Nyiur dan Solidaritas Merapi

Kampung Jumoyo, sebelah utara kuburan Cina, Muntilan, Magelang  masih memutih, rumah-rumah berdebu, jalanan juga berdebu setebal 2cm, nyiur kelapa menutup diri seperti Payung di tanah berjarak 17km dari Merapi.

Jum’at pagi 12/11 masih nampak erupsi, bergempa tremor dan mengirimkan lagi debu vulkanik dari kolom setinggi 9.5 km, debu turun lagi. Seperti pada letusan dahsyat 5/11 dini hari, sejak sore suara gemuruh terdengar dari sana, suasana desa jadi mencekam..malam itu setiap dua detik ada pohon tumbang diterjang hujan pasir.. tapi ini semua tak merusak keramahan warga, malah menguatkan solidaritas mereka.

Sore hari 11/11 barak pengungsian Muntilan tak terlihat sepi, orang-orang masih saling sapa, memberi senyuman, sekedar menolong atau memberi jalan orang lain lewat. Di pintu gerbang, sukarelawan menata parkir kendaraan, mereka bermasker, berkacamata dan menutup wajah. Di luar area para Pemuda itu sibuk menyirami jalan berdebu, ada yang menyiapkan ember agar kaca mobil tamu tetap bersih tak mengganggu pandangan..ini mengingatkan perjalanan kami 05/11..di seantero pojok jalanan Jogja ada saja sukarelawan penyiram kaca-kaca mobil yang lusuh.

Di tempat lain lagi para Pengungsi berada di dalam tenda-tenda terpisah, ada yang saling ngobrol, yang sibuk membersihkan tikar, menata satu dua lembar pakaian agar terjauh dari debu. Sementara anak2 mereka bermain dibimbing relawan, ada yang menggambar tapi sebagian besar mereka ya asyik bermain..tak dijumpai yang murung oleh sebab bencana. Solidaritas Merapi menembus batas-batas privasi, melonggarkan kepemilikan, karena sesama mereka ingin saling berbagi..

Inilah solidaritas khas Jogja dalam membantu korban beserta keluarga. Getaran Merapi kali ini memicu dzikir dan pikir, abunya mendorong urat nadi setiap orang untuk memberi tanpa pamrih dan memberi apapun yang dibutuhkan korban, meringankan beban dari total sejumlah 286.653 Pengungsi, di luar data Badan Nasional Penanggulangan Bencana mereka bisa berada dimana-mana.

Saatnya memikirkan rehabilitasi, menjalin doa dengan berkorban merajut semangat sejagat untuk memulihkan mereka dengan harta dan tenaga. Demi kesehatan dan kebaikan, tentulah yang kita pakai saat ini atau sesuatu yang kita makan terselip hak orang lain yang mesti disalurkan.. Bisa jadi orang lain itu para korban pengungsi Merapi yang menyebar di 635 titik barak resmi dan ribuan titik pengungsian lain..

Inilah hasil ikatan sosial itu.. Di saat warga lereng Merapi mengalami ujian berat harus menjauh dari kampoeng, tidur seadanya, tak lagi bisa ke sawah, mengaji bersama di langgar, mengurus tanaman atau ikan di pekarangan, merumput demi ternak piaraan, sekedar belanja atau mengantar anak ke sekolah desa. Yang kami jumpai mereka pasrah dan tersenyum, bukan kegetiran dimana-mana.. menjadikan bencana sarana berbagi rasa demi kebaikan bersama..subhanallah!

Bahaya Merapi masih mengintai mungkin dengan letusan direct blusting lebih besar.. kami khawatirkan tentu aliran lahar dinginnya kembali masuk Kota.. “Allah tidak akan menurunkan ujian yang tak mungkin ditanggung hamba”, meski beban ujian kali ini berupa erupsi Merapi yang misterius, kami yakin bahwa ketakutan, lapar dan kelelahan serta kekuatiran diatas akan menaikkan derajat dan harkat kehidupan kami..Allah yang merencanakan semua..Dia pula yang melindungi.. Aminn ya Rabb..***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s