Tips buat pemandu wisatawan

Pada tanggal 17 september 1981, rombongan kami dengan bus besar menelusuri San Fransisco yang seperti lagunya, indah sebagai bunga. Kami sudah melihat The Golden Gate, UCLA dan Mengintip Alcatraz. Karena kami masih punya wakt…u saat kembali ke hotel sopir menawarkan pada pemandu wisatawan kami untuk melihat lihat kota yang belum terlewati dengan menambah 1 dolar untuk si sopir. Pada saat itu 1 dolar AS senilai 500 rupiah. Tentu kami tidak keberatan tapi dengan rombongan sebesar itu mengapa hanya satu dolar?. Sampai detik ini saya merasa bersalah, saya terlalu muda untuk mengerti.

Akhir Juli 2007 saya tiba di Fukuoka dan setelah masuk hotel seorang pemandu membawa saya ke Toko buku untuk membeli peta. Saat di kassa si guide membayar peta dan diberi susuk 1 sen. Guide bilang simpan saja. Si pelayan dengan sangat hormat mengatakan arigatoguzaimas dengan membungkuk dalam.

Pada awal Agustus 2008 saya dan kawan kawan makan malam di sebuah restoran Prancis di Rotterdam. Pelayannya muda dan gesit. Ibu yang mengundang memanggil salah seorang gadis, dan bicara berbisik bisik lalu menyodorkan 20 Euro. Gadis itu riang sekali dan melayani dengan sangat baik.

Nopember 2009 saya menginap di Grand Mirage Pattaya dan saya banyak memberi tip pada pelayan, mereka sangat ramah dan memberikan apa saja kepada saya. Kamar saya dibersihkan terus dan semua ditata rapi. Sepertinya mereka kompak ngurusi kamar saya.

Mei 2010 saya menginap di Sheraton Pattaya, saya tidak memberi tip selama menginap dan hanya memberi saat pulang kepada orang terakhir yang mengurus bagasi kami. Service yang saya terima standar saja.

Juni 2010 saya menginap di Hotel Olympic Beijing, saya memberi tip pada pelayan yang membawakan koper ke kamar. Pelayanan biasa saja. Saat pulang saya memberi tip pada pemandu wisatwan dan dia menghormat sangat dalam.

Kembali ke tanah air saya bergelut dengan berbagai tamu, sebagai pemandu wisatawan polyglot, saya telah bertemu dengan segala ras manusia. Selama menjalankan tugas saya kadang mendapatkan bonus dan tips dan lebih sering mendapatkan hal yang lebih tinggi nilainya dari itu, yakni persahabatan yang melampaui persaudaraan biasa.

Setiap kali kami berkumpul di bandara atau acara lain biasanya guide membicarkan hal hal yang tidak jauh dari TIPS, KOMISI dan TRAVEL AGENT norak. Sesekali menyindir guide maling atau guide amoral. Bahwa orang Jepang dan Orang Rusia tidak terbiasa memberi TIPS itu bisa jadi benar tetapi selalu ada pengecualian. Bahwa Orang Amerika atau Eropah selalu memberi TIPS tidak selalu terjadi. Gara gara TIPS dikorupsi saya pernah memecat TL dari Spanyol dan Australia dengan menggugat mereka lewat travel agent pusat dan saya tidak melibatkan agent lokal sama sekali.

TIPS adalah singkatan dari To Insure Prompt Service. Artinya adalah Untuk Menjamin Kelancaran Pelayanan. Dari makna yang terkandung sesungguhnya sangat tidak masuk akal bahwa kita para Pemandu wisatawan mengharapkan TIPS saat selesai bekerja. Banyak guide yang menggerutu setelah membaca questionaire yang disilang “ EXCELLENT” semua, meskipun bekerja sebagai sitting guide atau sleeping guide. Bahkan ada yang sumpah serapah segala saking kekinya di bilang good guide, great guide, the best guide in the world!. Tapi tamunya salaman saja tidak, apa gak keki?!.

Saat di negara negara asal tamu saya berusaha menyelidiki sebenarnya bagaimana seseorang membeli tour itu. Saya dapati bahwa setiap mengambil paket tour salah satu komponen yang dibayar langsung adalah TIPS untuk guide di tempat tujuan.Saya sampai tega mengurus hal tersebut gara gara ada peristiwa ganjil. Ketika saya sedang sibuk menerangkan dan memperaktikkan meditasi dan yoga di Borobudur, travel agent menelpon saya untuk menagih uang 20 dolar!. Saya sampaikan pada tamu bahwa mereka tidak tertib sampai ada tagihan 20 dolar saja harus saya yang tagih. Reaksi mereka sangat terkejut.Mereka bilang uang 20 dolar itu adalah TIPS untuk kamu dari kami dan bukan hutang yang harus kami bayar ke agent. Saya langsung menelpon agent pusatnya dan menanyakan duduk perkara sebenarnya. Jawabannya positif bahwa 20 dolar itu TIPS guide bukan untuk travel agent. Saya telpon agent lokal tentang klarifikasi dari agent pusat, sang operator diam 1000 bahasa!.

Bonus adalah uang tambahan sebagai penghargaan atau hadiah atas apa yang telah kita capai dalamk bekerja. Seharusnya seorang guide tidak mengharap TIPS tetapi BONUS. Oleh karena TIPS sepenuhnya merupakan hak prerogatif klient maka baik travel agent ataupun guide tidak berhak meminta baik dengan cara halus apalagi sampai menuntut dan memaksa membayar sebagai salah satu komponen tour yang dibeli. Travel agent yang demikian adalah tidak bermoral lebih lebih uang TIPS itu dikorup sendiri.

Saya memiliki kwitansi pembayaran dari klient yang mencantumkan TIPS dibagian bawah masing masing antara 10 sampai 20 dolar/pax. Pernah saya gugat salah satu bos travel agent di Bali saat ada pelatihan bersama sekitar 40 guide se Indonesia. Yang saya herankan adalah bahwa guide Bali tidak ada yang membicarakan hal itu, apakah mereka tidak tahu atau memang tidak mau membukanya dengan alasan tertentu.

Pada puncak krisis ekonomi 98-99 saya membawa group campuran Eropah- Amerika, saya baru pertama kali mengalami apa yang disebut sebagai TIPS per definisi!. Semua tamu memberi saya 10-20 dolar saat mulai bekerja dan seterusnya setiap buka pintu bus 5-10 dolar. Selama 3 hari saya memperoleh dari TIPS itu jauh lebih besar dari pada bonus pada saat saya mengucapkan selamat jalan. Pada tahun yang sama saya menghandle keluarga bangsawan Buckingham dan saat bertemu saya diberi TIPS sangat besar sampai saya terkejut dan saat pulang dia tidak memberi bonus.

Dengan pengalaman diatas seharusnya pemandu wisatawan tidak pantas menyebut nyebut TIPS karena bisa dianggap tidak sopan menggugat hal yang merupakan keputusan pribadi klient an sich. Pemandu Wisatawan harus bekerja keras dan baik serta berusaha membuat klient kalau perlu sampai enggan berpisah. Setelah bekerja keras sepenuh hati memperlakukan orang sebagai manusia layak yang VIP, kita tetap harus rendah hati dan tidak menagih bonus. Karena sesunguuhnya bonus juga sangat subjektif. Sehebat apapun kita bekerja pasti ada yang lebih hebat dari kita. Untuk itu kita tetap waspada, ramah, baik hati,sopan santun, tahu diri, disiplin, bermartabat dan ikhlas. Bonus yang paling utama adalah kepuasan pribadi bahwa kita telah berhasil melaksanakan amanah, sebagai anak bangsa yang membawa nama negara dan rakyat Indonesia. Kita wajib bersyukur bahwa kita adalah marketing manager yang menjual keharuman negera dan bangsa kita ke seluruh dunia. TIPS kita yang sesungguhnya adalah NIAT, methode, strategi dan teknik kita dalam bekerja. Bonus kita yang abadi adalah perjuangan yang tak gampang menyerah dan perasaan memiliki, menghormati dan memeilihara profeisi kita sebagai Pemandu Wisatawan.

Salam dan maaf

Hazairin R. JUNEP

4 thoughts on “Tips buat pemandu wisatawan

  1. gondez

    lain lubuk lain belalang,lain negara lain pula aturan tipsnya
    bahwa seorang Tour Guide yang bertugas , tidak sopan menanykaan tips, bisa diterima di negara berkultur timur.
    yang perlu digaris bawahi adalah : RULE OF THE GAME nya bagaimana.
    Dalam artian , berkali kali penulis menggaris bawahi,dalam melaksanakan tugas memandu turis, hanya ada satu tujuan yang bisa dipertanggung jawabkan secara struktural : GUIDE FEE. besaranya , ads baiknya dibicarakan dengan mewakili dua pihak yabng berkepentingan sacara obyektif , Pemandu dan Dipandu.
    Apabila yang Dipandu sudah menyerahkan sepenuhnya kepada suatu Biro , ya tinggal si Pemandu menanyakan kepada biro berapa dia dibayar.
    Layak tidaknya bayaran itu,menjadi ukuran subyektif si Pemandu , penulis pribadi menilai , sekali lagi ini pribadi , Rp.500.000 / NETT , alias bersih take home pay , BELUM CUKUP LAYAK , semenmtara ada kawan dgn kualifikasi berbeda, menganggap dan menerima, bayaran Rp.100.000 / hari lebih dari cukup !
    Bukan berarti guide dengan harga Rp.100.000/hari JELEK atau tidak kualified , mungkin dia hanya akan tidur sepanjang perjalanan, dan hanyab akan bangun saat tiba giliran makan , membantu membuatkan foto pada konsumen yangdipandunya, dsn kembali ke bandara ,s elesailah tugasnya.
    atau dia belajar bahasa asing di terminal bus, jadi tidak ada investasi pendidikan yang melatar belakanginya , atau mungkin dia tidak berlisensi, sehingga tidak mengetahui standarisasi fee yang layak , atau dia bersinergi dgn biro serakah yang kalau perlu mempekerjakan seorang guide dgn penekanan fee serendah mungkin, kalau perlu gak usah dibayar.
    sementara saya berinvestasi sangat mahal di awal pekerjaan ini, saya belajar bahasa asing di luar negeri , dgn beaya sendiri , saya mengikuti penatarab resmi guide versi pemerintah, sebanyak 3 kali, juga pakai uang sendiri.
    kemudian saya menghabiskan waktu mempelajari kultur wisatawan di banyak negara asal wisatawan, sheingga , sah sah saja menurrut saya , kalau saya memiliki harga yang layak menurut ukuran saya.

    BAAS BOVEN BAAS , diatas langit masih ada langit yang lain.
    ternyta ada kolega saya yang memasang fee / tariff Rp.1.000.000/hari dengan alasan khusus, mengapa tidak ?
    singkatnya , kalau insan guide manapun,menginginkan fee yang layak, maka harus cukup memiliki dasar yang kuat , sehingga si pembayar mengiyakan request tarif ini.

    yang terjadi di banyak kasus, Si Pemandu konvensional, menerima saja berapapun fee yang sudah ditetapkan oleh pihak biro, sangat klasik, ala mental asli pribumi , MENTALIKUS JAVANICUS , tidak berani melawan arus , dengan meminjam istilah seornag budayawan Jawa : G S = alias Golek Slamet, yang penting dia jalan.
    Guide type seperti ini, sangat berbahaya dalam pembangunan pariwisata , karena mereka tak lebih dari oportunis,seperti kebanyakan politikus negeri ini.
    mereka menerima begitu saja,tanpa tawar menawar sama sekali.tetapi dia tidak memandang fee sbg TUJUAN , hanya sebagai pelengkap , karena ada income lain yang sudah mereka targetkan.

    Yang semestinya terjadi adalah : FEE menjadi tUJUAN UTAMA.atas nama profesionalitas , FEE harus ditempatkan dalam prioritas no 1 .
    sedangakn side income yang lain, seperti misalnya bonus , komisi belanja , persentasi tour optional,dan juga TIPS , ditempatkan sebagai AKIBAT.
    bila tamunya menyukai barang kerajinan, maka mereka akan membeli suatu barang , dan guide mendapatkan sedikit komisi! Hal wajar sebagai konsekwensi logis , dalam progres komunikasi.
    sekali lagi , BUKAN TUJUAN , hanya suatu akibat saja , bisa iya bisa juga tidak.

    Sampai kemudian side income lain, bernama : TIPS !

    ini akan menjadi isue krusial sepanjang masa , karena income lainya , KOMISI belanja dan bonus / prosentase tour optional, sama sekali tidak diketahui konsumen yang dipandu.

    Tetapi TIPS ??????
    bagaimana kita menyikapinya.
    Menurut pribadi penulis, lebih KLOP, sekali lagi untuk tidak menggantungkan profesionalitas kita ,dari TIPS tadi, karena kita sudah memberi priorotas , terhadap income utama ( yang harus layak ) bernama : Guide Fee.
    saat itu terjadi, maka kita tidak akan ambil pusing, mau di tips syukur , tidakpun , tak apalah !

    Sehingga tidak akan terjadi, pemaksaan meminta tips dgn nominal tertentu.

    Tetapi, dengan perkembangan jaman, dan HOUSE RULE , dimana TRANSAKSI ITU TERJADI, APAKAH DI TOUR OPERATOR tingkat grosir , atau di travel agent lokal , atau di counter airport, atau dimana.

    Sepengetahuan penulis, setiap kali kita mengadakan transaksi, akan tertulis 2 hal pokok :
    1.apa yang sudah termasuk ( included )
    2.apa yang tidak termasuk ( excluded )

    di tour operator tertentu , ada yang memasukna TIPS dalam harga yang sudah nereka bayarkan, misal untuk nominal sekarang : Euro 2 / orang / hari
    jadi kalau pemandu berhubungan dgn rombongan turis selama 10 hari misal,dengan jumlah tamu 20 orang,misalkan, jadi akan diperoleh nominal : Euro 2 X 20 orang X 10 hari = Euro 400 , sekitar 5,5 juta sekarang ini. WOW !!! cukup signifikan, plus fee yang Rp.500.000 / hari , jadi juga sekitar Rp.5 juta , maka dengan bekerja selama 10 hari , Pemandu ybs akan membawa pulang uang Rp.10 jutaan.
    cukup layak untuk guide lulusan luar negeri.

    Nah , kalau itu terjadi, penulis akan berangkat memandu , kalau kesepakatan tidak terjadi, maka penulis akan tingal di rumah , tidak akan terjadi negoisasi yang lebih murah . I KNOW MY PRICE , karena kalau bukan saya sendiri ynag mau menghargai profesi ini, lalu siapa lagi ??

    Nah , kalau kemudian karena suatu sebab , misalkan arus distribusi TIPS yang harus melewati Biro serakah, TIDAK DIPENUHI , padahal nyata nyata TIPS sudah dibayarkan oleh tamu ( dengan IT saat ini, kita bisa mengakses , apa saja yang mereka sudah bayarkan )
    dan kita di kelabui Biro serakah, karena distribusi tips melalui biro, maka ETIS ETIS saja kita menenyakan TIPS tadi.
    mengapa ? karena tips diatas , adalah hak Pemandu yang bertugas.

    hanya saja kadang kultur kita, sungkan untuk menanyakannya , kemudian nge dumel di belakang, malah sering sering, menyumpahin tamu yang dipandu , seperti mendoakan pesawatnya terbakar, atau ferry nya tenggelam.

    Menutur hemat penulis, hanya mekanisme atau tata krama menanyakan bagaimana, itu yang openting, sekali lagi apabila memang nyata nyata tips sudah termasuk di kontrak yang di baayar tamu.
    tetapi pada saat fee layak sudah kita kedepankan, dan tips bukan lagi menjadi target utama, maka profesionalis dan etika profesi akan kita pertaruhkan

    SELAMAT TAHUN BARU 2011

    GONDEZ

  2. Gundul

    Anda punya pengalaman lainnya seputar pemberian tip? Meski terkesan tak bernilai, tip bukan hanya bisa membantu orang lain meningkatkan ekonomi keluarga. Tip juga bisa menjadi salah satu bentuk motivasi diri untuk memberikan pelayanan yang lebih baik lagi. Semakin baik pelayanan yang Anda terima, rasanya enteng saja memberikan tip yang besar nilainya bukan?

    Terapis spa atau massage, penata rambut atau pekerja salon, supir taksi, mekanik bengkel, pelayan restoran, petugas vallet parking adalah sederet pekerja jasa yang umumnya menerima tip. Soal nilai tip tentu tak ada ukurannya, karena semua kembali kepada penilaian Anda atas jasa yang diberikannya. Jika tak puas, sah saja Anda sungkan memberikan uang lebih. Namun jika puas, apa sulitnya memberikan tip sebagai bentuk lain ucapan terima kasih.

    “Saya sungkan ah kalau membicarakan tip,” kata Lola yang mengaku mendapat tip mulai Rp 10.000 hingga ratusan ribu sebagai bentuk kepuasan pelanggan atas jasa terapis spa darinya.

    Sementara bagi Sano, jumlah tip taksi yang diterimanya beragam. Biasanya pembulatan dari harga yang tertera di argo. Namun untuk pelanggan yang sudah mengenalnya dan sering menggunakan jasanya, seringkali memberikan tip dalam jumlah besar, senilai dengan tarif taksi yang harus dibayarkan pelanggan. (Kompas.com)

    Percaya atau tidak guide di Jogja masih memerlukan tip untuk kelangsungan hidup… apabila tidak, seperti guide yang tamunya tidak mengenal tip seperti guide jepang akan selalu mengajak tamu untuk pijet belanja atau berlama-lama di art shop dengan demikian sedikit banyak harapan dapur ngebul dapat terealisir.

  3. rahman mduro

    Mas Hazairin .. banyak ilmunya ternyata dapat terlupa juga, betapa tidak, dalam bahasa hukum, ketika kita melakukan penjanjian dengan siapapun bahasanya harus detil dan jelas dari mulai dari A-Z, demikian juga untuk menyediakan tour service, kita harus melakukan penjanjian yang jelas apa yang termasuk dan apa yang tidak termasuk. Apakah salah seandainya dalam perjanjian (tour agreement) antara travel biro dan clientnya tertulis bahwa yang tidak termasuk adalah tips (gratuity) untuk tour guide dan driver??

    Kalau anda tidak mau dengan tips, suatu saat kalau seandainya ada yang memberi tips mbok dibagikan ke pengemis saja..!!

    Penulisan di tour agreement akan lebih baik dan jelas daripada tip untuk guide dimasukkan kedalam quotation dan akan diberikan kepada guide tour oleh travel biro “ini guide feemu” setelah disunat dulu oleh orang kantor.
    Tapi tidak setiap guide seperti anda… tips dan komisi bagi sebagian besar tour guide yang ada di Yogyakarta adalah bagian dari pendapatan mereka…. .sehingga tidak perlu memakasakan mereka untuk mematuhi ide anda wajib kita untuk menghormati perbedaan. Singkat kata, biarkan teman-teman tour guide menerima tips dari tamu, dan anda tidak perlu kebakaran jenggot.

  4. zumy

    sungguh menarik, apalagi buat saya yang masih pemula dan baru mau terjun di dunia travel and tur guide,, mohon,,, bantuan dan pengalaman untuk di share,,,, salam….. Zumyyyyyyy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s