PERKEMBANGAN CANDI DI JAWA: PERSPEKTIF HISTORIS-ARKEOLOGIS

Oleh Prof. Dr. Timbul Haryono

Perkembangan Budhisme di Jawa

Persebaran agama Budha dari India bukan hanya melalui jalur darat atau jalur sutra (Silk Route)  tetapi  juga melalui jalur laut (Sea-route), yang dipicu oleh perkembangan perdagangan internasional, peranan kepulauan nusantara khususnya Sumatra dan Jawa menjadi sangat penting. Proses persebaran pengaruh Budhisme (termasuk juga Hinduisme) dari India ke nusantara selama ini dikenal sebagai proses Indianisasi, suatu istilah yang sebenarnya kurang tepat. Dengan istilah ‘Indianisasi’ seakan-akan kepulauan nusantara mendapat pengaruh secara penuh dari India. India dianggap sebagai ‘donor culture’ dan Jawa-Sumatra ditempatkan di dalam posisi ‘recipient culture’.

Himansu Bhusan Sarkar mencatat bahwa di dalam teks Budhist Dīpavamsa dan Mahāvamsa disebut-sebut  perdagangan laut dari Bengal ke Asia Tenggara pada sekitar abad ke-3 SM. Ada tiga zona di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara yang selalu dikontrol oleh para penguasa maritim. Zona pertama mencakup Laut Arabia yang dibatasi oleh Somalia di barat, Oman, Irak, Iran dan Pakistan di sebelah utara, dan Pakistan serta India bagian barat di sebelah timur termasuk Srilangka. Zona kedua meliputi Teluk Bengal, Burma, Malaya, serta Sumatra bagian barat di timur. Zona ketiga adalah wilayah laut Cina Selatan.[1]

Di dalam tulisannya yang lain, Sarkar menyatakan tentang adanya hubungan budaya antara Bengal dengan pulau Jawa.[2] Namun baru setelah N.J.Krom menerbitkan bukunya Hindoe-Javaansche Geschiednis (1926) informasi tentang hubungan budaya antara Jawa dan India (Bengal) mendapat perhatian para sarjana seperti F.D.K. Bosch[3] dan W.F. Stutterheim[4]. Pulau Jawa terletak dalam lokasi yang strategis dalam persebaran Budhisme karena berada di jalur laut yang menghubungkan India, Asia Tenggara, dan China. Hal ini membawa kebudayaan Jawa (Indonesia) memiliki ciri-ciri yang spesifik. Zoetmulder menyatakan bahwa:

“Indonesian culture is not an isolated phenomenon. This culture is part of a larger whole. It has its ties with, and is continually influenced by, the cultures of South and Southeast and East Asia”[5]

Pulau Jawa (atau kepulauan di nusantara secara keseluruhan) secara geografis di pertengahan jalur laut, jalur transmisi Budhisme antara Asia Selatan dan Asia Timur.

Berita tertua sejarah perkembangan Budhisme barangkali dari riwayat perjalanan Fa Xian. Ia mulai perjalanan dari Cina ke India dalam tahun 399 dan kembali ke Cina via jalur laut pada tahun 414 M. Pada tahun 413 Fa Xian singgah di pulau Jawa dan tinggal di Jawa selama 5 bulan. Pada tahun itu Budhisme di nusantara baru dalam tahap kelahirannya. Dapat dipahami mengapa catatan Fa Xian hanya sedikit dalam hal agama Budha di Jawa.[6] Di dalam catatan berita Cina disebutkan bahwa Fa Xian sampai di Ye-P’o-T’i, tempat yang diasumsikan sebagai Jawa.[7] Pada abad V M berita Cina juga menyebutkan bahwa  kerajaan Cho-po  merupakan kerajaan yang penting.[8]

Di dalam catatan sejarah Dinasti Sung diberitakan bahwa pada tahun 430 kerajaan Ho-lo-tan mengirimkan utusannya ke Cina, kemudian juga mengirimkan utusan lagi pada tahun 433/434 dan 452. Ho-lo-tan dikatakan terletak di Cho-po. Banyak tafsiran untuk mengidentifikasi Ho-lo-tan, namun menurut Majumdar Ho-lo-tan sama dengan kerajaan Taruma.[9]

Berdasarkan catatan Cina  tahun 519 M seorang biksu dari Kashmir bernama Gunavarman juga datang di Jawa dan tinggal di kerajaan di Jawa, ia berhasil mengajak raja dan keluarganya, bahkan rakyatnya, untuk memeluk agama Budha. Ia juga menterjemahkan beberapa buku seperti Dharmagupta-bhiksu-karma dan Bodhisattva-bhumi-bhadra-sila-sutra. Berdasarkan catatan Gunavarman dapat diperkirakan bahwa pada abad V Masehi, pulau Jawa bukan lagi pulau yang terisolir dan agama Budha mulai perkembangannya saat itu. Pulau Sumatra juga menjadi saksi perkembangan agama Budha pada periode awal. Di dalam buku Sejarah Dinasti Liang (502-506) disebutkan bahwa di Sumatra pada sekitar abad V-VI telah ada agama Budha. Sumber-sumber dari Tibet juga menyebutkan bahwa perkembangan agama Budha terjadi di Sumatra pada abad V Masehi. Cukup menarik bahwa sebuah arca Budha dari bahan perunggu telah ditemukan di Sempaga (Sulawesi) dan di Jember (Jawa Timur). Dari pembandingan gaya, kedua arca Budha tersebut sangat mirip dengan arca Budha di Amaravati. Oleh karena itu kedua arca Budha tersebut diduga berasal dari India selatan atau Srilangka.[10]

Jejak Budhisme dalam peninggalan Candi

Sekalipun perkembangan Budhisme di nusantara mungkin sudah terjadi pada abad V, namun jejak-jejak yang berupa bangunan candi abad V belum ditemukan. Sisa-sisa candi berlatarbelakang agama Budha baru ditemukan pada sekitar abad VIII, suatu abad yang menandai periode klasik Jawa Tengah sampai abad X; dan selanjutnya diikuti masa klasik Jawa Timur dari abad XI – XV. Berdasarkan data arkeologis diyakini bahwa akhir kejayaan  kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah ditandai dengan perpindahan kegiatan politik ke jawa Timur  pada abad X.[11]

Jejak-jejak arkeologis perkembangan Budhisme di Jawa juga bisa dibaca  melalui peninggalannya yang berupa sumber tertulis seperti prasasti, kitab-kitab kesastraan. Bahkan antara informasi di dalam prasasti dapat dibandingkan dengan data-data bangunan seperti prasasti Kalasan yang dihubungkan dengan candi Kalasan. Prasasti Kalasan yang dikeluarkan pada tahun 778 M menandai munculnya penggunaan aksara Pre-Nagari di Jawa yang berbeda dengan aksara masa sebelumnya yang digunakan di Jawa Barat maupun di Jawa Tengah.  Setelah itu muncul prasasti Kelurak, Ratu Baka, Plaosan, dan Sajiwan, yang semuanya dapat dikaitkan  dengan candi-candi agama Budha. Data-data yang disebut di dalam prasasti tersebut juga menunjukkan adanya hubungan budaya dengan India utara.

Candi Kalasan dan Candi Sari

Aksara prasasti Kalasan secara paleografis menunjukkan kemiripannya dengan aksara yang ditemukan di Ghosrawa, dekat Nalanda.[12] Prasasti Kalasan menyebutkan adanya pendirian sebuah kuil di desa Kalasa untuk pemujaan Dewi Tarā.[13] Kuil tersebut adalah candi Kalasan yang sekarang masih berdiri. Namun jika candi Kalasan yang seperti bisa dilihat sekarang  dikaitkan dengan pertanggalan prasasti tahun 778 M tampaknya ada ketidak sesuaian antara arsitektur dengan pertanggalannya, dalam arti bahwa candi Kalasan secara arsitektural bukan hasil karya tahun 778 M. Pada tahun-tahun itu arsitektur candi masih sederhana seperti dapat dilihat pada candi-candi Dieng maupun Gedongsanga. Arsitektur candi Kalasan yang tampak sekarang ini adalah hasil karya seni yang sudah maju yaitu karya abad VIII – IX.[14] Penelitian selama dilakukan pemugaran candi Kalasan membuktikan bahwa ada bangunan candi sebelum candi Kalasan yang berbentuk seperti sekarang (Kalasan I). Hal ini berarti bahwa candi Kalasan mengalami pembangunan kembali atau perbesaran bangunan yaitu candi Kalasan I kemudian diperbesar menjadi candi Kalasan seperti bangunan sekarang ini.[15]

Seperti telah disebut di muka bahwa candi Kalasan adalah candi untuk pemujaan Dewi Tārā, namun arca dimaksud sudah tidak ada sama sekali. Menilik padmasana besar (tempat duduk arca) yang masih tersisa, dapat diperkirakan arcanya juga cukup besar. Seandainya arca dibuat dari bahan batu mesti masih tersisa di dalam candi karena untuk mengeluarkan arca tidak mungkin mengingat ukuran pintu candi yang kecil jika dibandingkan dengan ukuran arca. Oleh karena itu dugaan bahwa arca utama dibuat dari bahan logam perunggu cukup masuk akal. Sebesar apapun arca perunggu, dapat dipecah oleh pencuri untuk kemudian dipakai sebagai bahan daur ulang pembuatan benda lain. Candi Kalasan masih menyisakan bekas lapisan penghalus dinding luar yang disebut vajralepa. Selain itu gambaran ‘moonstone’ yang terletak di depan tangga naik membuktikan masih kuatnya pengaruh seni India di Kalasan.

Tidak terlalu jauh dari candi Kalasan adalah candi-candi agama Budha yang lain yaitu candi Sari, candi Banyunibo, candi Plaosan, dan candi Sewu dekat Prambanan.Tidak banyak yang diketahui informasinya tentang candi Banyunibo  mengingat data-data prasasti tidak ditemukan. Adapun Candi Sari menarik dari sisi arsitekturnya yang berdenah persegi panjang serta terdiri dari dua lantai. Bagian tubuh candi memiliki 3 (tiga) ruangan yang masing-masing dihubungkan dengan pintu. Bekas vajralepa serta tulisan pendek dengan cat  ditemukan pada bagian dinding.

Candi Plaosan

Candi Plaosan terdiri dari dua kelompok Plaosan Lor dan kelompok Plaosan Kidul. Kelompok Plaosan Lor lebih banyak memberikan informasi tentang agama Budha pada waktu itu. Candi Plaosan Lor adalah candi agama Budha yang didirikan sekitar abad IX, yang terdiri dari 2 (dua) candi utama di halaman pusat dan dikelilingi oleh bangunan candi-candi yang lebih kecil serta sejumlah bangunan stupa  Seperti candi Sari di Kalasan yang juga berlatar belakang agama Budha, Candi Plaosan Lor terdiri dari 2 (dua) lantai dengan 3 ruangan masing-masing. Di dalam setiap ruang lantai bawah (baik Candi Utama sebelah selatan maupun sebelah utara) ditempatkan 3 buah arca Budhist dengan komposisi satu diapit dua arca. Namun anehnya semua arca yang di tengah semuanya telah hilang, sehingga diperkirakan arca yang tengah dibuat dari bahan logam perunggu. Adapun arca yang ada tinggal 6 arca batu dan diidentifikasi secara berturut-turut dari selatan sebagai arca Manjusri, Sarvanivaranaviskambhin, Vajrapani, Padmapani (Avalokitesvara), Samantabhadra, dan Maitreya.

Prasasti pendek yang digoreskan pada beberapa candi perwara berupa  tulisan singkat menyebut nama Rakai Pikatan: ‘astupa srīmahārāja rakai pikatan’ artinya ‘persembahan bangunan stupa oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan’. Di dalam prasasti Sivagrha tahun 856 M,[16] Rakai Pikatan adalah seorang raja dari agama Hindu yang berkaitan dengan pendirian candi Lara Jonggrang (kelompok candi agama Hindu di Prambanan).[17] Candi Plaosan dikaitkan dengan seorang raja putri bernama Pramodhawardhani yang beragama Budha. Tafsir tulisan singkat tersebut, bahwa raja Hindu menyumbang pembangunan candi agama Budha berwujud bangunan stupa. Sebagaimana diketahui bahwa candi utama Plaosan Lor dikelilingi oleh bangunan-bangunan candi perwara yang lebih kecil dan perwara deret  II dan III berbentuk stupa.  Hal ini menunjukkan bahwa pada abad IX antara agama Budha dan Hindu hidup damai berdampingan – a pieceful co-exixtence of the main religions in early Central Java.[18] Bahkan Roy E. Jordaan membuat hipotesis bahwa Candi Lara Jonggrang di Prambanan mengandung unsur-unsur agama Budha. Di daerah Prambanan memang banyak peninggalan candi agama Budha dan agama Hindu yang saling berdekatan.

Candi Budha dan candi-candi Hindu yang saling berdampingan tersebut ditafsirkan sebagai adanya sistem keagamaan, sistem mandala tertentu, atau tanda-tanda adanya sinkretisme. Menurut penelitian P. H. Pott, keletakan candi yang berlatarbelakang agama Budha di daerah Pramabanan yaitu Candi Sewu, Candi Bubrah, dan Candi Lumbung dan hubungannya dengan candi Hindu Lara Jonggrang di dekatnya, menggambarkan sistem ‘mantra Budhisme bertingkat’. Sebagai tingkat atas (super structure) adalah ketiga buah candi agama Budha: Sewu, Bubrah, Lumbung; dan sebagai tingkat bawah adalah candi Hindu Lara Jonggrang.  Hal yang sama tampaknya berlaku juga di Barabudur, bahwa candi-candi agama Budha: Barabudur, Mendut, dan Pawon mewakili tingkat atas dan Candi Banon yang berlatar belakang agama Hindu menggambarkan tingkat bawah.[19]

Candi Sewu

Candi Sewu adalah sebuah kompleks candi Budha yang terdiri atas candi induk di halaman pertama, dikelilingi oleh 8 Candi Apit dan 240 Candi Perwara dalam empat deretan konsentris di halaman kedua. Prasasti berangka tahun 714 Saka (792 M) memberitakan adanya perluasan sebuah prasada yang dinamakan Wajrasana Mañjusrigrha. Berdasarkan penelitian pemugaran diperoleh data bahwa Candi Induk Sewu mengalami tiga periode pembangunan. Pada pembangunan III, tempat duduk arca (asana) tampaknya diperbesar sebaliknya ambang pintu dipersempit, relung-relung pada bilik penampil yang semula untuk arca berdiri diubah menjadi relung yang pendek untuk arca duduk.[20] Dengan demikian jika dikaitkan dengan prasasti Manjusrigrha, yang berarti ’rumah untuk Manjusri’, maka arca utama di dalam bilik adalah arca Dewa Manjusri.

Sebuah prasasti lainnya telah ditemukan di dekat Candi Lumbung yang terletak di sebelah selatan Candi Sewu.[21] Prasasti Kelurak yang berasal dari tahun 782 Masehi berisi penghormatan terhadap ‘tri ratna’ dan juga memperingati didirikannya arca Manjusri. Sangat menarik sekali di dalam prasasti ini adalah kalimat yang menyatakan bahwa dalam diri Manjusri tersembunyi Buddha, Dharmma, dan Brahma, Wisnu, Maheswara sekaligus. Di dalam salah satu sistem mandala agama Buddha dikenal adanya apa yang disebut dharmmadhatuwagiswaramandala. Di dalam mandala ini sebagai tokoh utama adalah Mañjughosa yang tidak lain adalah Mañjusri.[22] Tokoh-tokoh dewa agama Hindu juga termasuk di dalam mandala ini, yaitu Brahma, Wisnu, Siwa. Sikap tangan (mudra) dewa-dewa Hindu tersebut adalah añjalihastamudra yaitu sikap menyembah.

Pada tahun 1991, di reruntuhan  kompleks Candi Sewu ditemukan sebuah arca perak setinggi 8,5 cm. Arca tersebut dalam sikap duduk di atas lapik arca berbentuk yoni dari bahan perunggu. Berdasarkan ciri-ciri ikonografis arca yang antara lain ardhacandrakapala menunjukkan bahwa tokoh tersebut menggambarkan Dewa Siwa Maheswara.[23] Tidaklah terlalu jauh jika disimpulkan bahwa arca tersebut menggambarkan Dewa Siwa. Adapun mengapa Dewa Siwa dalam sikap menyembah karena ia dalam posisi sebagai dewa-dewa dalam mandala Budhisme. Mengingat bahwa di dalam prasasti Kelurak dikatakan di dalam diri Manjusri terdapat juga Trimurti maka arca Dewa Siwa tersebut berasal dari Candi Sewu dan juga mempertegas pendapat Soekmono bahwa prasasti Kelurak berhubungan dengan Candi Sewu.[24] Data-data tersebut setidaknya dapat memberikan gambaran perkembangan Buddhisme di abad VIII – IX.

Berkenaan dengan tidak adanya arca utama di bilik Candi Sewu, Dumarçay berpendapat bahwa arca utama Candi Induk Sewu pernah diganti. Menurut Dumarçay arca yang pertama tingginya sekitar 360 cm dan dibuat dari bahan perunggu, sedangkan arca penggantinya tingginya kurang lebih 530 cm dibuat dari batu.[25] Sangat menarik perhatian bahwa pernah ditemukan pecahan arca bagian dari kepala arca Budha yang dibuat dari bahan perunggu.  Bentuk ikal rambut memang menandakan bahwa arca yang tersebut adalah arca Budha. Menurut perkiraan Bosch, arca ini jika dalam kondisi utuh akan setinggi kurang lebih 366 cm. Mengingat  di daerah Prambanan tidak ada candi Budha yang dapat menampung arca sebesar itu, tentunya arca perunggu tersebut berasal dari Candi Sewu.

Permasalahan lain yang muncul adalah seperti uraian di muka bahwa arca utama di dalam ruangan Candi Sewu adalah arca Mañjusri. Arca Mañjusri secara ikonografis tidak pernah digambarkan dengan rambut ikal (keriting).[26] Bosch menyatakan bahwa sistem mandala yang digunakan di Candi Sewu adalah wajradhatumandala. Denah dan tataletak Candi Sewu mirip dengan bagian wajradhatumandala. Bosch menduga bahwa pecahan arca perunggu yang ditemukan di Candi Sewu adalah pecahan arca Wairocana. Di dalam wajradhatumandala tokoh utama yang menempati mandala adalah Wairocana. Dengan analisis seperti ini berarti telah ada perubahan sistem mandala yang dianut Candi Sewu yaitu dari dharmadhatuwagiswara menjadi wajradhatumandala.

Sistem pantheon Candi Sewu mirip dengan sistem pantheon Barabudur. Berdasarkan sisa-sisa arca di dalam Candi Perwara ada 46 arca Dhyani Buddha dan 4 arca Bodhisattva. Arca Aksobhya menempati bilik Candi Perwara menghadap ke timur, Ratnasambhawa ke selatan, Amitabha menghadap ke barat, dan Amoghasiddha menghadap ke utara. *** BERSAMBUNG

Disarikan dari makalah Prof. Dr. Timbul Haryono berjudul CANDI BOROBUDUR DALAM BINGKAI PERKEMBANGAN BUDHISME DI JAWA: PERSPEKTIF HISTORIS-ARKEOLOGIS, dipaparkan dalam  Seminar DPD HPI DIY berjudul Membaca Siddhartha & Budhisme di Candi Borobudur hari Sabtu, 16 Mei 2009  Pukul 09.00 – 13.00 WIB di Aula Dinas Pariwisata Propinsi DIY.


Catatan:

[1] Himansu Bhusan Sarkar,”Bengal and Her Traffic Routes in the Bay of Bengal and South-East Asia (c. B.C. 300 to A.D. 300),” Journal of the Asiatic Society, XIV/1, 1972, 74-90

[2] Himansu Bhusan Sarkar, “The Cultural Contact between Java and Bengal,” The Indian Historical Quartely, XIII, 1985, 589-599

[3] Baca misalnya dalam tulisanya tentang prasasti Kelurak.

[4] Periksa bukunya A Javanese period in Sumatran History

[5] P.J. Zoetmulder, “The Significance of the Study of Culture and Religion for Indonesian Historiography”,  dalam Soedjatmoko, et al. (ed.), An Introduction to Indonesian Historiography, 330

[6] W.P. Groeneveldt, “Notes on the Malay Archipelago and Malacca compiled from Chinese sources”, dalam Verhandelingen van het Bataviaasch Genotshap van Kunsten en Wetenschappen, vol.  XXXIX, 1980.

[7] G. Coedes menempatkan Yeh-p’o-ti di Kalimantan, sementara  O.W. Wolters memperkirakandi Jawa. Periksa G.Coedès, The Indianized States of Southeast Asia. Terjemahan oleh Susan Brown Cowing, Honolulu, 1968; O.W.Walters, Early Indonesian Commerce. A Study of the origins of Srīwijaya. Ithaca (NY), 1967.

[8] Tentang Cho-po pada umumnya para sarjana menyamakan dengan Jawa (Cho-po sebagai ucapan untuk Jawa menurut lafal Cina). Akan ada yang mencari lokasi Cho-po di semenanjung Malaya.

[9] Periksa R.C.Majumdar, Suvarnadvipa: Ancient Indian Colonies in the Far East. Dacca, 1937.

[10] Periksa Pauline Lunsingh Scheurleer dan Marijke J. Klokke , Divine Bronze Ancient Indonesian Bronzes from A.D.600 to 1600. Leiden: E.J.Brill,  1988, 53; dan  A.J.Bernet Kempers, Ancient Indonesian Art, Amsterdam, 1959

[11] Periksa Boechari, “Some considerations  on the problem of the Shift of Mataram’s Centre of Government from Central to East Java in the 10th century AD, dalam R.B.Smith dan W.Watson (ed.), Early South East Asia, 1979, 473-491

[12] Periksa H.B.Sarkar, “The Cultural Contact between Java and Bengal”, dalam Bachchan Kumar (ed.), Glimpses  of Early Indo-Indonesian Culture. Indira Gandhi National Centre for the Arts, New Delhi, 2001, 18-25.

[13] Nama desa Kalasa yang disebut di dalam prasasti, menjadi nama desa sekarang ‘Kalasan’ dimana sebuah candi berlatang agama Budha berdiri.

[14] Bandingkan misalnya dengan arsitektur candi Lara Jonggrang, candi Sewu,  dan candi  Barabudur

[15] Perbesaran bangunan candi yang barangkali dikerjakan oleh generasi berikutnya juga terjadi di Candi Sewu.

[16] Periksa J.G.de Casparis, Selected Inscriptions from the 7th to the 9th century AD, Prasasti Indonesia II, 1956.  Pertanggalan di dalam prasasti Sivagreha dinyatakan dalam bentuk kronogram (sengkalan) yang berbunyi  ‘wualung gunung sang wiku’yang artinya, 778 (Saka) atau tahun 856 M.

[17] Periksa J.G.de Casparis, Short Inscriptions from tjandi Plaosan Lor. Djakarta: Berita Dinas Purbakala, No. 4, 1958.

[18] Roy E. Jordaan, “Co-existence of religions in ancient Central Java”,  dalam Lokesh Chandra (ed.), Society and Author of Southeast Asia: Continuities and Changes. New Delhi: Aditya Prakashan, 2000, 121-125

[19] P.H.Pott, Yoga en Yantra. Leiden, E.J.Brill.

[20] Periksa  Kusen dan Timbul Haryono,  ‘Kemungkinan penempatan arca perunggu di dalam Candi Perwara Sewu (Kajian berdasar bentuk lapik arca), Pertemuan Ilmiah Arkeologi VI,1992.

[21] Prasasti tersebut kemudian lebih dikenal sebagai  prasasti Kelurak karena desa terdekat tempat ditemukannya prasasti  ini di desa Kelurak. Periksa  F.D.K.Bosch, “De Inscriptievan Keloerak”, TBG 68, 1-64

[22] Periksa B. Bhattacharyya, The Indian Buddhist Iconography. Calcutta, Firma K.L. Mukhopadhyay, 1968, 104.

[23] Timbul Haryono, “Bimetalic statue of Siva recently found in Central Java”, Proceeding of the 6th International Conference of the European Association of Southeast Asian Archaeologist. Leiden: University of Hull, 1999

[24] Periksa Soekmono, Candi Fungsi dan Pengertiannya. Disertasi, Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia., 1974.

[25] J. Dumarçay, Candi Sewu dan Arsitektur Bangunan Agama Budha di Jawa Tengah. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Seri terjemahan no. 1, 1986, 11-21

[26] Kusen dan Timbul Haryono,  op. cit. hlm. 301

2 thoughts on “PERKEMBANGAN CANDI DI JAWA: PERSPEKTIF HISTORIS-ARKEOLOGIS

  1. susannasan

    Tulisan yang sangat bagus. Kebetulan saya sedang mencari sejarah candi-candi di Indonesia. Salam. Tetap lestarikan peninggalan nenek moyang kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s