Etika Mengabarkan Bencana

Peristiwa meletusnya gunung api di Indonesia tak hanya terjadi pada Gunung Merapi diantara sekian kali bencana gempa bumi, tanah longsor, banjir, tsunami maupun non bencana alam karena kelalaian serta sebab-sebab lain. Pelajaran menarik dari setiap kejadian ini adalah ketidak-siapan anasir bangsa terkait yang gagap menghadapi bencana diantara banyak kelebihan fasilitas yang dimiliki.

Pendidikan Kebencanaan akan memetakan kesadaran sumber daya manusia, betapa ilmu pengetahuan yang diajarkan di kelas dan ketrampilan saja tidak mampu mengatasi realitas hidup yang penuh resiko. Ranah mapel kebencanaan menyasar sekaligus sikap-sikap yang perlu dibangun menghadapi peristiwa alam maupun bencana yang disebabkan kelalaian manusia. Kita masih harus mencari-cari dari serpihan bencana Negeri agar eksis menjadi manusia pilihan yang bermanfaat maksimal buat sesama, kapanpun dimanapun..

Pelajaran dari letusan Merapi memuncul beberapa pengalaman baru, namun yang penulis catat adalah sisi keruwetan informasi dan penyajian data-data musibah bencana oleh media berpotensi menghancurkan minat wisatawan untuk datang ke destinasi Jogja. Harus dicatat pula dari berita dimaksud, betapa masyarakat Jogja telah memiliki rasa tanggap kemanusiaan luar biasa disertai seruan Sultan HB X membangkitkan lagi semangat ‘Satu Jogja Untuk Semua’.

Mapel Kebencanaan Mutlak Dibutuhkan

Mapel karakter ini membekali wawasan berpikir anak dengan apapun yang diperlukan meliputi geografi kebumian, kegunungapian, dasar-dasar kebencanaan, latihan survival berupa Search and Rerque dan PPPK, manajemen bencana serta sikap terbaik hidup di wilayah bencana. Out put mapel ini bahwa pengetahuan, sikap & ketrampilan yang diterima mampu bertanggung-jawab menjaga nama baik Bangsa dan Negara.

Praksis mapel kebencanaan bagi industri pariwisata sebaiknya didahulukan bagi pengambil kebijakan pariwisata, sehingga tak lagi muncul ekses absennya Negara atau lalai saat rakyat korban membutuhkan perlindungan keselamatan. Ekses negatif lain para pelaku bisnis pariwisata tak berkesadaran kebencanaan demi mengimbangi rumour pemberitaan oknum media yang merusak citra pariwisata. Pelaku bisnis ini harus banyak mengabarkan kemanfaatan hingga tak lagi muncul tulisan miring media cetak seperti judul ‘Hindari Pergi ke Jogja’, artikel opini Harian Surya 02/11/2010. Atau sanksi terberat sejarah Komisi Penyiaran Indonesia bagi RCTI atas tayangan ‘Silet’ 7/11/2010 yang menyebut Jogja kota malapetaka, menambah-nambah derita korban bencana Merapi.

Olala..jika saja sumber berita seperti provokator Silet RCTI diatas, bangsa ini akan terus meratap dan tak beranjak dari keterpurukan panjang. Maka saatnya Pekerja Pariwisata menulis dan banyak mengabarkan sisi kemanfaatan yang merujuk pada sumber-sumber kebenaran serta meringankan segenap beban yang menimpa saudara dan teman. Bahwa bumi tercinta diperuntukkan mereka yang punya etika kepedulian dan kepekaan sosial atas bencana Merapi, bukan pekerja berita yang bermental negatif.  Salam..***

One thought on “Etika Mengabarkan Bencana

  1. andi

    Para penulis (fakta, cerita, berita dst) harus memperhatikan 9 etika pokok; akurasi fakta dan berita (QS 21:7), etika bertanya (5:101), melakukan check recheck (49:6), tidak memeras (4:94), menjauhi prasangka (49:12), tak membunuh karakter, trial by the press (QS 49:12), meminimalkan resiko (11:47), tidak mengolok-olok klien (49:11) dan ‘memenuhi hak jawab narasumber’ (12:26).

    Sumber: Nazaruddin Umar, dalam Nuzulul-qur’an TVRI 12/10/2006?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s