YOGA SUTRA PATANJALI

Kitab Yoga Sutra Patanjali ditulis oleh Mahareshi Patanjali 2300 tahun yang lalu, kira-kira Abad ke-3 sebelum Masehi era Aristoteles di Yunani. Beberapa decade sebelum munculnya Alexander Agung dari Macedonia (358-323 SM), praktek Yoga adalah pelengkap aplikatif bagi falsafah Sankya / Kapila yang sudah ada yaitu sejak abad VIII SM – jauh sebelum  sutra-sutra ini ditulis. Tujuan dari Yoga baik sebagai falsafah maupun  sistim olah jiwa adalah agar sang jiwa terbebas dari ilusi maya. Menjalankan Yoga bukan berarti seseorang harus mengasingkan diri dari kehidupan nyata – sembunyi di gua-gua atau pergi ke belantara. Hidup dalam kebenaran (righteousness) dan mengabaikan keakuan (non selfishness) adalah masalah perubahan sikap, pandangan dan motif hidup seperti dijelaskan dalam Sutra Patanjali dan bukannya merubah kebiasaan sehari-hari dengan menjadi pertapa.

Susunan sutra-sutra Patanjali dibagi menjadi empat tahap, yaitu: SAMADHI PADA, SADHANA PADA, VIBHUTI PADA dan KAIVALYA PADA

1) SAMADHI PADA adalah hal Kemanunggalan yang berisi: Pembedaan Samadhi menjadi dua macam : Nirvikalpa Samadhi (BIJA SAMADHI) = samadhi berbiji atau dengan kesadaran rasa aku, dan NIRBIJAM SAMADHI = Samadhi tanpa kesadaran aku. Untuk mencapai tujuan Samadhi itu dibutuhkan WAIRAGYA (ketidak melekatan duniawi) dan ABHYASA (pembiasaan laku spiritual). Seorang siswa samadhi yang ingin mencapai penerangan batin dengan sistim Yoga disebut seorang SADHAKA. (Red: tanpa harus beragama Hindu)

Faktor – faktor penghambat samadhi disebut  KLESA. Berasal dari KLIS yang artinya “tersiksa, menderita, sussah”, adapun kata KLISTA = layu, lelah, terluka, terpuruk, kotor , kacau, rusak. Dalam Yoga sutra kata ini dihubungkan dengan kondisi watak manusia yang menggangu perwujudan manusia yang asli yang serba cahaya. Yoga sutra adalah methoda untuk menyingkirkan / menghapus hambatan itu sehingga manusia mampu menyingkap apa yang inheren didalam kodrat manusdia yaitu kesempurnaan-nya.

Lima hambatan klesa tersebut adalah: AVIDYA, ASMITA, RAGYA, DVESA dan ABHINIVESA yang menggambarkan ketidaktahuan, rasa aku ada subyektif, kemelekatan inderawi, kebencian / kemauan jahat, dan klesa kegemaran hidup.

2)  SADHANA PADA yakni tahapan laku spiritual. Di pada ini digambarkan tahapan-tahapan Yoga yang terdiri dari 7 tahap, dimulai dari tingkat YAMA – NIYAMA – PRANAYAMA – PRATYAHARA – DHARANA – DHYANA – SAMADHI. Jika ditambah dengan SAMAYAMA menjadi delapan tahap atau ASTHANGA YOGA.

3)  VIBHUTI PADA adalah kekuatan-kekuatan kegaiban dan kesempurnaan. Dalam pada ini disebutkan berbagai keistimewaan jika seorang siswa (Sadhaka) ber-samyama pada pusat-pusat energi di badannya. Namun ditekankan pula bahwa siddhi (kekuatan gaib) yang dihasilkan dari kontemplasinya bisa merupakan hambatan untuk mencapai kelepasan Jiwatman (Jiwa dan Atman yang sudah manunggal) menuju kesempurnaan.

4) KAIVALYA PADA merupakan tahap pengalaman isolasi puncak spiritual atau kesempurnaan batin. Ada empat tingkat pencapaian seorang sadhaka/siswa yoga :

  1. Orang yang tekun mempraktekkan yoga darinya cahaya akan menyingsing
  2. Orang yang mempraktekkan yoga akan  memperoleh pengetahuan yang mengandung kebenaran hakiki
  3. Orang yang berhasil menundukkan organ-organ tubuh dan sekaligus unsur-unsur alam akan dikaruniai kemampuan mempertahankan keberhasilannya itu dan kemampuan untuk terus menjadi sempurna.
  4. Orang yang telah melampaui apa yang ditemukan ia akan berkonsentrasi pada Prima Causa (Penyebab Pertama dari segala kejadian)

KAIVALYA : memiliki makna ganda yaitu keadaan terisolir dari kegiatan materi fisik (prakirti) dan juga berarti keseluruhannya serba meliputi.

KEVALIN: Seorang siswa yang telah mampu menghancurkan rintangan/ hambatan (5 klesa) maka ia mencapai pengalaman puncak isolasi yaitu terisolasi dari pengaruh prakirti  (tri guna) dan oleh karenanya ia memperoleh kebebasan dan mandiri selamanya sebagai KEVALIN.

YOGA SUTRA PATANJALI DISEDERHANAKAN UNTUK KEKINIAN

Pertama DEFINISI YOGA PATANJALI adalah “jalan” untuk memberhentikan gerak gerik cipta. Yoga adalah keseluruhan “jalan” mencapai Samadhi (INTEGRASI).Yoga adalah “ulah batin” atau mengheningkan cipta hingga dicapai tujuan. Yoga adalah upaya agar batin menjadi hening dan agar dasar dari kesadaran aku dapat dialami.Yoga adalah mengupayakan agar sang pribadi sadar dialamnya sendiri. Yoga adalah tujuan dari semua proses ulah batin itu. Yoga disini disamakan dengan Samadhi itu sendiri, oleh karenanya ada yang menyatukan dua kata itu menjadi YOGA SAMADHI.

Kedua PROSES. Selama gerak gerik cipta masih berlangsung maka sang pribadi mengenali diri sebagai bentuk-bentuk cipta. Selama pikiran / cipta masih bergelombang ibarat permukaan air terhembus angin maka penampakan dasar dari kesadaran menjadi buram. Gerak-gerik cipta yang dikatakan tidak diam adalah proses kegiatan mengingat-ingat, membayangkan sesuatu, tidur, mengetahui sesuatu, mengetahui yang tidak nyata atau yang tidak sebenarnya, menginginkan sesuatu.

Melatih diri untuk menghentikan gerak-gerik cipta dilakukan dengan tetap tanpa perlu emosional. Yang disebut tanpa emosional adalah perasaan tenang dalam diri sendiri. Yang disebut tanpa emosi juga berarti pikiran tidak terombang-ambing oleh apa yang  diketahui maupun yang belum diketahui. Keadaan tanpa riak gelombang pikiran dapat dicapai setinggi-tingginya jika tiga sifat alam tidak lagi mempengaruhi sang pribadi.

Ketiga BEKAL BATIN. Keadaan yang dicapai dalam Samadhi memerlukan kepercayaan, berani dan sadar akan tujuannya. Dengan terus menerus menghentikan gerak gerik cipta maka tinggal bekas-bekas pikiran yang terlupakan.

Keempat ASPEK-ASPEK SAMADHI. Keadaan Samadhi ada yang disebut Samadhi tanpa kesadaran “aku” diri. Namun ada pula keadaan Samadhi dengan kesadaran diri. Samadhi yang seperti ini masih disertai tanya jawab dalam diri sendiri, masih disertai usaha merenungkan sesuatu untuk memperdalam pengertian, masih disertai perasaan aku ada dan juga masih disertai perasaan yang nikmat, terharu atau hanya tenang saja.

Kelima YANG DISEBUT PRIBADI TUHAN, yakni keadaan Samadhi dengan jalan penyerahan diri secara total kepada Dzat Tuhan/ Ishwara/ Brahman. Tuhan adalah Jiwa Semesta yang terbebas dari semua pekerjaan dalam semedinya. Disebut NIRGUNA BRAHMAN/ PURUSHA. Tuhan adalah Jiwa Semesta yang tak pernah berhenti bekerja dengan semedinya.. Disebut SAGUNA BRAHMAN/  Shakti

Keenam RINTANGAN RINTANGAN. Bentuknya adalah Rintangan-rintangan pada upaya batin dalam mencapai Samadhi seperti Badan sakit,

pikiran malas,  ragu-ragu akan terjadi sesuatu,  kehilangan semangat atau putus asa,  pikiran terombang-ambing, pikiran melekat pada sesuatu yang disukai atau yang tidak disukai, pandangan yang salah, kehilangan tujuan yang tetap.

Ketujuh WUJUD LAHIRIAH RINTANGAN. Pikiran melayang-layang karena ada gangguan perasaan yang berhubungan dengan perasaan menderita,

keluar masuk nafas yang berat, getaran-getaran syaraf yang tidak ritmis dalam badan, pikiran yang tidak enak atau kawatir.

Kedelapan CARA – CARA TENANG untuk menenangkan kekalutan pikiran seperti (1) dengan mengucapkan lambang Tuhan (AUM) dalam batin secara pelan-pelan dengan dicamkan maksudnya yang sebenarnya;  (2) dengan merasakan keluar masuknya nafas secara halus; (3) dengan merasakan denyut jantung yang mendalam sekali; (4) dengan jalan mempertajam kesadaran pada penginderaan; (5) dengan jalan merenungkan kesadaran hati yang bebas dari keinginan; (6) dengan jalan merenungkan sinar penerangan batin atau pengerti yang bebas dari perasan menderita; (7) dengan jalan menyadarkan diri atas pengalaman dalam mimpi. Semua gangguan akan dapat diatasi dengan usaha yang tekun, tetap dan teguh berpegang pada tujuan.

Kesembilan KEKUATAN PENDUKUNG dengan identifikasi Watak-watak yang mendukung dalam Samadhi, seperti: watak penyayang/ welas asih,

perasaan gembira, watak lemah lembut, pikiran tetap tenang dalam situasi yang baik maupun yang tidak.

Kesepuluh JENIS-JENIS  SAMADHI. Barang siapa yang gerak-gerik pikirannya telah terkendali maka keadaan jiwa akan seperti batu pemata yang memancarkan sinar kesatuan semesta . Pada saat itu yang mengetahui dan yang diketahui menjadi satu. Samadhi demikian disebut SAMADHI BERBIJI./ BIJA SAMADHI dengan kesadaran pada arti kata-kata dan pada pengetahuan yang diperoleh darinya. Samadhi ini dilakukan dengan proses dialog dalam batin dan disertai proses pikir memikir untuk memperdalam pengertian.

Samadhi yang lain adalah SAMADHI TANPA BIJI / NIRBIJAM SAMADHI yaitu Samadhi tanpa proses tanya jawab. Samadhi ini dilakukan tanpa proses pikiran menganalisa sesuatu hal; dilakukan dengan proses mengosongkan diri atau melepas kan proses pikir memikir sehingga jiwa KOSONG benar dan hanya menyertakan tujuan kehendak saja. Kedua sistim Samadhi itu bisa dilakukan meskipun untuk tujuan yang sehalus-halusnya.

Kesebelas PERSIAPAN, dimana Jalan Yoga memerlukan persiapan yaitu: KEHENDAK yang kuat mau bertapa,  KEHENDAK yang kuat mau belajar dan  KEHENDAK yang kuat mau menyerahkan diri kepada BRAHMAN. Ketiganya adalah jalan persiapan agar bisa memperdalam Samadhi dan meminimalkan rintangan.

Keduabelas KELEMAHAN-KELEMAHAN BATIN YANG JADI AKAR PERMASALAHAN untuk mencapai Samadhi. Diantaranya disebut disini

(1) kebodohan yaitu tidak adanya pengetahuan yang benar akan jalan/sistim semedi. (2) perasaan aku sebagai diri yang terpisah dari lainnya. (3) kemelekatan pada sesuatu kesenangan inderawi. (4) penolakan terhadap sesuatu. (5) kegemaran akan hidup sebagai penikmat. Semua gangguan akan lenyap jika perasaan ‘aku ada’ dikembalikan pada keadaan asal segala sesuatu / PURUSHA.

Ketigabelas KARMA atau HUKUM SEBAB AKIBAT YANG BERSIFAT MUTLAK. Yang disebut KARMA adalah kristalisasi dari kelima kelemahan yang telah dijelmakan dalam niat batin, sikap batin, pandangan batin dan perbuatan nyata. KARMA itu menghasilkan jenis kelahiran, usia, kedudukan, suka dan duka, berbagai factor dukungan atau berbagai factor hambatan bagi seseorang untuk mencapai kemajuan..

Keempatbelas SUBHA KARMA DAN ASHUBA KARMA. Hasil-hasil dari Karma dapat terjadi pada kehidupan yang kasat mata sekarang atau yang tidak kasat mata kemudian hari. Suka dan duka juga merupakan hasil dari Karma.  Bagi seseorang yang telah terang pandangan batinnya  semua buah Karma itu merupakan penderitaan juga. Setinggi-tingginya suka masih menyertakan ingatan akan penderitaan, kegemaran hidup dan perasaan tidak pasti atau samasekali tidak sadar akan kesementaraan segala sesuatu. Adanya suka maupun duka tak lain karena masih berlangsungnya-kontradiksi sifat-sifat dasar materi  yaitu RAJAS, TAMAS , SATTWAM

Seorang yang telah terang pandangan batinnya terus menerus memilah antara pengalaman dan yang mengalami. Yang mengalami lebih tinggi nilainya dari pengalaman…dan ini harus terus disadari Penyadaran diri untuk memisahkan antara pengalaman dari Sang Pribadi yang mengalami disebut WIWEKA.  Jika WIWEKA terus menerus dipertahankan maka terbukalah PARAMITA yaitu kearifan sempurna. Dengan memenuhi semua pelajaran YOGA maka tercapai pembersihan diri dari semua KLISA / kekotoran batin yang ada

Kelimabelas menjelaskan TUJUH TAHAPAN YOGA atau fase dalam ber-yoga brata.

1)      YAMA  – tak membunuh, tak berdusta, tan mencuri, tak berzina, tak serakah

2)      NIYAMA – mensucikan diri (hati), gembira dalam semua keadaan, matiraga, mengucapkan puja, menyerahkan diri pada  ISHWARA

3)      ASANA – melatih diri untuk bisa duduk dengan tenang dan sentausa tanpa ketegangan dan tanpa pengawasan pikiran.

4)      PRANAYAMA – mengawasi keluar masuknya nafas yang teratur dan mendalam sekali.

5)      PRATYAHARA –  peracutan pancaindera

6)      DHARANA- pemusatan kehendak atau niat untuk satu tujuan

DHYANA- pemusatan pikiran atau konsentrasi pikiran

7)      SAMADHI : mengaktifkan rasa untuk satu tujuan

SAMYAMA : proses tiga tingkat hingga melepaskan semua kegiatan pikiran

PENCERAHAN BATIN

Ketika kesadaran manjing atau menetap pada alamnya sendiri maka pencerahan akan terjadi setingkat demi setingkat. Kelangsungan kontrol terhadap gerak-gerik cipta menjadi semakin kuat karena kebiasaan. Hanya dengan memperdalam pengertian yang terang maka dapat diketahui bahwa sang pribadi bukanlah pikiran. Pikiran menjadi paham atau menjadi tahu karena menerima sinar pengetahuan dari yang mengetahui didalam diri. Dengan kata lain pikiran menjadi tahu darei kinerja sang pribadi atau yang mengetahui segalanya dengan sempurna. Dengan demikian dari keadaan jiwa yang WIWEKA terbukalah jalan ke KAIVALYAM yaitu integrasi total dengan Roh Semesta.

Dengan kata lain karena cipta dibersihkan dari klisa-klisa maka sifat suci yang terbangun menjadi sama dengan Purusha sendiri dan pikiran akan mencapai KAIVALYAM. Jika sifat WIWEKA dan WAIRAGYA / tak melekat pada kenikmatan duniawi / maka datanglah SAMADHI yang disebut Dharma Mega atau awan kebajikan. Sesudah itu terhentilah semua gangguan dan semua buah perbuatan. Karena semua yang menutupi jalan keabadian telah tersingkirkan. Yang mengetahui yaitu sang pribadi sendiri telah terbebas dari segala gangguan dan tercapailah KAIVALYAM yaitu keadaan tak terganggu namum disatukan dengan segala yang ada karena is manjadi maha meliputi semuanya.****

–mnmnmnmnmnmnmn–

BUDI SUSETYO, ditulis medio 2009 untuk kalangan Anggota sendiri.

3 thoughts on “YOGA SUTRA PATANJALI

  1. i wayan weraspatiana

    yoga itu sangat baik untuk memelihara kesehatan menurut beberapa leteratuir yang saya baca dan para praktisi yoga dan saya mau naya apakah pantangan yang harus dilaksanakn kalau mengikuti latihan yoga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s