KOMPETEN & PROFESIONAL GUIDE

Tulisan serupa telah banyak ditemui dib log https://hpijogja.wordpress.com dan www.hpijogja.org seperti judul artikel Guide Bintang Lima dan juga beberapa isi dialog facebook Himpunan Pramuwisata Indonesia kita, terutama ketika itu dipertanyakan banyaknya Pemandu yang tidak professional di lingkungan kerja, sebab bersinggungan dengan kepentingan regulasi daerah tentang Pramuwisata dan Pengatur Wisata.

Harus diakui solusi yang bersumber regulasi bukan satu-satunya, namun sering membabat sumber masalah urusan guide dan kewenangannya di suatu wilayah, dan itulah mengapa Dewan Pimpinan Daerah HPI Daerah Istimewa Yogyakarta. Issue utamanya bagaimana mungkin seseorang yang ikut pelatihan seminggu telah dinyatakan cukup komepeten hanya diukur dari 5 (lima) unit kompetensi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia.

ISTILAH YANG MEMBIUS

Ternyata perjalanan profesi Pemandu Wisata sungguh menyentuh banyak persinggungan kompetensi kerja seperti diisyaratkan SKKNI, seperti bahwa seorang Guide Profesional harus mampu Bekerjasama dengan Kolega dan Wisatawan (1); mampu Bekerja Sebagai Pramuwisata (2); Memberikan Pelayanan pada Penjemputan dan Pengantaran Wisatawan (3); Menyiapkan dan Menyajikan Informasi Wisata (4); Mengoordinasi dan Mengoperasikan Perjalanan Wisata (5) yang masing-masing kemudian dijabarkan dalam diskripsi unit, elemen unit dan kriteria unjuk kerja.

Bagi Guide yang bergelimang pengetahuan waktu kerja dan syarat ketrampilan lapangan membawa wisatawan domestik maupun asing, perkembangan tuntutan SKKNI ini sungguh menarik disikapi sebagai tantangan dan peluang kerja lebih profesional. Bahwa sesungguhnya istilah kompeten dan profesional lebih sebagai sematan jam terbang seseorang Guide oleh sebab bertemunya skill – knowledge – attitude sebagai individu pekerja Pramuwisata.

SO WHAT SETELAH KOMPETEN

Sejak bulan Agustus 2011 lalu, para Guide HPI berkesempatan mendapatkan sertifikasi kompetensi oleh program fasilitasi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia melalui Lembaga Sertifikasi Profesi. Jumlahnya luar biasa, angkatan pertama di bulan Agustus telah tersertifikasi 24 guide (LSP Par Cabang Yogyakarta); menyusul tanggal 3-5 Oktober sebanyak 120 guide berhasil diases kompetensinya (LSP Parindo Bali) dan terakhir 17-19 Oktober terlaksana dengan sukses uji kompetensi Kepemanduan Ekowisata sebanyak 20 pramuwisata Jawa Tengah di Hotel Trio Magelang oleh LSP Par Nusantara Bandung.

Rekomendasi dari proses asesmen hanya kompeten (K) dan belum kompeten (BK)  jika didekatkan kepada materi diskusi di atas, seharusnya pekerja pramuwisatapun terbagi menjadi profesional (P) dan belum profesional (BP). Namun ternyata tidak ditemui di dalam ketentuan Badan Nasional Sertifikasi Profesi, sehingga bisa saja para Pekerja Pariwisata termasuk guide yang mengaku dirinya profesional itu masuk kategori BK, meski bekerja non-standar..seperti diisyaratkan SKKNI.

Maka setelah mendapatkan Sertifikat Kompetensi yang berlambang burung garuda oleh BNSP seseorang Pramuwisata memiliki kompetensi setara serta peluang kerja di tingkat ASEAN dan beberapa Negara dunia seperti Australia dan beberapa Negara Eropa..bahkan pemandu wisata kita telah diakomodasi oleh World Federation of Tourist Guide Association memiliki kemampuan standar, meski WFTGA sendiri belum menandatangani klausul profesi ini masuk WTO. Seperti diketahui di hadapan 20 peserta Negara ASEAN, Guide utusan HPI (DPD Lombok) beberapa waktu lalu memperoleh Best of The Best dalam ajang ASEAN Guide Contest yang dilaksanakan di Hotel Phoenix Yogyakarta. []

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s