Website milik seorang guide

Ketika http://www.hpijogja.wordpress.com dibuka .. loh kok di bagian bawah kanan ada link ke Java Voyages, terus mengapa  itu mesti dibahas dalam blog HPI Jogja ??

Ya itu betul ada link ke www.javavoyages.com, dan sangat perlu untuk dibahas karena itu sebuah website yang pertama kali di Jogjakarta yang dibangun oleh  tour guide member HPI Jogja  yang dirintis mulai tahun 2000 dan mulai on line pada tahun 2004, dibuat hanya dengan menggunakan bahasa pemprograman dan html editor yang sangat sederhana yaitu MS Front Page.  Masa  itu internet adalah barang langka dan mahal, warnet belum marak seperti pada saat ini, alat komunikasi tercanggih adalah handphone itupun belum ada fasilitas SMSnya. Itulah  awal dari terobosan yang luar bisa yang dilakukan oleh  salah seorang member HPI untuk berpartisipasi  di dunia pariwisata, yang telah melampaui travel biro dalam berkiprah di dunia pariwisata pada saat itu dan  masih berlaku pada masa sekarang, betapa tidak saat itu memberi kartu nama kepada tamu yang dibawa adalah tabu dilakukan oleh seorang guide, akan tetapi tour guide ini tour guide ini malah membuat website !!. Website yang ada pada saat saat itu hanya dimiliki oleh perusahaan-perusahaan  besar seperti Hotel, Exporter, Pemerintah, Sekolah, bukan individu seorang Tour guide  sedangkan website travel biro, kadang tidak berdiri sendiri, hanya titip iklan di sebuah website yang memang mengiklankan perusahaan  penyedia jasa atau  services, bareng-bareng berjamaah dengan yang lain.

Terobosan yang sangat furistik untuk seorang guide pada saat itu, tidak saja satu langkah lebih maju, akan tetapi ribuan langkah lebih maju dari pada stokholder pariwisata Jogja yang ada hingga saat ini belum ada yang dapat menandinginya, sehingga tour guide semacam itu dapat dikatakan sebagai tour guide yang futuristic tour guide atau sophisticated tour guide, sebutan yang pantas untuk seorang tour guide yang bervisi  jauh maju ke depan menyongsong era globalisasi dengan memanfaatkan teknologi internet yang menjadi  sarana utama komunikasi di jaman modern, dengan mengabaikan aura kehebatan Jogja Golden Triangle seperti yang pernah dibahas dalam artikel sebelumnya yang merupakan daerah mistis yang ada ditengah kota Jogjakarta.

Website tersebut sempat menggegerkan dunia pariwisata Jogja, sampai pada seorang manager travel biro di Jogja kebakaran rambut, sehingga harus memprovokasi travel biro yang lain untuk tidak memberikan order, akan tetapi aksi ini pada akhirnya tidak berhasil, karena tidak dapat membendung sedikitpun langkah maju yang dilakukan tour guide tersebut, hingga akhirnya sang manager malu sendiri dengan ucapannya yang telah menuduh tour guide yang membuat website sebagai terorist pariwisata. Kok bisa ….ya seperti itu ?? Padahal dia  hanya seorang manager travel biro di Jogja yang hanya sebagai tangan kanan travel biro di Bali, yang notabene hanya menengadahkan tangan untuk mendapatkan order dan hanya  tahu  urusan mbagi transport,  ngorder guide, ngumpulke komisi artshop dan tidak pernah sama sekali terlibat dalam marketing, meyakinkan calon client untuk datang ke Jogja, … kok berani-beraninya menuduh tour guide yang harus membuat iklan obyek sendiri, setelah itu meyakinkan calon tourist untuk datang, mengquote sendiri, sebagai seorang tour guide sebagai terorist ???    Bagaimana nalarnya?? …mengapa banyak orang yang tidak menginginkan tour guide sejahtera dengan pariwisata.

Tujuan pembuatan website ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan sang tour guide, terhadap peranan seorang guide di bidang pariwisata di Jogja.  Dari tahun-ketahun tour guide suara tour guide tidak pernah didengar,  tour guide dilihat dari sebelah mata karena hanya dianggap sebagai pekerja yang hanya mempunyai pendapatan hanya dari blas kasihan dari pemilik travel biro yang memberi  guide fee yang hanya dihitung berdasarkan durasi  jam kerja, belas kasihan art shop untuk memberi komisi , belas kasihan touris yang dihandle untuk memberi tips,  gresek-gresek memanfaatkan sisa expend, dan menjual tour optional, akan tetapi tour guide ini mampu membuktikan  bahwa tour guide mampu berperan dalam  terjun langsung dalam dunia pariwisata, dengan membuat hubungan dengan calon tourist dari berbagai penjuru dunia secara langsung tanpa melalui  tangann ke-dua  ke-tiga  dan seterusnya.

Adalah kesalahan besar untuk seorang tour guide yang perkerjaannya sehari-hari berhubungan dengan tamu asing bahkan karena kedekatannya dengan tamu asing,  tour guide mendapat julukan sebagai ujung tombak pariwisata, akan tetapi tour guide tidak mempunyai keinginan, untuk memanfaatkan ladang pariwisata, hanya bergantung dengan travel biro-travel biro di Jogja, yang konon juga tergantung dengan tour operator-tour operator yang bermarkas di Bali. Borobudur, Prambanan dan  ladang emas lainnya  dibiarkan  saja dimanfaatkan oleh orang asing, sementara orang lokal hanya menunggu order dari orang asing yang mampu memanfaatkannya. Menunggu campur tangan birokrat, tidak mungkin, menunggu aksi dari travel biro, juga tidak mungkin,  semua stagnan akibat cara-cara yang tidak  sangat praktis sehingga Java Voyages  adalah acuan atau basic dari solusi praktis dan ekonomis  hasil  dari  reaksi  keprihatinan seorang guide sebagai ujung tombak pariwisata terhadap  keadaan Pariwisata di Jogja, yang diibaratkan sebagai “wanita telanjang, tetapi tidak ada seorang lelakipun yang berani memperkosanya, karena semuanya  impotent !!”. Sebagai tour guide yang langsung berhadapan dengan konsument harusnya lebih tahu apa kemauan, keinginan para pelencong yang datang ke Jogja, tapi mengapa tidak beraksi, mengapa tidak memanfaatkan moment yang sangat potensial ??

Lima tahun telah berlalu, sekarang tahun 2010, tapi ternyata sebagian besar  tour guide Jogja masih juga diam tidak ada reaksi, stagnan, menggantungkan nasib kepada orang lain lambat dan pasif tidak  terinspirasi  untuk  berani membagun website,  namun pernah terdengar ada seorang tour  guide  Jogja specialis bahasa Spanyol yang ingin yang mengikuti Java Voyages, dengan  sebuah membangun website dengan label http://www.yogyatourguide.com, dan website yang lainnya adalah http://www.javaholiday.com atau website bayangannya  http://www.javaholidays.com akan tetapi oleh tour guide pemiliknya website ini disuspended sampai sekarang ,  dengan berkamuflase  bentuk ke account facebook  dengan identitas yang sana yogyatourguide.

Ini besar kemungkinan tour guide pemilik website ketakutan dengan  ancaman sanksi travel buro untuk tidak memberi order lagi, atau memang yang bersangkutan ilmunya tidak sampai, sehingga secara psikologis  dan materi tour guide pemilik website itu belum siap dengan  segala resiko yang bakal diterimanya. Iya memang tour guide yang membuat website tidak akan lagi diberi order oleh travel biro  adalah wajar karena tour guide mempunyai kemampuan untuk mencari tamu sendiri dan menghandle sendiri  sudah  tidak lagi  selevel dengan pekerja  pariwisata,  tetapi dia telah mencapai tingkatan yang selevel dengan pemilik travel biro, hanya ada sedikit perbedaan, tour guide bekerja sendiri dan travel biro mempunyai banyak pekerja.

Betul sekali manusia dituntut untuk berinovasi, layaknya iklan sebuah motor, inovasi tiada henti, perkembangan yang ada harus disikapi dengan bijak, dan bervisi ke depan, jaman terus berubah, inovasi juga harus terus ber akselerasi, bila tidak , tentu hanya kan menambah jumlah penonton.  Thousand staeps ahead……seribu langkah ke depan…..betul terobosan yang dalam ilmu Fisika, sumbernya ilmu alam, sering dikatakan menembus batas ruang dan waktu.

Javavoyages.com, dengan kecurangan provider / server yang serakah, kebetulan mereka server lokal, pernah koma , alias sekarat, atau beku  atau hibernate, untuk tidak mengatakan SUSPENDED, yang tepat barangkali adalah dipause  break sebentar, karena sesuatu hal teknis, website  bersejarah ini, pernah di pecundangi server lokal yang ortodoks konvensional, sehingga request transfer, a la pemain bola Eropa, tidak di luluskan, sehingga pada saat masa tenggang umur sebuah web, habis, server dimaksud, dengan arogan memaksa perpanjangan di server asal, padahal server orisinalnya, sangat memiliki  banyak kelemahan.
Sekarang ini, membangun web, semakin selektif, sebentar lagi tentu akan ada peraturan mentri yang semakin menghambat, maklum birokrasi Indonesia setali tiga uang, susah diajak maju bersama. Bersyhukur pemain inovatif  berpikiran maju dan revolusioner seperti kawan kawan web designer yang sudah eksis di jagad lelmbut, mampu  melalui pencarian yang melelahkan, sampai mengadakan survey ke manca negara, mampu mendapatkan server internasional yang bermaskas di USA, tidak tanggung tanggung, bahkan kawan kawan tersebut, memiliki Portal  sendiri, yang adalah wadah pemain kawakan di jagad lelembutnya, Portal yang mewadahi paguyuban berskala nasional, satu tingkat di atas gabungan biro perjalanan yang semakin ter fragmentation, bila biro perjalanan masih menyusu induk biro travel besar di bali sebagai  penjual Grosir, maka paguyuban ini, justru hanya mewadahi penyedia wisata, yang mandiri, dalam arti yang sudah mampu menjual paket wisata langsung ke konsumen di  5 benua , sehingga dalam perkembangannya, justru kawan kawan revolusioner inilah, yang akan mendistribusikan clients mereka, ke Bali dan seluruh Nusantara, seperti yang pernah disebut dalam artikel Sumpah Palapa inspirasi tour guide.

Investasi memang mahal, tetapi   perubahan dan paradigma pariwisata sudah bergeser, perubahan yang high speed , “Tidak dapat menunggu” kita  jawaban ada di tangan kita, apakah mau ber inovasi, atau stagnan dengan sirkulasi turis seperti saat ini?????

NB: Tulisan ini untuk kalangan sendiri.