BOROBUDUR (2)

Lanjutan Perkembangan Budhisme di Jawa

Prof. Dr. Timbul Haryono

Candi lain yang juga menjadi saksi perkembangan Buddhisme pada abad IX adalah Candi Barabudur. Berdasarkan teks Sang Hyang Kamahayanikan, Noerhadi Magetsari menduga bahwa candi Barabudur memiliki unsur-unsur aliran tantrayana.[1] Berdasarkan penempatan arca-arca Pañcatathâgata di Barabudur dan setelah membandingkan dengan dengan teks Sang Hyang Kamahayanikan, dapat diperkirakan bahwa Candi Barabudur mengandung unsur-unsur ajaran Tantrayana. Dalam agama Budha, Parinirvana dilambangkan sebagai stupa.  Oleh karena itu stupa puncak atau stupa utama tentu saja juga melambangkan Parinirvana pula.

Rangkuman Parinirvana Sutra menunjukkan bahwa ‘kebudhaan’ dapat diperoleh melalui kâmadhâtu, rûpadhâtu, arûpadhâtu. Uraian di dalam kitab Sang Hyang Kamahayanikan tentang hal tersebut tercermin di dalam undak-undakan Candi Barabudur. Adapun tentang permasalahan apakah Candi Barabudur melambangkan sebuah mandala, telah menjadi perdebatan di antara para ahli. Marijke J. Klokke dengan tegas menyatakan bahwa Candi Barabudur bukan menggambarkan mandala sebagaimana disampaikan oleh para sarjana lainnya.[2] Teori yang menyatakan bahwa Candi Barabudur merupakan bentuk mandala tiga dimensi karena berdasarkan pendapat bahwa sistem pantheon Barabudur dianggap menganut sistem Pañcatathagata sebagaimana ditulis dalam teks Yogatantra dan Caryatantra. Marijke J. Klokke mengatakan bahwa Barabudur tidak menganut sistem lima tathagata akan tetapi enam tathagata.[3] Namun menurut Hudaya Kandahjaya, Barabudur mencerminkan dharmadhatu mandala.[4] Ia menegaskan: “Borobudur is truly special mandala, since it was built to its ultimate magnificence.[5]

Seperti telah disebutkan bahwa agama Budha di Jawa telah muncul sejak abad V. Dalam perkembangannya di Jawa menunjukkan bahwa agama Budha Mahayana berkembang sampai puncaknya pada abad VIII-IX yang ditunjukkan oleh jejak-jejaknya berupa bangunan candi. Pada abad itu tampaknya agama Budha Mahayana telah bercampur dengan aliran tantrayana.  Kesesuaian antara isi Kitab Sang Hyang Kamahayanikan dengan struktur bangunan Candi Barabudur telah memperkuat asumsi ini.

Setelah abad X terjadi perpindahan aktivitas politik  dan budaya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Sampai sekitar abad XV, agama Budha mengalami perkembangan yang menunjukkan unsur sinkretisme kuat dengan agama Hindu. Menurut penelitian N. J. Krom, perpindahan kerajaan dilakukan oleh raja Pu Sindok, didasarkan pada prasasti Añjukladang yang dikeluarkan Pu Sindok menyebutkan: “kita prasiddha mańraksa kadatwan rahyaŋ ta i mdaŋ i bhūmi matarām i watugaluh”[6] Bahwa Pu Sindok tidak lagi tinggal di kraton Medang, sebab Medang dikatakan sebagai kraton nenekmoyangnya.[7] Penyebab dipindahkannya kraton ke timur dikaitkan dengan peristiwa meletusnya gunung Merapi yang dahsyat. Dilihat dari latarbelakang kosmogonis, perpindahan kraton dari Jawa Tengah ke Jawa Timur berarti penciptaan mandala baru dan diikuti dengan ditetapkannya gunung suci sebagai pusatnya.

Sangatlah menarik untuk perkembangan ini adalah temuan arca-arca perunggu kelompok Nganjuk yang ditafsirkan sebagai jejak-jejak penggambaran sebuah mandala Budhist yaitu Vajradhātu mandala. Arca-arca kelompok Nganjuk tersebut telah menjadi pembahasan para ahli agama Budha maupun para arkeolog. Kelompok arca yang hampir sama telah ditemukan di Surocolo, Yogyakarta.[8] Melalui sumber-sumber tertulis India tentang Vajradhatu Mandala maupun di Tibet seperti Sarvavajrodaya, Tattvālokakarī, serta Nispanayogāvalī,  akhirnya diketahui bahwa ada kesamaan ciri-ciri ikonografis arca Nganjuk dan Surocolo tersebut. Adapun arca Nganjuk diperkirakan dari abad X Masehi, arca-arca kelompok Nganjuk dan Surocolo  merupakan gambaran Vajradhatu mandala tiga-dimensi. Bahwa pada sekitar abad X di Jawa telah berkembang agama Buddha Tantra.

Candi Jago

Masa Singhasari sangat penting dalam perkembangan Budhisme di Jawa. Saat itu seorang raja biasa dicandikan di dua tempat, satu sebagai Dewa agama Hindu dan satunya sebagai Dewa agama Budha. Agama Hindu dan Budha keduanya hidup berdampingan bahkan akhirnya melahirkan ajaran Siwa-Budha, seperti keterangan Kitab Pararaton dan Nagarakrtagama. Raja Singhasari terakhir, Kertanagara bergelar ‘Batara Siwa-Budha’. Kitab Pararaton menyatakan bahwa: “Sirâji Kĕrtanagara sira añjĕnĕng prabhu, abhiseka bhatâra Çiwabuddha”.[9] Bahkan ketika kraton Singhasari diserang musuh yaitu Jayakatwang, raja Kertanagara dikatakan: sira bhatāra Çiwabuddha pijĕr anadah sajőng’ -artinya ‘Bhatara Siwabuddha senantiasa minum minuman keras’.[10] Keterangan tersebut ditafsirkan bahwa raja Kěrtanagara melaksanakan upacara tantra. Oleh karena itu setelah wafat, ia diarcakan sebagai Ardhanāri dan arca Siwabuddha.

Tentang Budhisme yang dianut Kěrtanagara juga disebutkan di dalam kitab Nāgarakertāgama. Prapañca menuliskan bahwa Kěrtanagara rajin berusaha untuk melakukan kelima perintah. Para penganut ajaran kelima perintah melakukan perbuatan sucinya dalam sebuah cakra, yaitu suatu lingkaran dari pria-pria yang ditahbiskan dan dari yogini-yogini di bawah pimpinan seorang cakreswara dengan suatu sakti. Menurut J.L.Moens apa yang disebutkan Prapañca dengan ‘ganacakra’ adalah latihan cakra yang demikian dan yang dilakukan bersama-sama.[11] Kěrtanagara juga menerima pentahbisan sebagai jina yang bernama Çri Jnānabajreçwara. Sangatlah beruntung bahwa ada sebuah arca Maha Aksobhya yang pada lapik arcanya berinskripsi di Tumpang (Surabaya). Arca tersebut menggambarkan raja Kěrtanagara yang bernama Jina Mahāksobhya.[12] Nama ini merupakan sebutan lain untuk Adibuddha Wajradhara.

Candi Jawi

Dalam prasasti disebutkan bahwa pentahbisan Kěrtanagara di sebuah lapangan mayat. Adapun dewa yang khas dalam kaitannya dengan hal ini adalah Bhairawa. Dalam Nāgarakrtāgama, Prapañca memberikan penjelasan bahwa di dalam candi Jawi ada sebuah: “arca Siwa (Bhairawa) yang tak terkatakan indahnya dengan sebuah arca Aksobhya kecil, yang tiada bandingannya, dalam mahkota”.[13]

Candi Jawi adalah candi yang dibangun oleh Kěrtanagara menggambarkan bagaimana perkembangan agama Buddha pada masa itu. Karena raja Kertanagara semasa hidupnya menganut dua agama Siwa dan Buddha, maka candi Jawi mempunyai sifat dua agama juga. Nāgarakrtāgama pupuh 56 secara lengkap menjelaskan sebagai berikut[14]: (1).Adanya candi makam tersebut sudah ada sejak zaman dahulu; Didirikan oleh Sri Kertanagara, moyang baginda raja; Di situ hanya jenazah beliau sahaja yang dimakamkan; Karena beliau dulu memeluk dua agama Siwa-Budha. (2). Bentuk candi berkaki Siwa, berpuncak Budha, sangat tinggi; Di dalamnya terdapat arca Siwa, indah tak dapat dinilai; Dan arca Maha Aksobhya bermahkota tinggi tidak bertara;  Namun telah hilang, dan sudah layak, tempatnya di Nirwana.

Bahwa Kertanagara sebagai penganut agama Budha ditegaskan pula oleh Nāgarakrtāgama, dengan pengarcaan sebagai arca Ardanareswari yang ‘bertunggal dengan arca Sri Bajradewi’, juga Hyang Wairocana-Locana bagi lambangnya pada arca tunggal. Pupuh XLIII menjelaskan bahwa Kertanagara teguh bakti menyembah Sakyamuni, teguh tawakal memegang pancasila, laku utama, upacara suci. Ia juga penganut setia tantra Subuti. Informasi tersebut memberikan gambaran yang jelas bahwa agama Budha pada masa Singashari bercirikan aliran tantrisme. Seorang raja biasa dimakamkan di dua tempat sebagai Siwa dan sebagai Buddha.

Wisnuwardhana, ayah Kertanagara juga dicandikan di dua tempat, yaitu di Waleri berlambang arca Siwa dan di Jajago lambang arca Budha. Candi yang masih terlihat sekarang hanyalah candi Jago. Apabila dilihat pantheon pada Candi Jago tampak jelas bagaimana agama Budha ketika itu. Unsur-unsur Hindu pada candi Jago ini adalah pada salah satu reliefnya, yaitu relief yang bersumber pada Mahabharata. **** BERSAMBUNG

Tulisan kedua; Disarikan dari makalah Prof. Dr. Timbul Haryono berjudul CANDI BOROBUDUR DALAM BINGKAI PERKEMBANGAN BUDHISME DI JAWA: PERSPEKTIF HISTORIS-ARKEOLOGIS, disampaikan Sabtu tgl 16 Mei 2009 Pukul 09.00 – 13.00 WIB dalam Seminar Membaca Siddhartha & Budhisme di Candi Borobudur di Aula Dinas Pariwisata Propinsi DIY.


[1] Noerhadi Magetsari, Candi Borobudur Rekonstruksi Agama dan Filsafatnya. Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1997

[2] Periksa Marijke J. Klokke, “Borobudur a Mandala? A Contextual Approach to the Function a Meaning of Borobudur”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi VII, Jilid 2. Pusat Penelitian Arkeologi, 1997-1998.

[3] Ibid. hlm. 18-19

[4] Hudaya Kandahjaya, The Master Key for Reading Borobudur Symbolism. Bandung, Yayasan Penerbit Karaniya, 1995.

[5] Ibid hlm. Hlm. 92

[6] N.J.Krom, Hindu-Javaansche Geschidenis.2e herziene druk, ‘s-Gravenhage, M.Nijhoff

[7] Boechari, Some Considerations of the Problem of the shift of Mataram’s Center of Government from Central to East Java in the 10th Century A.D. Dalam R.B.Smith dan W. Watson (ed.) Early South East Asia, 1979

[8] Arca-arca perunggu di Surocolo ditemukan pada tahun 1976 sebanyak 22  buah dan sekarang disimpan di Kantor Balai Pelestarian Peninggalan purbakala (BP3) propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

[9] J.L.A. Brandes, Pararaton (Ken Arok), of het Boek der Koningen van Toemapel en van Madjapahit. Tweede druk, bewerkt door Dr.N.J.Krom. VBG LXII, 1920.

[10] Dengan keterangan seperti disebut di dalam kitab pararaton tersebut, H.Kern menyatakan bahwa Kertanagara gemar minum minuman keras yang memabukkan; berkebalikan dengan yang disebutkan di dalam kitab Nagarakrtagama bahwa raja Kertanagara adalah raja yang taat terhadap 5 larangan, antara lain  minum minuman kerasa. Lima larangan tersebut kemudian dikenal dengan istilah ‘pancamakara’ atau ‘ma lima’ dalam bahasa Jawa baru.

[11] J.L.Moens, ‘Het Buddhisme op Java en Sumatra in zijn laatste Bloeiperiode”, Tijdschrift Bataviaasch Genootschap, LXIV,  1924, 521-579

[12] Arca tersebut ada di Simpang, Surabaya, terkenal dengan nama arca Joko Dolog.  Dalam prasastinya, yang disebut juga prasasti Wurare, 1289, gelar Kertanagara adalah Bhatara Siwa-Budha.

[13] Nagarakrtagama,  nyanyian 56 bait ke-2.

[14] Terjemahan oleh Slametmulyana, Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta, Bhratara, 1979

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s