Sumpah Palapa sebagai inspirasi Tour Guide

Sumpah Palapa

Di sekitar abad 13 , pada saat kerajaan nasional kedua di tanah air, yaitu Majapahit, diperintah oleh raja belia HAYAM WURUK, pemerintahan kerajaan lebih banyak dikendalikan (operasionalnya ) oleh mahapatih GAJAH  MADA. Saat itu , Nusantara masih tercabik cabik oleh bermacam wilayah dari ujung barat sampai ujunbg timur kepulauan yang sekarang kita kenal dengan nama Indonesia.

Penulis pernah membuat suatu statement, bahwa out put dari ekspansi Maha Patih Gajah Mada, yang dibantu oleh antara lain Panglima NALA dengan armada laut yang sangat kuat, akhirnya mampu mempersatukan seluruh kepulauan NUSANTARA yang terletak di antara 2 samudera raya, yang adalah samudera India dan samudera Pasifik, dan juga di antara dua benua Asia dan Australia, penulis sangat yakin, hainul yakin, kesejahteraan negeri hebat bernama Indonesia ini tidak secerah Malaysia, yang dilaporkan ber income US $ 12.000/orang / tahun , atau yang dikenal dengan istilah  income per kapita. Atau , jangankan di bandingkan dengan income per kapita Singapore, yang mencapai US $ 30.000 , menyamai income di negara industri maju seperti USA dan Eropa.

Di bawah panji Majapahit, sebenarnya, negara-negara itu masih menjadi bagian wilayah Nusantara yang agung, hanya karena ulah kolonialisme yang kemudian membagi bagi wilayah di Asia tenggara menjadi ber macam Negara. Tetapi  haiunul yakin, penulis nyatakan, anggap saja bila negara tersebut masih menjadi bagian NKRI , bisa di pastikan, mereka justru tidak akan se sejahtera sekarang ini, yang kita tahu income RI hanya berkisar di angka US $ 3000 ( tiga ribu ) .

Salah satu devisa yang diprioritaskan oleh Singapore, Thailand, dan Malaysia adalah dari sector Pariwisata, sementara kita masih sangat jauh dari member sekedar prioritas di sector berlimang dollar  ini.

Sebagai bangsa bermental inlander, kita memang terlalu banyak membuang energy dgn sangat tidak efisien, mempermasalahkan sesuatu yang tidak perlu, seperti contohnya adalah, ego sektoral yang sangat membatasi gerak insane pariwisata, seperti misal Pemandu atau Pramuwisata non Balii tidak boleh menjalankan tugasnya di wilayah Bali, ya Bali hanya untuk orang Bali , intinya.

Dengan keprihatinan yang tinggi, Penulis mencari cari konsep bagaimana mengikis habis ego sektoral semacam ini , yang akhirnya melalui survey panjang yang meletihkan, dengan usaha Trial and Error yang berkali kali, di dapatkanlah satu system, dengan masih meminjam konsep pemersatuan Nusantara ala Gajah mada. Dulu Gajah Mada bersenjatakan kekerasan untuk melakukan expansi, tetapi di era modern sekarang ini, teknologi dan kecepatan bergerak menjadi kunci kesuksesan suatu usaha, utamanya di bidang wisata.

Dengan DIRECT  SELLING  melalui  jagad lelembut , akhirnya kita bias mendatangkan TAMU MANCA NEGARA dengan tidak melalui perantara kapitalis yang mencekik leher, tetapi langsung, direct, Konsumen bertemu Produsen , sehingga saat kita mampu mengendalikan semua operasional tour, dengan cakupan seluruh Nusantara, dari kota manapun kita memulainya, alur atau supply wisatawan akan kita kendalikan sepenuhnya, sehingga secara perlahan lahan, Bali bukan lagi milik orang Bali, dan yang lebih heboh, kita bahkan tidak perlu lagi turun lapangan mengurusi acara perjalanan Konsumen kita di Bali, kita cukup mendelegasikan gerakan operasional tour melalui partner kepercayaan seideologi kita di Bali, biarlah mereka mendapat bagian yang menjadi pilihannya, pilihan untuk memandu Turis , sementara kita cukup tetap berada di kota kita masing masing , sambil terus mengupayakan supply kedatangan wisatawan, yang tentu dalam perkembangan yang sudah terbukti , tidak hanya  akan merambah Bali, tetapi juga Lombok, kemudian Komodo , dan Sulawesi maupun  Kalimantan dengan atraksi rumah perahu dan Orang Utan.  Tidak lupa meninggalkan kejayaan Jawa , dengan menu menu Overland tentunya. Sehingga, istilah ortodok konservatif di jaman dulu, dari jawa tengah kita pun mampu menundukkan SILIWANGI ( Jawa Barat )  , berlanjut kemudian BRAWIJAYA ( Jawa Timur ), dan target utama kita UDAYANA ( Bali ) , maupun Lambung Mangkurat ( Kalsel )

Satu persatu mereka tunduk di bawah majapahit , dan dengan sumpah PALAPA modern  nama satelit yang di launching pada thn 1976 , kita pun mampu mengendalikan tetangga tetangga kita di kanan kiri, sekeliling kita, untuk tunduk di bawah komando operasional kita, sehingga kalimat BORDERLESS dalam praktik sehari hari, benar benar bias kita dapatkan.

Hidup DIPONEGORO – Untuk kalangan sendiri

5 thoughts on “Sumpah Palapa sebagai inspirasi Tour Guide

  1. Wo2n

    Wo2n Berkata:
    Komentar Anda sedang menunggu moderasi.
    1 April 2010 at 9:33 AM

    Dear Admin:
    ada member yg menanyakan kepengurusan HPI periode sekarang ini siapa?
    Alangkah Baiknya kalo diapload bagan pengerusan ato struktur organisasinya.
    alasannya supaya kalo tau pengurusnya barang kali ada masukan bisa disampaikan langsung. di lapangan, kita sering tatap muka tp member tidak tau kalo yg bersangkutan sebenarnya pengurus dan punya tugas tertentu.

  2. hpijogja Penulis Tulisan

    Iya segera kita up loads, Tapi mohon maaf dalam struktuktur management tidak ada lagi mbak Tatik

  3. Ping balik: Website milik seorang guide « HPI JOGJA-Jogjakarta Tour Guide Association Official Blog

  4. hari

    yah..kalo dilihat dari perspektive umum emang guide ya kaya pelayan ,tujuan guide kan melayani dalam artian guide punya posisi penting dalam pariwisata,biro perjalanan juga hotel tanpa guide juga akan kelimpungan,tetapi kenapa semuanya dibikin susah birokrasi yg bertele tele pada endingnya juga kaya gitu2 juga cuma rapat n rapat dan hasilnya nol besar
    Melihat pr hotel yg seperti itu akan lebih bagus sang pr jadi pedagan aja ,namanya hotel kan tempat singgah atopun istirahat jadi kalo dilihat dng sistem kaya gitu ,guide akan jatuh wibawanya di mata wisatawan.adoh adoh seko luar kok meh turu hotel di angel angel kudu reservasi dhisik,itu hotel ato tempat bookingan cewe harus pake reservasi dulu .kalo highseason bisa aja pr hotel sombong tapi kalo low season ,munduk2 kaya sapi.sistem kaya gitu harus dihilangkan dah kunooooooooo mas.
    kita jadi member hpi juga ga harus munduk2 n takut dgn birokrasi yg ada kalopun ada browsur dari hotel tinggal kita terima aja gak harus memprioritaskan bahwasanya hotel dul miun bagus facilitasnya,kita cukup menceritakan hal2 yg perlu2 aja .
    emang kebanyakan visitor ingin mengetahui info lebih jauh ttg hotel yg akan di tempati ,info yg harus kita berikan juga yg akurat gak harus ngonkon londone nginap di sana,kalo dari pihak hotel gak menghargai guide buat apa kita harus tunduk ama mereka pada saat mereka membagikan browsur,cukup browsur di bawa trus kasihkan aja ke tukang kacang buat bungkus kacangnya kan mending itu.jadi sesama pelayan salinglah menghormati kita hidup hanya untuk melayani,pr juga pelayan tetapi dalam kapasistas tertentu ,manajer juga pelayan ,kita tuh sama2 batur cuma beda penanpilan ae mas.

  5. adul

    1. dah bgus ada guid yg brsumpah palapa, tpi yg diper1kan msih sneng cakar2an deweq.. nusantara dlm impian, fktanya yg mnikmati pariwisata disini ya ttap bali… sperti diakui jmlah guid yg pnya web bhkan email bisa dihitung jari..

    2. asosiasi hpi susah payah ngajak anggotane belajar IT, hasilnya msih bnyak yg sneng nyusu travel.. bgmn sumpah tsb bisa dinikmati hpi..atau anggotanya!

    3. asita ga rela jika guid pnya tamu dg cara ngoyak TL/owner group dg bagikan kartu nama; mrk bertnya apa hpi pnya ETIKA soal ini.. patih gadjahmada hrs tegas membgi area grilya, biro perjalanan juga sperti guid..macam2, apes ada yg cuma dpt tamu dari bali aja, itupun cman skali 1 bulan

    4. bgmn sharing ide ttg web utk kami yg gagap… mbok diadakan acara di hpi, biar pada ikut..kayak aku..hihi!!! matur teng kiyu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s