FAUNA

Fauna adalah istilah binatang yang mencakup keseluruhan alam hewan; termasuk hewan yang hidup di suatu daerah tertentu atau tahap waktu geologik tertentu. Di dunia ini terdapat beribu macam atau species binatang. Di Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau besar maupun kecil di garis Katulistiwa ini mempunyai banyak sekali jenis-jenis tumbuhan dan binatang yang tidak diketemukan di daerah dingin atau sub tropis, atau daerah lain dikarenakan distribusi yang sulit karena terpisah oleh benua dan lautan. Secara geografis pembagian hewan-hewan di Indonesia ini sangat luarbiasa, hal ini mungkin diawali sejak jaman es, dimana kutub utara dan selatan yang mencair, sehingga air laut meninggi dan menenggelamkan daratan di beberapa benua disamping pergeseran tektonik  atau kerak bumi. Pada waktu itu mestinya Jawa, Sumatera, Malaka, Kalimantan dan Bali masih menyatu dengan benua Asia. Tapi Irian, Aru, Australia memang sudah lama terpisah. Secara geografis pemisahan dini dari pergeseran kerak bumi (pergeseran tektonik) ini yang menerangkan secara gamblang kenapa walaupun sama-sama binatang yang hidup di hutan tropis, akan tetapi hewan-hewan yang terdapat  seperti di Jawa, Sumatra dan Kalimantan tidak lagi dapat di ketemukan di daerah Irian Jaya, demikian pula sebaliknya dengan alasan yang sama mengapa Kangguru yang banyak terdapat di Irian Jaya  tidak ditemukan di daerah lainnya.

Maluku, Sulawesi dan Nusa tenggara barat yang merupakan perbatasan dari dua lempengan kerak bumi ini, dalam kurun waktu yang sangat panjang mengakibatkan tidak diketemukannya hewan-hewan sejenis yang ada di belahan timur, bahkan sampai di Selat Makasar atau pulau-pulau kecil di dekat Kalimantan itupun tidak ditemukan jenis-jenis binatang yang terdapat  di belahan timur di daerah tersebut, dikarenakan mungkin sejak jaman dahulu sudah dibatasi oleh selat atau lautan yang cukup dalam. Sementara Laut Banda yang sangat dalam memang telah memisahkan pulau itu dalam kurun waktu yang sangat panjang. Para ilmuwan telah menunjukkan keberadaan tiga garis pembedaan hewan-hewan tersebut.  Alfred Russel  WALLACE (1823 – 1913) menulis di dalam bukunya “The Malay Archipellago“ bahwa kepulauan Nusantara ini dibagi menjadi tiga, Dalam teori Wallace tersebut, garis yang membujur dari selatan ke utara melewati Lombok dan Selat Makasar dan berakhir di sebelah tenggara Philipina, sampai ke timur daerah hunian (barat) dan daerah hunian Australia (sebelah timur) Pulau Sulawesi yang sebagai daerah pembatas dikenal sebagai garis Wallace. Yang ke dua adalah Garis Weber yang melintasi lautan antara Maluku dan Sulawesi. Dan yang ke tiga adalah garis Lydekker yang mulai dari ujung pegunungan dan perbulkitan di sebelah barat  Irian Jaya dan benua Australia. Bagaimanapun para ilmuwan lain lebih suka mengatakan daerah itu sebagai  “Substraction transition Zone“ daerah batas pengurangan.

Kita tidak akan banyak berbicara masalah Fauna sampai detail, akan tetapi kebetulan kita punya Pasar Burung yang kadang-kadang kita melihat hewan atau burung yang dijual di pasar dan kita perlu untuk dapat memberikan keterangan, atau setidaknya kita mendapatkan khasanah pengetahuan yang cukup berarti bagi kehidupan kita.

Diantara jenis fauna, bahwa Burung adalah mahluk yang disebut Vertebrata, atau binatang bertulang punggung, burunglah yang paling elok warna bulunya, paling merdu suaranya, paling  dikagumi, paling gigih dibela dari keberadaannya. Jumlahnya jauh melebihi vertebrata lain kecuali ikan, dan ditemukan hampir di mana pun  di dunia, dari gunung es di kutub, sampai lereng Himalaya dan Andes yang paling tinggi hingga laut yang bergolak,  rimba yang  sangat gelap, gurun yang sangat tandus, sampai perkotaan yang berjejal penuh bangunan, burung tetap ada. Kecuali pusat Benua Antartika adalah satu-satunya tempat di permukaan dunia yang tidak ditempati burung.

Diperkirakan ada sekitar 8.600 jenis burung yang tersebar di dunia. Burung berdarah panas seperti binatang menyusui, tetapi sebenarnya burung lebih berkerabat dengan reptil, yang mulai berevolusi sekitar 135 juta tahun yang lampau. Semua burung dianggap berasal dari ARCHAEOPTERYX, burung pertama yang dikenal, meninggalkan fosil semi reptilianya. Meskipun berbulu, namun mahluk tersebut agaknya kurang pandai terbang dan melewatkan banyak waktunya di tanah. Burung masa kini berbeda dengan reptil, karena berkem-bangnya bulu yang mempengaruhi daya terbang. Reptil seperti Pterosaurus sudah memiliki daya terbang yang kuat, tetapi hanya mengandalkan bentuk sayapnya yang panjang dan berselaput. Pada mulanya sayap burung yang lebar hanya untuk melayang, dan baru dipergunakan untuk terbang yang sebenarnya setelah bulu sayapnya berkembang semakin lebar, ringan dan tersusun rapat. Bulu merupakan rahasia keberhasilan burung, tidak hanya karena memberikan daya terbang pada burung yang pertama melainkan juga memberikan ke-hangatan dalam memelihara suhu badan.  Modifikasi bulu burung masa kini ada yang berubah fungsi menjadi lapisan yang kedap air, sebagai alat perasa, berwarna  cerah atau berburik-burik untuk memikat lawan jenisnya, atau bahkan untuk menyamar.  Karena sayap dipergunakan untuk terbang, burung menjadi kehilangan fungsi tangan dan menjadi makhluk berkaki dua, selain itu tulang burung berevolusi, berongga berisi udara dan lebih ringan; tulang punggungnya menjadi lebih pendek dan menyatu; paruhnya terbentuk dari zat tanduk yang ringan dan tidak bergigi, dibandingkan dengan rahang bergigi dari tulang yang berat  pada reptil, nenek moyang mereka.

Secara biologi, perkembang biakan burung hanya berbeda sedikit dengan nenek moyang mereka yaitu reptil. Telur burung bentuknya mirip dengan teluk reptil, tetapi lebih berkapur dan biasanya cangkang telur lebih keras. Beberapa jenis seperti burung Gosong, menanamkan telurnya begitu saja di dalam tanah yang hangat, hampir sama seperti Komodo yang juga menanamkan telurnya di pasir panas. Atau ada juga beberapa burung yang hanya menaruh telurnya di atas tanah atau daun-daun yang membusuk. Tetapi kebanyakan burung umumnya menyiapkan sarang secara khusus untuk bertelur.

Perilaku sosialnya juga berubah sesuai dengan habitatnya, tempat mencari makan, di samping tingkah laku berbiak dan kebiasaan umum lainnya.  Biasanya burung hidup berpasangan, yaitu jantan dan betina yang memper-tahankan teritorinya, pasangan ini membagi tugas dalam mengasuh anaknya. Jenis lain hidup dalam kelompok kecil seperti Beo dsb, sementara sebagian lain hidup dalam koloni yang besar seperti Pipit, Gelatik dsb. Beberapa jenis menganut polygami, seperti Ayam Hutan di mana beberapa ekor ayam betina dilayani hanya oleh  seekor jantan saja, tetapi sang jantan tidak lagi mau ikut mengasuh anak-anaknya.  Sementara ada juga yang hidup secara polyandri, yaitu beberapa jantan mengawini satu betina seperti pada blekok kembang, dan masih banyak lagi yang belum diketahui.  Daerah Jawa & Bali memiliki avifauna yang kaya, terdapat hampir 500 jenis yang mewakili setengah dari suku atau famili burung di dunia. Contoh yang baik sekali dari hampir semua ragam biologi burung dapat ditemui disini. Namun pemukiman manusia dan perubahan tata guna lahan telah berakibat nyata terhadap kehidupan burung di wilayah ini. Hutan hujan dataran rendah yang dulu merupakan habitat terbaik bagi burung, sekarang hanya tersisa kurang dari 2.5 % dan menjadi habitat langka. Hutan bakau, rawa bersemak alami dan danau serta telaga yang belum terganggu, sudah tidak ada lagi bagi kehidupan burung. Sebagai gantinya adalah daerah yang luas, habitat buatan manusia, seperti sawah, padang ilalang, ladang dan kebun desa, hutan sekunder, perkebunan teh, kopi, karet, coklat, karet dan hutan pinus serta hutan jati yang sangat luas.

Di Jawa dan Bali terdapat lebih dari 100 cagar alam, tetapi umumnya berukuran sangat kecil dan tidak cukup untuk melindungi komunitas burung secara lengkap. Hanya ada 12 kawasan konservasi yang berukuran lebih besar dari 10.000 hektar. Akan tetapi perdagangan burung betul-betul telah merusakkan  dan menghabiskan beberapa jenis burung, di samping pasar-pasar burung lokal ada juga perdagangan burung internasional, suatu laporan resmi mangatakan bahwa tahun 1980 – 1982 saja lebih dari 340.000 burung secara ilegal diekspor dari Indonesia, kebanyakan melalui Jakarta tetapi hanya sekitar 8000 yang dilaporkan berasal dari Jawa dan Bali. Karena kurangnya pengawasan terhadap perdagangan dan juga banyaknya penyelundupan dan pemalsuan dokumen untuk jenis-jenis langka dan dilindungi, jelas bahwa sampai skala tertentu akan menghabiskan populasi burung liar.***

Yogyakarta, 24 Oktober, 2009. Artikel ditulis dan disampaikan oleh M. Subekti sebagai materi Kursus Pemanduan Wisata dalam Training Center HPI Angkatan I yang berlangsung di Sekretariat HPI selama tiga bulan dari November – Januari 2010.

One thought on “FAUNA

  1. ipong

    artikel apek banget
    mgkin sekedar saran
    gak sesuai gambar anak penyu
    waktu wengi yo…!
    gambare koyo ning sukamade
    penyu sing gede ora nono..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s