Alasan tour guide mengundurkan diri

HPI Jogja menerima email dari sorang guide yang  20 tahum berkerja menjadi seorang  guide akan tetapi dia harus menghentikan dedikasisinya sebagai seorang guide de Jogjakarta dengan berbagai alasan yang akan dibahas dalam posting ini. Jogjakarta  sekarang kekurangan seorang guide dan masih ada 30 pasang tamu yang belum mendapatkan tour guide untuk berwisata di Java, dengan mundurnya rekan kita ini, namun kita masih dapat berbagi pengalaman ide dan kreasi dengan teman kita ini, untuk menjadi seorang tour guide yang professional dikemudian hari dan dijadikan pertimbangan  untuk menjadi  tour guide.

Alasan-alasan mengapa teman kita berhenti bekerja  menjadi seorang guide:

Sistim pembayaran.
Guide fees yang dihtung berdasarkan durasi kerja yang berdasarkan   jam, misalnya Borobudur tour durasinya 4 jam, Prambanan Tour durasinya 3 jam, transfer in  durasinya 1 jam, Check our durasinya adalah 1 jam, perhitungan berdasatrkan durasi akan sangat. Aturan tersebut  sangat  terasa tidak menguntungkan  apabila  tamu mengambil paket tour  selam 4 hari , dengan tour itinaeray sebagi berikut  hari 1 check transfer in, hari ke 2 Borobudur, harike 3 Prambanan tour, Hari ke 4 Transfer Our , untuk program sperti ini Tour guide akan dihitung bekerja  hanya (11 jam x Rp 15.000) = Rp 180.000. Kalau Rp. 180.000:4hari berarti sehari adalah mendapatkan RP 45.000.  Padahal order dating tidak tiap hari sebulan maximal 4 x kerja selama 1 bulan. Adalah teramat sulit untuk hidup hanya menjadi guides dengan 1 spesialis bahasa, bahasa Prancis karena bekerja hanya musim panas ketika  bayak orang Prancis berlibur sehingga bekerja hanya 4 bulan selama setahun.

Menyediakan Akomodasi buat driver.
Bermula dari cara lama untuk menyediakan accommodasi untu driver dan tour guide selama melakukan perjalanan, overland sehingga uang untuk accommodasi dititipkan ke tour guide untuk dikelola. Akan tetapi masa berubah seiring dengan kemajuan jaman sehingga biaya akomodasi tidak lagi disediakan untuk tour guide dan driver. Dalam Overland tour pada masa sekarang  guide dibebani biaya akomodasi untuk driver secara tidak tertulis. Untuk  overland tour ini juga sangat tidak menguntungkan bagi tour guide, karena sepanjang perjalanan tidak harus, kan tetapi karena sudah menjadi kebiasaan, menyediakan akomodasi buat driver, dengan maksud agar tour berjalan lancar, tidak ada konflik dengan driver. Akan tetapi ini secara kasat mata sangan merugikan. Perhitungan beban seorang guide untuk driver untuk tour ke Jogja Overland Malang ke Bromo  sebagai berikut: berangkat ke Jogja stop di Solo berhenti di Mangku negaran, beli teh dan jajanan untuk berdua Rp 15.000.  Sampai di Malang, makan malam minimal Rp 20.000, Hotel kecil yang murah habis dapat yang Rp75.000. Hari berikutnya sarapan berdua Rp 20.000, Makan siang Rp 30.000 sampai di Bromo makan malam Rp 30.000, kamar yang tersedia paling murah di Cemoro Lawang adalah Rp 50.000. Habis tour ke Surabaya makan siang Rp.30.000 , kembali ke Jogja stop makan malam Rp 40.000 sehingga total untuk tour Jogja Malang Bromo Tour guide menghabiskan: Rp 310.000  sedangkan guide fee yang didapatkan adalah untuk overland tour  2 malam adalah Rp 600.000 sehingga untuk tour guide mendapatkan keuntungan bersih Rp 291.000. Seandainya berbagi dengan driver pendapatan tour guide tidak begitu tergerus habis, sehingga ada sisa untuk keluarga di rumah.

Kebebasan yang terbelenggu
Di jaman modern ketika internet semakin berkembang, adalah hak semua orang untuk memanfaatkanya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, namun tidak untuk guide, Di  awal 200an, ketika sebuah travel buro di Jogjakarta yang merupakan wakil  travel buro Bali, menemukan  sebuah website  milik tour guide, langsung officernya perempuan yang rambutanya kriting mendeklarasikan tour guide tersebut adalah terorist dalam pariwisata, sebutan yang popular pada saat itu karena pada masa yang sama telah ditangkap  2 orang teroris yang benama Amrozi dan Imam Samudra. Siapapun tidak terima disamakan dengan terroris, termasuk tour guide tersebut. Adalagi deklarasi ditujukan langsung ke travel biro di mana tour guide tersebut bekerja, agar berhati-hati untuk terus menggunakan jasa tour guide tersebut dan ada maksud lain kalau bermaksud untuk “mateni pangane tour guide tersebut, padahal dia jualan tiket Borobudur Prambanan yang tabu dijual kepada khalayak  juga tidak diusik-usik oleh tour guide”.

Membuat website saja disebut terorist  dunia pariwisata itu memunjukkan bahwa kebebasan tour guide sangat dibelenggu.  Ini terror yang ditebar travel buro  tour guide agar tour guide ketakutan untuk mengembangkan diri, sehingga saat ini tour guide di Jogjakarta berpantang membuat website blog atau email, bahkan hanya member kartu nama pun sudah ketakutan.

Harga diri yang diijak-ijak
Ini adalah sebuah cerita nyata bagimana seorang guide direndahkan martabatnya. Sebuah kantor travel buro yang merupakan juga rumah pribadi  sang juragan yang sekarang telah sadar untuk menjauhi maksiat dengan berhaji (kalau betul)  di rumah itulah tour guide datang untuk mempromosikan dirinya sendiri, akan tetapi tanpa diketahuinya uang yang berada dilaci sebuah kantor travel buro yang berada di utara tersebut hilang, tidak ada yang tertuduh selain tour guide tersebut yang datang pada hari yang sama,  “kau guide itu maling.. !”  Ini menandakan bahwa  betapa tour guide  tour guide, oleh sang bos  ditempatkan pada kasta yang lebih rendah, dari kasta sudra,  uang hilang karena anak sendiri yang jadi maling, Tour guide yang dituduh, mengapa sang juragan tidak menginterogais kelurganya sendiri, suamianya, anaknya atau pegawenya yang tahu apa yang ada didalam laci.

Ditohok dari belakang oleh teman sendiri
Seiring dengan pasang surut travel buro, maka tour guide yang biasa bekerja di sebuat travel biro A lambat laun order berkurang, akan tetapi yang bekarja di ravel biro B menjadi banyak job, ini menjadikan iri sorang teman seprofesi tour guide.  Dengan cara yang licin cari muka dimana-mana, yaitu dengan mengambil info  kebiasaan tour guide di travel B, informasi  tersebut akan dijadikan sumber berita gosip sehingga sang pemberi order bersimpati dengan memberi  order sebayak-banyaknya, cara lain adalah  dengan memutarbalikan fakta –fakta, berbicara  tentang ini di travel biro A dan berbicara itu di travel B, sehingga sang  memberi order akan bersimpati untuk memberikan lebih banyak order.  Kisah guide mogok untuk menuntuk kenaikan guide fee  Rp 3000/jam adalah contoh dari teman yang mengumpankan teman sendiri, dengan kata lain “lempar batu sembunyi tangan”, atau pembagian komisi yang tidak adil ketika membawa tamu rombongan adalah dapat disebut menohok teman sendiri.

Tidak ada jaminan social
Ketilka memasuki masa pensiun pada umur 60 tahun untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari tour guide masih saja berkerja, panas-panasan, jadi sales artshop, masih memikirkan besok mau makan apa, bayar anak kuliah pakai apa, padahal untuk usia 60 tahun sebagai pegawe negeri umur 60 tahun adalah masa-masa untuk menikmati masa tua, senang-senang, touring keliling dunia, naik haji dll. Ah… umur 35 tahun, berherti sajalah jadi guide mumpung masih ada umur, cari usaha yang lebih menjanjikan untuk persiapan masa tua sebelum mati, karena stress, strok, serangan jantung,  darah tinggi dan biaya ditanggung sendiri walaupun ketika guiding karena berdasarkan  pengalaman, sebagian besar  seorang tour guide di  Jogjakarta meninggal dunia dalam keadaan merana, karena serangan jantung atau strok, penyebab kematian yang  biasanya disebabkan karena tekanan dan tuntutan hidup. Seoran teman dari Jakarta berkomentara “Ah kasihan  juga jadi guide, sudah jadi simbah masuk panas-panasan untuk ngumpulin duwit Rp 100.000 “

Alasan tersebut di atas tidak dapat digeneralisasikan untuk tour guide  di Jogjakarta karena  ditulis berdasarkan pengalaman hidup seorang guide, yang tentunya satu dengan yang lain kan saling berbeda-beda, tulisan ini diharapkan menjadi inspirasi yang dipertimbangkan menata masa tua sebagai tour guide.

Catatan: Artike ini menggabarkan tidak enaknya menjadi tour guide

Artikel ini tidak dapat sama sekali dipertanggungjawabkan karena merupakan  personal persepsi, interpretation yang tidak teruji secara akademis  dan ditulis untuk hanya kalangan internal sendiri. Penggunaan materi dan kosa kata tanpa seijin penulis arikel dapat dituntut secara hukum sebagai bentuk pelecehan dan perbuatan yang tidak menyenangkan.