Patung Buddha di Borobudur, benarkah ??

Pada suatu hari, Mara, si penggoda, merasa iri hati dengan kemasyhuran Yang Mulia Upagupta. Mara mengetahui bahwa kemasyhuran Upagupta membantu penyebaran ajaran Sang Buddha. Mara tidak menyukai melihat perkataan Sang Buddha memenuhi pikiran dan hati banyak orang. Mara membuat rencana untuk menghentikan orang-orang orang mendengarkan ceramah-ceramah Upagupta. Suatu hari, ketika Upagupta memulai ceramahnya, Mara mengadakan suatu pertunjukan bersebelahan dengan tempat dimana Upagupta berkotbah. Sebuah pentas yang indah muncul dengan tiba-tiba. Terdapat gadis-gadis penari yang cantik dan musisi yang lincah.

Orang-orang segera melupakan ceramah Upagupta dan beralih ke pertunjukkan untuk menikmati pernampilannya. Upagupta memperhatikan orang-orang perlahan-lahan meninggalkannya. Kemudian Beliau juga memutuskan untuk bergabung dalam kerumunan. Setelah itu ia memutuskan untuk memberikan pelajaran kepada Mara.

Ketika pertunjukkan itu berakhir, Upagupta menghadiahkan sebuah kalung bunga kepada Mara.

“Kau telah menyusun suatu pertunjukkan yang luar biasa,” kata Yang Mulia Upagupta.
Mara tentu saja merasa senang dan bangga dengan pencapaiannya. Dengan sukacitanya, Mara menerima kalung bunga dari Upagupta dan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.

Tiba-tiba kalung bunga itu berubah menjadi lilitan menyerupai ular. Perlahan-lahan lilitan itu menjadi semakin ketat dan mencekik leher Mara. Lilitan itu mencengkram lehernya begitu sakitnya, sehingga ia mencoba menarik lilitan itu hingga putus. Walau seberapa kuat Mara menariknya, ia tidak bisa melepaskan lilitan itu dari lehernya. Ia pergi mencari Sakka untu membuka lilitan itu. Sakka juga tidak bisa melepasnya. “Saya tidak dapat melepaskan lilitan ini,” kata Sakka. “Pergilah dan temui Maha Brahma yang paling kuat.”

Lalu, Mara pun pergi menemui Maha Brahma dan meminta pertolongannya; tapi Maha Brahma juga tidak bisa berbuat apapun. “Saya tidak dapat melepaskan lilitan ini, satu-satunya orang yang dapat melepaskan lilitan ini adalah orang yang memakaikannya kepadamu,” kata Maha Brahma.

Lalu, Mara terpaksa kembali ke Yang Mulia Upagupta.

“Tolong bukakan lilitan ini; ia sangat menyakitkan,” Mara memohon.

“Baiklah, saya akan melakukannya tetapi dengan dua kondisi,” kata Upagupta. “Kondisi pertama yaitu kau harus berjanji untuk tidak mengganggu para penganut di masa depan. Kondisi kedua yaitu kau harus menunjukkan kepadaku wujud Sang Buddha yang sebenarnya. Karena saya tahu engkau pernah melihat Sang Buddha dalam beberapa kesempatan, tapi saya tidak pernah melihatNya. Saya ingin melihat wujud sebenarnya dari Sang Buddha sama persis, dengan 32 tanda istimewa yang terdapat pada fisikNya.”

Mara merasa sangat gembira. Ia setuju dengan Upagupta. “Tapi satu hal”, pinta Mara. “Jika saya merubah diri saya menjadi rupa Sang Buddha, kau harus berjanji untuk tidak akan menyembah saya kerena saya bukan orang suci sepertimu.”

“Saya tidak akan menyembahmu,” janji Upagupta.

Tiba-tiba Mara merubah dirinya menjadi rupa yang terlihat persis sama seperti Sang Buddha. Ketika Upagupta melihat rupa itu, pikirannya dipenuhi dengan inspirasi besar; rasa baktinya muncul dari dalam hatinya. Dengan tangan beranjali, dengan segera Beliau menyembah figur Buddha itu.

“Kau telah melanggar janjimu,” teriak Mara. “Engkau berjanji tidak akan menyembah saya. Sekarang, kenapa kau menyembah saya?”

“Saya tidak menyembahmu. Kau harus memahami saya sedang menyembah Sang Buddha,” kata Yang Mulia Upagupta.

Berdasarkan kisah ini, kita dapat memahami mengapa rupang (gambar/patung) Sang Buddha penting untuk memberi inspirasi kepada kita dan mengingat kemuliaan Sang Buddha dalam pikiran kita sehingga kita dapat memuliakannya. Kita sebagai Buddhis tidak menyembah simbol material atau wujud yang hanya mewakili Sang Buddha. Tetapi kita memberi penghormatan kepada Sang Buddha.

Berdasarkan cerita diatas dapat disimpulkan bahwa patung “budha” (tanda kutip) yang selama ini diyakini sebagai perwujudan asli Sidharta Budha Gautama adalah hoax belaka. Dasarnya penampilan budha ternyata hanya berdasarkan pada profil yang dihadirkan secara sihir oleh mara sang setan penipu.Benarkah sang upagupta yang tinggi ilmunya itu tidak mengenal wujud Sang Budha ??? padahal dia sangat sakti sehingga si mara sendiri harus menemuinya agar terbebas dari lilitan kalung ular tersebut,sadarkah si upagupta yang dungu tersebut kalau sedang dijebak mara menuju penyembahan berhala???. Kalau ditelusuri lagi di borobudur saja ada 504 patung budha dan ditambah lagi sekian ribu patung budha dalam berbagai pose. Nah ketika si mara memvisualisasikan dirinya sebagai budha dihadapan upagupta…posisi yang seperti apa yang terlihat oleh si upagupta ??? sehingga dia sampai umat budha sampai abad ini terus lalu meyakini bahwa itu adalah patung budha dengann berbagai posisinya ??? nah disinilah dituntut keautentikan sebuah keyakinan akan Kebenaran. Betapa naif bila sebuah kebenaran itu diyakini namun kebemaran itu justru datang dari seorang setan ??? Bagaimana bisa seseorang meyakini kebenaran suatu agama sedangkan kitabnya sendiri disusun sekian lama setelah sang pembawa ajaran tiada,apakah ada jaminan keaslian ajaran yang berasal dari sang pembawa ajaran terpelihara dengan baik ???

Jadi dapat disimpulkan bahwa patung budha yang diyakini saat ini oleh pemeluk agamabudha hanyalah hoax dari si mara yang hanya ingin menyesatkan insan agar mereka menyembah patung. Maka disimpulkan juga bahwa patung budha di borobudur bukanlah patung budha sesungguhnya.Sekali lagi saran saya…kalau hendak menjadi orang benar,telitilah sumber ajarannya autentikkah atau telah direkayasa.Bukankah iblis bersumpah untuk senantisa menyesatkan insan ???

Sumber

One thought on “Patung Buddha di Borobudur, benarkah ??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s