Guide: Pengungkit Profesi

Arti etimologis GUIDE diterjemah kawan saya HRJ dari Himpunan Pramuwisata Indonesia sebagai profesi Pembangun Jati Diri [pari-vi-sat(v)a] akronim Good, Universal, Independent, Direct and Extraordinary. Sedang penulis juga memahaminya (terminologis) sebagai Goal Setting – Unite – Identity – Development – Empowering yang memiliki 12 jejak profesionalitas kerja bahwa Guide adalah Pemberi Nilai sebuah Perjalanan (QS 40:82, 6:11, 27:69) sebagai Pramuwisata, Penterjemah, Peneliti, Wartawan, Budayawan, Guru, Negosiator, Pelayan, Pemasar, Informan, Pemandu dan Penulis kunci ujung tombak pembangunan alias Duta Bangsa.

Alat yang menafasi dan mendorong prestasi kerja menjadi profesional itulah pengungkit. Profesionalitas kerja seorang Pemandu Wisata (tourist guide) dapat diukur dari luasnya prestasi kerja yang melintasi ruang dan waktu, tingginya daya juang Guide dalam praksis layanan kepariwisataan, dimana kesadaran keilmuan-sikap-ketrampilannya diatas ukuran rata-rata kinerja seorang Professional. Sampai disini seringkali diri dan profesionalitas seorang Guide menyatu dalam keutuhan peran, tugas dan tanggung-jawab layanan perjalanan wisata, peradaban manusia dan destinasi pariwisata.

Seorang Guide Indonesia memiliki identitas teknik-kepribadian-keilmuan-etika kepemanduan yg berciri jelas dan pasti membingkai standart operasi tugas kewenangannya. Kualitas kerja itulah salah satu alasan pentingnya Guide bergabung ke dalam Asosiasi HPI kemudian dirinya menjadi bagian Guide sejagad dari 46 Negara tergabung dalam World Federation of Tourist Guide Association; maka profesi ini berjiwa progressif dengan terus tumbuh dan mekar dari martabat kepribadian bangsa dan keyakinan yang dibanggakan.

Secara nasional visi kepramuwisataan di atas sedang membuncah di dalam tubuh Himpunan Pramuwisata Indonesia, di wilayah kerja Dewan Pimpinan Daerah HPI DIY terdapat 486 Guide Legal Professional, 2 struktur DPC HPI Sleman dan Kota Yogyakarta serta memiliki 7 Assessor bidang Pramuwisata dan seorang Assessor bidang Kepemimpinan. Koperasi HPI DIY mengurus bisnis usaha termasuk Training Center yang mendidik calon Profesi Guide sistem 110 jam seperti diisyaratkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia. Dari 12.000 Pemandu Wisata legal di Indonesia perlu disuntikkan selain visi kebangsaan dan entepreneurship juga muatan2 dakwah universal yang membawa kepemanduan kepada peran fungsi pembangunan kemanusiaan dan kesejahteraan. Seluruh potensi itulah pengungkit yang melambungkan Guide berwibawa.

Setelah acara konvensi Guide se-Dunia di Bali (2009) diagendakan awal Februari 2011 di Talin Estonia, dan sebuah perhelatan akbar di Nangro Aceh bulan Juli mendatang yakni Musyawarah Nasional HPI. Profesi Guide menjadi kian menarik untuk ditingkatkan kinerja dan kompetensinya, salah satunya dengan gagasan regenerasi profesi guide melalui sinergi kelembagaan dan pendirian Lembaga Sertifikasi Profesi Pramuwisata selain memaksimalkan 4 LSP Pariwisata yang ada di Indonesia. Pilihan LSP Pramuwisata sedang dalam persiapan, sedang kemungkinan sinergi fungsi kelembagaan adalah keniscayaan yang mesti diperhitungkan oleh Perguruan Tinggi seperti UIN Sunan Kalijaga, Universitas Gadjah Mada ataupun Universitas Negeri Yogyakarta.

Plus minus pembelajaran Lembaga Diklat Profesi perlu dipikirkan aktualitas kebutuhan masyarakat terhadap out put yang akan disasar, termasuk menghitung kekuatan kelemahan yang mungkin muncul dari sebuah praksis sinergi kelembagaan dan peluang masa depan usaha pariwisata. Selain soal jam terbang suatu Training Center ada pertimbangan ekonomi, hobby perjalanan, pilihan kompetensi maupun ideologi, pariwisata saat ini menjadi alternatif jawaban untuk apa seorang Sarjana sebuah PT bekerja memilih menjadi Guide atau lainnya bahkan menjadikan profesi ini sebagai Pengungkit dan Penghubung Dakwah di masing-masing pos dari tugas fungsi tanggung-jawab kemasyarakatan seseorang.

Akhirnya perlu sistem pendidikan menjawab kebutuhan dan mempersiapkan apapun proses menjadi Guide secara baik, termasuk keharusan profesi ini untuk selalu belajar dan MEMBACA Buku agar mampu bekerja penuh tanggung jawab terhadap profesinya. Data tulisan HRJ dalam wall internal Facebook HPI Yogyakarta, bahwa minat membaca dan belajar adalah momok terbesar anak bangsa, bukan hanya pada pribadi guide. Di negara maju (USA, EROPA, JEPANG) rata-rata membaca adalah 100 judul buku pertahun, di Malaysia dan Korea Selatan rata-rata 40 judul / tahun sedangkan Indonesia sangat dahsyat; 150 judul dalam 100 tahun! Wa Allah a’lam bis-showaab. []

DPD HPI DIY berusaha maksimal mengangkat serpihan-serpihan ilmu pengetahuan dari ketrampilan panjang 486 Anggota HPI yang berserak di sepanjang masa guiding, baik sebagai Pemandu Wisata Umum di dalam dan luar negeri, maupun Anggota yang berpengalaman sebagai pedagang, pengajar, guide khusus, entepreteur, wartawan, penulis buku dan pos lain yang pernah dijalani. Contoh disebelah adalah salah satu cara kami mengisi profesi langka ini. [] *) Andi Mudhi’uddin, ketua DPD HPI DIY dan Anggota BP2KY.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s