

    Kembali ke penulis berita bro, bar meeting terakhir di hotel sahid ….kok penulis beritanya gak nyritake kesepakatan antara HPI lan Asita padahal yang nulis artikel pemicunya perseteruan juga hadir dan memotret peristiwa kesepakatan itu, persepsiku hal itu terjadi karena penulis berita secara explisit pingin ngomong nek ingin tulisan tentang kesepakatan HPI dan Asita dimuat di HARJO “wani piro??”, nanging HPI apa dene Adwin gak dong sehingga ora dimuat.. dengan harapan antara keduanya sadar nek sipenulis berita juga ingin merasakan empuknya amplop komisi.

    Memang sih kode etiknya seorang penulis berita tidak boleh memaksa mendapat amplop, namun secara implisit tetap menharapkan amplop untuk menulis berita-berita yang menguntungkan seseorang ataupun golongan ataupun perusahaan tapi sudah menjadi rahasia umum apabila ada berita yang merugikan sang penulis berita biasanya sebelum berita diterbitkan secara rahasia bernegosiasi dengan pemilik masalah, pilih berita ini dimuat atau tidak dimuat atau dimuat dengan pengeditan dengan membuang sesuatu yang merugikan. Ini sama dengan tour guide yang hanya mau mengantarkan tamu hanya kepada artshop yang member komisi secara reasonable. Singkat kata sapa sing gak butuh dhuwit je bro .. gara-gara duwit orang sampai tega melacurkan diri .. menjual orang lain misalnya.

    Konklusinya mulai sekarang personil-personil HPI disarankan harus tutup mulut ke penulis berita manasaja.. karena segala macam komentar akan menjadi bumerang … koment baik akan menjadi komen jelek apalagi komen elek akan jadi elik banget… dan nanti akibat yang ditimbul dibebankan kepada personil-personil yang ngomong.. penulisnya lepas tangan.. dengan mengatakan berita ini sumbernya dari si A ataupun si B kita penulis hanya menyampaikan saja.. resiko ditanggung penumpang …begitu saja.

    Bro akhir kata kita mesti ingat, karena tidak ada fakta yang mendukung jadi tulisan ini tidak dapat dipertanggunjawabkan dan memang hanya untuk rasan-rasan kita saja komunitas terbatas loh bro… ! Ingat itu !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s