Paradigma Baru Pariwisata Jogja

Dalam suatu kesempatan, petinggi lembaga dan pemain lama di jagad perturisan Jogja, pernah mengemukakan keberatan lembaga, mengatasnamakan lembaga, tentang sepak terjang kreativitas oknum oknum anggota Tour Guide / HPI, yang melakukan overlapping, atau melangkah dan bahkan  berlari jauh ke depan, dengan kemampuan mendatangkan tamu langsung secara independen. Lembaga  gerah, kemudian, merasa tersaingi,bahwa sebaiknya kelompok Pemandu Wisata, kembali ke habitat semula, yaitu , mengawal kedatangan turis, terima mateng nya saja, gak usah repot repot merecoki sirkulasi kedatangan tamu, yang dalam benak ortodoks, menjadi domain atau monopoli lembaga barangkali, kala pendapat itu di lontarkan 15 tahun lalu, masih KLOP atau MATCH, tetapi saat anggota kelompok pemandu wisata, memiliki tuntutan, menyekolahkan 3 anaknya ke bangku kuliah, berobat yang tidak pernah di cover oleh pemberi order yang puluhan tahun mempekerjakannya, dan kebutuhan lain yang menuntut nominal sangat tinggi, dan Lembaga  sendiri semakin tidak fair dalam mensuplai tamu, karena terlalu banyak TERM  AND CONDITION yang diberlakukan (syarat dan ketentuan, diantaranya faktor like and dislike, bukan sekedar need and want) pun masih disertai pra syarat tertulis maupun tidak, diantaranya, guide fee yang di ulur-ulur  dan pembagian prosentase komisi belanja yang semakin hanya berpihak ke pemilik modal  maka, si pemandu tadi, sebetulnya juga hanya karena perlakuan lembaga yang arogan, exploratif dan monopolif, yang kemudian membuat guide berinisiatif, kenapa tidak mencari tamu sendiri?? Internet, email , sms menggunakan HP, adalah hanya sekedar mekanisme, jangan salah anggota HPI, banyak, bahkan terlalu banyak yang lulusan sarjana Universitas Dalam negeri atau  luar negeri, atau setidaknya pernah ke LN, bukan hanya sekedar lulusan akademi bahasa asing TOM & Jerry, sehingga sangatlah wajar, kalau mereka memiliki network di LN, yang pada akhirnya, bisa mereka manfaatkan untuk mendatangkan tamu. jadi, lontaran Lembaga  yang keberatan degan fenomena ini, adalah :

1. Salah Lembaga sendiri, tidak kreatif, stagnan.

2. Sudah sangat terlambat , semestinya, memang domain dan perburuan tamu lewat internet, salah satunya , sudah harus mereka kenal dg dukungan sumber dana dan sumber daya manusia yang jauh lebih bonafid dari pelaku tour guide.

3. Tour guide memiliki jaringan kerja, bukan hanya di seantero tanah air, tetapi juga di LN dengan cost yang sangat murah, tour guide akan dengan mudahnya membangun jaringan, dari Orang Utan sampai degan Komodo.

4. Paradigma bergeser, saat ini, kalau PKB sebuah partai politik, juga memiliki 2 versi, di dalam tubuh lembaga pun, ada fregmentasi , yang membuat lembaga  akan tercabik secara organisatoris, kepemimpinan D akan berhadapan dgn versi lain lembaga masyarakat pemilik usaha, yang dipimpin salah satu pengurus teras lembaga  pada jamannya, misal Mr.Y , sehingga menjadi satu tuntutan pasar, kembali lagi, bahwa praktek monopoli tidak mampu lagi bertahan.

5. Dengan semakin terbukanya cara cara ber organisasi, berserikat yang dijamin undang undnag, kita akhirnya mengenal akan satu asosiasi terbaru di dunia per-agen an turis, yang bahkan, tidak mengenal BATAS atau BORDERLESS, dengan langsung membidik segmen internasional tanpa aling-aling sudah lama kita kenal kehadiran penyeimbang yang mampu menjawab tuntutan pasar, dengan manuver yang high speed, akurat, terpercaya dan sangat AFFORDABLE secara rate, sekali lagi, saat ini, lembaga yang mengharuskan calon membernya harus berkocek tebal ( karena mensyaratkan bentuk badan hukum PT (perusahaan terbatas), dan deposit US $ 650,- yang bersifat Non Refundable, sehingga sangat sulit di akses oleh pelaku pariwisata berlatar Ekonomi Lemah atau UKM, yang hanya bermodal mobil sewaan,), maka hadirlah satu asosiasi yang mampu menembus dimensi ruang, waktu dan generasi, sebuah Network yang terkoneksi  dari Sabang sampai Merauke melakukan perburuan tamu dari 5 benua, tidak ada yang merasa berhak atau paling behak mengklaim milik asosiasi tertentu, bahkan kalangan akademisi, seperti universitas ternama pun, ikut meramaikan dgn menjadi EO salah satu seminar yan  dihadiri ratusan peserta dari LN , sehingga, si universitas bersangkutan juga sudah melakukan praktek usaha yang selama ini menjadi monopoli lembaga. sadarilah, bahwa lembaga itu tidak lagi sendirian, EAGLE DOES NOT FLY ALONE ANYMORE siapa yang akan menang, ada  etika seleksi alam yang harus di buktikan…. kecendurungan calon wisatawanpun, lebih nyaman dgn reservasi on line….

Semudah itukah?

Sayangnya, membangun sebuah web dgn domain menarik, sangat mahal sekarang ini investasi 5 juta rupiah , setidaknya diperlukan untuk mendapatkan lisensi kepemilikan sebuah web yang ber nama domain strategis , mahalkah itu? kembali lagi tergantungkepada, political will si pelaku , investasi memang tidak murah, tetapi tuntutan pasar tidak bisa menunggu,jer basuki mowo ragat? semua domain berkaitan dengan kata kata JAVA atau BOROBUDUR atau Jogja atau YOGYA atau BROMO atau IJEN, dan yang sejenis, sudah habis terborong, pelaku berkecapatan tinggi dan berpikiran revolusioner ,  yang tersisa adalah , domain mahal seperti travel atau biz , karena domain berakhir kata COM ataupun NET sudah SOLD  OUT
Pilihan di tangan saudara saudara …… milyaran NETTER  siap mengakses

Catatan:
Artikel ini tidak dapat sama sekali dipertanggungjawabkan
karena merupakan  personal persepsi, interpretation yang tidak teruji secara akademis  dan ditulis untuk hanya kalangan internal sendiri. Penggunaan materi dan kosa kata tanpa seijin penulis arikel dapat dituntut secara hukum sebagai bentuk pelecehan dan perbuatan yang tidak menyenangkan.

4 thoughts on “Paradigma Baru Pariwisata Jogja

  1. Made Bartha

    Ah….Ah….Ah…ilustrasi diatas menunjukan siapapun oknum penyampe pernyataan itu “the losser” oknum agent yang sudah tidak punya tamu, sesekali brossing dong biar tahu bagaimana dunia maya itu sudah penuh dengan domain pelaku bisniss prigresive dari all around the world kalau anda hanya melitat guide lokal sebagai pesaing anda seharusnya tutup counter saja berarti anda tidak punya power, power anda ada pada kekuatan seorang tour guide. Agent seperti itu sebaiknya dijauhi saja, dia agent yang merusak harga tour kita saja. membuat kuotasi semurah mungkin dengan asumsi dapat tamu banyak sekarang tamu sudah bisa membaca,memilih bagaimana cara dia datang ke obyek wisata dengan mendapatkan service excellent…kenapa oknum itu tidak mengatakan pernyataan yang sama pada hotel…mana berani…udah ya gitu saja sudah jelas dah…

  2. Edi Amplop

    Ah Mas Bartha, sok pinter juga ngurusi quotation saja.. loh kok masih guiding ?? Soal quote murah dll itu urusannya agent bukan urusannya guide guide itu yang penting .. guide fee siapa yang mampu bayar tinggi itulah agent yang baik. Agent bangkrut belum tentu guide bangkrut… Agent ataupun tour guide yang tidak mengikuti pro aktiv akan tergilas oleh jaman.

  3. Syeh Bela Belu

    Setelah saya cermati, Bapak Bartha ada yang salah persepsi dalam memahami tulisan “paradigma Guide….”.
    Justru pernyataan itu ditulis oleh seorang guide yang mempunyai visioner yang berbeda dengan yang lain sehingga mengkritisi lembaga pemberi tamu (job) karena ketidaksingkronan atau ketidaknyamanan dalam menghadapi modernisasi sehingga saegala informasi dan pengetahuan yang dulunya hanya dimiliki oleh suatu lembaga pemberi job, sekarang diketahui juga oleh pihak penerima job seiring dengan canggihnya jaman melalui telpon, hanphone dan internet.
    Kita perlu bijaksana dalam menyikapi itu karena itu adalh realita tantangan masa kini bukan sebgai saingan.

    Kesimpulannya: tidak ada “the losser” dalam dunia pariwisata ini bagi yang punya visi luas dan berani melangkah jauh ke depan.

  4. hari

    jaman saiki wes bedho mas sama jaman dulu sekarang era komputer ,maka bijaklah dalam menyikapinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s