SYAWALAN INSAN PARIWISATA

Hal positif memasuki 1 Syawwal kalender Hijriyah dalam suasana khas Indonesia, adalah orang merasa perlu syawalan. Mereka berjibaku menjabat akrab tangan kerabatnya, saling mengucap maaf dari lubuk hati terdalam. Menjalin kembali tali silaturahim usai puasa Ramadhan. Tradisi menyatunya kembali kerabat asal kandungan serahim yang tercerai oleh kesibukan dan waktu kerja, seperti syawalan 30-an komunitas Guide Jogja di bawah Beringin LA 19/9/2010 merajut ukhuwah sesama Pemandu Wisata menjelang syawalan resmi HPI kamis 23/9 di Aula MGM, dilanjut rencana syawalan guide Jepang 25/9 di dalam Kota. Diakui maraknya komunitas Guide untuk bertemu saling berbagi cerita adalah pertanda positif, seperti penguatan Asosiasi dari beberapa divisi bahasa dan beberapa perkumpulan arisan dan seterusnya..tanda fitrah di bulan Syawwal.

Yang nampak adalah kumpul-kumpul rekan sejawat atas tradisi dan nilai masyarakat, mengkordinasikan kerenggangan fisik seperti peningkatan komunikasi dan sarana jalan raya. Syawalan juga merajut rahim pemikiran, melebur urusan dunia dengan menoleh ke asal penciptaan hingga berharap menjadi suci di hari-hari yang fitri. Faktanya perayaan Idul Fitri lebih menyibukkan para Kapolda Jawa-Bali-Sumsel dari wilayah lain pemudik Nusantara, hanya demi kelancaran seluruh kegiatan ritual tahunan ini.

SYAWALAN BERDAMPAK PARIWISATA

Ulasan tradisi Syawalan di atas bisa merambah anasir jasa pariwisata. Sebab pariwisata berarti juga perjalanan manusia ke masa lalu demi mengenali, mempelajari bahkan mengkritisi sejarah, seni dan budaya masyarakat di suatu wilayah demi perbaikan kualitas hidup. Perjalanan ini lebih karena olah batin dan daya tarik manusiawi, yakni rasa ingin tahu hakekat penciptaan diri dibanding alam semesta, seisi langit dan bumi. Perjalanan syawalan melahirkan peningkatan harkat diri agar terjalin manusia lebih beradab, hingga komunitas sosialpun ikut membaik dan memunculkan aneka kebutuhan jasa terkait usaha pariwisata.

Alkisah hamparan relief tantri yang tersaji di dinding-dinding candi Jawa menebar kisah perjalanan manusia sejagad abad ke-14. Tafsir panji itu bisa bermakna pencarian mereka melalui ritual dan asmara yang menembus ruang dan waktu. Khazanah masa lalu orang Jawa ini bercerita banyak tentang segala aspek kemanusiaan saat bersinggungan dengan sesama dan lingkungannya, bahkan hubungan kepada Sang Pencipta. Membaca kisah panji adalah upaya menghormati, saling berbagi, mencipta perjalanan harmoni kemanusiaan sekaligus berarti pelajaran syawalan, yakni usaha menjadi lebih bertakwa yang berdampak sosial ekonomi. Pelajaran syawalan ini dapat menginspirasi sisi peningkatan layanan jasa pariwisata.

PENINGKATAN LAYANAN PARIWISATA

Ketika bertahun kita bersilaturahim di bulan Syawwal muncul kerinduan (das Sollen) akan harmoni perkumpulan antar sesama. Bagi pelaku bisnis pariwisata adalah kerinduan mewujudkan layanan yang tulus kepada pelanggan. Sementara fakta das Sein adalah sulitnya kordinasi, bekerjasama dan hambatan komunikasi sesama pelaku kepentingan, apalagi jika melewati batasan kewenangan. Kondisi ini memperburuk citra destinasi dan menguatkan fakta bahwa mereka tanpa kendali aturan. Perjalanan Syawalan mengingatkan, bahwa anasir bisnis terutama Pemandu Wisata perlu meningkatkan diri, melaksanakan konsepsi sadar wisata, kerja lebih profesional dan kompeten serta mau bekerjasama di semua lini layanan jasa pariwisata.

Fungsi lain syawalan insan pariwisata, tentunya memacu semangat kembali ke fitrah bisnis sesuai kapasitas dan kompetensinya. Naiknya ongkos destinasi Bali menjadi 10 besar akomodasi termahal dunia, sungguh memprihatinkan pariwisata kita. Apakah harga-harga layanan jasa pariwisata Yogyakarta akan mengikuti dengan sulitnya wisatawan mencari Kamar yang memadai, Prasarana dan Obyek Wisata yang aman nyaman. Pada musim libur, urusan Pemandu Wisata Legal bahkan untuk bahasa tertentu telah langka, apalagi mendapatkan Guide Profesional di setiap paket wisata yang terjual.

Jika sarana prasarana, penguasaan produk, sumber dana dan sumber daya manusia tidak memungkinkannya merambah keluar target kenapa mesti membuka konsentrasi usaha baru, demikian seterusnya. Hikmah syawalan adalah menahan diri dan mendudukkan kembali fitrah bisnis pariwisata sebagai urusan jasa kemanusiaan yang lintas kepentingan. Semua pihak perlu menjalin erat hubungan antar pelaku usaha menjadi kian harmonis di masa depan. Ya, sekali lagi bahwa introspeksi peningkatan layanan jasa pariwisata kita ternyata perlu diinspirasi kegiatan syawalan.***

*) Opini Andi dikirim ke Redaksi Kadaulatan Rakyat 20/9/2010 menjelang Syawalan HPI 23/9 di Aula Museum Gunung Merapi,YK.                             Gambar; berasal dari Upload FB tetangga sebelah dan Agus Budiyanto untuk sesama Guide facebooker’s.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s