Ayo ke Jogja lagi

Jalan menuju Nagari Ngayogyakarta Hadining Rat mulai berliku dan berkelok setelah erupsi pertama tanggal 25 Oktober 2010, lalu yang lebih besar lagi 30 Oktober dan ternyata melewati bulan kedua pasca erupsi masih juga kian meruntuhkan beberapa waduk dan Jembatan Srowol di Magelang. Rupanya sejarah masalalu Jogja berulang, rakyat disini lebih arif memberi (silahkan kembali ke Jogja!), sebab mereka terbuka santun pun bijak dari prilaku sang Penguasa Negeri RI dan yang terjadi dari aktivitas puncak gunungapi setelah erupsi bukan saja warna bencana, tapi berkah pasirnya juga pembelajaran atau teguran yang disimbulkan oleh Maridjan – Merapi – Mataram.

Rakyat yang melimpahkan kewenangan kepada Sang Wakil terhormat di Dewan Perwakilan Rakyat tak lagi amanah memegang janji, padahal Wakil bertugas mewakili aspirasi dan Keistimewaan Yogyakarta bukan sekedar keinginan tapi simbol sabda rakyat Mataram yang selalu memberi kepada NKRI, tapi bahkan jauh sebelum Republik berdiri. Sultan Banaran atau Hamengku Bhuwana I telah meletakkan dasar-dasar kosmos berdirinya Mataram hingga Sultan VII – HB IX peran beliau terhadap bangsa ini melampaui eksistensi Ripublik.

Daya tarik keistimewaan Yogyakarta tentu bukan soal Merapi, namun menurut KH. M. Jazir ASP bahwa jiwa kemerdekaan RI itu telah berakar di Mataram, bahkan utusan Khilafah Islam tertinggi Turki saat itu sudi datang ke Jogja memberi tanda keistimewaan dengan secarik kain bertuliskan La ilaha illa Allah, Muhammad rasulullah yang kini menjadi tanda keistimewaan (Kyai Tunggul Wulung) sebagai satu-satunya kerajaan islam sejagad pasca era kenabian yang tersisa. Bahkan utusan Turki itu dinikahkan dengan salah satu keluarga Pembesar Kerajaan, saat ini makamnya berada di Nitikan. Hal ini diungkap dialog Budaya dan Seni Yogya Semesta 11/1 malam di Bangsal Kepatihan bertema Keistimewaan Yogyakarta menghadirkan Sejarawan dari UGM Prof. Dr. Suhartono Wiryopranoto dan narasumber Romo Banar. Bahkan keistimewaan Jogja merambah lebih dari sekedar Seni dan Budaya bangsa, karena itu tugas pemuda mengisinya lebih mekar menafasi jiwa pembangunan yang selalu memberi kepada rakyat lebih dari sekedar pembangunan materi.

Maka keistimewaan Yogyakarta bukan sekedar persoalan Kuasa Raja sebagai pusat jiwa semesta peradaban yang memayu ayuning bhuwana, tetapi juga kemanusiaan Jogja yang berjiwa memberi kepada Bangsa dan Negara saat diserang VOC. Cermin pendidikan sahabat Merapi http://hpijogja.org/wisdom-lokal-anak-merapi.htm serta budaya demokrasi dari kuasa Raja Mataram ini terpantul hingga era ini, yakni Sultan HB X yang mandiri dan selalu mengayomi warga bangsa. Dikisahkan mantan Kepala Dinas yang hadir disana, bahwa beliau mengunjungi rakyat atau ke LN atas beaya sendiri, karena memang dana anggaran Negara amat terbatas. Seperti diungkap pula bahwa Soekarno menerima pemberian Raja Jogja sejumlah 60.000 Gulden untuk menghidupi pembesar RI, inipun dibenarkan catatan sejarah oleh Ibu Rahmi Hatta.

Maka ketika Merapi meletus dengan jarak bencana yang amat tipis dari anugerah, rakyatpun bertanya dalam gumam; seharusnya bangsa ini banyak belajar dari kesempurnaan penciptaan gunungapi dan kelimpahan daya tarik seni, budaya atas peradaban rakyat Ngayogyakarta Hadining Rat. Jasa pariwisata telah menanti bagaimana melayani manusia sejagad akan berguru dan menimba pengalaman serta mengumbar rasa ingin tahu terhadap isi semesta Yogyakarta termasuk Desa-desa Wisata di lereng Merapi maupun keindahan alam yang kini mulai memanggil-manggil ketertarikan wisatawan untuk dikunjungi. Ayo ke Jogja Lagi!!! ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s