Panca Sradha

PENGANTAR PEMANDUAN WISATAWAN

DI CANDI PRAMBANAN ATAU CANDI-CANDI HINDU LAINYA

Makalah Ketua Bidang Pendidikan DPD HPI DIY ini sebagai materi pengantar  field study di kalangan Keluarga Besar Guide DIY, Sabtu 5/2/2011 ke situs peninggalan candi-candi kecil Merak, Ijo dan Barong  yang  tertelak di sebelah timur komplek Candi Prambanan.

Di candi Prambanan, tugas guide antara lain menerangkan siapa Brahma, Visnu dan Siwa di balik nama-nama candi di Komplek Candi yang dibangun pada abad ix tersebut. Seorang guide sering menyampaikan informasi penting ini kepada wisatawan berbeda dari keterangan guide lainya, bisa diduga disebabkan referensi yang berbeda-beda pula. Kamus yang bukan Kamus Khusus Agama Hindu sering tidak tepat mengartikan Brahma, Visnu dan Siwa seperti dimaksud di dalam keyakinan Hindu. Saya, I Made Bartha mencoba mengartikan apa itu agama hindu berdasarkan apa yang penulis yakini seperti yang termuat didalam beberapa kitab.

Kata Agama Hindu terdiri dari dua kata yaitu kata agama dan Hindu, kata agama berasal dari kata bahasa sansekerta akar katanya “gam” mendapat awalan “a” dan akhiran “a”. Awalan “ a” artinya tidak, akar kata ”gam” artinya pergi, kata gam masuk kedalam kosa kata bahasa Inggris menjadi “go” yang artinya pergi, dan akhiran “a” artinya tidak, jadi kata agama artinya” tidak pergi tidak” kalau dicari padananya sama dengan “abadi atau langgeng”. Bahasa nasional kita bahasa Indonesia mengadopsi kata agama dengan makna sebagaimana telah dimaklumi.

Hindu sebenarnya adalah nama sebuah sungai yang tercantum didalam kitab Yayur Veda yaitu ada tujuh sungai yang diyakini sebagai sungai suci di India: yaitu Gangga, Yamuna, Saiwa, Godawari, Saraswati, Narmade, Sindhu dan Kaweri. Ketika bangsa Persia masuk ke lembah sungai Sindhu disana sudah ada suku bangsa yang menetap dan sudah memiliki peradaban yang sangat tinggi yaitu bangsa Dravida. Sistem keyakinan bangsa Dravida itu disebut Hindhu oleh bangsa Arya juga bangsa Romawi, orang dravida sendiri menyebut keyakinannya ”saanatana dharma” artinya kebenaran abadi.

Didalam teologi Hindhu diyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa kalau di Bali sering di sebut Ida Shang Hyang Widhi Wase dalam bahasa aslinya bahasa sansekerta disebut“Brahman”. Kata Brahman ini kalau diterjemahkan kedalam bahasa sehari-hari artinya “dariNYA kita berasal dan kesanalah kita akan kembali”.

Selain kata Brahman, dikenal pula kata Dewa, Betara dan Sang Hyang. Dewa berasal dari “dev” bahasa sansekerta yang artinya sinar atau bersinar jadi dewa tidak sama dengan Brahman atau Tuhan yang sering rancu tersampaikannya, brahma, visnu dan siwa tidak sama dengan Brahman (brahma, visnu and siwa are not gods they are creature created by the god). Sedang betara berarti roh leluhur yang sudah diupacarai dengan pengabenan. Dan kata sang hyang bermakna roh para resi yang diyakini sangat berjasa mengembangkan agama Hindu atau tokoh yang sangat berjasa kepada masyarakat di jaman dulu sehingga dipuja sebagi tokoh suci.

Sebutan tokoh Tri Murti itu adalah Brahma,Visnu dan Siwa. Untuk informasi standar kebanyakan tersampaikan bahwa Brahma adalah dewa pencipta, Visnu adalah dewa pemelihara sedangakan Siwa adalah dewa perusak. Disini kurang pas. Siwa itu bukan dewa jahat yang pekerjaannya merusak, bukan samasekali, dewa Siwa itu adalah dewa pemralina artinya mengembalikan apa yang tercipta dipralina kembali ke asalnya

Ketiga dewa utama di candi Prambanan ini mohon dipahami tidak sama dengan Brahman atau Tuhan Yang Maha Esa. Orang Hindu disini menganalogikan Brahman itu seperti presiden di dalam sistem pemerintahan, presidenlah satu-satunya tokoh yang mempunyai otoritas penuh didalam penyelenggaraan pemerintahan sebuah Negara. Namun untuk melaksanakan semua otoritas itu, ia tidak mampu sendirian sehingga sebagian besar otoritas itu didelegasikan kepada para mentrinya. Dalam contoh urusan guide, otoritas presiden sudah didelegasikan kepada menteri parawisata. Beliaupun tidak melaksanakannya sendiri, otoritas itu didelegasikannya kepada dirjen dan seterusnya sehingga pengurusan lisensi guide cukup di kantor dinas parawisata saja. Begitulah alur berpikir orang Hindu terhadap Brahman sebagai pemilik otoritas tunggal yang absolut.

Di dalam agama hindu ada banyak sampradaya atau sekte-sekte. Di dalam sebuah kuil, mandir atau temple yang di puja hanya satu dewa saja sesuai sekte pemujanya. Konon yang paling banyak di India adalah Mandir pemujaan Dewa Siwa, Dewa Visnu, Dewa Ganesha, kuil parwati, kuil Uma, temple of Kresna, temple of Rama, temple of Anoman. Brahma tidak begitu popular di India. Sedangkan di candi prambanan, Dewa Brahma menempati posisi setinggi Siwa dan Visnu ini berarti nenek moyang kita dulu lebih luas wawasannya selain itu toleransi beragama sungguh sangat dihormati walaupun mereka menganut sekte-sekte yang berbeda namun bisa melaksanakan ritual agamanya pada waktu, hari dan tempat yang sama.

Teologi hindu menganut sistem agama yang mempercayai adanya Tuhan yang tunggal atau “monotheisme”. Ditekankan disini bahwa dewa Brahma, Visnu, Siwa itu tidak sama dengan Brahman atau Tuhan. Disebut dalam Kitab Purana bahwa hanya orang bijak yang menyampaikan tuhan itu banyak artinya kepada siapa kita sampaikan informasi itu kalau kepada petani tentu kita harus menggunakan bahasa petani kalau kita menyampaikan dengan bahasa professor perguruan tinggi tentu tidak sampai informasi kita. Nama Made dipanggil anak oleh Bapak, sedangkan istri menyapa saya dengan kata suami dan anak-anak memanggil saya dengan nama bapak. Apakah saya berarti tiga orang yang berbeda, tidak kan! Made hanya satu dengan tiga sebutan berbeda, karena ketiga orang yang berbeda itu melihat saya dari sudut pandangnya masing-masing.

Setiap agama mempunyai krangka dasarnya masing-masing begitu juga agama hindu memiliki krangka dasar yang terdiri dari: 1.TATWA (filsafat), 2. SUSILA (ethika) dan 3.UPACARA (retuil). Selain krangka dasar juga memiliki kepercayaan mutlak atau rukun iman yang terdiri dari lima kepercayaan mutlak yang disebut “Panca Sradha” yaitu: Percaya adanya Sang Hyang Widhi, Percaya adanya Atman (roh leluhur), Percaya adanya Hukum Karma Phala, Percaya adanya samsara (punarbhawa / reinkarnasi) dan Percaya adanya Moksa.

Rukun iman pertama yaitu percaya adanya Brahman atau Tuhan Yang Maha Esa. Sradha kedua adalah percaya adanya Atman, unsur kehidupan yang ada pada masing-masing individu, kalau atman itu tidak ada individu itu dikatakan meninggal, disini atman itu sama dengan jiwa. Atman itu diyakini tidak pernah mati, tidak bisa disakiti, tidak bisa dibasahi dengan air juga tidak bisa terbakar oleh api, atman abadi adanya. Orang disebut meninggal karena sang atman meninggalkan wadahnya atau badannya yang sudah tidak sesuai lagi dengan sang atman jadi seperti berganti pakaian, kalau telah usang kita berganti dengan baju baru, begitulah atman itu berganti wadah.

Sradha ketiga hukum karma phala yaitu hukum alam atau Rta yang berlaku kepada semua mahluk ciptaan Tuhan, contoh kalau dipukul pasti sakit, siapa menanam pasti memanen. Kata karma itu artinya berbuat, phala artinya buah atau hasil. Hasil karma itu apakah baik atau buruk tergantung bagaimana perbuatan itu dilaksanakan dan phala dari karma itu pasti dan hanya kembali kepada yang berkarma atau pelaku. Pribahasa Jawa anak polah bapak kepradah itu bukan ajaran karma phala.

Sradha keempat; samsara atau punarbawa (reinkarnasi) yaitu keyakinan hindu bahwa kehidupan kita sekarang ini lanjutan dari kehidupan kita sebelumnya dan akan berkelanjutan pada kehidupan mendatang. Digambarkan bahwa manusia sebagai mahluk yang paling tinggi derajatnya diantara ciptaan Tuhan akan sulit mencapai derajat itu kalau tabungan phala karma buruknya lebih banyak dari phala karma baiknya, malah akan bereinkarnasi menjadi lebih rendah. Sebaliknya menjadi mahluk yang derajatnya lebih tinggi dari manusia dalam hal ini tidak ada seorangpun yang bisa mengetahui perbuatan apa phala karmanya apa, setiap umat hindu bercita-cita mencapai moksa bukan bereinkarnasi walaupun menjadi mahluk yang derajatnya lebih tinggi.

Sradha terakir yaitu moksa, yang dimaksud dengan moksa adalah berhentinya proses hokum karma phala menjadi kematian seseorang yang tidak lagi bereinkarnasi ke dunia lagi, artinya atman orang itu berhasil kembali ke Sang Pencipta Tuhan Yang Maha Esa. Semoga tulisan ini ada mafaatnya, tentu saja masih sangat jauh dari sempurna, terimakasih. **[]

BRAVO HPI. Jogja 21 Januari 2011. barthassi@yahoo.com

Literatur Bacaan Tambahan :

  1. Titib, I Made, 2001, Teologi & Simbol-Simbol Dalam Agama Hindu, PHDI-Paramitha Surabaya, cetakan pertama Februari.
  2. Sudharta, Tjok Rai, 1997, Manusia Hindu dari Kandungan Sampai Perkawinan, Dharma Naradha.
  3. Hadiwijono, Harun, 1989,  Agama Hindu dan Budha, Gunung Mulia, Jakarta.
  4. Koentjaraningrat dkk., 2002, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Djambatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s