Ciceron 2: Sapa Ingsun

Copy right Hazairin R. Junep: Sapa Ingsun

Saat jalan-jalan pagi masa kecil, setiap hari saya melewati sebuah rumah di dekat  pasar dan selalu menatap gerbangnya yang berhias roda pedati dengan tulisan melingkar berbunyi; “Sapa sira sapa ingsun aja dumeh”. Kami menggunakan bahasa Kawi dalam berkesenian dan kadang berbicara dan berdiskusi dengan campuan Kawi dan Sasak yang termasuk Kawi modern. Saya tentu mengerti arti kata di roda pedati itu tetapi masih sangat kecil untuk memahami apa yang ingin disampaikan tuan rumah.

Perlu lulus SMP untuk mengerti makna dari tulisan itu. Saya perlu berkelana ditanah kami dalam jangka panjang untuk sekedar “ngeh” apa isi nasihat sang pujangga. Dan lebih lama lagi menungu agar dapat menyerap dan memasukkannya dalam sikap, perilaku dan tindakan hidup.Untuk mensikapi pernyataan itu saya perlu lebih dewasa membandingkan, mengurai dan memandang cakrawala, perlu kendali diri agar setiap keputusan sesuai dengan prinsip. Tindakan saya adalah pengejawantahan dari sikap dan perilaku saat saya mengeksekusi suatu tanggung jawab.

Siapa yang mengenal dirinya dengan baik akan mengenal Tuhannya. Jika kita kenal diri sendiri akan kita kenal lingkungan, orang dan benda apapun hingga mengenal dan mengerti Tuhan. Namun paling sulit dari yang tersulit itu adalah memulai pembedahan diri sendiri. Sebagai pemandu wisatawan, siapakah yang lebih mengenal profesinya kalau bukan si pelaku sendiri. Tetapi mengapa begitu banyak dari mereka hidup terombang ambing dan nekad lompat sana sini, bahkan ada yang begitu pongah alias dumeh meskipun belum sampai pada tahap profesional.

Pemadu wisatawan pertama-tama adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Seperti seorang imam, rahib, pedande, pastur atau pendeta dan bahkan presiden dan gubernur general sekalipun, yang memimpin manusia, mula-mula adalah pemimpin dari hatinya, fikirannya, lidahnya dan kaki tangannya sendiri. Mustahil ia dapat memimpin kalau dia sendiri tak percaya diri dan kurang terampil. Orang karbitan yang suka jalan pintas tak mungkin bisa memimpin diri apalagi orang lain. Fakta kehidupan pemandu wisatwan, beberapa sudah menjadi gila dan frustasi karena kalah oleh permainan untung rugi pertaruhan soal isi perut belaka.

Inkonsisten menegakkan profesionalisme adalah karena kurangnya rasa hormat pada harkat martabat diri pemandu wisatawan sendiri. Seorang peserta pelatihan guide adalah orang yang cukup berpendidikan bidang Pemandu wisatawan. Pendidikan yang telah dilewati dipandang memadai dalam membentuk jatidirinya yang siap mengembangkan potensinya sebagai makhluk sosial dan sanggup mengembangkan idealismenya dalam wujud kreatifitas kerja. Idealnya setelah diklat seseorang sanggup menerapkan apa yang diserap dalam masa pembelajaran dan membuatnya makin mengokohkan dunia kerja dan bermasyarakat. Setiap orang pada prinsipnya harus bekerja keras untuk memperoleh apapun sesuai dengan kebutuhan hidupnya.

Berapa banyak sudah kita dengar guide yang mau dibayar murah karena bagi sebagian orang pariwisata adalah dunia dagelan dan sebagian lainnya menganggap dunia itu sebagai jagad lelembut. Kita tak perlu picik dan berprasangka buruk; menyangka kalau seorang pemandu wisatawan harus tahu IT dan bisa membuat quotation untuk menjual tour, harus mengikuti standar kompetensi nasional agar dapat bekerja memenuhi prinsip kerja keras dengan hasil sesuai dengan kebutuhan. Boleh saja orang memiliki berbagai keterampilan tetapi sangatlah lucu kalau perawat dituntut menguasai teknik anestesi agar bisa bekerja seperti dokter. Lucu sekali kalau pramuria diajarkan juga merancang berbagai acara dengan rancangan dan perencanaan yang seahli manager Event Organizer. Perawat tetaplah perawat kalau mau profesional demikian pula pramuria harus bekerja bagus. Profesional bukan berarti serba tahu tentang hal-hal yang berkait dengan profesi hanya sebaiknya tahu dan bisa tapi tentu tidak sejauh serba mengetahui IT.

Ibarat IT adalah alat seperti halnya cangkul dan traktor atau mesin jahit. Meskipun semua petani bisa mencangkul atau menggunakan traktor dan semua perempuan bisa menjahit tetapi kita bisa lihat berapa banyak alat-alat itu berkarat tak terpakai. Ketrampilan ada, waktu melimpah, manusianya bergelimpangan terus kurang apa. Minat, insentif, kesempatan, elan vital atau apa yang hilang dari peredaran? Ahli bahasa asing tapi sedikit bekerja jadi guru ataupun guide. Kini banyak yang ahli IT dimana-mana. Ada yang mancing sambil berintenet karena suka main goldfish. Ada yang guiding sambil main warkraft terbaru. Ada yang ikut seminar sambil fokus pada chattingnya dengan sang pacar virtual yang belum pernah ketemu.

Profesionlisme bukan bicara benar salah melainkan tentang tepat dan tidak tepat. Benar dan salah adalah bagian dari akhlak hingga seorang profesional itu dikendalikan oleh hati nurani dan keputusannya didapat dari renungan yang mendalam. Kita begitu gegap gempita mengerahkan berbgai kursus agar pemandu wisata lebih terampil. Apakah kita begitu amnesia sehingga kita lupa berapa kali kita mendapat refreshing course dan kursus lain tersendiri baik yang disponsori atau biaya pribadi. Kalau ketemu satu sama lain kita akan bilang bahwa ternyata kegiatannya itu itu saja. Setelah dapat sertifikat dan diploma adakah perubahan nasib pemandu wisatawan.

Hanya segelintir orang dapat hidup karena berjuang sangat keras dan berdisiplin. Dahulu yang dianggap sukses adalah guide yang dapat kekayaan dari komisi tanpa peduli moralitas maupun profesionalisme, bekerja tanpa dibayar dan bahkan ada yang menyogok dan membeli klient dari tour operator. Setelah berpuluh tahun masih juga semerawut dan HPI tanpa pemetaan masalah, terus menerus berkonsentrasi pada hal-hal yang kurang substnsial. Maka seharusnya HPI maju dengan gagah berani mencari solusi permasalahan yang dibutuhkan guide termasuk ke ASITA untuk minta gaji besar sesuai bagi anggotanya menurut prinsip profesionalisme. Berapa banyak Pemandu wisata yang sangat minimalis dalam penampilan profesionalnya, dengan ditutupi seragam travel agent ia bekerja formal dan legal. Loyalitas pada agent sering jatuh menjadi pak turut yang penting dapat order. Entah berapa lama seorang pemandu wisatawan seperti itu mau bertahan tekor terus.

Profesionalisme seharusnya jadi tameng terkuat untuk melindungi guide dari rongrongan masalah poleksosbudhankam. Seorang yang bekerja keras dan memperoleh hasil sesuai dengan kebutuhan adalah orang yang tangguh karena ada kontrol kuat secara batin dan akal sehat. Kalau sampai masih berhutang itu adalah pertanda ketiadaan profesionalisme atau tanda kemiskinan. Kalau orang miskin dibebani tugas berat seperti halnya CICERON, jangan pernah mimpi untuk menjadikan pariwisata maju dengan menggunakan tombak yang tumpul dan tidak keras apalagi  karatan sisa perang zaman dhal. Profesional adalah seseorang yang tekun bekerja di bidangnya, militan dalam prinsipnya. Profesional sejati bisa bekerja diberbagai bidang yang ia minati dengan keberhasilan yang sama. Mau menjadi pekerja IT silahkan, mau jualan tour tak masalah, mau jadi manager please! Tapi ini pemandu wisatawan kawan, mau konsisten atau melompat sana sini dan lupa dimana perpijak, kenali jati diri.

Salam dan maaf.

One thought on “Ciceron 2: Sapa Ingsun

  1. admin

    – artikel refleksi: ide dan usaha kreasi pengurus tak selalu diterima org lain seb solusi, malah dg semangat di dlmnya tak setuju guide juga mendalami IT..mau konsisten atau melompat sana sini dan lupa dimana perpijak, kenali jati diri..kta sang Bijak. Inilah saatnya berbuat demi org lain!

    – Layak diadakan workshop khusus membedah SIAPA GUIDE dan PROFESIONALISME dari beragam sudut pandang sisi beragam pengalaman Anggota HPI di lapangan..bukan lamanya, tapi kedalaman cara pandang thdp profesi yg ditekuni.. di HPI sungguh menarik menjadi manusia Bijak Bestari..

    – Anggota bijak lain boleh dan amat diharap mengirim naskah layak apapun untuk meluaskan profesionalitas kerja Pemandu Wisata di masa depan..eh pakai aja istilah GUIDE yg netral dikenal utk maksud yg sama diantara pramuwisata dan pemandu wisatawan! Do your best dan kirimkan utk dimuat di web hpijogja.org atau di wordpress milik hpijogja..dtuggu!

    – Emang harus diakui, lebih bnyak yg ingin BICARA daripada BERBUAT dan MENJALANKAN kebaikan demi asosiasi HPI, yg tak jarang adalah ’emoh’ memperbaiki HPI karena lebih mendahulukan yg lain, seperti tuntutan utamanya..palagi HPI tak mampu memberi hanya meminta guide; maka akhirnya SAPA SIRA SAPA INGSUN alamak OJO DUMEH jadi guide!

    – Semoga jalan menjadi guide bukan keterpaksaan semu melainkan pilihan sadar serta panggilan jiwa raga sbg media profesional mempertemukan sikap – wawasan ilmu – ketrampilan. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s