GANDHAVIYUHA

GANDHAVIYUHA
Prolog Gandaviyuha yang ada di Candi Borobudur menggambarkan sejumlah mukjizat yang dipertunjukkan oleh Buddha Shakyamuni dalam simhavijrmbhita-samadhi sebagaimana yang sudah diuraikan di bagian terdahulu dapat dianggap sebagai kelanjutan yang sahih dari panil terakhir Lalitavistara yang secara esoteris dapat dijelaskan bahwa saat Buddha menyampaikan Arya-Sattya , beliau selaku yang sudah mencapai Kesempurnaan itu juga sedang memancarkan segenap kebesarannya , meskipun barangkali ke lima murid pertamanya tidak melihatnya secara langsung, tetapi apa yang disampaikan tentang Empat Kebenaran Sejati itu sudah dapat dianggap identik dengan kekuatan spiritual yang dimiliki seorang Buddha. Metaphyisika dan Mistik berkembang seiring dengan perkembangan Buddhisme dan Vajrayana serta Tantrayanaa pun kemudian sangat mempengaruhi beberapa perubahan dalam struktur arsitektural Borubudur dalam proses pembangunannya. Dan secara cerdik pula pasti pemilihan sutra untuk relief juga mempertimbangkan segi pluralitas ini, termasuk Gandaviyuha yang kemudian
harus dirangkai juga dengan dhatu ketiga yakni Arupadhatu yang akan kita singgung nanti meskipun tidak terdapat relief bernarasi yang divisualisasikan disana. Gandhaviyuha yang diangkat dari kitab Budhaavatamsaka-sutra, menceriterakan perjalanan seorang pemuda atau anak yang bernama Sudhana dituntun oleh Boddhisattva Manjusri agar mengadakan perjalanan panjang menemui sejumlah 53 kalyanamitram untuk bertanya dan mendapatkan penjelasan mengenai praktek keagamaan , satu demi satu kalyanamitra atau guru menceriterakan berbagai peristiwa dan kejadian yang pernah dialami, kebanyakan pengalaman mereka adalah dari kelahiran mereka terdahulu yang kemudian menggiring mereka kepada kualitas kelahiran mereka yang kemudian. Setiap guru setelah selesai berwawancara dengan Sudhana mengirim Sudhanake guru berikutnya, kalyanmitra mencakup berbagai strada kehidupan seperti para pekerja seni, ahli pengobatan, pelayaran, keuangan, hukum, para pertapa, bhiksu, bhiksuni, dewi dewi, dewa yang tinggi, bahkan anak anak kecil serta guru yang sama sekali tidak berbicara apa apa kepadanya , kemudian boddhisattva sampai kepada Buddha yang akan datang yakni Maitreya dan terakhir Sudhana menemui guru  terakhirnya yakni Bodhisaatva Samantabhadra mendapat inisiasi dari Samantabhadra pada akhir perjalanannya . Sudhana mendapatkan Penerangan Sempurna dengan mengalami langsung semua kenyataan yang absolute. Sutra ini sangat panjang dan menjadi yang terpanjang dari semua sutra yang ada dari faham Mahayana Gandaviyuha di dimunculkan dalam dua seri yang berupa pengulangan saja. Lengkapnya berjumlah 540 panil relief. Mengapa harus diulang sampai dua kali masih menyisakan pertanyaan.Yang pasti bukan karena tidak ada sutra lain yang cocok dengan misi Borobudur . Bukankah Paramitasutra dan Dasabhumikasutra juga bisa di hadirkan dalam relief ? Persoalannya adalah Paramitasutra dan Dasabhumikasutra serta sejumlah lainnya sesungguhnya sudah terwakilkan didalam Gandaviyuha itu sendiri ketika sederetan Dewi menjadi kalyanamitra dari Sudhana dan pengembangan tingkat yang dialami oleh Sudhana tahap demi tahap setelah pertemuan dari guru ke guru. Jadi apakah sedemikian pentingnya Gandaviyuha, sehingga umpamanya kita anggap saja seri pertama sebagai persembahan dari oleh Samarotungga dan Seri kedua adalah persembahan dari Sri Pramodhawardhani. Sebagaimana para pembesar dari Pra Sanjaya dan Sanjaya yang Shivaic mendirikan candi candi yang begitu banyak berderet deret seperti yang kita ketemukan di candi Gedong Songo dan candi candi di Dieng . Semuanya candi pemujaan terhadap Shiva. Alasan juga bisa diberikan sebagai upaya toleransi yang ditunjukkan oleh keluarga Shailendra terhadap keluarga Sanjaya untuk tidak terlalu banyak mendirikan bangunan baru karena sesungguhnya Shailendra adalah pendatang ( ? ). Misi Gandaviyuha yang dibawa disini agar setiap orang mengikuti jejak Suddhana . Sang Maharaja Samarotungga sendiri bisa diibaratkan Suddhana, terbukti dari tokoh Sudhana yang ada di Borobudur ditampilkan dengan pakaian kebesaran seorang raja, lengkap dengan songsong dan prosesi disetiap tahapan perjalanannya dengan tandu, kuda, gajah ataupun berjalan kaki, melukiskan kebesaran seorang raja. Dari teks
Gandaviyuha menurut yang pernah membacanya, Suddhana hanya mengadakan perjalanan solo tanpa ada pengikutnya , dan dilukiskan sebagai anak laki laki berusia 9 tahun, sebagaimana yang digambarkan pada Gandaviyuha versi Cina dan Jepang. Kita menemukan keunikan karya Jawa klasik yang penuh kebebasan dalam improvisasi dan bermulti makna. Perjumpaan kembali Suddhana dengan Bodhisattva Manjusri sebelum ia bertemu dengan Kalyamitra terakhirnya yakni Samantabhadra, kemudian Sutra Badrachari yang bersifat memuliakan Samantabhadra menutup keseluruhan kronologi perjalanan Sudhana sebagai epilog dari Gandaviyuha. Pada panil panil terakhir Badhacari ditampilkan sederetan Buddha Buddha dari kalpa kalpa sebelumnya , maka arca arca Vajrasattva yang terdapat setiap sisi galeri IV dan arca Vairocana yang ada didalam 72 stupa pada Arupadhatu bisa dianggap mewakili Buddha Budha tersebut. Lebih jauh puncak monument sebagai lambang primordial dari semua dyani Buddha yang ada di Borobudur di fantasikan sebagai Mahavairocana atau Adhi Buddha, yang tak lain tak bukan adalah manifestasi dari Buddha Shakyamuni sendiri dalam  faham Vajrayana. Dari penampilan sutra sutra kedalam rangkaian relief yang mungkin mencapai 3 km panjangnya itu dapat dinyatakan bahwa Borobudur telah mewakili semua aliran dan faham yang ada secara sangat halus dan berbudaya. Shailendra menggabungkannya menjadi satu kesatuan yang utuh yang mewujudkan Borobudur sebagai keajaiban dunia yang berlatar belakang misi penyelamatan dengan kemuliaan Karunia Dari relief Gandaviyuha kita akan mengenal sejumlah tokoh tokoh dengan segenap handasahnya. Segenap perlengkapan ritual dan prosesi, sejumlah bentuk bangunan surgawi dengan dekorasi yang berbeda beda, pohon surgawi dengan buah buahannya yang berbentuk pedang, genta, panji panji, senjata , alat musik. Berbagai jenis lotus; Padma ( merah ), Kumuda (putih ) dan Utpala ( biru ). Senjata antara lain Kadga, Gadha, Paracu, Trisula, Pasha, Nagapahsa. Atribut lain seperti Dhanur Cakra, Tasbih, Cemara, Ratna, Munda, Chandra kapala , Kumbha, Cangka, Kalasa dll Alat musik seperti Venu, Damaru, Simbal, Genta , Trompet, Harpa, Kendang vertikal, Kendang horizontal, Vina dll. Dari sekian banyak panil , terdapat satu panil dimana Samantabadhra melepas hewan, dari tangannya. Ia melepas burung, diikuti sejumlah orang melepas berbagai jenis hewan yang pernah ditangkap manusia, bidang ini terletak di sisi Barat pada galeri teratas IV. Bila panil ini ditunjukkan kepada umat Buddha vegitarian, mereka akan sangat berbahagia. Juga ada panil dimana Samantabadhra melakukan Chandraka, yakni bermedatasi sambil berjalan, membumbung dan melayang. Figure Suddhana sesuai Silphasastra di gambarkan lebih besar dari tokoh lain dan tetap memperhatikan unsur golden section, kedua tangan sangat lentur, gandewa-pinantang, ia selalu berdiri atau duduk setingkat lebih rendah dari semua kalyamitranya. Selalu membuat mudra yang sebagaian besar adalah Anjali ( menyembah ). Kaum bangsawan selalu berhidung mancung, para “budak” dibuat kecil dan kerdil serta berhidung pesek. Banyak didapat bunga teratai yang ditempatkan didalam sebuah kalasa atau vas air, dimaksudkan sebagai penawar air ( Ayurveda ). Tampak juga mata uang logam yang berlobang segi empat ditengahnya.
Menarik untuk dibahas adalah tidak dijumpainya Kalyamitra ke 10 yakni brahmana Jayosmayatana dalam kedua seri Gandaviyuha di Borobudur. Apakah bagian ini memang tidak sampai di Jawa ataukah sengaja dihilangkan sesuai dengan moral ataupun selera pembuatnya karena memang guru ini mengajarkan sesuatu yang sangat mengerikan yakni Suddhana diminta untuk mendaki gunung yang ditumbuhi pedang pedang tajam kemudian disuruh terjun kedalam bara api. Demikian pula adegan mengerikan dimana Suddhana diperlihatan penyiksaan di naraka oleh Kalyamitranya yang ke18 Raja Anala . Penyiksaan dengan menggergaji tubuh, mencukil mata, mencabut lidah, mengamputasi anggota tubuh, digodok dipanggang hidup hidup. Adegan begini ditampilkan dengan santun di Borobudur. Suddhana menunjukkan air muka yang tidak nyaman, sementara orang orang yang akan dijatuhikan hukuman hanya duduk bersedih dipojok panil, hanya tampak seorang algojo yang sedang mengangkat sepotong tangan atau kaki manusia , itupun sangat disamarkan sehingga menyerupai seepotong kayu. Disini kita kembali lagi melihat kehalusan budi dan pengindahan penempatan adegan adegan pada tingkat kepatutan yang menjadi ciri khas unsur bangunan suci di
Jawa.*** Waisak
2553 / 09 Mei 2009 Penulis: Trudo Anas Jafar Nurhairani, lisensi 52/DIY/72 &
556/73/2007 E-mail : trudyinjogja@telkom.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s