Tour guide di Yogyakarta kurang memanfaatkan internet

“Tour guide di Yogyakarta kurang memanfaatkan internet”  judul di atas kelihatan mendiskriditkan tour guide di Yogyakarta, tetapi  judul di atas adalah gambaran yang nyata tentang sikap guide di Yogyakarta yang memang kurang memanfaatkan internet, sebagai sarana komunikasi modern, atau menawarkan jasa pemanduan langsung ke user  di luar negeri !!

Bagaimana cara mengetahui bahwa tour guide di Jogjakarta kurang memanfaatkan internet ??
Kami menggunakan cara mudah yang sangat  digunakan sebagai indikator, walaupun tidak valid untuk dipertanggung jawabkan secara akademis antara lain seperti point-point tersebut  dibawah ini:

1. Cari kata-kata di “search engine”yang berhubungan dengan: “tour guide, yogyakarta, borobudur atau yang lain” yang berhubungan dengan pariwisata di Jogja, anda sulit sekali menemukan  nama tour guide  yang menawarkan diri untuk menyediakan layanan wisata di Jogja. Hal ini berbalik dengan ketika, kita menulis di “search engine” kata-kata tentang pariwista yang berhubungan dengan  Bali, maka banyak sekali tour guide di Bali, yang menawarkan diri untuk meyediakan layanan wisata transport atau tour paket di  Bali.
2. Cari website di “search engine” yang menawarkan tour ke Borobudur atau Jogja dan Bromo, pasti akan anda temukan website yang menawarkan tour ke Borobudur, Yogyakarta, Bromo dengan alamat di Bali,  bukan  beralamat di Jogja kalaupun ada di Jogja pasti tidak ada satupun yang merupakan tanda-tanda website milik seorang guide.
3. Dalam “comment” sangat jarang tercatat adanya tour guide yang membaca artikel di blog HPI Jogja.
4. Dalam statistik kunjungan, website jarang dibuka oleh IP yang berasal dari Yogyakarta.
5. Account Facebook jarang ada guide di Yogyakarta yang posting sebuah artikel, atau comment  sebuah artikel.
6. Dari isian her registrasi member HPI, didapatkan bahwa hanya 10% total guide yang tercatat,  memiliki alamat e-mail yang aktif dan dapat dihubungi, itupun hanya guide-guide yang muda  berumur dibawah 30th.

Gambaran di atas adalah sebagian kecil dari cara mencari keterlibatan tour guide di Yogyakarta dalam pariwisata di dunia internet.

Penyebab guide kurang memanfaatkan internet:

1. Kurang wawasan, tdak tahu bahwa internet adalah sebuah perpustakaan, masyarakat, supermarket  yang sangat besar tidak terbatas ruang, politik dan waktu.
2. Kurangnya rasa ingin memperbaiki kehidupan, karena anggapan bahwa profesi menjadi  tour guide adalah saat ini sebagai pekerjaan sangat istimewa, menghasilkan banyak uang.

Diibaratkan dunia pariwisata di internet itu sebagai “samudra”  yang kaya dengan beragam ikan, akan tetapi tour guide adalah diibaratan  sebagai “nelayan” yang  bergantung dengan majikan pemilik kapal, jutaaan ikan bertebaran di samudra, sedangkan sang “nelayan” hanya puas dibayar seekor ikan oleh pemilik kapal, sedangkan sisanya yang masih ada di samudra diambil orang lain.

Kebodohan tour guide di Jogja semakin terlihat ketika tour guide lebih suka menerima bayaran dari lokal tour operator yang hanya sebesar US 20 /day, sedangkan kalau menjual langsung ke pemakai di luar negari, tour guide dapat menjual jasa dengan harga  US $ 50/day.

11 thoughts on “Tour guide di Yogyakarta kurang memanfaatkan internet

  1. Made Bartha

    Wah pernyataan itu terlalu extrem semua temen saya kira mau memanfaatkan IT tapi banyak alasan membuat temen-temen belum memanfaatkan IT yang jelas alasan economi. Sudah memiliki HP yang ada pasilitas internetpun ternyata tidak cukup kita harus juga tetap menjadi pelanggan warnet. Saya bertanya dari sudut pandang apa sehingga menyimpulkan temen -temen guide jogja kurang memanfaatkan pasilitas internet kan tidak suatu keharusan kecuali memang temen -temen yang sudah melangkah lebih jauh dari sekedar guiding tamu yang di berikan oleh travel agent ada temen yang sudah aktif mencari tamu sendiri. Anyhow IT itu sangat penting saya kira ketua HPI kita sudah mempasilitasi pengenalan internet pada temen-temen perlu diperbanyak temen yang diundang…Ok salut buat Pak Ketua memperatikan anggotanya makasih

  2. hari

    yg penting gak gaptek,kalo ada guide yg gaptek itu cuman guide aji mumpung di pake sukur gak di pake gak papa.karna yg diperlukan sekarang adalah it ,dari situ kita bisa melihat bagaimana kecilnya wawasan kita begitu kita browsing via internet ato pun google ,binq n yahoo.mata kitya akan terbuka luas,tapi moga2 yg di sini gak gapteklah.

  3. Yogyakarta Tourism Penulis Tulisan

    Contoh lagi bung Hari, Kalau ada 400 guide harusnya minimal mempunyai 800 account e-mail, tapi kenyataan, ada 400 guide email yang ditercatat ada 10 an, ini bagaimana bung!

  4. Edi Amplop

    Mas Bartha, alasan meraka tidak tahu IT tidak tepat bung.. mereka juga menggunakan internet tetapi hanya untuk hanya chating cari janda kesepian…mau dilanjut gak mau ya, cari lagi…atau untuk menikmati gambar2 porno, bukan untuk surfing cari peluang di internet.

    Perlu dicatat bung, mereka punya hp canggihpun mahalpun fasilitas yang digunakan paling hanya sms saja,atau memorinya dignakan untukmenyimpan video porno, padahal untuk dapat koneksi internet paling tidak sampai 500.ribu/bulan.. tapi bukan bukan itu masalahnya bung, guide mengabaikan internet karena masih ingin jadi kaya dengan menyadarkan nasibnya dengan komisi… kalau tidak mbayar.. atau ngamplopi orang yang ngasih order.. biar jadi orang yang diutamakan.

    Bukankah bung Bartha tahu bahwa, cara instant jadi kaya lebih menarik daripada cara kaya dengan keringat !!

  5. syeh bela belu

    mari kite buktikan kalo guide jogja tdk gaptekIT.
    Dengan mengatakan guide kurang menguasai IT pasti akan smankin banyak yang tidak terima dan komentar lewat internet, so itu artinya memacu teman2 utuk belajar IT spy bs ikutan komentar.

  6. Edi Amplop

    Betul sekali, Mas
    orang itu agar tersadar kalau hanya dengan cara alus tidak pernah mempan, agar tersadar memang harus ditampar “plek..plek!.

  7. seh bela belu

    ada 400 guide jogja tp yg di daftar ke sektretriat hanya puluhan email.
    maybe karena masih ada guide yang merasa takud di blacklist kalo punya email.

  8. hari

    hpijogja Berkata:

    20 Maret 2010 at 5:11 AM

    Contoh lagi bung Hari, Kalau ada 400 guide harusnya minimal mempunyai 800 account e-mail, tapi kenyataan, ada 400 guide email yang ditercatat ada 10 an, ini bagaimana bung!
    mas sebetulnya mereka tuh gak gaptek banget cuman kadang ada perasaan malu kalo ngasih email atopun fb,bagi mereka buat apa seh paling juga gak di order.hal ini sebetulnya penting ,saya sendiri berkecimpung lama guiding dan th 1996 pertama kali saya mengenal internet dari situ saya browsing dan juga sempat dapat wawasan yg sebelumnya guide hanya sebatas city tour info2 lainnya juga masih kurang tapi dng browsing mata kita akan terbuka ,di era th 2000 guide sudah pada mengenal inertnet tapi hanya sebatas chat n browsing gbr cewek,tetapi hal ini saya maklumi dari awal emang harus berjalan begitu nanti akan ada fasenya rasa bosan dan mulai browsing dan barulah terbuka matanya bukan celananya [yg dulu2 selalu terbuka sehabis liat gbr cewek telanjang ]bahwasanya dunia guide identik dng ilmu pengetahuan ,karna yg di butuhkan adalah ilmu agar wawasan yg kita pelajari bisa di share buat mereka2 yg kurang tahu,ilmu harus di share sesamanya gak harus guide tetapi org yg membutuhkan.
    Guide itu ibarat seorang guru yg membimbing muridnya yg buta soal lokasi wisata ,sejarah juga hal2 yg berhubungan dng yg lainnya,jadi kita itu adalah guru yg di hargai oleh murid2nya tetapi kita di tekan oleh birokrasi yg ada sekarang ini.
    Dari dulu emang jarang guide di undang untuk acara resmi di hotel2 atopun di tempat lainnya ,mereka menganggap gak perlu undang2 guide karna ngabisin biaya,mending bironya aja.Hal ini yg membuat guide2 jogja masa bodoh,sakarepmu sing penting aku dapat job karna mereka dipandang sebelah mata.Coba kalo ada even2 tertentu guide2 di undang mereka akan senang dan merasa di hargai ,ada kebanggan tersendiri dari pada bawa klient asing.ngono ae mas

  9. virna

    Di cari tour guide yang bisa bahasa prancis dan arab untuk pejabat yang datang dari al jazaer, rencananya mereka akan singgah di jogja pada 22 – 23 juli,
    Terima kasih atas kerjasamanya

    salam
    putri

  10. ki Sambang Dalan

    Tour Guide yang punya internet takut di black list? apa kata dunia?
    Coba skrg tamu rata3 crita ttg IT. apa guide akan plonga plongo aja. kan tdk bgt? trus kalo guidenya plongaplongo ndak ngerti IT, tamunya akan menyimpulkan kenapa sy dikasih guide plongaplongo kaya jaman jadul pdhl tourist nya udh booking lama dan bayar mahal alias banyak euro, dolar or ringgit yg dibayarkan ke agentnya di luar negeri. kalo bgni yg kena kan travel agent yg di sini jg to. Tp mmg ada yg berpendapat begitu to kalo guidenya punya email otomatis travelnya akan kelangan agent. How picik you are? kata dunia
    Trus dunia jg berkata “travel yg punya pikiran seperti itu sebenarnya pertanda bahwa travel tersebut sedang mengalami masalah” Benarkah? kita tunggu aja deh.
    Toh banyak juga travel yg jg sangat bangga kalo guide nya up to date, mengerti perkembangan jaman dan guidenya punya email tapi travelnya tetap exist bahkan agentnya di luar negeri jg percaya dengan guidenya disini. serahkan saja kepada penilaiiannya.
    Dunia berkata” jangan takut punya email,
    jangan takut punya no handphone, dan jangan takut punya internet! ini adalh bagian dari kehidupasn masa kini. skrg jamanny IT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s