Tour Guide abad 21 (catatan akhir tahun 2009)

Sumiyem says :

Sejarah mencatat, uang nasional kita, mata uang Rupiah, pernah menembus angka Rp.600,- ( enam ratus ) untuk nilai tukar US $ 1, ya jadi 1 : 600 , sekarang berapa? hampir 10.000 , jadi dgn nilai tukar Timor Leste saja kalah, mereka menggunakan US $, sbg panutanya,pertama saya mengenal dollar (melihat, memegang, dan sekaligus memiliki, utk kemudian menukarkannya), terjadi pada thn 1987, berarti sudah 22 thn lalu, saat itu, sudah bernilai Rp.1700, merangkak pasti dari angka Rp.900,- karena devaluasi, ya dari angka Rp.900 menuju Rp.1.600 , lewat pengumuman resmi pak Harto (tanpa melalui Juru Bicara Kepresidenan), bukan isapan jempol, karena nilai tukar dollar, selalu berjalan linier dgn nilai jual Emas dan Logam Mulia lainnya, pernah terjadi jaman Mas Bambang Mur, Jatmoko, Kasum, dan kawan kawan seangkatan beliau-baliauwati (awal 1970 an), bahwa Guide Fee per hour (per 60 menit), SETARA dgn harga 1 (satu) gram EMAS. wow !!!! kalau di kurs kan sekarang, berarti Rp.275.000,-/gram, berarti sudah mendekati angka US $ 30,- / hour, hampir mendekati income seorang Dokter Gigi di USA ( US $ 35/hour ),  pemeliti ilmiah kampus ternama, Lawyer berkelas di New York, ataupun Perancang bangunan dgn jam terbang puluhan tahun, itu semua harga di Luar Negri 30 dolar per jam, luar biasa sekali. mungkin ini masih akan bisa terjadi, di tanah air , untuk ukuran perterjemah resmi yg mengawal Putri Kecantikan (Miss Universe, misal, dgn catatan Fee tidak di catut sama organizernya ). Nah,  pertanyaan yg timbul adalah, Mengapa Nilai Tukar terpuruk, pernah sampai ke angka Rp.15.000 / satu dollar US ? pada thn 1998 , bulan bulan Mei – Juni saat itu. kalau kita telaah secara ilmu Ekonom, pembenaranya adalah: Krisis Multi kasus di tanah air, diantaranya adalah stabilitas keamanan yg porak poranda, tetapi sbg manusia ber iman, beragama, Penulis lebih suka menyimpulkan, bahwa kita tidak pernah menghormati mata uang kita , dgn melibatkan yang mengatur hidup, Alloh Swt dalam percaturan per moneteran, kita lihat uang coin ( recehan) dollar Amerika pun tertulis dgn sangat jelas : IN GOD WE TRUST , ya mereka masih menjunjung Tuhan pencipta Alam. Tuhan pula tempat kita meminta perlndungan terhadap segala macamancaman , termasuk ancaman Krisis Moneter. sehingga, Penulis berkesimpulan, Mata Uang Rupiah tidak mendapat Rahmat Alloh, sebab apa ? coba kita pelototi lagi uang tersebut , uang kertas tentunya sehingga kita bisa lebih jelas membacanya , hanya berisi ancaman, Intimidasi kepada Warga pemakainya (warga Indonesia), seperti misalnya: BARANG SIAPA MENGGANDAKAN, MEMALSUKAN, DENGAN SENGAJA ATAU TIDAK, AKAN DITUNTUT DI DEPAN PENGADILAN,DST. nah bentuk bentuk intimidasi seperti ini, adalah ciri khas Orde baru  yg sangat protektif terhadap kekuasaan pemerintahannya dgn selalu menjadikan masyarakat sbg obyek yg selalu di takut takuti, tanpa perlawanan sama sekali, karena begitu kuatnya hegemoni rezim orba saat itu. setelah menuai kritik dari segala penjuru, akhirnya, uang kwartal kita pun di renovasi, seperti yg terjadi sekarang ini, yaitu penambahan kalimat : ATAS BERKAT RAHMAT TUHAN YG MAHA ESA , KAMI ( BANK INDONESIA -SBG BANK CENTRAL ) MENERBITKAN PECAHAN MISAL RP.20.000 SEBAGAI ALAT BUKTI PEMBAYARAN YG SAH. ini terjadi akhir akhir ini saja, setelah 60 tahun lebih, kita menyia nyiakan alat pembayaran kita sendiri. ciri khas, negara dgn masyarakat yg terbelakang adalah, ya itu tadi, SANGAT INTIMIDATIF terhadap warganya. RULE , atau Konstisusi dlm bahasa yg lebih tinggi, atau pun REGULASI ( karena ke sombongan ORBA di bidang Perbankan, dulu kita mengenal DE-REGULASI dan DE-BIROKRATISASI, penyederhanaan aturan, karena semua sifat aturan di negara ini, hanya bersifat INTIMIDATIF, bukan dimaksudkan utk melindungi warga atau masyarakat tertentu ( PROTEKTIF ) tetapi justru Intimidatif. kalimat DILARANG atau TIDAK DIPERBOLEHKAN, sangat mendominasi setiap aturan yg sudah terbit, dari undang undang SISDIKNAS sampai UU anti pornografi juga. aturan hukum yg lebih rendah dari yg tersebut diatas, seperti misal PERDA, setali tiga uang. kaitanya dgn rancangan PERDA Pramuwisata, memang, kalau Perda tersebut bertujuan utk melindungi PRAMUWISATA, tentu kita sbg anggota HPI lah, yang sangat ber kompeten untuk menyodorkan produk politik aturan hukum ini kepada pihak yg berwenang. bahasa hukumnya , kalau memang sekali lagi produk hukum ini di tujukan utk MELINDUNGI anggota HPI, tentu harus ber orientasi kepada peningkatan kesejahteraan anggota HPI, itu aura substantif yg harus di kawal sampai akhir jaman. sudah barang tentu harus di kemas dalam bahasa yg etis dgn tetap menjunjung tinggi nilai nilai budaya santun masyarakat Jawa. apapun konsep aturan tersebut, pasal pasal krusial yg sekali lagi bersinggungan dgn kesejahteraan anggota , harus selalu ber muara pada sifat PROTEKTIF. dalam bahas yg lebih sederhana, perlu di ingat anggota HPI ( konvensional ) adalah kepanjangan tangan ASITA , atau biro perjalanan, dalam AD / ART biroperjalanan manapun, selalu ter tulis besar besar : BIRO PERJALANAN ADALAH BADAN USAHA YANG MENJALANKAN BIDANG USAHANYA UNTUK MENDAPATKAN KOMISI DARI USAHA ANGKUTAN, USAHA HOTEL DAN RESTORAN, MAUPUN USAHA CENDERA MATA /ART SHOP. se sophisticated apapun biro perjalanan, ataupun Tour Guide , tidak akan bisa lepas dari ketentuan awal ini, sudah barang tentu, cara mendapatkan keuntungan ini, akan dikemas dgn etika tinggi, sehingga konsep profesional dlm menjalankan usaha / profesi ini, akan terbungkus dlm satu kesan akhir si Pemakai jasa (Wisatawan ybs), dalam arti TIDAK AKAN ADA KELUHAN terhadap produk JASA maupun BARANG yg sudah mereka transaksikan, disitulah intinya, dan semua sektor sudah sangat mafhum, bila suatu barang / jasa ter transaksi melalui orang ke-2 dst , tentu akan terjadi beda angka , itupun sangat disadari si Wisatawan, apabila PAIJO order transport melalui perantara A di Surabaya, tentu harga yang semula Rp.500.000 akan menjadi Rp.550.000 , sepanjang Paijo tidak memasalahkan, tentu transaksi ini akan menjadi TOYBAN , apabila Paijo memasalahkan, sudah barang tentu Paijo harus sadar bahwa si A, juga memerlukan cost, sbg konsekwensi logis yg timbul terhadap transaksi ini, dia perlu menelepon, barangkali malah harus datang ke si empunya transport, dll. demikian juga dgn transaksi dgn WISATAWAN baik lokal maupun asing, sepertinya kasus diatas tidak perlu lagi di perbincangkan, kembali ke masalah PERDA , nuansa PROTEKTIF harus di kedepankan, salah satunya adalah: PEMAKAI PRAMUWISATA (pribadi, company maupun institusi) HARUS MENYEDIAKAN JASA PERLINDUNGAN KEPADA PRAMUWISATA YG DIMAKSUD DLM MEKUKAN TUGAS TUGASNYA , SEPERTI MISAL : ASURANSI KECELAKAAN KERJA juga dgn manusiawi harus di perhitungkan juga: PEMAKAI JASA PRAMUWISATA HARUS MEMBERLAKUKAN FEE LAYAK DAN PEMBATASAN JAM KERJA, SEHINGGA UNTUK PEMAKAIAN JASA DIATAS 8 JAM, HARUS DIPERHITUNGKAN JASA LEMBUR ( OVER TIME ). kita naik angkot plat kuning biasa (bukan bus Patas ataupun Trans Jogja) saja ada perlindungan jasa asuransinya (jasa raharja), nah bagaimana dgn PRAMUWISATA yg selalu di agung agungkan sebagai Ujung Tombak dan Ujung Tombok?????? apabila benar PRAMUWISATA hanya akan di tekan tekan dgn segala aturan yg ber muara kepada penurunan kesejahteraan anggota HPI, maka tidak akan ada insan pariwisata yg bertahan melakukan profesi nya lagi. kita hidup di negara bernama Republik Indonesia, bukan di NEGARA KOMUNIS , yang berlaku asas SAMA RATA SAMA RASA , apabila menghendaki Guide bersikap seperti apa yg sudah terkonsep di rancangan PERDA, maka, seharusnya PRAMUWISATA diangkat sbg PNS, dgn latar belakang pendidikan sbg acuan untuk menentukan Golongan / Pangkat, jadi mereka yg hanya lulusan SMA, ya cukup puas dgn Golongan II / A, misal sedangkan yang bergelar S3, seperti kawan senior kita mas TEGUH BASUKI (kakak kandung mantan Mendikbud Bambang Sudibyo), ataupun putranya Meneer MUR SUMARWAN ), kolega Penulis 20 tahun lalu , beliau memiliki putra , yg diantaranya adalah eks Ketua Jurusan Sastra Prancis UGM, yg mungkin sekarang masih menjabat sebagai Humas / Protokeler UGM, Pak Mur SUmarwan, saat ini barangkali berusia 82 tahun-an?, mertuanya NURUL ARIFIN ( Nurul Arifin , artis , menikah dgn adiknya SURYO BASKORO adalah guide Prancis yang kerja frerelance di Vista Express dan Nitour Inc di awal tahun 90 and , yaitu SURYO LAKSONO, yg juga dikenal dgn nama MAYONG. Nah barangkali mereka yg memiliki gelar S3 , bisa di masukkan dlm golongan IV / C , setara dgn Pangkat Kolonel di dunia ketentaraan. Saat itulah, mereka akan sangat FOCUS dgn ketentuan dalam Perda yg disusun tersebut, yg mana diantaranya TIDAK boleh menerima komisi, tentu kesejahteraan sudaha di cukupi Negara, dgn gaji US $ 1.000 / bulan , plus JAMSOSTEK, plus jaminan pension, plus tunjangan pendidikan utk 2 anak pertama, plus uang transport, rumah dinas, dll. Selama Guide harus menghidupi dirinya sendiri, tanpa adanya tunjangan dan proteksi dari pemerintah ala ONS lainnya, sudah sewajarnya Guide mandiri dgn menambah income yg HALAL dan Toyiban, sepanjang semuanya dilakukan dgn PROPORSIONAL dan PROFESIONAL.

Demikian artikel ini ditulis dari lereng Merapi , JOGLO PLAWANG Boutique hotel

Happy New Year 2010
Sumiyem

Ditulis untuk kalangan sediri.

3 thoughts on “Tour Guide abad 21 (catatan akhir tahun 2009)

  1. dtur88

    RAPAT UMUM ANGGOTA
    Nagoya Resto, Sabtu 26 Desember 2009
    Pk 14.00 – 17.00

    Pimpinan Rapat : Andi Mudhi’udidin
    Sekretaris : Purwana

    Anggota yang hadir:
    1.Hassan
    2.Dahlia Evyati
    3.Purwana
    4.Andi
    5.Hardi Wahyono
    6.Nadira Hartoko
    7.Satriyagung
    8.Budi Susetyo
    9.Wiwik
    10.Bayu (Spa)
    11.Amrizal
    12.Chandra Prabandono

    Agenda :
    I – Laporan Team Perumus Koperasi

    II – A – Perkembangan terakhir AD ART
    B – Data Angsuran Simpanan Pokok
    C – Program Kerja 1 Thn (2010)

    III- Dialog tanya jawab dengan Anggota

    I). Pimp Rapat (Andi) mengawali garis besar pelaporan Team Perumus Kop:
    – Penetapan Struktur KSU HPI DIY
    Pengawas : Andi – Amrizal – Arif Mustofa (menggantikan Amanah yang
    mengundurkan diri dari struktur oleh kesibukan dan alasan waktu).

    Pengurus : Hassan (ketua koperasi)
    Purwana (Sekrtaris)
    Evyati (Bendahara)

    II). A) Perbahasan Anggaran Dasar – Anggaran Rumah Tangga secukupnya berdasar
    hard copy yang disiapkan, terutama sekitar Unit Usaha Kop, SHU, konsultan hukum (dialokasikan dana Audit 2.5%) dan pengurusan izin legal tetap menginduk Dinas Kop Propinsi sesuai rencana semula.
    Lalu dilanjut pemaparan Prgram se-Tahun Unit Simpan Pinjam dan prioritas pelaksanaan yang dijelaskan oleh Sdr Hassan. Dok Soft copy ad-art kop (Purwana) dan segera deselesaikan krn perubahan kecil (redaksi kata), tinggal print untuk dikonsultasikan kepada Din Koperasi Jln. Cokroaminoto sekitar 4 – 7 Januari 2010.

    Diputuskan perubahan peserta turun dari target 100 anggota tetap menjadi
    smntara 50 Orang dari anggota HPI untuk memulai Simpan Pinjam.

    Perubahan nama Unit Jasa Informasi Transport, untuk memudahkan urusan
    izin legal Koperasi yang menyangkut perhubungan / transportasi.

    Anggota Tetap KSU HPI bisa terus bertambah sesuai asas tujuan didirikannya
    koperasi di kalangan Himpunan Pramuwisata Indoensia waktu dan kebutuhan.

    B). – Nilai Simpanan Pokok tetap sebesar Rp 1.000.000,- bisa diangsur
    – Jumlah terakhir pengangsur Simpanan Pokok Rp 1jt sebanyak 24 orang,
    terkumpul hingga pelaksanaan RUA senilai Rp 18.800.000,- di Mas Hassan, Evi (Andi, angsuran Wawan Rp 1jt telah diserahkan).
    – Diharap awal Jan terkumpul Rp 20jt untuk pengurusan legal koperasi,
    ditambah beberapa Art Shop siap menambah @ Rp 1 jt sebagai Anggota Tidak
    Tetap, yakni Ansor Silver, Walet, Narti’s, Kabul Galery, Agnes Dewata Tour n bbrp insan pariwisata Jogja yg tertarik.
    – Solusi pengumpulan dibagi dua kelompok, yaitu Divisi Jepang sebanyak Rp 15 juta berasal dari nama-nama di luar dalam daftar pengangsur. Mereka adalah; Erwin, Sunar, Suroya, dst (data di sdri Evi)selaku
    kordinator / penanggung jawab pengumpulan dana.
    Divisi Eropa 15 juta berasal dari Abu Sahri, Bintoro, Bmbang Mur, Wikan,
    Adrianus, Wati, Yuni, Agung Boby, Wowon, Eko, Agus Susanto, Handoko Ria, Heri Sus, Bayu, Darwin dst menyusul yg lain.
    Pengumpul: Tile, Amrizal, Bayu, Arif.

    C). Rencana Program Kerja se-tahun tetap berdasar Unit Usaha Yang disepakati;
    – Unit Simpan Pinjam; teknis dimulai akhir Jan dengan dibagi dua kelompk
    Telah disiapkan pelaporan Rencana 1Th Simpan Pinjam secara tertulis oleh
    Sdr. Hassan (selengkapnya ada diktat laporan tertulis).
    – Unit Kursus Guide – Entepretuer Bahasa, dimaksud adalah Program Training
    Center HPI yang telah berjalan Angkatan I tgl 09 nov 2009 – Jan 2010 di
    Sekretariat HPI. Kursus privat Bahasa Italy dan Spanyol yang diampu Purwana telah berjalan dua kali angkatan, pelaksanaan 2 pertemuan /per-Minggu di HPI. Data keuangan telah diserahkan kepada Mbak Tati.
    – Unit HPI Trans; telah mulai mendapat order berasal dari Andi, hasil dipakai buat Spanduk, dari Iwapi terpakai untuk Alat ADM, serta dari Hawwid untuk
    iklan HPI Trans. Nomer Telp baru 0274 916 0086. Pendaftaran Kendaraan prioritas Anggota dikenakan beaya Rp 50.000,- untuk iklan dan pemasaran.
    – Unit Jasa Pemanduan Wisata; anggota yang mendapat order melalui Jasa
    Kop dinakan beaya 10% dari fee-standart Rp 250.000,-.
    Unit Event Organizer (perlu diaktifkan….!). Rekomendasi RUA
    kepengurusan (Sdr Agus Susanto) harus dievaluasi diambilkan dari kepanitiaan Acara Natal Tahun Baru HPI Insan Pariwisata 2009 -2010

    Acara diakhiri dengan dialog dan tanya jawab. Dikemukakan pentingnya aktivitas DIVISI yg masih pnya kendala, baik pengurus kordinator maupun iuran anggota. Diakhiri rpat koperasi hingga penutupan di Nagoya… Disepakati segera merekruit 1 Pengelola Koperasi dengan syarat-syarat:

    1.Calon Pria ber-KTP wilayah DIY
    2.Usia ± 25 th
    3.Memiliki pengalaman (skill) Koperasi
    4.Pendidikan minimal SMU
    5.Trampil MS Office (Excel, word, power point)

    Untuk program kehumasan KSU HPI melekat dengan agenda Humas / PR DPD HPI DIY dengan merencanakan :
    Peningkatan news letter cendrawasih menjadi Tabloid / Majalah Pariwisata yang terbit 3 bln sekali dan dikelola secara professional melibatkan stakeholder pariwisata.
    Ditetapkan personil baru yang menyatu dengan fungsi kehumasan DPD HPI DIY, yakni sperti struktur berikut:

    – Pembina: Dinas Pariwisata Propinsi DIY
    Dinas Parbud Kabupaten Sleman
    Dinparbud Kabupaten Bantul
    Dinbudpar Kota Yogyakarta.

    – Penanggung Jawab / Pemimpin Redakasi: Andi Mudhi’uddin
    – Litbang / Luar negeri : Budi Susetyo
    – Sekretariat Redaksi : Nadira Hartoko
    – Redaktur Pelaksana : Chandra Prabandono
    Reporter : Agus Budiyanto
    Dokumentasi : Harno
    – Promosi & Pemasaran: Dahlia Evyati
    Iklan : Tati Yuwati, Sri Pujiati
    Distribusi : Arif, Suhardjito

    Semoga muara akhir tahun 2009 ini membawa perubahan bagi DPD HPI DIY.

    Terima kasih

    modin

    Yogyakarta, 27 Desember 2009

  2. Luthfi

    Besar Harapan HPI dapat menjadi wadah yang bisa membantu bagi calon pramuwisata yang ingin terjun ke dunia guiding..
    Ini Uneg-uneg dari saya (Lutfi) selaku peserta didik HPI.
    Beberapa kritik dan saran yang saya harap dapat membangun dalam kaitannya dengan diklat Pramuwisata yang sedang saya ikuti meliputi beberapa hal berikut :
    1. Teori dan Praktek dengan perbandingan 40:60 belum terealisasi.
    2. Dengan bargaining position yang tinggi, saya harap DPP HPI dapat menyediakan wadah di Tour & Travel untuk keperluan Escorting.
    3. Kaitannya dengan Lisensi Pramuwisata, mohon dukungannya agar dapat direferensikan kepada Disbudpar dan LSPPar.
    4. Mohon kejelasan langkah Lembaga Pendidikan HPI bagi kami peserta didik pasca pendidikan yang kita jalani nanti.
    5. Transparansi dan dukungan bagi kita dalam hal informasi yang kita butuhkan.
    Sesudahnya saya minta maaf kalo uneg2 ini saya sampaikan di forum yang terbuka di blog ini. karena saya melihat diskusi di sini lebih efektif. Saya harap bisa terjadi dialog yang membangun disini antara temen-temen dengan Mbah-mbah Pengurus HPI senior. terima kasih….

  3. hpijogja Penulis Tulisan

    @Lutfi. usulan dilaksanakan segera, tentu memperhatikan hal-hal bhw pengurus juga butuh makan dab..! Tentang kejelasan langkah, mari bicara peluang membuka usaha berbasis kreativitas “guide”. Pertama jelas akan ikutkan pendidikan escouting, lisensi dst.
    disini perlu dibedakan lisensi dengan sertifikasi, ingat 426 anggota HPI DIY juga sebg besar blm bersertifikat,cuma berlisensi, itupun bbrp telah mati gak diurus.. namun juga bukan berarti Diklat menjamin anda lho..karena Luthfi sendri sang penentu…
    So, sering-seringlah bertanya langsung ke hpi…anda akan kian jelas, tpi lebih penting siap sewaktu-waktu guiding setelah pendidikan 3 bulan selesai..OK

    salam sukses

    modin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s