SOSOK GUIDE: INGATKAN SANG NANDI

KESAKSIAN PROFESIONAL Tentang DESTINASI BOROBUDUR

Trudy Jafar *)

Semakin giat  Dewa Nandi melayanani Dewa Siwa, semakin gembiralah dia. Estasi dalam tugas pelayanan selalu saja diperolehnya secara akumulatif. Kekuatan dewanya mulai dirasakan tiada cukup lagi untuk menopang tugas yang dicintainya, Nandi merubah tubuhnya menjadi seekor lembu yang luar biasa, dengan keempat kaki sekokoh sari keempat kitab Veda, bergerak, berjalan bahkan menari –nari kecil  seiring Tandava Sang  Nataraja. Bicaranya disampaikan dengan lafal jelas dan mencerahkan. Improvisasi adalah bagian dari keindahan yang selalu dinanti nanti Iswara. Lembu Nandi sungguh jugalah sastrawan, sejarawan , seniman , dan penghibur, ia membawa pendengarnya untuk melihat, menyelami dan merasuki sampai ke inti samudera semesta , sambil mengagungkan Brihaspati , dan lidahnya digerak gerakan oleh Dewi Saraswati. Ritme suaranya bagai kicau  burung Kalavinka di telinga Shambu,  membuat Sadyojata tak tahan ikut berbagi; tentang dharma, karakter, etika dan estetika. Tentang yang rasional dan yang empiristis, penciptaan dan pemeliharaan, perubahan yang seharusnya, tentang kesejahteraan lahir dan ketentraman batin. Lembu Nandi mengerti tuannya adalah sang Anugerah Murti, dan lewat pelayanan , pada diri sendiri juga yang dilayani, seisi semesta. Vocasional Lembu Nandi tidak sebatas penutur, tenaga fisik dan terlebih pikiran, berada didalam satu kesatuan peran profesionalisme. Sang pelayan yang selalu ingin membuat senang hati tuannya. Dan tak hendak membuat Bethara Guru menjadi Samhara Murti. Lembu Nandi siap bekerja siang malam, dengan dikawal  Surya dan Chandra.

Narasi tentang LEMBU NANDI diatas menggambarkan kecintaan profesi kami sebagai seorang Pemandu Wisata, yang telah berjalan empat dasawarsa. Kami yakin terdapat puluhan bahkan ratusan teman yang memiliki cinta yang sama terhadap pekerjaan ini. Dengan tidak mengecilkan arti profesionalisme teman-teman Dewan Pimpinan Cabang HPI Magelang yang berkedudukan di Taman Wisata Candi Borobudur, pemaksaan menyerahkan tugas pemanduan dari pemandu non HPI Borobudur ke pemandu lokal terasakan sebagai sikap yang mengabaikan kebersamaan, saling menghargai , saling dialog, azas keadilan dan keberadaban layanan wisata.

Candi Borobudur yang telah menyandang predikat Warisan Dunia aset bangsa Indonesia, negaralah yang menguasainya sebagai sumber daya strategis untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Sehingga pemberdayaan yang berkenaan dengan aset berupa  “ Keajaiban Dunia “. Bagi kami Borobudur bahkan melebihi  sebuah keajaiban dunia. Bilamana kita mendalami makna symbol Borobudur secara lebih luas , akan didapati suatu dharma bahwa sesungguhnya sesuatu dapat didaya upayakan bagi kesejahteraan global. Kuncinya sederhana , hanya kebersamaan saling menghormati , saling mengasihi dan menjauhkan konflik.

Fasal 33 Ayat ( 1 ) UUD 1945  menyatakan bahwa pengaturan ekonomi berbasis pada kekeluargaan dan kebersamaan.  Ayat  (2) menegaskan bahwa seluruh rakyat memiliki hak yang sama ikut berproduksi  dan ikut menikmati hasilnya.  UU Otonomi Daerah 1999 Bab IV Fasal 7 Ayat (1) dan (2) menyebutkan berbagai bidang yang masuk kedalam kewenangan daerah dan yang tidak masuk kedalam kewenangan daerah.  Kewenangan bidang lain yang diluar cakupan kewenangan daerah disana antara lain disebutkan meliputi kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro, juga termasuk pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia, pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis, konservasi dan standarisasi nasional.

Kekayaan alam, peninggalan, sejarah, kemajemukan etnis dan budayanya, keanekaragaman hayati, dan hembusan segar angin demokrasi adalah keberuntungan yang  harus dijaga dan dikawal. Berkah pariwisata ini menjadi penting demi kesejahteraan rakyat dan membuka lapangan kerja yang luas. Kebijakan tentang perencanaan pariwisata bersifat nasional harus dengan pengendalian pembangunan pariwisata secara nasional pula. Kami selaku pemanduwisata selalu  dituntut kualitas dan dedikasi yang baik. Sejak zaman orde baru kami sudah dipersiapkan secara gradual dan  berkala dengan berbagai pembinaan, pendidikan dan dilengkapi dengan lisensi resmi dari pemerintah untuk bekerja dilapangan. Sebagian saat ini telah memiliki standarisasi dengan sertifikasi kompetensi. Selama itu tanpa keharusan dan pemaksaan transfer guide di Borobudur, sungguh kami menjalankan pekerjaan ini dengan penuh rasa syukur, selalu bergairah, tentram dan bangga dapat memperkenalkan dan ikut berpromosi. Baik tamu F.I.T maupun Group kian banyak yang mengirimkan request. Mereka kagum akan kebesaran candi Borobudur, terlalu sering mendapat pernyataan mereka akan berkunjung kembali bersama teman atau sanak keluarga. Diantara mereka mempersiapkan group intensif dan tour intelektual serta kembali bersama pakar arkeologi agar dapat saling membagi pengetahuan dan saling melengkapi.  Pembimbing spiritual mereka sebagai tour ziarah agar saling mencerahkan.

Keresahan teman-teman pemandu di Yogyakarta sudah berlangsung cukup lama, kejadian demi kejadian semakin membuat tugas guiding mengalami gangguan. Ada yang masih boleh guiding asal membayar jumlah uang sekian puluh ribu  melalui kesepakatan lewat MOU diantara DPC HPI Magelang di Borobudur  dengan DPD ASITA DIY tanpa mengikut sertakan wakil Dewan Pimpinan Daerah HPI DIY.

Ada yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan,  ada yang tak peduli teguran dan berusaha tetap guiding dan sebagainya.  Yang menimpa diri saya terjadi 28 April 2010, dimana beberapa anggota HPI di Borobudur dengan dua orang petugas keamanan menghadang kami memaksa agar menyerahkan dua tamu kami Tour Operator dari Australia untuk harus mereka pandu.  Client Java Traveller ini kebingungan dan akhirnya masuk sendiri ke halaman Taman Wisata, lalu diikuti oleh salah seorang pemandu mereka. Sebagai guide, saya hanya duduk dengan menahan emosi di ruang pintu masuk wisatawan manca. Tidak sampai 1 jam mereka sudah menyelesaikan kunjungan . Biasanya, bila kami yang guiding dua jam saja masih dirasakan sangat kurang. Padahal sudah kami sampaikan bahwa mereka adalah VVIP yang merencanakan mengirim grup kuliner masakan tradisional Jawa, dan tak sabar untuk melihat  relief-relief Candi jenis masakan dan dapur di abad kedelapan. Sebelumnya kamipun sudah mengunjungi beberapa pasar tradisional karena tour termasuk minat khusus, dengan jumlah tamu max 20 pax untuk belajar intensif memasak masakan Jawa. Harapan kami rencana kedatangan group akan terlaksana diawal tahun 2011. Namun diragukan apakah mereka bergairah sesudah mengalami hal tidak menyenangkan diatas. Kejadian ini sudah kami laporkan ke Pimpinan DPD HPI DIY Bp. Drs. M.Mudhi’ddin, juga kepada Pengurus DPP HPI Bp Joko Purwanggono dan KADINAS PAR DIY Bp H. Tasbir SH., M Hum.

Seminggu setelah kejadian datang SMS undangan dan sesudah kordinasi dengan ketua HPI, kami mendatangi kantor mereka di Taman Wisata. Berbagai pengertian  kami sampaikan berharap diterima Ketua mereka, namun selaku ketua DPC ia katakan harus menjalankan keputusan organisasi. Padahal DPC HPI Magelang di Borobudur dan DPD HPI DIY ada di dalam satu wadah resmi Himpunan Pramuwisata Indonesia. Salah satu alasan penting kami adalah bahwa menerangkan Candi Borobudur tidak lah tepat kalau tidak dikaitkan dengan berbagai candi Budha dan Hindu yang lain. Karena adanya keterkaitan sejarah Mataram, agama Hindu, Budha Mahayana dan Tantrayana yang bertebaran di Jawa, tamu yang antusiastis akan keberatan bilamana tiada sinkronisasi dalam memberikan penjelasan. Selama ini pemandu wisata nasional yang karena tugasnya harus guiding disana, kami warga HPI DIY selalu senang saja dan bersikap ramah. Reaksi ketua DPC itu sangat mengecewakan bahwa kami pandai menerangkan semua seni budaya dan sejarah, tetapi tidak pandai menerangkan peraturan bahwa sesampai di Borobudur harus menyerahkan kepada pemandu lokal. Mereka beralasan adanya Perda dari Kabupaten Magelang dan MOU antara HPI di Borobudur dengan ASITA DIY yang memperkuat tuntutan mereka. Padahal isi Perda Magelang No 17 Tahun 2002 tentang PKKL Obyek Wisata hanya tertulis ‘…agar supaya menyerahkan tugas pemanduan’, jadi bukan diwajibkan. Kami berpendapat bahwa Perda tersebut belum menerapkan UU Otonomi Daerah 1999  secara cermat (di salah mengerti oleh saudara suadara kami di Borobudur). Dan semua Perda diwajibkan menjadikan UUD 1945 , Pancasila, NKRI sebagai referensi.

Dari pengalaman ini akhirnya kami “dizinkan atau tidak diizinkan” memandu tamu di Borobudur, kami harus memberitahu terlebih dahulu meskipun tamu yang dipandu adalah request, dan tetap harus membayar sesuai MOU mereka dengan ASITA. Hingga hari ini terasakan betapa selaku warga negara hak kami sudah terancam dibatasi, segala pembinaan dan sertifikat yang kami miliki untuk memandu wisatawan dikecilkan arti keabsahannya. Dan kesetiaan 40 tahun bekerja sebagai seorang pemandu wisata yang membawa suka-cita luar biasa semoga tidak terhadang oleh masalah kebebasan berekspresi dalam mengapresiasi kemegahan monumen candi, pusaka peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia.   Borobudur milik segenap bangsa. Tanggung jawab pengelolaannya harus mewaspadai kepentingan ekonomi yang dapat menyimpang. Dana yang terkumpul selain mensejahterahkan rakyat juga harus melestarikan ruh Borobudur, bahwa kita dituntun setingkat demi setingkat kepada ajaran moral, yang dipahatkan dan dipersonifikasikan lewat narasi dan keindahan arsitektur yang harmonis dengan alam,  penduduk sekeliling yang sejak dahulu  ramah tamah, perubahan era  dan zaman janganlah merubah sikap dan pembawaan. Almarhum Sri Samarattungga dan Sri Pramudhawardhani insyaallah beristirahat dengan tenang bilamana mahakarya mereka  dibiarkan terus memancarkan energi welas asihnya kepada setiap orang.

Kajian lebih jauh perlu diarahkan pada peningkatan kunjungan wisata ke Borobudur, demi mencapai target sebagaimana Taman Wisata dari 300an ribu ke angka 1 juta pengunjung. Maka kesiapan pemandu wisata adalah suatu keniscayaan. Baik kecukupan jumlah personil di lokasi destinasi, maupun daerah lain yang akan melayani tamu ke Borobudur, saat itulah tampak tenaga kami amat dibutuhkan. Namun disaat non musim puncak, masih dapat tetap mengerjakan pekerjaan masing masing sebaik baiknya tanpa harus menginterfensi sesamanya. Kerja sama tetap berjalan, antara DPC HPI Magelang dan DPD HPI DIY bukanlah dua keluarga yang berbeda, melainkan satu rumpun yang sama.  Banyak jalan yang dapat ditempuh demi keselarasan seperti; diskusi bersama atau penajaman ilmu secara berkala.

Akhirnya, peneterapan kebijakan keleluasaan lintas batas dalam praktek pemanduan.  Sesungguhnya hal ini sudah pula berjalan sejak dulu yang menyangkut kendaraan wisata dengan pengemudinya, Taksi dan kendaraan umum lainnya.  Demi sukses pariwisata nasional, bahwa kebijakan  yang baik dari zaman sebelum  era reformasi yang masih relevan seperti Sapta Pesona diimplementasikan dengan sungguh sungguh, dan diberlakukan kembali lisensi regional dan lisensi nasional penting menjadi usulan pengurus HPI kepada pemerintah pusat. []

*) TRUDY JAFAR, Guide Anggota HPI-DIY, Lisensi Pramuwisata Madya  No . 052/DIY/79 – 556/73/2007

7 thoughts on “SOSOK GUIDE: INGATKAN SANG NANDI

  1. rahman mduro

    Arogansi dalam dunia pariwisata… itulah yang terjadi.. !!

    Dengan diprakarasai oleh Budi Lelono, guide Jepang lokal Borobudur, mereka telah merencanakan sebuah gerakan yang kontra produktif dalam dunia pariwista di Indonesia, yakni dengan mempersulit tour operator untuk mengirim tamu ke Borobudur, menteror tour guide dari Jogja. Nek action yang semacan itu menandakan bahwa, SDM guide di Borobudur sangat rendah, tidak sebanding dengan reputasi Candi Borobudur, hanya cocok jadi pedangan asongan, bukan menjadi tour guide sebuah profesi yang mengdepankan intelektualitas dibidang pariwisata, bagaimana tidak..

    1. Hidup tiap hari dilingkungan candi Buddha Terbesar di dunia, kok hanya ngenteni didepan pintu masuk candi kalau- kalau ada pengunjung yang memerlukan jasanya… . ngarep-arep komisi dari tukang foto, tukang buku dan pedagang asongan, barang kali ada tamu yang dipandunya mau berfoto, mau membeli buku candi topi,wayang,kaos dengan gambar candi…,harusnya mereka tidak berbuat seperti itu , mereka dapat mendapatkan uang secara smart, dengan memprosikan jasa pemanduan dan jasa lain keluar komplek candi, mendatangkan tamu peminat untuk mengorder langsung. Menjegal tour operator Jogja adalah tindakan liar, tindakan premanisme yang tidak membangun, bagaimana tidak, apabila tour guide di Jogja mambalas perlakuan yang sama yang mengharuskan guide Borobudur tidak boleh guiding di Yogyakarta, katakanlah Imam Widodo, almarhum Budi Rahayu dll dicekal, maka akan terjadi perang antar kepentingan, yang tidak berguna.
    Apabila guide Borobudur mengganggap bahwa merekalah penduduk local, tapi mengapa orang Jogja yang mengusai Borobudur, adalah kesalahan besar, bukan seperti anggapan mereka, pada kenyataanya mereka tidak dapat memanfaatkan takdir bahwa mereka adalah penduduk local yang tinggal didekat Borobudur, harusnya dapat menjual candi, mendatangkan manfaat candi dll , akan tetapi yang hanya dapat dilakukan hanya menjadi pedangan asongan, jasa parkir dll. Bayangkan Amajiwo dapat menjual room seharga US $ 2000/night, tapi mangapa mereka tidak dapat menbuat guest house dengan posisi yang sama menghadap ke Borobudur dengan harag US $ 20/night. Penduduk setempat tidak sadar bahwa lingkungan mereka berharga sangat mahal.

    2. Membuat aturan yang mengharuskan transfer tamu. Menyebut dirinya sebagai HPI harusnya mereka mensupport pembangunan pariwisata, tidak malah menghambat pariwisata. Penggunaan denga cara paksa local tour guide, sangat menganggu karena informasi yang dieberikan tour guide lokan akan sangat berbeda dengan tour guide yang membawa, sehingga secara tidak langsung kenyamanan dalam memberikan service akan menjadi kurang maksimal.

    Tidak hanya guide di Borobudur yang telah melakukan contra produktif action, akan tetapi di Tour operator di Jogjakarta pun telah melakukan kesalahan yang sangat fatal (fatal error), yakni dengan mau menandatangani MOU yang artinya menyetujui apa yang diminta local guide di Borobudur. Bukan nilai Rp 50.000 yang menjadi point utama, akan tetapi dengan atas asosoiasi, mereka telah tunduk dan menyetujui dengan aksi premanisme di dunia pariwisata.

    Perlu menjadi pertimbangan guide local Borobudur bahwa untuk menjadi kaya, tidak perlu bersusah payah naik, mekso transfer guide, naik turun candi, kerjasama dengan pedangang asongan, tukan foto untuk memberi komisi, gunakan akal sehat yang smart, dan intelektual dengan memanfaatkan Candi Borobudur. Jadilah tour guide local dengan kualitas international dalam cara berfikir and berbuat,hal itulah yang membedakan antara Tour Guide Borobudur and Pedagang asongan Borobudur.

    Perlu juga menjadi perhatian travel agent di Jogjakarta untuk mempekerjakan tour guide Local Borobudur sebagai tour manager, karena sama dengan ngopeni orang bermuka dua.

  2. Si Kentheer

    Aneh bin ngremehke; biro Jogjakarta mbayar lokal Borobudur guide 30,40,50/jam, tour mlebu lewat wetan munggah kidul langsung menduwur, ning mbayar guide Jogjakarta sik wis kerja sama kawit thn 70 an, 80 an, 90an mung 40.000 an, 60.000 an, Max 80.000 an, kerja mulai seka jam 6 esuk ketuk jam 8 bengi. Di jaluki mundak 10.000 ndadak nggo munas assosiasi mbarang !!! Pancen kudune guide Jogja mogok … sebagai solusi yang terbaik …. xi xi xi kasihaaan.

  3. Si Kentheer

    Ooooh pantes lha gambare ning ndhuwur tour guide (bhs inggris) dlm bhs indonesia kan artinya PEMANDU WISATA; di jogja pemandu wisata gambare sedang mengayuh becak, apa memang pemandu wisata padha karo tukang becak, pantes bayare sedina antara 40-80an rb sedina.
    ooo oooo ooooo oooooh oooo oooo oooo

  4. hari anmpta

    masalah status dan salary selalau sebagai polemik ya …….dari dulu yo th 70 an /80a. nyampai sekarang ………ya memang harus ada ukutan yg jelas utk salari ini ….krn banyak yg ngukur dengan rupiah bukan value ……klo semua satu pemikiran tentunya dunia usaha juga memakluminya …..hanya utk menyatukan pemikiran ini yang susah ya …..semua berdasar pemikiran sendiri dari sudut pandang sendiri .
    harus ada ukuran yg jelas yg digunakan sebagai pedoman utk segala hal .berdasar kompetensi masing masing .TETAP SEMANGAT DAB ……

  5. ahmad

    eh ikut nimbrung neh

    AKu
    dari DPD HPI Kalteng,
    membaca polelemik di HPI jogja dan DPC Magelang kok rame ya,

    lain lagi cerita kami di HPI di kalteng
    kekuatannnya pariwisata ada di HPI, pemerintah dalam hal ini DinaSPariwisata selalu meminta HPi setiap ada event ataupun yang berhubungan dengan wisata
    kami memang ada asita tapi keberadannya hanya swebagai ikatan pengusaha tapi dia tidak dapat mengintervensi HPI, HPi apapun sifatnya tidak mau dintervensi, di akan marah, ingat HPI adalah prajurit wisata di medan, jangan diremehkan, dan sekali bicara akan hancur semua biro perjalanan dan pariwisata,
    tapi HPI kami secara jujur saja guide fee paling tinggi paling rendah 125.000/hari paling tinggi 200.000/hari
    dan uniknya kami HPI tidak pernah menqarik iuran guide fee apapun kepada pemandu

    memang konflik seamcam ini pasti terjadi disetiap daerah, sebaiknya DPP pusat turn tangan maslah daerah ini agar tetap hubgan harmoni

    sukses HPI, jaya HPI
    salam dari DPD HPI KALTENG

    AHMAD YANI,SH
    Ketua

  6. UDIN

    trimakasih atas semua yang telah dituangkan dalam web ini. memang uneg- uneg itu perlu dituangkan biar semua jadi lega . semoga semua bisa mengambil manfatnya dari sistem transfer yang telah berlaku, ingat mas semua mahasiswa yang akan lulus antri mencari pekerjaan dan kalo bisa kita membantu semua orang untuk bekerja dan kalo mereka belum mampu apa salah kalo di kasih pengetahuan dan pendidikan yang telah bapak
    punya sampai banyak sertifikat dan pengalaman 40 tahun guiding.

    orang budha bilang :semoga semua makhluk bahagia, HPI bilang semoga semua guide bisa bekerja . Coba kita berpikir HPI itu dah berapa banyak bantu cari order ?
    lebih baik kita bantu semua orang untuk dapat hidup lebih baik, bukan cuma urus hal – hal kecil.

  7. amei

    Bumi ini di gelar oleh Tuhan untuk penghuni alam semesta, supaya kita salah satunya sebagai manusia yang mempunyai predikat sebagai makhluk yang berderajat tertinggi ini bisa mencari penghidupan di buminya.
    Semua sama tanpa pembedaan, Ia tidak akan bertanya tentang tamu yang di bawa hari ini, tapi Ia akan menanyakan apakah dirimu bermanfaat bagi orang lain hari ini.
    Kita,manusia terus beregenerasi setiap harinya,, mereka akan mendapatkan kesempatan kalau mereka mencari, dan kalau orang lain memberi,,
    kita semakin tua dan mereka merekalah yang akan menggantikannya,,
    Siapapun orangnya semua mempunyai hak yang sama untuk memperoleh penghidupan, marilah kita sadari, baik di jogja maupun di borobudur mereka semua pastinya punya kemampuan untuk berusaha lebih baik, ndak usah gontok gontokan kaya anaka kecil rebutan permen,saru ah… dilihat para turis,,
    Sayaliat ada yang udah guiding selama 30, 40, bahkan 50 tahun nggak bosan tuh naek candi terus,apa manfaat yang diambil selama itu ? apa setiap hari cerita borobudurnya berubah? ndak kan ? yang mendirikan masih Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra kan,,,, berilah kesempatan pada yang laen,
    Toh tamunya juga ndak mengunjungi Borobudur aja kan ?
    Itu hanyasalah satu persoalan sepele,, kalau di pikir secara ikhlas pasti damai.

    salam damai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s