TRADISI TRAVEL DIALOG

Sungguh TRADISI Dialog Pasar Wisata rutin rupanya kegiatan efektif mempertemukan pelaku bisnis pariwisata dengan Wisatawan. Hal ini dirasakan di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Selasa 20 April 2010 oleh penggagas dialog bersama Undangan yang hadir. Sebanyak 36 orang Rombongan Dinas Pariwisata Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mewakili 17 institusi pelaku pariwisata, terdiri dari peserta utusan Disparbud Sleman, Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul. Dari Kota Yogyakarta diwakili Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta, Taman Pintar, Akprind dan Ampta. Ikut pula wakil PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Ratu Boko, Asita dan HPI yang diwakili pak Djoko Purwanggono. Sedang pak Andi dalam kegiatan promosi wisata tahunan Disparda ini bertugas mewakili BP2KY bersama mbak Artin dan Bu Trivi.

Seperti diketahui volume kunjungan wisatawan domestik ke DIY selalu meningkat lebih daripada turis asing, prosentasenya lebih dari 90 % dari total kunjungan tahun 2009 lalu. Perbandingan angka demikian bahkan sudah ditemui sejak peristiwa hitam 119 diikuti kebijakan travel ban Negara lain ke nusantara, suasana dalam negeri yang tak kondusif berakibat langkanya wisatawan mancanegara berkunjung. Sejak itu pelaku wisata ramai berusaha melirik kue domestik dengan menggarap total pasar wisatawan nusantara.

Upaya diatas terlihat beberapa Biro Perjalanan Wisata aktif berpromosi menarik calon wisnus, Agen Wisata mulai menjual potensi lokal untuk mereka lebih dari wisman, serta menurunnya pesanan barang kerajinan untuk pasar Eropa dibanding layanan pembelian domestik. Bahkan di pusat-pusat destinasi terasa sekali bagi Pemandu Wisata Asing, karena order justru berdatangan dari pemanduan wisatawan domestik maupun turis dari jiran yang berbahasa Melayu. Hal serupa ditempuh pemerintah, Dinas Pariwisata menggiatkan program promosi wisata ke kota-kota Nusantara melebihi anggaran untuk pasar wisata  MATA Kuala Lumnpur atau ITB Berlin.

Banyak hal penting terungkap dalam kegiatan Dialog Pasar Wisata Jember yang dihadiri 100an Undangan para Guru dan Kepala Sekolah SD – SMP – SMA 31 Kecamatan se Kab Jember. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Bp. Tatang Prianggono menyebut hampir tiap tahun Rombongan Pelajar Jember mengadakan tour wisata ke Jateng – DIY, sebanyak ± 9 Bus. Potensi ini sangat luar biasa. Dari data diketahui sejumlah 460 MI, 89 SMP Negeri, 164 SMP Swasta, 18 SMA Negeri, 41 SMA Swasta, 8 SMKN serta 71 SMK Swasta.

Sedang Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kab Jember, Bp Arif Cahyono, SE., MSc. mengatakan dari total penduduk 2,35 juta orang yang sebagian besar pendatang itu belum optimal mengenal potensi pariwisata, maka dibutuhkan promosi terus menerus. Kekayaan alam Jember seperti Jogja tergolong biasa-biasa saja, namun potensi budaya mereka yang campur asal pendatang itu perlu dikelola maksimal, kini sedang dikembangkan pariwisata berbasis budaya lokal. Disana terdapat 22 Group Reog yang aktif ikut kejuaraan, ada pula potensi budya Osing, festival tahunan Fession Jalanan. Sehingga angka kunjungan wisata terus meningkat 470.000 kunjungan (2008) menjadi 600.000 wisatawan (2009) dengan ocupansi hotel disana > 40 % dari jumlah kamar yang masih terbatas.

Setelah presentasi yang dibawakan HPI teungkap beberapa hasil dialog demi perbaikan kegaiatan layanan pariwisata ke depan, antara lain:

  • Perlunya kordinasi lebih baik sebelum kegiatan tour dilaksanakan, seperti Wisata Kraton mengapa harus melalui dua karcis pintu masuk.
  • Persoalan moda transportasi BECAK yang merusak pengalaman wisata Jogja, terkesan arogan dan ada permainan dengan SatPam Hotel.
  • Makelar penjualan Bakpia yang bekerjasama dengan Tukang Becak, wisatawan merasa dibohongi.
  • Destinasi Kota, yaitu Malioboro dan sekitarnya dirasakan pengunjung tidak aman dan kurang nyaman.
  • Parkir di Alon-Alon Jogja dan seputar wilayah Kota disayangkan bisa menghilangkan citra tujuan wisata Kota Budaya yang nyaman.

Dari keluhan peserta diatas, terdapat penjelasan klarifikasi jawaban. Namun jelaslah bahwa Prilaku wisatawan domestik masih belum diketahui dengan baik oleh pelaku jasa pariwisata Yogyakarta sehingga layanan yang mereka terima kurang masksimal. Lebih dari itu calon wisatawan perlu mengenal dengan baik Destinasi Wisata yang dikunjungi, paling tidak sudi mengadakan Survey Pendahuluan dan bekerjasama dengan Biro Perjalanan Wisata setempat.

Yogyakarta adalah representasi Kota dengan dukungan penuh dari Pemkot, ini telah diakui oleh PTO, sebuah Badan Promosi Pariwisata tingkat dunia. Maka tradisi promosi seperti kini dilakukan Pemda Kabupaten yang tergabung dalam Java Promo ini perlu terus ditingkatkan. Sebelum acara berakhir dibagikan beberapa door prize bagi peserta dialog. Adapun khusus keluhan destinasi Malioboro, saat ini telah ada pusat pengaduan PUT Malioboro telp 555467 yang bisa ditemui di kantor Disparda atau bisa menghubungi Bapak Purwanto 0816 426 1241. Solusi lain sebelum anda melakukan tour ke Jogja, silahkan menghubungi Biro Perjalanan Wisata terdekat atau Himpunan Pramuwisata Indonesia DIY 487650. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s