JATAKA dan AVADHANA

Jataka (ceritera kelahiran ) ceritera aslinya terdiri atas 547 kelahiran Budda dan pengikutnya.  Sehingga merupakan bagian yang terbesar dari Sutra Pitaka  Avadhana ( perbuatan yang mulia ) menggambarkan perbuatan baik para orang orang suci Buddha, perbuatan yang baik membuahkan kebaikan sebaliknya yang tidak baik membawa  keburukan /penderitaan. Sudah banyak terbitannya dalam buku buku yang mudah didapat dimana mana.

Buddha Dharma menggolongkan kebajikan dalam   Panca-sila yang bermakna pengekangan diri sendiri terhadap; 1 Pencabutan kehidupan (membunuh). 2 Pengambilam sesuatu yang tidak diberikan, 3. Memperturutkan kesenangan indria 4.  Mengucapkan ketidakbenaran  5. Kelambanan akibat pengunaan bahan yang menyebabkan ketagihan  Dan berkembang menjadi Dasa-sila dengan : 6.Terhadap ucapan yang kasar dan keras 7.Ocehan yang tidak karuan,8. Keirihatian, 9 Kedengkian dan 10. Terhadap pandangan yang sesat. Dharma ini sudah terwakilkan dalam ceritera Mahakarmawibangga, dan juga didalam Jataka dan Avadhana.  Selain untuk pengembangan moral seseorang, sekaligus
juga membawa kerukunan , kedamaian dan kemajuan sosial. Dan yang akan dicapai dari seseorang setelah mengikuti semua jalan kesempurnaan moral ini sebenarnya adalah untuk mencari jawaban bagi masalah masalah tumimbal lahir. Setiap kehidupan kembali pasti menjalani siklus kelahiran , kelapukan dan disusul kematian.  Dan ajaran Buddha kemudian memberikan penekanan bahwa cara yang paling efektif adalah melalui pelepasan ( nek-khamma ) untuk menghapus keinginan keinginan, yang bisa dipelajari secara bertahap.  Jataka dan Avadhana sarat dengan contoh yang diilustrasikan sebagai pengorbanan pengorbanan diri yang dipersembahkan oleh Sang Buddha dan para pengikutnya dalam penjelmaan  penjelmaan  kehidupan  yang terdahulu. Hanya dengan pengorbanan tidak akan menyisakan adanya keinginan yang berujung pada kemelekatan.

Serial Jataka dan Avadhana  di Borobudur  dimulai dari pagar langkan bagian bawah. Seriel ini adalah fragmen fragmen  dari Sutra Jatakamala dan Avadhanataka dan kitab lainnya yang sejenis. . Karena sejumlah besar relief sudah dalam kondisi yang amat rusak , tidak mudah untuk dikenal kembali secara utuh.  Panil permulaan pada tingkat ini melukiskan sebuah tarian. Ibarat kesenangan indria   masih meliputi manusia seperti expresi duniawi yang membawa kebahagiaan . Akan tetapi manusia dianjurkan mengendalikan semua kerinduan akan dunia, semuanya dapat dilakukan secara bertahap   Panil kedua adalah Jataka yang menceritera seorang petani menemukan sebilah emas saat membajak sawah ,sebenarnya emas itu dapat ia kuasai semua, akan tetapi kemudian lempengan  emas itu dibelah menjadi empat , bagian pertama ia tanamkan kembali kedalam tanah dengan harapan orang lain bisa mendapatkannya juga,  bilah kedua dipakai untuk biaya hidupnya, bilah ketiga dimanfaatkan  untuk modal berdagang dan bilah keempat untuk dibagi bagikan sebagai sedekah membantu yang lemah…
Perhatikan gambar alam yang melatar belakangi ilustrasi itu, adalah alam Jawa  pada masa itu yang tidak banyak berbeda dengan alam pedesaan masa kini, bajak, arit, rerumputan, tali temali, dll sangat perlu untuk dikenalkan kepada wisatawan. Panil lain  menggambarkan prosesi yang mengikut- sertakan barisan gajah, barisan pemusik, berbagai atribut dibawa dalam prosesi..

Panil 74-75-76 berasal dari Avadhana tentang raja Padmala yang ichlas  dilahir kembali sebagai ikan rohita agar pandemi penyakit dikerajaannya dapat teratasi setelah rakyat memakan ikan rohita yang relauntuk ditangkap . Panil ke 79 tentang penjelmaan Buddha sebagai kelinci, yang mana ceritera ini diulang kembali pada dinding pagar langkan bagian atas panil ke 23-24-25.  Panil 89 melukiskan sebuah tarian yang diiringi permainan xylophone ( Gambang ).  Panil ini membuktikan instrumen dari gamelan Jawa masa kini mempunyai sejarah yang panjang.. Ada satu adegan yang menggambarkan pembuatan gerabah di pedesaan.  sampai hari ini kami tidak menemukan terletak pada panil yang keberapa.  Produk gerabah  tak beda jauh dari yang kita ketemukan sekarang  di dapur masyarakat  desa pada umumnya ataupun di rumah rumah peranjin gerabah  tradisional di pedesaan .

Jataka pada pagar langka bagian atas sebagian besar merupakan  fragmen dari sutra Jatakamala dan hanya beberapa dari sutra Avadhana. Pasti menarik bagi teman pemandu devisi Mandarin menunjukan panil terakhir ceritera yang dituturkan oleh Bhiksu Tionghoa Jing Jin Li. Ceritera ini dari kitab Fajubiyu-jing, menceriterakan  seorang pertapa Viryabala yang berdiam dekat seekor merpati,  seekor burung gagak, seekor kijang dan seekor ular berbisa. Keempat hewan tadi mencoba mencari tahu mengapa terlahir sebagai mahluk yang sedemikian.  Viryabala menjelaskan bahwa  si burung gagak memperoleh bentuk penjelmaannya dari akibat dari rasa lapar dan haus yang tak kunjung memuaskan. Merpati dari gelora asmara yang selalu membara. Ular berbisa dari sifat keangkara murkaan dan kijang dari sifat rasa takut yang terus menerus. Kemudian Viryabala memberi penjelasan bahwa penyebab penderitaan yang sesungguhnya bermukim didalam diri masing masing karena diri kita sendirilah yang membentuknya. Untuk itu perlu berdaya upaya yang benar untuk mengatasi kecenderungan  yang demikian secara konsisten.

Relief pada Jataka/Avadhana pada pagar langkan mempertontonkan sejumlah fauna dan flora yang ada dan pernah ada negeri kita, demikian pula pada Avadhana yang ada pada bagian bawah tembok utama galeri I. Akan sangat menarik perhatian bagi pengamat keanekaragaman hayati  maupun anak anak yang suka mendengarkan dongeng. Jataka dan Avadhana sangat populer di Asia sehingga menjadi hiasan dinding pada candi candi dan kuil kuil di seantero Asia.

Jataka/Avadhana dilanjutkan pada dinding tembok utama bagian bawah , terdiri dari enam ceritera, yang dapat dibaca pada daftar lampiran. Ceritera   Sudhanakumara Avadhana adalah kisah tentang dalamnya  cinta pangeran Sudhana dterhadap istrinya  bidaddari kinari Manohara  – Mandhatara Avadana tentang Raja Mandhatara yang memiliki sifat ambisius yang berlebihan yang akhirnya menghancurkan dirinya sendiri. – Sutralankara adalah Avadhana  yang  menceriterakan  dewa Sakra yang menjelma seekor burung gagak untuk  membuktikan kualitas  keadilan pada diri Raja Syibi, yang akhirnya rela mengganti seirisan  daging dari tubuhnya sendiri sebagai makanan pengganti kepada gagak demi menyelamatkan seekor burung perkutut yang kecil yang telah memohon perlindungan darinya akan tetapi Syibi juga tidak hendak mengambil hak dari  gagak  sebagai pemangsa. –  Jataka Sambulajataka.  –  Avadhana Rudrayana  –   Jataka Bhallatiya  tentang sepasang kinara- kinari yang tidak ingin berpisah satu sama lain walau hanya sehari.   –  Dan Avadhana Maitrakanyaka yang sangat impresif  menceriterakan seorang pemuda yang mengalami siksa batin setelah kehilangan semua berkah yang pernah dilimpahkan kepadanya sebagai akibat dari mendurhakai ibunya..
Akhirnya rela mengambil alih hukuman siksaan yang teramat beratdan lama hingga meninggal dengan mengenakan roda besi yang memberatkan dikepalanya. Tujuan ia mengenakan roda itu agar perbuatan yang pernah ia lakukan tidak
lagi terulang kepada siapapun didunia ini, Maitrakayaka dilahirkan kembali di surga para yang mulia, surga  Tusita. Dalam serial ini dapat dijumpai kapal penisi , yang duplikatnya ada pada Museum Samudera Raksa di Taman Purbakala Borobudur, dan juga gambar relief bentuk rumah yang berbentuk anjungan dengan tiang tiang besar yang mendukung dibawahnya. Banyak wisatawan dari China Selatan dan dari Guam yang mengakui adanya kesamaan dengan bentuk rumah didaerahnya, suatu bukti bahwa bangsa Indonesia sudah mengenal pelayaran sejak lama dan telah mengunjungi banyak tempat dibelahan bumi. Tokoh tokoh perempuan dari relief dilukiskan semuanya menurut konsep tribhangga, konsep golden section  absolutisme kesimbangan yang membentuk harmoni sebuah penampilan , ekspressi setiap wajah yang digambarkan begitu mendekati kesempurnaan yang hendak dilukiskan dalam ceritera seperti gembira, kecewa, terkejut, sedih, kurang senang, menolak, berharap, murung dsbnya. Pepohonan , sungai sungai, gunung , gua,   selalu tampak hewan liar, burung burung, primata, sampai hewan besar seperti babi celeng, harimau Jawa ( Java Tigris ), gajah Jawa (Java maximus) Kekayaan  ini akan menjadi nilai tambah bagi tamu yang memang ingin mengenal keunikan biodiversity Indonesia, bayangkan, binatang kecil seperti linsang, landak, tupai , penyu, ular ; yang melata, yang berenang, yang berjalan ,  meluncur , melompat, dsb diilustrasikan dengan sangat hidup. Sehingga muncul rasa bangga diri kita saat menunjukkan detail detial tersebut kepada pengunjung sebagai apresiasi kita terhadap karya dan para seniman besar nenek moyang bangsa yang telah sedemikian intensif penuh improvisasi menampilkan  kedalaman pada detail dalam mengerjakannya. Betapa tinggi nilai seni yang ada dan bisa dinikmati, sayangnya 90% wisatawann nusantara tidak mengamatinya melainkan dari pelataran langsung saja bergegas ke atas puncak kemudian berfoto ria sambil memanjat manjat stupa stupa dan merogoh kunto Bimo .

Penulis: Trudo Anas Jafar Nurhairani, lisensi 52/DIY/72 & 556/73/2007

E-mail                          : trudyinjogja@telkom.net

3 thoughts on “JATAKA dan AVADHANA

  1. F. Rama Avadhana

    Artikel yang menarik, baru kali ini tahu secara lengkap asal muasal nama belakang saya sendiri. thank you P Anas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s