Guide Mau ke mana ??

“Melayani penguasa harus siap menentang secara terbuka dan tidak menyembunyikan kesalahannya”.   Kitab LI JI II A. I.2 ( Confusiasisme).

Sebagai anggota asosiasi kita wajib menjaga agar fungsi dan kegiatan agar berjalan baik. Himpunan Pramuwisata Indonesia adalah sebuah negara di dalam Negara, punya rakyat, punya wilayah kerja dan terutama pemimpin. Para pemimpinnya adalah rakyat biasa yang dipercayai mengemban tugas berat untuk menjadi pengawal dan pelayan kepentingan rakyat. Seorang pemimpin harus dapat melebur semua kepentingan individu menjadi kepentingan bersama. Setiap anggota harus mempunyai rasa handarbeni, loyalitas dan rasa hormat kepada pemimpin dan asosiasinya.

HPI sebagai wadah bagi sekelompok orang yang berprofesi sebagai GUIDE sudah ada sejak beberapa dekade. Coba bercerminlah akan tampak wajah HPI lebih buram kalau dibandingkan dengan Ikatan Dokter, Ikatan Advokat bahkan dengan PGRI atau kelompok pesepak bola yang terancam pecah. Himpunan dokter, advokat dan guru menjadi solid karena kepentingan sama, latar pendidikan setingkat /sejenis serta isntitusi kerja kuat dan mapan. Asosiasi lain lebih eksis karena fondasinya kuat dan bangunannya kokoh serta bersih. Sementara HPI adalah puing berserakan yang tak sempat dibuatkan fondasi kuat oleh pendahulunya. Anggotanya saja tak mengenal baik atau melihat gubuknya karena tertutup semak belukar dan sampah berupa berbagai bagai kepentingan yang serba bertolak belakang.

Untuk kebaikan asosiasi baik Anggota, Pengurus dan terutama Pimpinan ke depan berikut dikisahkan keledai, srigala dan seekor singa. Alkisah seekor singa tua sakit meminta bantuan srigala untuk mencarikan mangsa. Singa adalah pemimpin dan srigala umpan yg disuguhkan keledai bagi tuannya. Srigala membujuk keledai jantan pergi bersamanya merumput, jauh dari manusia dan disana ada keledai betina. Disana singa bersembunyi, senja mulai meremang, srigala mendekatkan keledai kepada singa. Singa tua itu melompat menerkam keledai tapi luput sebab singa terlalu lemah bahkan menghadapi keledai rapuh. Ia gagal menerkamnya lalu menerkamnya lagi tanpa ampun. Demi menjaga harkat dan martabat, singa mandi dan merapikan diri, minta srigala menjaga hidangan itu dan berpesan bahwa ia hanya memakan hati dan telinga, sedang lainnya boleh dinikmati srigala. Saat kembali, singa terkejut mendapati telinga dan hati keledai tidak ada: mana telinga dan hatinya?. Yakin sekali srigala menjawab; Tidakkah tuan menyadari bahwa jika keledai ini punya hati dan telinga, sudah pasti ia tidak akan kembali setelah selamat dari terkaman tadi?.

Carut marut HPI ini bermula dari pendidikan yang njomplang dengan rentang SMA sampai master atau Doktor, termasuk yang membeli titel, tujuan yang berbeda dengan lembaga tempat bekerja dan status GUIDE yang tidak pasti. Anggota gamang dengan keberadaannya dan sulit dikelola, sedang pemimpin lemah oleh ujian dan cobaan. Para anggotanya adalah makhluk yang pekak dan tak berhati sehingga tanpa rasa handarbeni dan gampang tersinggung. Anggota yang cakap mengajak melawan pemberi kerjanya. Yang lain jadi bos hanya bermodal IT, sedang yang jago IT tidak tahu cara keluar dari group. Kebebasan berekpsresi dibatasi oleh kebebasan orang lain. Karena kebebasan itu harus dikendalikan maka kita harus fokus pada cita-cita bersama yaitu mengangkat harkat martabat guide demi kesejahteraan bersama.

Berapa banyak guide yang mengeluhkan biaya hidup meninggi tetapi pendapatannya tak pernah naik namun terus saja datang kepada srigala dan minta diantar ke singa peot untuk diterkam. HPI sebagai wadah guide hendaknya memikirkan hal hal yang paling mendasar yang terjadi di lingkup masing masing. Standarisasi kemampuan guide bisa dibuka dan dipaparkan; apa saja kompetensi dasar yang harus dikuasai. Dengan demikian HPI dapat memberi refreshing course bagi yang sudah peot dan up grading course kepada yang junior. Jangan mengadakan standarisasi untuk menguji demi menjatuhkan orang tetapi untuk mengajak setiap guide mencapai kemampuan minimil itu demi kebaikan mereka sendiri.

Waktu saya ikut maengambil lisensi saya diniterview oleh Pak Subekti dan saya katakan bahwa saya mengambil lisensi agar dapat ikut mempromosikan kepariwisataan Indonesia di dunia baik langsung maupun lewat tulisan. Saya tidak tahu apa yang ada dibenak beliau. Terus terang pada saat itu beberapa guide tua ingin sekali menjatuhkan saya. Mereka bingung saya akan ambil lisensi bahasa apa. Tapi saya ingat waktu mendaftar saya membawa portofolio dan orang dinas sangat bangga menerima berkas saya. Saya telah mulai berurusan dengan turis sejak 1977 sebagi relawan menolong turis tersesat dengan biaya uang saku saya sendiri. Selama itu saya hanya sekali diberi ongkos naik angkot dari terminal ke kos saya di Mataram dan sekali ditraktir makan diwarung Wonosobo saat perjalanan hendak ke Dieng.

Awalnya tak tertarik profesi guide dan baru tahun 1994 bergabung dengan HPI. Sebelum itu malang melintang membawa segala macam bangsa karena saya polyglot dan instruktur di lembaga terkemuka. Yang menyedihkan adalah teror tingkah laku guide tua. Ada seorang penelpon tamu memfitnah bahwa saya tak berbahasa Spanyol dan tamu itu marah besar dan mencari si penelpon. Sayang tidak ketemu. Saya menulis surat protes ke Pacto yang memberi order. Dibacking pak Nana dan Pak Bambang Moer, saya gantung seragam Pacto di dinding dan pergi begitu saja. Awal era internet, saya guide pertama yang punya email dan mendorong teman agar melakukan hal yang sama tapi 99% mengangkat bahu. Entah apa yang bergelayut di angan mereka. Tidak lengkap kalau hanya guide yang merorongrong reputasi saya. Guiding is not just a work for me!. Saya tak sekedar bekerja tetapi sedang belajar dan mengajar, bersosialisasi dan bersahabat. Secara profesional saya bekerja, secara sosial saya berpartner dan secara manusiawi saya bersaudara dan bersahabat dengan tamu.

Suatu hari dari Hotel Ambarukmo tamu minta diantar makan siang, tentu saya antar ke restaurant dekat hotel, karena bosan mencari menu lain. Sekembali di hotel seperti biasa saya ke tempat kumpul para guide untuk minum teh dan melihat mereka main bola sodok. Tiba-tiba ada guide yang datang dan lapor pada saya bahwa saya dituduh mencuri tamu agent dan jual city tour!. Saya langsung bertemu direktur menanyakan sudah tahukah masalah yang digosipkan? Direktur itu bilang sudah dengar tapi tak percaya. Saya bersyukur dan menerangkan duduk perkaranya. Menurutnya sepanjang tugas di Guide Order sudah selesai maka hak Guidelah untuk apa saja yang sewajarnya dapat dilakukan. Saya masuk ke agent itu dengan dokumen lengkap sehingga saya diterima sebagai profesional sejak detik pertama. Banyak guide salah faham dan mengira saya ada main dengan tour operator.

Kepercayaan pada satu agent itulah kuncinya. Sejak pertama saya selalu bekerja pada satu-dua agent dan berjuang bersama manajemen untuk membangun dan membesarkannya tanpa mendapat apapun selain gaji dan itulah kontrak kami. Di era internet, saya mulai dikenal dan menjadi guide resmi beberapa Kedutaan Besar dan perusahaan internasional. Akhirnya memutuskan menetapkan honor, tiap tahun ada kenaikan fee dan memakai dolar atau euro sejak krisis melanda. Saya tidak pernah berhenti memikirkan kesejahteraan guide dan terus membantu yang muda untuk mengembangkan diri. Meskipun terseok-seok ada juga yang bisa saya bikin guide mahal namun karena tidak konsisten jatuhlah mereka kembali ke kubangan yang sama.

Baik buruk dan jatuh bangunnya HPI serta meningkat atau bobroknya kesejahteraan GUIDE adalah kembali kepada kita sendiri. Mau atau tidak mengambil langkah kongkrit dalam merovolusi cara berfikir dan bertingkah laku. Selain rendahnya fee ada satu hal yang menjadi sumber mala petaka yang sangat menjerat si GUIDE yaitu gaya hidup hedonis. Hedonisme adalah musuh utama militansi. Militansi adalah kegigihan dalam memperjuangkan cita cita. Hilangnya militansi pada guide menyebabkan hilangnya rasa memiliki, loyalitas dan solidaritas. Tanpa itu anggota akan hengkang dari HPI hanya karena kritik membangun dari koleganya. Selama anggota HPI masih banyak yang tidak mendengar dan merasakan seperti keledai di atas selama itu pula kita tidak akan melihat kemajuan berarti.

Karena itu, Jalan masih panjang membentang bagi kita semua dan terutama para Pemuka HPI sebagai GUIDE-nya para GUIDE!. Mau mengajak kami kemana?.

Salam dan maaf

Hazairin R. JUNEP

(guide polyglot, dewan kehormatan DPC HPI Sleman)

4 thoughts on “Guide Mau ke mana ??

  1. hpijogja Penulis Tulisan

    Terimakasih..OTOKRITK menarik..dan perlus disikapi dg PERBUATAN..semua pihak para keledai, srigala dan singa.. metafor prilaku buruk yg disuguhkan HRJ sekaligus ingin berbuat..

    Pertama sbagai Ketua Divisi Rusia; kita tunggu saja apa ide besar beliau agar Guide lain juga menjadi sperti dirinya yg sejahtera dan bermartabat..sperti keinginan kita bersama.. dalam membantu Ketua (saya) memperbaiki HPI dari dalam..

    Dan alhamdulillah HRJ malah kini sbg Dewan Kehormatan DPC Sleman periode 2010-2014 yg esok tgl 12 Jan 2011 segera resmi dan sah saya lantik. Artinya beliau berjanji dan bersungguh-sungguh ingin bersama-sama saya dan Pengurus merubah HPI lebih bermartabat dan bernilai serta berjati diri..

    Terlepas dari pro dan kontra diantara kami pengurus, demikian adanya disadari bahwa manusia GUIDE apalagi di Jogja memiliki tanggung-jawab lebih untuk berprestasi max dan profesional dlm guiding tanpa cacat.. dan lebih penting lagi akan kita pertanggung jawabkan kerja profi ini dihadapan manusia serta Tuhan ALLAH SWT.

    So, jangan pernah Pengurus dan Anggota HPI yang ingin berubah untuk blangkonan, manis di depan tapi MENUSUK dari belakang… Alhamdulillah saya telah berkomunikasi dan akan terus intens berhub dg HRJ serta para Senior yg berhati/bertelinga tulus dan warga Anggota Himpunan semua yang mau berubah menjadi baik.. emang qt saja yg mampu merubah HPI bukan supporter apalagi musuh..

    Kinilah saatnya perubahan itu DILAKUKAN bersama dengan CARA yang TANPA MERUGIKAN teman lain..setelah DPD yang saya pimpin memfasilitasi terbentuknya DPC Kota dan DPC Sleman, marilah menata lebih sejuk tanpa intrik dan niat tersembunyi.. Hanya Allah Maha Tahu segalanya.

    Maaf dan matur nuwun.. Salam Pramuwisata!

    Andi Mudhi’uddin
    andimhd@yahoo.com 0818 465 933

  2. fulan

    Tulisan di hpijogja menunjukkan ada komunikasi intens, bhw hpi jogja ingin suasana perubahan.. hanya tampak sekali perbedaan cara bgmn mengurus itu semua…
    Akan lebih baik jika sblm ditampilkan di hadapan org banyak dikomunikasikan lebih intens tanpa mengurangi isi dan ketajaman maksud masing2 yg bertentangan pendapat..hingga cantik muncul kebersamaan di hadapan anggota dan demi citra HPI secara keseluruhan..

    Bapak Hazairin nampaknya serius ingin membantu HPI, dan beliau bukan mengkitik tapi menegur sesama kawan.. begitu menurut saya… selamat bertugas bpk2 pengurus!

    Anggota HPI yang bangga memiliki pengurus hebat
    trimaksih

    Fulan

  3. hartini

    Pertama saya ucapkan selamat kepada Mas hajairin karena sudah
    terpilih menjadi Dewan Kehormatan HPI DPC Sleman.

    Memang benar komentar panjang lebar diatas bahwa guide
    harus berani menentukan tarif kepada siapapun yang menggunakan jasa kepemanduan kita.

    saya sendiri sangat prihatin karena banyak teman2 yang
    masih mau dibayar per day rendah sekali dan bahkan bisa saya
    katakan sama dengan tarif 1.5 jam tukang pijat.

    Ya ..mudah2an tahun ini akan menjadi awal dari kebangkitan
    fee guide jogja.

    Bravo HPI DPC Sleman..

    Maturnuwun.

    Wong kito galo

  4. herman jaya

    from rakyat jelata dari tlatah imogiri,bantul..mengucapkan selamat tahun baru 2013 untuk keluarga besar HPI Yogyakarta

    tur nuwun
    herman jaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s