Komentar Tour Guide Tentang Amplop Artshop

Selamat pagi Di hari Minggu ini, coba saya akan sedikit share terhadap apa yang anda sampaikan di email saya. Coba kita kembali lagi ke sejarah, barangkali benar apa yang pernah dikatakan oleh Proklamator kita, BK, JASMERAH, jangan melupakan sejarah Tokoh tokoh ASITA, memang sudah berganti generasi, satu proses alamiah yang memang harus terjadi.

Coba saya kembali ke era 25 tahun yang lalu, entah pimpinan ASITA saat ini, sudah bersentuhan dengan per TURIS an atau belum saat itu, dari sanalah kita berpijak, karena yang sekarang ini ada, bukankah hnaya meneruskan apa yang sudah ada. Saat itu, selebriti tenar selevel RAE SITA SUPIT pun, pernah menduduki pimpinan ASITA (DPP), penulis pernah berinteraksi face to face dengan beliau, tahun 1989 an, saat itu, beliau juga menduduki jabatan GM di SAHID Tours (di Jakarta). penulis mendapat kepercayaan membawa group kecil, 11 orang dari belanda, group tersebut, juga merupakan group SERIE, walaupun kedatangan serinya (berkala) hanya sekitar 10 an kali/tahun, belum apa apanya disbanding UNITRAVEL (Satriavi, yang 6 – 8 group/minggu), atau De Boer en Wendel (VISTA Express, yang sampai 10-11 kali minggu sepanjang tahun), atau juga Bhayangkara yang mengoperasikan Van Ginkel, sekitar 3 group/minngu, atau yang tournya lebih panjang seperti SOC, 38 hari tours 5 pulau, dsb Karena SAHID hanya mengoperasikan tour sedikit, dengan label HOLWERDA Reisen (dari Den Haag, belanda, sticket Holwerda , kalau belum terkelupas bias dilihat di Pesta perak)

Nah, saat itu, yang jadi pimpinan ASITA DPD DIY adalah Bp.SLAMET SUHARJO (pimpinan NITOUR Inc) Modal dana (uang) dan network kawan kawan senior itu, luar biasa, hanya 1 dari sangat sedikit biro perjalanan di tanah air yang memiliki cabang di Luar negeri. Travel besar, seperti PACTO pun (yang kepemilikan sahamnya sudah beredar di bursa efek) bahkan tidak memiliki kantor (bukan hanya perwakilan alias representative) tetapi KANTOR CABANG di Luar Negeri. Nah, yang namanya NITOUR , memiliki kantor cabang di Amsterdam  (penulis pernah berkunjung kesana , tahun 1991) , juga di Tokyo (tanyakan kepada kawan kita mbak SANTI, yang kakaknya mas Iwan Guide jepang, tahun lalu mbak Santi pamitan kepada saya , untuk hijrah ke USA bersama 2 anaknya, LUAR BIASA !!! sebentar lagi tentu mbak SANTI akan menjadi WNA (warga Negara Amerika), nah mbak SAnti adalah sedikit dari kawan kawan divisi Jepang yang pernah guiding di NITOUR (Nederlands Indische Tour) Masih ada lagi kantor Nitour di San Fransico, dan kalau tidak salah juga ada di Hong Kong. Begitu juga dengan NATRABU, kurang jelas apakah Natrabu memiliki kantor di Eropa, tetapi kalau di USA penulis pernah mendatanginya, yang dikelola Patricia atau Barbara (mempekerjakan bule Amerika), setidaknya penulis perna membeli tiket pesawat jalur LA – Jakarta, sekitar 15 tahun lalu, dan nama travel tersebut juga NATRABU (anak pemilik natrabu, aduh lupa namnya, siapa bung Amrizal, sopo jenenge ?? mas Amrizal tahu lah, sesame URANG AWAK, dari Padang )

Untuk tidak memperpanjang prolog, intinya perlu penulis sampaikan bahwa Travel biro pada jaman itu , tidak banyak, mungkin hanya 15 – 20 an biro (SRIRAMA, MILANG KORI, MUSI HOLIDAY, VAYATOUR, TUNAS INDONESIA (Mekar Wisata pun belum lahir), VISTA EXPRESS, BHAYANGKARA, SMAILING, PURI TOUR, INTAN PELANGI (Ayu mandiri, masih ayu banget, belum didirikan oleh pak Aji, karena pak Aji masih ngantor di Intan pelangi, kalau ada kawan kawan, termasuk pimpinan ASITA saat ini, yang belum tahu dimana itu INTAN PELANGI, kantornya di depan hotel Mutiara, menyatu dengan halaman parkir hotel, merangkap Money changer (MULIA juga belum lahir, apalagi Maya valas di Saphir), ada lagi NITOUR, PACTO, pecahan PACTO kelak jadi RAMA, lalu sudah ada DEWATA, KRISTAL nya pak BEI Abdulrahman (kongsi pak Prabowo Spektrum), dan UNIVERSAL. Biro besar lainnya seperti PANORAMA, waktu itu Darma belum lulus sekolah, pak ADI Tirta Wisata baru mampu kredit BUS, yang kemudian disewakan ke SOC, Red Ball, ROTEL, dan biro kecil lain yang tidak memiliki armada (dengan kata lain, panorama hanya perusahaan transport, tidak memiliki tamu sendiri Belum ada senyawa turunan seperti AYu Mandiri, MJ, Grand Java, Mekar wisata, apa lagi Happy Trail dan motor trail lainnya…

Nah, pelajaran dari pak SALET SUHARJO eks Nitour Inc yang member ceramah licensi (penatarannya 3 bulan dulu, gak Cuma pelatihan 2 hari ala era otonomi daerah sekarang ini), beliau mengatakan, dan masih penulis ingat sampai sekarang: BIRO PERJALANAN ADALAH USAHA YANG DIDIRIKAN UNTUK MENDAPATKAN KOMISI DARI UNSUR UNSUR PENDUKUNG OPERASIONAL WISATA, SEPERTI : HOTEL, TRANSPORT, JASA PAKET WISATA DAN ART SHOP Saya pertajam lagi: MAKSUD DARI DIDIRIKANNYA BIRO PERJALANAN ADALAH UNTUK MENDAPATKAN KEUNTUNGAN DARI PARTNER KERJANYA, DIANTARANYA ADALAH TRANSPORT, HOTEL DAN JUGA ART SHOP !!!!!!!!!!!!!!!.

Sebagian besar biro travel anggota ASITA pada era sebelum tahun 1990 an, memiliki armada sendiri Satriavi memiliki 6 bus besar, Intan pelangi juga memiliki 5 bus besar (Mercedes OH Prima terbaru pada jamannya dengan pintu hidrolik) , Sri Rama pun memiliki bus sendiri (mikro dan armada kecil lainnya), juga SEMESTA (specialis Mandarin, walau tidak memiliki garasi tetapi juga punya bus besar), sampai sampai garasinya Cuma di pinggir jalan Solo (wetan cucian mobil jembatan Ngebruk-Kalasan), apalagi VISTA Express, wooooow bus nya puluhan, begitu juga NITOUR (memiliki bus Built Up, sopirnya mas ATHOK , masih sehat wal afiat – ayah mertuanya mas Panut, rumahnya belakang apotik lor prapatan gedong kuning), mas ATok dan NITOUR , mengendarai bus dengan AC pertama di Jogja, tahun 74-an. Begitu juga Paradise, juga memiliki bus besar 2, DEWATA apalagi, punya hotel, punya biro travel sak aramadanya.

Nah, bagi biro travel yang tidak memilki armada, ORA POPO , toh bias menyewa?? Kalau menyewa, coba kita kembali ke falsafah orang barat (amerika misalnya ) Saat saya menempuh studi di Paman Sam, untuk menghemat beaya, saya mesti share apartement dengan kawan kawan lainnya. istilah orang TIMUR, selalu saja dikatakan NUNUT (menumpang), tetapi pepatah jawa mengatakan: There is nothing such as a free lunch!! Alias tidak ada yang gratis di dunia ini. Jadi, tidak sekedar numpang tinggal, tetapi penulis juga ikut membayar , singkat cerita pola piker di USA akan menjadi: SHARING , bukan numpang tinggal di apartemen, missal harga sewa apartemen adalah US $ 500 / bulan, kalau dibayar sendiri, kalau kita tinggali berdua, jadi SITIK EDENG, menjadi ? US $ 250 / orang. Itu yang penulis maksud: meringankan uang sewa, atau membayar sebagian dari uang sewa, bukan lagi sekedar menumpang !!! Begitu juga dengan sewa menyewa armada .

Penulis tidak memiliki sebuah armada pun !!! mengapa ? banyak yang mendasari kebijakan ini, pertama karena memang lagi banyak utang !! kedua, penulis ingin berbagi dengan pemilik usaha transport (yang juga kawan kawan anggota HPI , seprti mas ARief, Mas handoko, mas HERI, dll), karena penulis punya konsep sederhana dalam ikut serta meramaikan jagad wisata ini, yaitu: EVERY BODY HAPPY baca tulisan saya mengenai: DALANG ORA KURANG LAKON = EVERYBODY HAPPY)., yang ke-3 tentu untuk maksud maksud efisiensi lainnhya. Nah, apabila pemilik transport (armada kecil, sedang maupun besar) seperti mas WILDAN yang sudah memilki ASYACO (ikut senang mas sampaian meningkat jadi juragan, tidak seperti waktu sampaian di White Shark, sangat arogan, koyo mung sampean sing duwe bus dewe, mugo mugo, dengan meningkatnya status sampaian dadi juragan, pola piker sampaian juga berubah, nek ora berubah, wah iso disepatani konsumen sampaian engko, amien …)

Nah, si pemilik bus, memang memiliki belasan bus!! Apa artinya kepemilikan bus berates ratus , apabila hanya ngendon di garasi ???? dalam artian tidak ada yang menyewa????? Nah, pemilik bus, perlu konsumen, betul begitu ? Konsumen , bias langsung pemakai (rombongan arisan PKK, ikatan orang tua murid, member organisasi social, dll yang ingin bareng bareng darma wisata ke mana lah, ATAU bias juga PEMAIN professional (lebih sederhananya BLANTIK = broker yang bernama biro perjalanan) Biro perjalanan dengan kelihaian network dan marketing, memiliki tamu potensial, yang memerlukan bus, dan pemilik bus membutuhkan konsumen, bahasa Jawanya; K L O P !!!!! maksudnya itu bahasa belanda, brur ! ha ha ha Ok, jadi, tidak ada yang gratis, semua mengacu pada 2 hal: factor: NEED and WANT !!!! tidak ada istilah NYILIH bus, yang ada adalah: IKUT MEMBANTU MA- YOKNE bus, kalau gak ada yang jadi broker, bus ora payu !! mulo bagi pemilik bus, rasah kemaki !!!! nek ora tak sewo, busmu nganggur, dab ! dengar itu mas WIldan ????? Ok, seperti kesimpulan sewa partement di USA tadi lho, saling membutuhkan: simbiosis mutualisme. Nah, sewa menyewa bus, bias sudah dengan harta NETT, misalnya, misalnya saja Rp.2.000.000/hari untuk luar kota, dimana angka Rp.2 juta tadi sudah Nett, Berapapun konsumen membayar (apabila melalui perantra, alias MAKELAAR, kenapa orang selalu berpikiran negative dengan istilah makelaar ?????? ini satu KELIRUMOLOGI bahasa yang perlu saya luruskan. MAKELAAR diambilkan dari kosa kata Belanda. Yang artinya adalah: Perantara, atau pialang, mengapa Pialang di bursa saham, seolah menentukan bonafid tidaknya suatu perusahaan di lantai bursa efek?? Apa bedanya dengan blantik sapi di pasar gamping?? Podo wae dab, hanya istilah yang beda, makelaar adalah juga pialang.

Mohon dipahami bersama. nah, bila memalui perantara, nettnya Rp.2.000.000, kemudian konsumen mendapat deal Rp.2.100.000, ada sisa angka Rp.100.000, sangat WAJAR menjadi HAK yang mencarikan tamu (dengan media apapun, pesan lewat telepon, sms, email, atau bahkan memalui proposal yang kelak akan di audit oleh BPK dan KPK, go ahead, podo wae) tetep SAH hukumnya, MENGACU pda pasal 1 ayat 1 yunto ! AAA grade A Plus, bahwa: BIRO PERJALANAN DIDIRIKAN DENGAN MAKSUD UNTUK MENDAPATKAN KOMISI DARI PARTNER KERJA, DIANTARANYA TRANSPORT Mas JOKO purwanggono, kawan kita, yang beberapa minggu lalu, diberi kesempatan beristirahat beberapa hari dip anti rapih (gimana, sir ?? sudah sehat lagi, jaga kondisi, dan gek waras, segera bergabung lagi dengan kawan kawan, tanggal 13 des, kita rncana jalan jalan nanti ya) Anyway, mas Joko P, tahun 1990an, pernah menyanggah ulasan wartawan salah satu harian di Jogja, bersamaan dengan kunjungan Dirjen JOOP AVE waktu itu, ada yang menulis; GUIDE JOGJA SUDAH DIBELI ART SHOP ! dengan gaya nya yang persuasive, tanpa ledakan emosi, mas Joko menjawab (di back up oleh mbak Komang pada jamannya) Suatu ketololan ngurusi amplop komisi !!!! opo urusane, dab !!! apakah wartawan mewakili wisatawan?? Lha wong sing tuku wae ora complain kok malah wartawane sing ribut !!

Mereka lupa, bahwa AD ART pendirian Biro travel adalah: salah satunya mendapat income dari Art Shop, what`s wrong with that, bro ???? dimana letak kesalahannya komisi, adalah hal yang tidak perlu di ekspose, apalagi yang meng ekspose, malah orang yang merasa member order, PIYE IKI ??? memercik air di dulang, terpersik muka sendiri !! Mengapa pihak pimpinan ASITA saat ini, suka memojokkan Guide ??? belum pernah jadi guide ya, mas ? sak ngertiku, pemilik biro travel, akan lebih hebat, pinter golek tamu dewe, rasah ngarep arep pemberian tamu dari agen atau sub agen atau sup sup buntut lainya, kalau pemilik biro tersebut, pernah jadi pemandu wisata, jadi merasakan dinginnya Bromo, panasnya Borobudur, capainya naik Kawah Ijen, dsb!. Dari pada memojokkan pihak lain, lebih bijak menyalahkan diri sendiri (SATU PELAJARAN BERHARGA YANG SAYA DAPATKAN SETELAH MEMBACA BUKU FENOMENAL BERJUDUL ILLEGAL ALIEN, ya, menyalahkan/menertawakan diri sendiri lebih bijak daripada menyalahkan orang lain) buku tersebut, bagi kawan kawan yang ingin membaca, bisa dibeli di Gramedia (harganya cuma  RP 42 rb kok)

Coba, kita telusuri lagi kasus diatas: Guide bekerja untuk siapa ?????? memang akan semakin banyak guide mandiri, cari tamu sendiri, tidak mencuri tamu orang lain, punya armada sendiri, kalau perlu di sopiri sendiri, sangat ZELFSTANDIG !!!! tetapi konteks yang ditulis di Harian Jogja adalah: guide tersebut membawa tamu milik biro!. Sepengetahuan penulis DEAL pembagian jatah komisi, ditanda tangani (tertulis maupun yang konvensional) antara pihak Art Shop dan pihak Biro Travel. Jadi, Guide hanya sekedar bekerja untuk biro travel, Guide mewakili travel yang bersangkutan. Lha kalau guide nya dapat komisi, tentu biro travelnya pun ikutan dapat juga !!

Terus, mangapa harus diekspose di mass media segala ?? Buat apa, bro !!!! Penulis memiliki jam terbang yang lumayan bervariasi, dalam perjalanan per KOMISIAN !!! kalau kita ingin jual tanah, tidak laku laku, datang perantara, yang menawarkan jasa, kemudian dari pemilik tanah, setelah tanahnya laku, si perantara mendapat komisi (terserah berapa prosentasenya), tentu hal semacam ini, adalah hal yang sangat wajar !! KOMISI pada era tahun 80 – an, sangat WOOOOW !!!!!! fantastico !!, baru transfer in dari airport, padahal tamu mendarat dengan flight no GANJIL !!! ya waktu itu hanya ada penerbangan dengan Garuda, Merpati tidak melayani route panjang, Sempati belum lahir, Bouroq cuma ke pedalaman Kalimantan, LION MANDALA, Batavia sriwijaya, Air Asia, dll, semuanya belum lahir. Nah waktu itu flight arrival dengan GA, selalu dengan kepala 6, total tetep 3 digit, apabila berkahiran genap: GA 632 atau GA 634 atau GA 638, berarti berasal dari Jakarta bila berakhiran ganjil seperti GA 631 atau GA 633 atau GA 635 berarti dari BALI Nah, arrival ganjil dengan GA pun, dari Airport menuju Santika (satu satunya hotel terbaru, lainnya Ambarukmo, Garuda, Mutiara, semua hotel JADUL), tamu (group lagi, dab !!), bisa dibelokkan ke kiri setelah traffic light IAIN (sekarang UIN), bahkan tanpa diinstruksikan pun, sopirnya juga berinisiatif, RASAH PAKAI SIGN BELOK , pun BUS nya bias belok sendiri, ha hah Dan hampir bisa dipastikan TAMU NYA NETEL saat itu art shop kidul gre-REL, berada di sebelah barat jalan, pakai gedheg bamboo, sangat primitive, tetapi sirkulasi pembelian tamu sangat produktif. Di utara HEGAR, kulon airport, ada one stop shopping bernama Sambisari, nek ra kober kemana mana, bawa saja ke Sambisasri gallery, atau ke Sapto Hudoyo disamping art art shop lainnya, tingkat produktivitas tamu meng apresiasi art crafts masih sangat tinggi. Itu sebabnya, hanya transfer In pun, tamu bias diharapkan NETEL, sekarang?????????? paradigm bergeser, mas ! Tamu sekarang juga lebih pinter, dan efisien, gak suka belanja lagi wajar, orang meraka kesini mau menatap Borobudur dari dekat kok, satu hal yang harus kita sikapi dengan cerdas. Romo Mangun almarhum pernah berkata: guide jangan punya pamrih, selain apa yang menjadi hak guide. hak guide secara structural adalah: FEE tolong fee tersebut dibahas dengan lebih komprehensif, Penulis mohon maaf jarang melibatkan kawan kawan HPI, kenapa ?? alasanya hanya satu: KARENA TAMUNYA GAK KUAT BAYAR GUIDE DENGAN HARGA STANDART !! Sebelum Musda HPI, dengan amanat Rp.250.000/day, penulis sudah melaksanakan amanat itu, beberapa tahun sebelum 2009 malahan! pertanyaannya adalah: SIAPA YANG MEMBAYAR GUIDE ?? tentu tamu yang ingin menggunakan jasa panduan , bukan Travel biro kok yang membayar Guide. Jadi, penulis mematok US $ 30/day untuk tour guide Bila tournya 9 days, Overland, berarti penulis membayar Guide juga 9+1 days ( empty run ) padahal tamu hanya membayar 9 x US $ 30 = US $ 270 atau sekitar Rp.2400 rb, padahal penulis membayar tetep saja full 250.000 x 10 = Rp.2.500.000 Lha ?? malah tombok Rp.100.000? ya demi teman teman HPI, gak papalah, toch penulis juga sudah mendapat profit dari sumber yang lain. Apa artinya Rp.100.000 ?? apa kah hal semacam sudah dipikirkan ASITA ??? kayaknya amanat Musda pun, masih diaplikasikan di lapangan dengan tarik ulur!! Gimana mas Edwin, anggota sampean sudah bayar Rp.,250.000/hari kah???? Freddy, Java Traveller malah sudah membayar Rp.300.000/hari tahun ini, Penulis pun juga sudah mengupgrade, member upah kawan kawan overland Rp.300.000/day saat ini, at least Rp.275.000 lah kalau missal di Bromo Cottage atau Kalibaru sudah dapat room buat guide ybs.

Tetapi, ya penulis lebih berpola pikir seperti tokoh SAPTO dalam buku ILLEGAL ALIEN tadi, lebih suka menyalahkan diri sendiri dari pada menyalahkan orang lain Kalau ada Biro travel yang membayar di bawah Rp.250.000/day, sebetulnya toch bukan salah biro travel, namanya juga usaha, tentu selalu timbul efisiensi, termasuk menekan cost untuk guide fee !!! SETUJU wis , kalau dari situ muara berpikirnya !! jadi kalau biro travel membayar murah, BUKAN SALAH BIRONYA, TAPI ???? YA SALAH GUIDE NYA SENDIRI, kenapa dia mau dibayar Rp.175.000/day !! lha wong guide yang bersangkutan saja mau, kok kita mesti ribut !! Nah, guide tidak boleh memiliki pamrih, tunaikanlah tugas kita, dengan sebaik baiknya, kalaupun tamunya senangm kemudian member tinggalan yang stereo, itu hanya akibat Begitu juga dengan AMPLOP art shop, komisi belanja, mas Edwin, adalah bukan tujuan usaha pemanduan, tetapi hanya merupakan AKIBAT acara tour (yang susunannya juga ditentukan oleh pihak biro perjalanan) So?? Buat apa kita berpolemik dan saling menyerang !!! Piro tho komisine?? Piro, dab !! ora sepiro o, ora cucuk karo modal pendidikan guide (katanya guide harus kompeten, ikut penataran a – k , kursus macem macem, lha tuntutane oukeh salek, sementara entuk bagian amplop art shop ora sepiro wae, diributkan) Kalau mas Edwin merasa jatah kantore kurang, sekali kali dibawa saja sendiri tamu sampean, Jadi sampean akan dapat komisi double: sebagai pengantar tamu, sebagai pemilik biro, nek perlu di sopiri dewe sisan, nanti kan jumlah komisinya bias sampai 175 %

Salam wisata TULISAN INI HANYA UNTUK KALANGAN SENDIRI

6 thoughts on “Komentar Tour Guide Tentang Amplop Artshop

  1. Made Bartha

    Bravo GUIDE,Bravo HPI sayang tulisan dari saudara siapa Edwin tidak di upload di mimbar ini sayang sekali. saya mau berkomentar takut tidak pas dengan topik yang dikomentari,tapi dari paparan tulisan diatas saya bisa meraba apa yang di tulis oleh saudara Edwin komentar saya sangat pendek”MEMALUKAN”

  2. sulis

    kok yang dipojokkan guide terus ya??
    nek sepengetahuan saya, guide juga tidak pernah minta !!! justru dari pihak art shop yang berinisiatif memberi

    nek tidak boleh menerima, yo wis,ditiadakan saja , kalau perlu tidak ada acara tour ke art shop, meski dengan embel embel LIHAT PROSESNYA, seperti lihat proses pelintingan cerutu di tarumartani atau proses pembuatan gerabah di Kasongan atau pembuatan genteng di Kebumen,misal

    begitu lebih bijak, kayaknya
    karena sudah diagendakan ke berbagai workshop yang ada show roomnya, sudah menghabiskan kopi, teh dan snack import di HS, jauh jauh,sopirnya nggrundel, toh tamunya juga tidak beli, capai nuggunya, mendingan buat kunjungan ke destinasi lain, yang tidak di ekspose oleh ASITA (musni inisiatif Guide), seperti candi Sambisari, Plaosan, SEWU dll, dengan donasi murah meriah, tamu pasti senang, karena dibawa ke dunia lain, candi Plaosan juga sangat cantik lho, dari pada ke art shop yang nengundang ke cemburuan yang tidak perlu

    anyway, Guide Jogja, dengan atau tidak pakai amplop tetep BRAVO !!! harus profesional, amplop bukan tujuan, mas !! cuma sampingan, bisa iya tidakpun, ok lah !

    jadi mengapa harus di ributkan !!
    be proffessional, termasuk profesional bahwa kenyataan sekarang, juaarrang sekali tamunya belanja
    lha wong, kapan itu saya bawa grup bule 28 orang (dua puluh delapan) orang, tak satupun beli
    wajar lah, eropa juga lagi krisis, boro boro berharap beli, dapat tamu wae, saya sudah sangat bersyukur
    kebetulan mereka bukan tamu ASITA, tapi dari kampus Sanata Dharma, saya kebetulan ditilpon pihak sanata dharma, tournya juga pakai 4 mobil, macam macam, ada Mazda, ada Avanza ada Travello, pokokknya ramai lah

    Pariwisata terlalu luas ternyata, untuk sekedar dimonopoli sebuah paguyuban, ASITA, misalnya pariwisata milik semua anak bangsa, buktinya, Kampus juga menyuplai saya tamu kapan itu, saya juga dapat tamu (grup ini mas) dari KADIN , gabungan pengusaha malaysia, yang melakukan survey market, mereka happy bisa jalan jalan ke Jogja, tanpa kunjungan satu art shop pun !!!

    ini baru art shop, bagaimana kalau Guide dapat amplop dari warung makan??
    kawan kita ada yang punya resto, nah kita bawa kesana, mereka makan, kita pun diberi makan, lha, petugas resto pun memberi kita sangu !!
    apa tidak boleh ??
    itu sekali lagi, hanya sampingan, saya setuju membaca tulisan diatas, guide tidak boleh punya pamrih
    tapi kalau diberi, atas usaha jasa / kerja samanya, mendatangkan tamu, wajib hukumnya menerima, lha wong rezeki kok, ditolak, namanya kita tidak mensyukuri , mubazir nanti

    salam dan maaf

  3. Ken Angon

    AJAR DEWASA BARENG.
    Didalam “professionalism of partnership”, semua harus bisa bersikap dewasa. Didalam kemitraan tidak boleh terjadi asumsi bahwa satu pihak merasa lebih tinggi dari pihak yang lainnya, atau satu pihak merasa menjadi bahagian dari pihak lainnya : kalau ini terjadi terus maka ekses “pengkerdilan core kemitraan” akan terus terbina dan akan menghancurkan kemitraan itu sendiri. Dan didalam industri pariwisata : ASITA – HPI adl : KEMITRAAN. Dan janganlah hubungan kemitraan ini diracuni unsur ” kecemburuan sosial” dari pihak yang merasa lebih tinggi atau “takut tidak dapat tamu” dari pihak lainnya. Seorang free lancer sejati memang harus tegar menjadi pihak yang : “independen”. ASITA harus bijak karena sekalipun tamunya banyak pasti tidak bisa dilayani sendiri, sedangkan seorang free lancer ( mayoritas HPI ) harus kreatif & berinisiatif demi hidupnya agar tidak terjadi ketergantungan.
    Semoga …

  4. Sudani rita lestari

    Omong2 ada teman yg kawin ke amrik mau tahu mbak yanti guide jepang natrabu bali doeloe 1987-an dmnkah berada?mhn teman2 kalo ada yg tahu.bs share hp nya. Matur suwuuun.Sudani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s