SISI SINGAPURA

Kebanggaan pariwisata nasional terganggu melihat fakta dan data dari perjalanan bursa pariwisata NATAS Singapore 27-30 agustus 2010 yang disertai dengan gelaran aneka furniture se-Asian Pasific. Pertama nasionalisme kita tergadai tidak dibarengi dengan tatanan urusan bernegara yang seharusnya hingga urusan tetek bengek warga yang beraktivitas sehari-hari di semua lini pekerjaan termasuk cara memasarkan destinasi yg bersentuhan dengan tetek bengek itu.

Kesemuanya tersuguhkan di depan mata wisatawan, dari kedisiplinan hidup warga lokal dan pendatang saling menghargai dalam toleransi bisa berjalan, sistem transportasi, bandara dan keimigrasian dan urusan tetek bengek lain. Ya, nampaknya kita harus belajar banyak dari negara kecil Singapura namun berpenghasilan amat besar di bidang pariwisata.

Kesan awal kemamkuran dan keteraturan warga bangsa Singapura menemukan momentum saat wisatawan  mendarat di bandara Changi. Kemudahan pendatang amat diperhitungkan dengan berjalan di lorong garbharata menuju hall kedatangan, melalui lift berjalan yang memperpendek waktu tempuh sebelum pemeriksaan imigrasi. Satu persatu petugas bandara sigap membantu kenyamanan penumpang yang datang. Tegas dan pasti kepabeanan menjalankan fungsi kontrol dan peraturan keimigrasian, sementara wisatawan termasuk pengunjung Indonesia menurut antri di tempatnya.

Kita mungkin butuh waktu untuk menerapkan Sistem tansportasi yang integral demikian di kota-kota besar destinasi nusantara.. Dari kesiapan warga masyarakatnya, petugasnya atau para pedagang dan kesadaran semua penggunanya..

Perhatikan bagaimana lalu-lalang mass transport yang kini telah tergabung mekanis antara MRT integral dg sistem LRT, meski orang berkilah karena Singapura cuma kecil dibanding luas nusantara. Penumpang dan pengguna jasa transport pasti merasakan beda layanan, kenyamanan dan keamanan di jalan. Masih satu lagi, selama di jalan penumpang cacat, ibu hamil atau sakit memperoleh tempat yang seharusnya di dalam sistem tersebut.

Kontak sosial sesama orang dan masyarakat pendatang secara gampang dirasakan dimana-mana sejak kedatangan, di MRT-LRT, di pasar-pasar, di mall, toko dan restoran, so apalagi saat pameran seperti NATAS 27-30 agustus lalu. Kelihatan sekali, betapa warga telah memiliki tujuan jelas akan bepergian kemana, merencanakan liburan sendiri ataukah bersama keluarga dan teman. Brosur dan segala jenis informasi tergelar di tempatnya dengan penataan urusan pameran yang sangat memuaskan pengunjung maupun exibitor.

Dari sejenak kunjungan pameran pariwisata kita menjadi mengerti mengapa Singapura diuntungkan, sedangkan Indonesia yang memiliki ratusan destinasi dengan pilihan budaya dan kerajinan itu selalu tenggelam oleh urusan pelayanan dan kesiapan di lapangan. Data kunjungan tak beranjak dari tujuh juta wisatawan pertahun dari destinasi wisata yang seluas nusantara, bukankah ini soal kordinasi, dana dan kreativitas… Wallah a’lam! ****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s