LALITAVISTARA

THE LIFE OF SIDHARTHA BUDDHA

Kehidupan Buddha Shakyamuni

Detailed Representation of Play and the life of Buddha.

Sutra Lalitavistara mengilhami terciptanya karya besar lain oleh Asvaghosa yaitu Buddha-caritta yang juga merupakan hikayat kehidupan Buddha Gautama Shakyamuni, dalam bentuk seloka yang terdiri atas dua puluh delapan kumpulan syair panjang yang amat indah dan lebih mendetail dari sumbernya yang asli  yakni Lalitavistara. Mengingat Asvaghosa seorang sastrawan besar, banyak yang mengakui ceritera tentang  Buddha didalam Buddha – Carrita sesungguhnya lebih hidup dan lebih menawan. Lalu mengapa Borobudur memilih Lalitavistara dan Bukan Buddha- Caritta sebagai relief lanjutan dari Jataka dan Avadhana ? Sehingga pernah suatu saat kami ditanyai oleh seorang guru besar asing, guest lecture dari sebuah grup tour Borobudur – enthusiast, bahwa mengapa pada Borobudur yang agung ini  tidak tampak bagian akhir dari kehidupan Sang Buddha yakni Mahaparinirva yang termasyur itu ?   Disini kita harus mencoba mencari tahu mengapa yang menjadi pilihan adalah Lalitavistara dan bukan Buddha-Caritta.

Disini kita menemukan bahwa  sutra sutra yang akan dimuat dipilih dengan pertimbangan yang hati hati, agar dari sutra yang  berdiri sendiri, sanggup terjalin dalam satu rangkaian dengan sutra berikutnya dalam relief, berdasarkan nilai nilai filosofis ajaran Buddha dari berbagai aliran. Hal ini dimungkinkan karena seperti yang telah disinggung terdahulu,
bahwa kebanyakan Sutra ditulis kedalam  bahasa Sansekerta, sementara Sansekerta memungkinan penafsiran ganda yang , maka ada kebebasan interpretasi yang terkondisikan oleh kebutuhan merangkaikan kan beberapa sutra menjadi satu bagian yang utuh untuk tujuan visi dan misi borobudur. Contoh yang sangat jelas tampak pada bagian awal panil relief yang menggambarkan surga Tusita dengan Bodhisattva , disini dapat diibaratkan perjuangan Buddha lewat ratusan kali kelahiran kembali akhirnya telah mencapai tingkat yang amat mulia di surga Tusita. Namun  belum  mencapai puncak kebebasan sehingga harus dilahirkan kembali sebagai seorang  Pangeran di Kapilavastu . Bagaikan teratai yang tumbuh di air yang keruh, kuncup pada ujung tangkai telah mencuat keudara yang bersih, namun kuncup ini masih belum mekar. Maka perjalanan hidup sang Pangeran Sidharta  mulai lahir, dewasa, menikah, dan meninggalkan istana, belajar ilmu tentang pelepasan keterikatan , menemukan jalan tengah dan  menjadi Buddha , Maka proses inilah yang menjadikan kuncup bungan teratai itu akhirnya mekar dengan sempurna. Tujuan selanjutnya adalah menyebarkan pengetahuannya kepada orang lain,. Maka panil terakhir dari Lalitavistara di Borobudur menggambarkan saat  dimana Sang Buddha mencetuskan ajarannya yang pertama.yang disebut Empat Kebenaran Sejati ( Catur Arya Satyani )  yang juga disebut sebagai
Doktrin Penyelamatan. Kejadian itu diperingati oleh umat Buddha seluruh dunia sebagai hari Raya Asadha.  Sampai disini tujuan dari pembangunan Borobudur sudah mencapai sasaran awalnya.  Dinasti Shailendra  adalah penganut faham Mahayana esoterisme yang  penonjolan segi transendental sangat dominan, maka adegan terakhir dari Lalitavistara sanggup menjadi satu kesatuan dengan  prolog Gandaviyuha. menjadi dasar bagi dimulainya sebuah perjalanan pencarian Pengetahuan Sempurna oleh seorang anak kecil yang bernama Sudhana . Lagi pula dengan penyampaian Dharma  Catur Arya  Sattya di Taman Rusa , Sarnath Benares, tujuan utama pencarian sudah menemukan hasil. Saat penyampaian doktrin itu , dilukiskan didalam perkembangan agama Buddha esoteris bahwa tubuh Buddha memancarkan segala macam sinar dan cahaya kemuliaan. Faham Mahayana menganggap momentum penyampaian doktrin adalah culminasi cita cita bagi tibanya kesempatan bagi semua mahluk untuk memperoleh keselamatan atau pelepasan / nirvana. Maka bagian mahaparinirvana yang ada didalam Buddha-caritta menjadi  tidak mutlak harus digambarkan dalam relief Lalitavistara. Dan ketika kita sampai pada serial Gandaviyuha,maka 15 panil prolog hanya memperlihatkan bagaimana Buddha Shakyamuni melakukan semua mukjijat kebesarannya dalam samadhi , ketika beliau menyampaikan Arya Sattya di Sarnath. Sebuah kecerdikan menciptakan sinkronisasi antar sutra, bentuk kebebasan ekspresi pemahaman multi dimensi dari ajaran Buddha itu sendiri.  Kebebasan adalah hak azazi,  ruh dari kearifan bangsa Indonesia.

Terdapat sejumlah panil yang keindahannya luar biasa seperti adegan Dewi Maya sedang bermimpi seekor gajah putih bertaring 6 memasuki tubuhnya   Disini tampak jelas bahwa setiap panil relief memiliki tokoh utama yang diperkirakan hanya boleh dikerjakan oleh seorang master, sementara figure figur dan bagian lainnya yang kurang penting boleh
dikerjakan oleh seniman kalangan banyak. Maya dilukiskan dengan ukuran yang lebih besar dan diletakkan ditengah bidang , dengan demikian mata yang memandang panil tersebut segera menangkap tokoh utamanya, memberi penekanan bahwa ceritera itu adalah mengenai Dewi Maya calon ibu sang Pangeran. Kastanya yang tinggi dilukiskan dengan figur tubuhnya yang sempurna, sambil berbaringpun menampilkan keseimbangan tribhangga.  Bentuk  hidungnya yang tinggi, bibir yang tidak terlalu tipis, buah dada yang berisi, guratan guratan garis pada leher dan bawah payuh dara adalah icon icon yang menunjukkan keningratannya . liuk lekuk  pinggang yang menawan, dan expressi wajah yang menggambarkan  beliau sedang bermimpi , serta mimpi itu sendiridigambarkan pada sudut kiri atas. Kamar permaisyuri raja Sudhodana itu =dilengkapi dengan alas tidur yang  mengikuti lekuk badannya, sebuah kendi ( kumbha ) terletak dekat kepalanya. Lima orang dayang melayaninya dengan mengibaskan kipas padanya secara lembut, memijit pergelangan tangannya, mengurut kaki dan jempol kakinya, salah seorang dayang bahkan membuatnyanyaman dengan asap dupa beraroma wewangian  yang diarahkan kepadanya .Disudut bawah tampak beberapa dewa yang menjaganya, dibagian  tengah sebelah bawah duduk sederetan prajurit yang menjaga keamanan didepan istana (dengan lambang pintu gerbang yang tertutup) lengkap dengan senjatanya. Dua orang dayang menggambarkan bagianistana yang lain, dan sekelompok orang adalah penghuni istana lainnya, Setangkai teratai besar menjadi pembatas bidang dan dalam ceritera dikatakan gajah putih itu turun dari surga Tusita dengan mengendarai bunga teratai yang tak lain adalah Bodhisattva sendiri . Kesatuan bidang menunjukkan perspektif pandangan burung / bird eyes view. Seolah olah kita memandang dari atas kebawah menembus dan melihat keseluruhan kejadian didalam istana Ratu Dewi Maya. Wajah wajah pada tokoh utama tak pernah terpotong oleh garis potongan batu, menandakan pemahatan diawali dengan membuat  sketsa yang langsung  pada  permukaan batu, dan dikerjakan  in-situ. Komposisi seni yang sedemikian jelinya bagaikan lukisan naif seorang anak kecil , keleluasan dan kejelian membuat komposisi adalah sekaligus menunjukkan kepakaran seniman  Shailendra yang mungkin dibantu oleh seniman Sanjaya sebagai bentuk partisipasi. , master semacam itu pasti diberi kedudukan yang tinggi didalam istana kerajaan , dilindungi dan dijamin seluruh keluarganya, Mantra mantra mungkin senantiasa dilantunkan saat sebelum dan saat mengerjakan pekerjaan seni itu. Sedikit disayangkan adalah oker berwarna kuning pada permukaan relief sebuah kesalahan fatal dari Kasihan Cephas tatkala memotret relief , dikuatirkan secara perlahan dapat merusak  relief. Jari tangan yang berkeringat dari wisatawan dan pemandu yang suka menyentuh  dapat juga merusak relief pada suatu waktu bilamana tidak secara  preventif  peringatan diberikan .

Keindahan pada panil lainnya seperti para penjaga  yang tertidur lelap setelah mabuk minuman keras saat Pangeran Sidharta menyiapkan kuda Chandaka untuk pergi meninggalkan istana.. Saat kuda chandaka sedih tak ingin meninggalkan tuannya. Profil Brahmana Aradakalama dengan pakain pertapanya.  Saat Buddha dimandikan oleh kelima murid pertamanya Kondhna, Vappa, Asaji, Bhadiya dan Mahanama disebuah kolam penuh teratai ( perhatikan keindahan bunga bunga terarai itu )  Saat Buddha menyeberangi sungai Gangga ( Jubah yang dikenakan Buddha dikerjakan dengan sangat mendetail ) Ketika sederetan perempuan  dari Uruvilva-kalpa memasak bubur bagi Buddha.  Perhatikan salah seorang wanita menghembuskan udara untuk menghidupkan api dan peralatan memasaknya,  Panil yang menggambarkan Bodhisattva mendapat serangan  dari Mara ( Perhatikan senjata senjata yang ditujukkan kepadanya berubah menjadi bunga bunga seroja. )  Panil panil yang menggambarkan pohon Asoka atau pohon Sala ( Asho Palav ) Di bawah pohon, sambil berdiri memegang ranting pohon,   Maya melahirkan Pangeran Sidharta . Penggambaran  Sidharta dilahirkan dari sisi kanan tubuh Maya dibawah ketiak adalah gambaran kekastaan  zaman Veda pra Buddha bahwa para keturunan raja dilahirkan di sisi badan,  pendeta dilahirkan lewat kepala dan orang biasa lewat bagian bawah. Gambar pohon Bodhhi, manggis, kelapa, sukun, nangka,durian, kinang, lontar, palawija dll  adalah tanaman iklim  tropis Indonesia.  (Ibu Suliantoro Sulaiman dari UGM pernah mendokumentasikan jenis jenis tanaman yang terdapat pada relief Borobudur) Salah satu daya tarik utama ketertarikkan wisatawan berkunjung ke Borobudur adalah relief ceritera Sang Buddha ini .

Penulis: Trudo Anas Jafar Nurhairani, lisensi 52/DIY/72 & 556/73/2007

E-mail                          : trudyinjogja@telkom.net

One thought on “LALITAVISTARA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s