“Buntut Macan”sebuah renungan untuk tour guide

Buntut macan

Penulis sudah aktif ikut berperan serta di dunia perturisan di akhirtahun 80-an.Saat itu, didalam divisi yang penulis ikuti , masih bercokol generasi 45 , mereka yang belajar bahasa asing di sekolah sekolah Belanda,pelajaranya diberikan oleh guru guru impor built up dari Belanda. Mereka sangat fasih, mendekati kemampuan penutur asli, atau native speaker, dan rata rata 1 orang menguasai – 4 macam bahasa asing.

Saat itu ( lebih lanjut bisa dibaca dalam artikel SCIENTIFIC RELIGIUS) , ada pembagian jurusan di sekolah menengah , yaitu jurusan Sastradan jurusan ilmu pasti. Bagi mereka yang mengambil jurusan sastra , bisa dipastikan menguasai 4 bahasa asing dengan sangat fasih. Satu nama yang masih tersisa dari generasi 45 adalah ibu BEKTI ,sekitar 84 tahun usianya. Mas Bambang Mur , guide Jerman , memiliki seorang teman SMA, yang adalah salah satu putra ibu BEKTI tersebut. Kalaupun mereka berasal dari jurusan ilmu pasti , setidaknya mereka akan sangat fasih dalam 2 bahasa asing, yaitu bahasa resmi Belanda,dan bahasa Inggris.

Orang yang menguasai bahasa asing, di era itu , era 45 an, adalah mereka yang mampu mengakses pendidikan di jaman colonial. Dan hanya ada 3 kategori `STRATA /KASTA ~ yang diijinkan mengakses pendidikan di sekolah sekolah Belanda. Yaitu mereka yang berincome minimal 60 ( enam puluh ) gulden. Sampai berkhirnya penjajahan Belanda ( 1941 ) , uang gulden masih resmi digunakan, dan masih juga diakui sampai dengan awal tahun 1950-an ( pengakuan kedaulatan ).

1 gulden = 100 sen , sedangkan 1 sen saja , setara dengan harga 1 kg beras. Jadi 1 gulden , akan sebanding dgn 100 kg ( 1 kwintal ) beras. Kalau 60 Gulden ?? jadi tentu saja setara dgn 6.000 ( 6 ton ) beras. Anggap saja kalau harga beras saat ini adalah Rp.5000 / kg, tentu juga akan berarti bahwa 60 gulden = ( 6.000 kg X Rp.5.000 ) = Rp.30.000.000 , ya 30 juta. Berarti uang 60 gulden sampai dgn tahun 50an, kurang lebih sama dengan Rp.30 juta saat ini. Ya, hanya mereka yang berincome Rp.30juta, begitu katakanlah, yang bisa mengakses pendidikan di sekolah sekolah kolonial. Nominal ini akan didapat apabila mereka berlatar belakang :
– DARAH BIRU
– PEGAWAI TINGGI ( Hoge Ambtenaar )
– PEDAGANG KAYA

Hanya anak anak dgn orang tua yang berlatar belakang diatas, yang boleh mengirim anak anak mereka ke sekolah Belanda. Nah,bisa dibayangkan, apabila generasi dengan latar belakang seperti itu, ikut tampil di jagad pariwisata , tentu mereka hanya akan berasal dari golongan sbb :
– PEGAWAI TINGGI ( kepala stasiun, wedana, kepala perkebunan,dll)
– PEDAGANG / PENGUSAHA KAYA

Diantaranya almarhum Lie BUNTORO ( mantan pemilik pabrik sabun di Loji kecil, yang bekas pabriknya menjadi diskotik Papilon , di depan hotel Melia ) – NINGRAT BERDARAH BIRU ( bergelar setidaknya RM=Raden Mas ) Ayah dari penyiar TVRI SURYO BASKORO ( mantan ketua jurusan Sastra Prancis UGM , juga Kabag Protokeler UGm ), atau ayah dari Mayong SURYO LAKSONO ( yang adalah suami NURUL ARIFIN ) , beliau bernama RM MUR SUMARWAN , adalah salah satunya

Ya , mereka saat itu sangat dibutuhkan oleh pihak Biro Perjalanan , yang kebanjiran tamu tamu Eropa terutama. Disamping tamu Eropa, banyak juga tamu Asia ( khususnya Jepang ), dan mereka juga menguasai bahasa Jepang yang juga mereka pelajari di Sekolah sekolah Jepang ( antara 1941 – 1945 ). Alm, Pak MOMPALA dan pak JAN MALOTO , juga menguasai Bahsa Eropa, sedangkan kawan kawan yang saya sebut diatas juga menguasai bahasa jepang, penulis menyebut MENGUASAI , tidak sekedar bisa ngomong cas cis cus, menerangkan relief lalita vistara , yang ternyata dipelajari model RADIO RUSAK ( urut kronologis, apal luar kepala, tetapi bercerita kayak prenjak, karena ?..ya memang Cuma apalan ), bukan mengerti sub stansi bahasa, tetapi sekedar bisa menceritakan relief dalam bahasa yang ditekuninya,sehingga banyak sekarang ini, yang menuliskan di kartu namanya bahkan 5 bahasa asing sekaligus, versi akademi bahasa asing TOM and JERRY atau stamplat bus THR.

Dalam kasus itu, Biro Perjalanan yang harus nyembah nyembah meminta mereka guiding. Generasi berikutnya , seperti mas Bambang Mur , mas MARWOTO , mas PADMO almarhum, dll , masih sangat belia, untukditandingkan dengan kemahiran senior senior itu berbahasa asing. Ini kejadian tahun 1970-an tentunya.

Penulis bersyukur masih mengenal mereka dengan bugar di akhir tahun 80-an. Dan seperti tertulis diatas, mereka adalah Ndoro Tuan yang memiliki kasta tinggi di masyarakat yg masih cenderung feodal saat itu. Pihak biro perjalanan, rela mengutus sopir mereka melakukan penjemputan, sering sering, bahkan sopir penjemput tiba di rumah beliau beliau itu, dan bahkan beliau belum bangun tidur, sehingga pekatik sopir harus rela menunggu. Tidak seperti generasi guide sekarang , yang bahkan menimpa ADRIANUS ( jerman ) , diturunkan di jalan oleh oknum sopir brengsek bernama SUSILO ( eks Bandi Transport ) dalam perjalanan dari Surabaya ke Jogja. Biro Perjalanan sangat menghormati mereka , kawan kawan sebior itu

Dan pada saat itu, biro perjalanan sendiri adalah juga usaha usaha mandiri yang memiliki semua perangkat lunak maupun perangkat keras operasional sebuah biro perjalanan. Namanya saja Biro Perjalanan, tentu memiliki sarana mengatur perjalanan, diantaranya TRANSPORT ,atau armada , baik roda 4 maupunroda 6 ( bus ). Boleh saya sebut disini, mereka antara lain :
– SATRIAVI
– PACTO
– INTAN PELANGI
– DEWATA
– VISTA EXPRESS
– TUNAS INDONESIA
– SRI RAMA
– MATAHARI TRAVEL
– SAHID TOURS
– IDA SARASWATI
– NITOUR
– NATRABU
– VAYATOUR
– dll Sedikit yang lebih muda antara lain : PARADISE dan RAMA ( eks pegawai Pacto yang mendirikan RAMA ).

Tidak banyak memang , paling 12 – 15 biro perjalnan, tetapi mereka adalah raksasa di bidang masing masing. Dan mereka sangat menghormati guide. Bahkan acara tahun baru 1989 – 1990 , ASITA yang anggotanya tak lebih dari 15 Biro tadi, ikut bergabung dengan HPI merayakan pergantian tahun. Saat itu Mas bambang Mur, yang jadi ketua HPI. Mas ALEX masih sangat ngaanteng jadi MC di Gita Buana.Kalau semua organisasi profesi (ikatan dokter, ikatan notaris , persatuan wartawan,dll ) ribut mencari tempat merayakan tahun baruan, kami di HPI justru menolak permintaan banyak pihak untuk bertahun baru di tempat yang mereka tawarkan, karena divisi Mandarin yang sangat solid, waktu itu ditunjuk sebagai panitia, sudag menentukan pilihannya yaitu di resto milik pak YAKOB (Gita Buana ). Hubungan ASITA – HPI sangat harmonis. Mereka bersimbiosis dengan mutualistik sekali. Perkembangan sekarang, merasa memiliki kemampuan ( modal ala kadarmya , dan tamu yang mengikuti acara bedol deso ) , banyak pegawai pegawai Biro Perjalanan yang mengibarkan bendera dgn sangat gagahnya.

Kalau boleh disebut disini, INTAN PELANGI ( dimiliki oleh pak UMAR , salah satu cucunya satu kelas dgn anak penulis , dan berangkat kesekolah sejak TK sampai SMP dengan Mercy Sport , diantar sopir pribadi) Pak Umar memiliki hotel di Malioboro, plus beberapa hotel di Java Bali.Snagat kaya, saking kayanya, beliau bahkan tidak merasa kehilangan saat semua clients beliau di boyong paksa ke perusaaah Biro Perjalanan baru yang menggegerkan Jogja saat itu ( 1994 ) , masih tersisa banyak tamu Asia di INTAN PELANGI, setelah tamu Eropa diboyong habis tak bersisa ke perusaan lain. Tak lama kemudian tamu tamu Jepangnya pun, dengan cara yang sama di boyong ke Biro yang lahir di kemudian hari, Dan sedikit yang tersisa pun, doboyong oleh bekas anak buah pak Umar di Inatn pelangi dengan cara yang sama. Pak UMAR tidak menjadi mlarat karenanya, beliau justru bahagia bisa meningkatkan derajat anak buah yang mengkhianati beliau, Hingga akhirnya, untuk perluasan parkir, pak UMAR membuldozer kantor INTAN PELANGI dan menjual bus bus besarnya , kantor IP yang merangkap penukaran mata uang asing di lokasi strategis Malioboro, hanya bisa kita lihat saat ini, sebagai halaman parkir hotel Mutiara. Sementara eks sopir sopir wisata , yang biasa menjemput Guide Guide senior di rumahnya, dan memiliki jam terbang dgn rute rute overland, sekarang ini, cukup bahagia mengantar cucu cucu pak Umar sekolah,dengan Mercy sport ataupun New Camrynya.

Begitu juga almarhum Pak ALWI , yang lama mengabdi di PACTO , kemudian mendirikan API ( Pesona Indonesia ) , dengan modal tamu / grup seri yang dibawanya dari PACTO. Disusul kemudian lahirnya Santa Bali,l setelah pemilik Santa Bali hengkang dari TUNAS Indonesia. Banyak , terlalu banyak contoh yang terjadi,bahwa `long cinolong` tamu / grup seri dari travel besar oleh bekas anak buahnya, untuk kemudian si anak buah akan menjadi cukong baru , dengan modal tamu bawaan tadi.

Dalam bisnis apapun, hal diatas sulit dihindari. Itu sebabnya , Penulis tidak memiliki anak buah. Penulis mampu menghadirkan bahwa company yang penulis bina seolah besar sekali, ada petugas pengalung bunga selamat datang di airport, ada kameraman yang mengabadikan moment penting, ada petugas pembawa spanduk/banner, ada seksi sibuk yang mengontrol prasmanan, bahkan bulan Oktober lalu, dalam suatu event besar di Jakarta ( dgn jumlah tamu 75 orang dari Thailand , untuk meeting dengan KADIN Nasional, ada cocktail party dan Welcome dinner, di Le Meridien Hotel Jakarta ) , saat itu ada 3 penterjemah asli orang thailand, yang penulis PAKSA ( dengan deal sangat layak ) , emngaku sabagai pegawai Penulis !! Semua penulis sewa secara free lancer.tetapi mereka memiliki pengabdian yang tulus dan dedikatif terhadap usaha ini. Selebihnya , semua penulis lakukan sendiri.

Kembali ke kasus penggembosan company. Itulah yang terjadi, bahwa tergondolnya tamu tamu regular ke perusahaan lain, akan sulit dihindari , kalau anak buah lebih pinter dari juragan. APAPUN ALASANNYA ! bisa dengan alasan klasik ; REQUEST ! Etika sadar kita, tetap saja akan mengakui, bahwa kita mendapatkan client dari biro A , sehingga, apapun kondisinya, kita bekerja untuk biro A, bisa saja terjadi memalui komunikasi yang intens , seperti kasus Mr GOLF , yang sukses membawa lari tamu PACTO , selama kita bekerja untuk biro A , tentu apapun akan kita lakukan untuk melindungi biro A. Salah satu etika yang penulis pernah baca, bahwa selama melakukan tugas memandu tamu milik biro A , boleh saling mendiskreditkan dll, masih ada dalam etika Hpi, saya kira.

Dengan bertambahnya usia, tidak lagi selincah dulu tentu kita kita yang sudah berusia kepala 5 , tentu kita menyadari kemunduran ini,Sementara tuntutan hidup memaksa kita menaikkan income untuk beaya kuliah anak anak kita yang sudah menginjak semester semerter mahal.

Nah, terjadilah improvisasi. Penulis mengucapkan selamat kepada mereka yang sudah melakukan diversifikasi usaha, seperti peternakan, buka kost kost –an , rental mobil , memiliki mini market, exporter meubels ke Eropa , dan bahkan Penulis dengar ada anggota Hpi yang sedang sibuk kulakan marmer di Tulungagung, untuk dipasang di resort impiannya , LUAR BIASA !! kemajuan yang indah. Di bidang perturisan sendiri, Penulis juga ikut senang telah terjadi revolusi yang sangat futuristik, kemajuan yang sangat di welcome oleh pihak USER ( baik individual maupun institusional ) , yaitu DIRECT SELLING , alias menyediakan jasa yang berkaitan dengan keperluan turis asing selama liburan di tanah air, seperti transport, hotel , laket wisata , dll !! Selamat sekali lagi.Dan Penulis sangat hormat kepada mereka yang bahkan tidak usah melakukan modus ala pendahulu kita, yang menjadikan PACTo ataupun Intan Pelangi menjadi 300 atau malahan 400 anggota baru ASITA saat ini. Melebihi jumlah anggota HPI.

Kawan kawan itu, sangat INDEPENDENCE, sangat mandiri, tidak bersentuhan dengan siapapun. Mereka ber korelasi langsung dengan clitents di seantero jagad.  Mereka bukan pemodal , mereka juga bukan anak pengusaha, meraka justru berangkat dari ketidak adilan Biro membagi jumlah tamu tamu mereka.

Semua orang perlu uang, semua guide perlu guide order, tetapi jiwa keserakahan guide guide kolega kita, sering melupakan, bahwa teman kita juga punya tanggungan anak istri, mereka juga perlu guiding. Dengan pendekatan komersial, ala UNDER TABLE ENVELOPE , order membanjir, 36 hari / bulan. Sementara tetangga sebelahnya, yang memiliki kemampuan sama, hanya guding selama 3 bulan / tahunnya alias hanya musim ramai saja !

Kawan kawan itu juga memiliki investasi mahal, belajar bahasa asing di universitas ternama, tetapi mereka tersingkirkan oleh seleksi alam ala amplop sisa art shop. Mereka yang sakit hati, tidak terakomodasi, sementra kawan kawan lain yang sudah mengikat nepotisme dgn pembagi tamu, seolah tak mau berbagi. Akhirnya , Meraka yang sakit hati, melakukan meditasi di banyak lokasi keramat, bukan dengan kembang setaman, melainkan dengan teknik teknik super modern yang menghentakkan jagat per turisan di kemudian hari.

Dengan daya linuwih yang berhasil dimilikinya, dengan PERTAPAAN singkat 150 SKS , mereka jadi sangat akrab dengan Microsoft dan penguasa jagad saat ini, si sakti Mabh Dukun abad 21, dukun yang tahu segalanya, mbah sakti tersebut bernama : GOOGLE !!!!!!!!!! Beberapa diantaranya melakukan kunjungan ke Luar Negri untuk meminta ilmu linuwih tadi. Dan mereka sangat lincah stand by 24 jam di markas markas mereka.

Satu demi satu pulan dan destinasi di tundukkannya ( baca artikel : SUMPAH PALAPA Modern ). Dari Pajajaran , Brawijaya , Udayana sampai lambung Mangkurat , dijelajahi dengan kontrol dari markas, tanpa harus beranjak dari tahta mereka di lereng Merapi. Mereka ini, sangat EFISIEN, memiliki kecepatan luar biasa, menjawab kebutuhan tamu , saat kompetitor konvensional masih terlelap tidur. Ya, mereka sangat sering malakukan ritual ritual tengah malam, karena saat itu di belahan bumi utara sedang terjadi aktivitas di siang hari, sehingga deal deal business akan dengan sangat mudah mereka dapatkan. Contoh yang sering terjadi adalah transaksi penjemputan tamu kapal pesiar.

Penulis tertawa lebar, saat ada kolega ortodoks, yang mengatakan bahwa Penulis nyolong tamu milik biro A di pelabuhan Semarang. Perlu digaris bawahi disini , Penulis sangat paham betul dunia kapal pesiar, bahwa tamu / penumpang kapal, hanya membayar MEALS + CABIN , makan dan harga kamar, untuk kemudian berwisata melancong dengan kapal pesiar tersebut. Acara Tours / EXURSION, sama sekali belum mereka bayar. Sehingga di atas kapal ada unit usaha kapal pesiar bernama : SHOR – EX ( kependekan dari Shore Exursion Office ). Shorex berharap, tamu nanti akan membeli paket wisata mereka (misalnya ke Borobudur ) Dengan kata lain, Kapal Pesiar / Cruise, mempunyai fungsi yang sama sebagai PASSANGERS CARRIER ( pembawa penumpang ) seperti halnya Lion Air atau GARUDA.

Kawan kawan se profesi, tentu sering menjemput tamu di bandara, pertanyaannya adalah : APAKAH SEMUA PENUMPANG PESAWAT GARUDA HARUS TOUR DENGAN BIRO BERNAMA PANORAMA ? ATAU mj ATAU pacto ATAU yang lainnya? katakanlah pendaratan Garuda di Jogja dengan 100 ( seratus ) penumpang. Penulis sangat yakin, yang 10 orang akan dijemput guide berseragam MELATI, selebihnya ada 5 orang dijemput STARINDO, yang 15 orang rombongan Prancis dijemput DEWATA , selebihnya ??? Ada yang dijemput dosen UGM, karena mereka adalah tamu kampus. Ada yang pesan TAXI langsung ke prawirotaman, sekarang ini, juga banyak yg langsung di jempuit resort mewah seperti LOSARi dan AMANJIWO Bahkan ada yang naik bus TJ ke tempat wisata.

Begitulah kenyataannya. Penumpang kapal Pesiar pun , sma dan sebangun. Meraka (penumpang kapal)  bukan monopoli biro ”M” ataupun ”A” Penumpang tadi berhak memilih, apakah menyewa taxi ke Borobudur , atau dijemput saudaranya yang kebetulan berdomisili di Semarang , atau diurusin oleh crew asli jawa Tengah ( kapal Pesiar HOLLAND AMERICA mempekerjakan 2/3 dari crew mereka dari Indonesia).

Dan tamu / penumpang yang semakin cerdas tadi juga sangat sering langsung mengontak kawan kawan revolusioner tadi, termasuk Penulis. Apakah hal tersebut ( menjemput tamu di Semarang ) merupakan pelanggran hukum ?? Tidak bolehkan saya ( sabagai Warga negara indonesia ) mengakses Pelabuhan ? Saya tidak pernah STAND BY di Pelabuhan tanpa order request. Saya hanya akan berangkat ke Semarang saat ada permintaan jemputan oleh tamu langsung.

Yang sebenarnya terjadi adalah, arogansi preman berseragam di Pelabuhan Semarang yang kemudian melakukaan intrograsi dgn saya , dan setelah saya siapkan wartawan Jakarta Post dan TV –One , yang siap menayangkan tindakan arogansi melarang warga negara mengakses pelabuhan, mereka takluk di bawah dengkul Penulis. Itu yang sebenarnya terjadi. Sekali lagi perlu saya klarifikasi, 3 bulan sebelum pendaratan kapal pesiar, Penulis sudah mendapatkan order langsung dari Amerika, order yangs sering terjadi di tengah malam buta bahkan!!

Untuk kedatangan Kapal pesiar 27 Maret 2011 , penulis sudah mendapatkan DP dari 18 orang tamu . langsung dari Amerika ! Ini perlu saya umumkan, agar tidak timbul fitnah di kemudian hari Apakah ada di antara kawan kawan HPI yang berseberangan dengan konsep ini, dan sudah diorder guiding tanggal 27 Maret 2011 ? Saya sudah mendapatkan DP melalui PayPal sejak bulan Agustus tahun 2010, jadi 7 bulan sebelum tamu mendarat, dimana letak NYOLONGNYA???????

Kembali ke konsep kemandirian, ya memang menjadi pekatik, seperti Tour Guide yang semakin terpinggirkan ( tidak lagi powerful macam guide generasi 45 , sekitar 20 – 25 tahun silam ) , di kompeni besar, apalgi dengan pembagian tamu yg LIKE and DISLIKE , sungguh tidak bermartabat, lasana pengemis yang mengharap belas kasihan, dari teman seprofesi dan juragan biro raksasa,dengan guide fee yang minimalis. Ibarat perusahaan besar tadi adalah macan, kita hanya menjadi buntutny. Segede gedenya BUNTUT , misal dengan ledakan komisi yang akdang terjadi, saat tamu membeli COFFEE SET dari silver sebanyak 3 lusin, ya kalaupun itu terjadi, posisi kita toch tetap saja BUNTUT, Sangat tidak enak diperlakukan sebagai buntut , alias konco wingking, tanpa perlindungan asuransi, tanpa jaminan kesehatan, tanpa relasi manusiawi, dll. Akan sangat nyaman kalau kita bisa ber metamorfosis menjadi NDAS, alias kepala. Walaupun kita hanya mampu membuat usaha kecil, apapun usaha itu, kita jadi JURAGAN, katakanlah usaha kecil tadi adalah TIKUS . NDAS TIKUS akan selalu lebih nyaman daripada BUNTUT MACAN

It is better to be the head of a mice than the tail of tiger !!

Tetapi, enggan banyaknya mekanisme meng-upgrade menjadi NDAS TIKUS, akan sangat membanggakan, kalau dilakukan dengan satria, tidak usah meniru generasi terdahulu yang melakukan migrasi paksa tamu tamu yang sudah eksis dgn biro tertentu, ke biro yang baru didirikannya. Apalagi, saat kita masih menyandang profesi sbg GUIDE , sangat riskan, melakukan praktek migrasi diatas. Banyak sekali, bahkan ada jutaan tamu yang bisa kita akses dengans sedikit kecerdikan berinovasi ! Revolusi Belum Berhenti.

Dan tidak usah jauh jauh ke Luar Negeri, buang buang duit, ilmu kita rasanya belum mampu memenuhi undangan TABLE TOP dalam ekspo skala international di malaysia ataupun bangkok, apalagi di BERLIN ( ITB setiap bulan maret ) Bukan hanya butuh duit , yang hanya akan mubadzir, tetapi lebih dari itu, Tourism expo adalah bertemunya raksasa melawan KOMODO !! Table top, menuntut PENGAKUAN !! Dengan cara apa kita blusukan ke LN cari tamu ? Modal kartu nama sbg GUIDE????? Sangat TL (Tangih Lamun).

Pegakuan hanya melihat figur, di Jogja, dedengkot Asita thn inipun masih terlalu hijau dengan pengakuan tour operator besar, yang Penulis tahu, hanya nama nama seprti mr. AA , ataupun Nyonya TK , atau Mr YL , atau juga Mrs W , yang memiliki kemampuan itu, PUN, mereka lebih sering hanya ABSEN / unjuk muka, dan pulang tanpa hasil , karena memang kompetisi semakin sulit.

Lebih bijak, kita minum teh panas dirumah, sambil memberi perhatian extra pada keluarga tercinta, dengan masih tetap bisa mengharapkan jutaan tamu mengontak kita untuk satu proposal tour yang akan sangat nikmat kita syukuri, tanpa membuat pihak lain merasa kehilangan bisnis berharganya,

Tulisan ini hanya pendapat pribadi, dan mudah mudahan ada gunanya

GONZALES

5 thoughts on ““Buntut Macan”sebuah renungan untuk tour guide

  1. andi

    – Diskursus sejarah selalu menarik dikupas tnpa penelanjangan bulat-bulat hingga nampak kemaluan; mgkin disini perlu menggunakan ‘blangkon’ sejenak asal disadari contoh2 itu adalah prilaku bisnis perut bukan mencerahkan hati sang (calon) pelaku.

    – Pls, sekali lagi HPI sbg asosiasi guide memiliki etika profesi dan syarat profesionalitas kerja. Renungkan daya baca anda yg menyangkut : bahasa – materi – sikap – teknik guiding dan wawasan berpikir yg mesti ditingkatkan.. Mari terus jaga semangat berprestasi menjadi ‘super’, sumbangkan pengalaman anda demi generasi pemandu di bawah serta bukan sekedar mengumpulkan jumlah angka-angka tanpa nilai.

    Lust but not least; menyatukan fikrah guide di atas norma-norma profesi sungguh membutuhkan tangan dingin PEMBACA yg budiman.

    Salam Pramuwisata;

    ADMIN

  2. HR.JUNEP

    Kawan yang baik,
    Sejuk nian hatiku membaca kupasanmu, rasanya gatal tangan ini untuk menjewer kolega kolega yang masih dalam posisi istirahat ditempat. Kebiasan dikomando membuat mereka serta merta kebingungan saat para komando mati suri. Mau bubar jalan tidak berani, mau siap ragu, yah istirahat ditempat sajalah.

    Saya punya cara tersendiri agar selama guding tetap menjadi kepala macan!. Saat menerima order saya menentukan sendiri honor saya, kalau sepakat saya jalani dengan dedikasi dan profesional. Saya akan membuat agent itu berkembang agar saya bisa membuka peluang lebih besar bagi kolega lain dikemudian hari. Saya bekerja sebagi duty manager (in charge) dan tak sembarang orang boleh intervensi dalam tugas yang sedang saya emban. Persoalan expence bahkan tiket masuk sering saya handle sendiri. Bahkan sesekali membayar airport tax untuk tamu.Saya tidak ragu mengeluarkan uang untuk kesuksesan misi saya, yaitu membuat klient enggan pulang!. Saya tidak beretemu dengan orang yang membooking saya. Saya tidak bertemu dengan bendahara. Saya hanya bertemu dengan petugas lapangan yang membawakan guide order. Laporan saya email dan uang masuk rekening. Bersih dan halal. Kuncinya KREDIBILITAS.

    Sebagai duty manager saya harus dijemput dan diantar karena kalau saya kena angin dan hujan saya tak akan total dalam bekerja. Masuk angin dan muka kerut tidak boleh terjadi. Saya membagi rezeki dengan seimbang agar semua bisa berjalan lancar.

    Prinsip bekerja bukanlah untuk mengejar uang saya pegang teguh. Tentu saja saya tidak usah pusing cari uang, honor saya/hari setara 150% UMR. Cukup untuk memenuhi dan menunjang saya dalam belajar, berobat, berisitirahat, kebutuhan pakok dan pendidikan anak.

    Silahkan memilih cara masing masing untuk meningkatkan kwalitas hidup kita,
    tetapi dengan cara terhormat. Salam dan maaf.

  3. Made Bartha

    Saya kira setiap guide yang berpikiran maju pasti memimpikan punya tamu kontak langsung logika sederhananya fee yang kita collect dari tamu itu pasti maximal sehingga apa yang di praktekan oleh saudara kita guide bahasa rusia Azairin juga bisa terpenuhi dalam artian tidak perlu melakukan praktek baik secara halus maupun kasar menghabiskan waktu lebih lama di art shop di banding destinasi utamanya tapi ada kendala dari partner langsung kita di lapangan kalau tidak ada singgah sering terucap kita dibilang tidak becus menghandle tamu,kalau tamunya mau singgah sesuai keinginan tamu, saya hanya memandu wisatawan supaya dapat service yang bagus dan barang high quality guide disanjung setinggi langit.
    Saya pribadi tidak melihat apa yang saudara kerjakan selama ini merupakan tindakan pembajakan atau percurian tamu dari biro-biro yang telah ada,tapi dalam hal menjamurnya biro-biro yang di dirikan oleh mereka yang dulunya karyawan atau anak buah agent-agent raksasa saya berpendapat itu syah-syah saja karena tidak ada hak hak resmi dari biro-biro raksasa itu yang di curi saya yakin saudara pasti tahu tidak ada overseas agent signed kontrak dengan agent-agent republik ini berlaku selamanya disini berlaku hukum pasar bebas nah cuman apakah sehat untuk mendapatkan tamu membuat paket-paket tour dengan harga nopropit kemudian mewajibkan guide untuk bekerja keras supaya membawa tamu singgah paling tidak di 4 tempat,mebayar giude fee sangat tidak manusiawi juga pada pembayaran trasportasi yang sangat murah nah itulah realitas yang terjadi sekarang ini.
    Saya melihat apa yang saudara lakukan selama ini fositif berbagi pengalaman dengan teman-teman adalah bagus belum tentu teman-teman bisa meniru apa yang saudara kerjakan itu, itu adalah kelebihan anda saya mengacungkan 4 jempol tanda apresiasi saya pada anda.persaingan dalam bisnis itu suatu kelumbrahan menjatuhkan pesaingpun jamak terjadi dalam dunia bisnis ya kan????

  4. Eric

    Indahnya Dunia Lelembut, Kerja kapanpun dan tidak perlu memakai Seragam Batik, jas ataupun Blangkon. kerja hanya dgn gubetan sarung dan kaos Oblong, cllono komprang plus minum Kopi.
    Dimalam Hari pada waktu semua orang tidur pulas sebetulny abanyak sekali orang yg berseliweran. tp banyak orang gak tahu, kecuali orang paham dunia lelembut.
    dengan sapaan lembut selamat malam, kita bs menyapa Tamu tamu jauh jauh hari sebelum mereka tiba di Tanah air. Ajaklah berdiskusi tentang kekayaan kita,, keindahan kita, keanekaragaman kita dll. Kita mesti siap berdiskusi. Kita sangat paham semua informasi yg dibutuhkan oleh Tammu, karena tiap hari kita bertemu dgn tamu. dgn sedikit pulasan marketing dan latihan hitung menghitung, jauh hari sebelum tamu datang kita bs sudah terima gaji kita. bukan gajinya dibayarkan setelah kesel nagih laporan. Ada salah satu teman yang mengenal jagad lelembut td yang bahkan berhasil mendapatkan tamu VIP yg menginap di amanjiwo 4 malam dgn total transaksi lebih dari USD 14.000 untuk hanya 2 orang 17 hari tour. jumlah yg cukup lumayan fantastik untuk dunia jagad lelembut. Jadi jagad lelembut itu memang benar2 ada. Kenapa kita tdk mau mencoba belajar ilmu jagad lelembut? Ikuti Diklat pengenalan jaagd lelembut Membuat Web tgl 8 Jan di HPI.
    Selamat memasuki dunia jagad lelembut.
    Bravo HPI….!!!!

  5. made bartha

    Siapapun penggagas diklat IT saya acungi jempol saya pasti ikut. Saya itu cuma bisanya buka tutup email saja sudah nyoba beli buku gemana caranya bangun web tetep jadul Bravo HPI……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s