S.A.R. & Media Center

Musibah Merapi mulai 26/10/2010 hingga hingga hari ini meninggalkan jejak kemanusiaan lebih dari sekedar masalah pemberdayaan bangsa terutama terkait gunungapi sebagai daya tarik wisata. Paling tidak terlahir sejak peristiwa ini beberapa institusi Merapi, yakni: Jogja Tanggap Cepat, dikomandani Kimpling Kabare dan Java Tourism Care yang bermarkas di alamat Stuppa ring road utara, keduanya disingkat JTC meski orang2 yang mengurus dalamnya beda.

Yang terkait secara emosional sejak awal adalah Media Center Insan Pariwisata Yogyakarta (MCIPY) yang dikomandani Pak Istidjab yang fokus mencermati dan mengimbangi pemberitaan Merapi. Tak kalah penting adalah ide pemberdayaan Insan Pariwisata dalam hal Seach & Resgue serta Jurnalistik, kedua yang terakhir muncul di garba pemikiran teman2 Pemandu Wisata.

Merapi yang bagian dari 129 gunungapi aktif dunia terus menerus membutuhkan perhatian profesionalitas kerja Pemandu Wisata, serta hal-hal menyangkut daya tarik dan keselamatan kerja. Dampak kepariwisataan global dari kasus pemberitaan Merapi sungguh luar biasa jeleknya dan membunuh karakter destinasi Yogyakarta, termasuk tentang Candi Borobudur yang tertutup abu vulkanik. Maka kita rame-rame ikut bersih-bersih altar batuan candi.

Di Indonesia tak hanya Gunung Merapi diantara sekian kali bencana gempa bumi, tanah longsor, banjir, tsunami maupun non bencana alam yang membutuhkan perhatian pelaku jasa pariwisata. Pelajaran menarik dari setiap kejadian ini adalah ketidak-siapan anasir bangsa alias absen terkait yang gagap menghadapi bencana diantara banyak kelebihan fasilitas yang dimiliki.

Maka pelajaran karakter kebencanaan membekali wawasan berpikir Sumber Daya Insan Pariwisata yang amat diperlukan meliputi geografi kebumian, kegunungapian, dasar-dasar kebencanaan, latihan survival berupa Search and Rerque dan PPPK, manajemen bencana serta sikap terbaik hidup di wilayah bencana. Out put mapel ini bahwa pengetahuan, sikap & ketrampilan Guide terutama mampu bertanggung-jawab menjaga nama baik Bangsa dan Negara.

Sebaiknya diberlakukan hal ini bagi pengambil kebijakan pariwisata, agar tak lagi muncul ekses absennya Negara atau kelalaian setiap kali ada bencana. Juga menghindari SDM pariwisata bervisi satu tentang kebencanaan. Pelaku bisnis pariwisata harus banyak mengabarkan kemanfaatan hingga tak lagi muncul tulisan miring media cetak seperti judul ‘Hindari Pergi ke Jogja’, artikel opini Harian Surya 02/11/2010. Atau sanksi terberat sejarah Komisi Penyiaran Indonesia bagi RCTI atas tayangan ‘Silet’ 7/11/2010 yang oleh presenternya yang bernama Feni Rose dikatakan Jogja kota malapetaka, telah sangat besar pengaruhnya untuk menambah-derita korban bencana Merapi, yang sudah sekian lama tercekam akan teror letusan gunung Merapi.

Kursus Guide HPI setuju mentradisikan mapel kebencanaan itu bagaian dari pendidikan Guide dan kehumasan sesuai usulan Ketua PMI Yusuf Kalla. Bahwa pekerja pariwisata perlu bermental wartawan yang harus memperhatikan etika pokok jurnalistik terkait berita kebencanaan, yaitu; akurasi fakta dan berita (QS 21:7), etika bertanya (5:101), melakukan check recheck (49:6), tidak memeras (4:94), menjauhi prasangka (49:12), tak membunuh karakter trial by the press (49:12), meminimalkan resiko  (11:47), tidak mengolok-olok klien (49:11) dan ‘memenuhi hak jawab’ narasumber berita (QS 12:26). Rujukan: Nazaruddin Umar, dalam acara TVRI: Nuzulul-qur’an, 12/10/2006. Semoga bermanfaat. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s