Bersih-bersih Candi Borobudur

Idenya sederhana, banyak teman2 guide di wilayah bencana Merapi, sehari-hari makan langsung tak langsung dari Candi Borobudur, kenapa tidak ikut bersih-bersih tempat dimana guide cari makan. Ini juga terinspirasi sebuah Hadits Rasul SAW, bahwa yang makanan dan minuman akan menjadi daging, maka setiap yang tumbuh dari sesuatu yang haram nerakalah tempatnya. Seperti ide pengorbanan dan pembersihan diri seorang hamba dalam menjalankan bhakti, maka begitu mulia kan!

Lalu begitu saja berita menyebar apa yang terjadi dengan Borobudur, seperti dimuat https://hpijogja.wordpress.com/2010/11/13/erupsi-merapi-mengancam-candi-borobudur/mungkin sebelum ditemukan era Raffles, erupsi Merapi pula yang menutupi candi. Ketika pohon2 tumbang tak tahan hujan pasir Merapi, bambu berjatuhan setiap dua detik, dedaunan nyiur menutup diri, maka demikianlah sang Candi. Bahwa 100 juta M3 abu yang terlempar ke udara dari kawah Merapi telah sampai di dinding-dinding selasar Candi, Patung-patung berjumlah 504 Buddha dan tentu 1.250 paniel relief Borobudur tertutup abu vulkanik. Semuanya memutih, menempel dan lengket di sela-sela batuan di setiap altar dan sudut serta lorong teras candi.

Hari Senin 15/11 untuk kedua kali Relawan Guide bersih2 batuan Candi Borobudur, sehari sebelumnya hadir bareng segenap Insan Pariwisata Jogja. Segenap rasa dan setangkup asa menggelayut, nampak Candi itu merana sekali. Di dalam kesedihan dan semangat bhakti disana, muncul diantara teman bahwa diantara sang Buddha ada yang melelehkan Air Lumpur dari matanya, putih kecoklatan air mata itu menetes, sedih atas bencana erupsi Merapi.

Banyaklah Guide berkisah mengitari peristiwa erupsi Merapi disana, juga periode sebelum letusan dahsyat 04/11 pk 23.35 malam itu, dibanding letusan 1994 atau cerita miris sebelumnya dan sebelumnya lagi atas Candi Borobudur. Penulispun punya cerita; klien tamu sepasang turis Jerman sehari setelah letusan 1994, di Arupadhatu posisi atas candi, tiba-tiba angin keras bertiup, lalu kami tak melihat apapun, sebab debu-debu vulkanik itu berterbangan. Si ibu mengatakan; ‘Sejak kecil aku merindukan bisa berada di Candi ini, namun saat ini Borobudur tertutup abu, aku tak dapat melihat keindahannya, bahkan tak bisa melihat apapun!’

Kenangan dan kisah tentang destinasi Borobudur bukan hanya bagi klien wisatawan, namun memory pemaknaan itu berlaku bagi Pemandu Wisata di era bencana ini. Inikah pengorbanan Sang Buddha, selalu melayani umat yang membutuhkannya. Saat kerja bhakti membersihkan candi dari abu vulkanik yang mengotori, muncul lagi rasa kedekatan pada candi, seperti menghadirkan pengalaman setiap kali bertugas memandu. Bhakti bahwa seorang Guide menerangkan dan bahwa turis terus bertanya.

Maka saat kunjungan Borobudur sejak 16/11 pagi mulai dibuka meski hanya dari pelataran luar gerbang utama, kami bersorak akan ada lagi senyuman di sekitar candi. Disini Guide berguru, mencari sesuap nasi dari dan sebab daya tarik Siddharta Buddha (563-483 SM), maka rawatlah setiap kunjungan dan pemanduan wisatawan. Bagi Guide bersih-bersih candi mendekatkan diri sekaligus memperingati pengorbanan. Layaknya perjalanan sang Pemandu Wisata kali ini seperti melintasi jejak bhakti pengorbanan Nabi Ibrahim (awal Millennium – 2 SM) lebih dari Sang Buddha sendiri.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s