FLORA

Asal kata Flora diambil dari bahasa latin  “Flos“ yang berarti bunga. Di dalam kisah mitologi Italia kuno, berarti Dewi pertumbuhan bunga dan tanaman ladang.  Dalam ilmu biologi ;

  1. Berarti jumlah dari jenis-jenis tanaman yang terdapat dalam suatu daerah tertentu. Dalam hal ini flora merupakan pengertian abstrak  berupa daftar nama, sedangkan pengertian kongkritnya disebut tumbuhan (Vegetasi).
  2. Buku yang berisi uraian tentang jenis-jenis tumbuhan serta perinciannya dari suatu daerah tertentu.

Tumbuh-tumbuhan di seluruh dunia ini yang telah diketahui ada sekitar 360.000 jenis tumbuhan, dan masih banyak lagi yang belum ditemukan. Di Kebun Raya (Botanical Garden) Bogor – Jawa Barat saja, tumbuhan yang  sudah didaftar serta dikenal hampir mencapai 15.000 jenis tumbuhan, dari pepohonan besar yang berkayu keras sampai ke herba dan tumbuh-tumbuhan yang dapat dengan mudah disilangkan seperti Kopi, Anggrek, Mawar dsb. Keistimewaan lain bahwa di Tanah Air kita yang sangat subur ini memiliki banyak sekali flora yang berkhasiat sebagai obat. Dan sudah menjadi budaya bangsa Indonesia untuk lebih banyak memanfaatkan tumbuhan guna memelihara kesehatan dan mengobati penyakit, banyak tumbuhan obat yang ditanam di kebun atau di halaman sekitar rumah tempat tinggal.

Tentang pengetahuan Flora ini kita tahu bahwa budaya bangsa Indonesia berkait dengan pemanfaatan alam, khususnya untuk pemeliharaan kesehatan dan pengobatan penyakit yang dilakukan berdasarkan pengalaman secara turun temurun dari nenek moyang. Apalagi destinasi Yogyakarta punya Pasar Ngasem dan Pasar Bering Harjo yang  menjual rempah-rempah sebagai bahan jamu tradisional, hal ini dapat menjadi obyek  guiding kita. Untuk dapat menerangkan kepada wisatawan betapa jamu sebagai obat tradisional dapat dimanfaatkan sampai sekarang  untuk perawatan kesehatan masyarakat.

Khusus mengenai Flora atau tumbuh-tumbuhan yang terdapat di Kraton Yogyakarta, sejak jaman dahulu tidak dibudidayakan guna diambil manfaat atau hasil buahnya, akan tetapi lebih cenderung diambil nilai filosofisnya untuk khasanah pengetahuan budaya Jawa.

RAGAM FLORA DI SEKITAR KITA:

  1. Beringin (Lat : Ficus Benjamina L),  Termasuk suku Moraceae. Tersebar di Himalaya bagian timur sampai Myanmar – Jawa dan sampai Timor. Tinggi 20 – 35 m, waktu kecil bisa hidup epifit di pohon lain, di batu-batu karang atau di lumut. Banyak ditanam di Jawa di Alun-alun sebagai lambang keagungan dan pelindung. Kulit kayu mengandung resin, getahnya mengandung tanin, kadang-kadang dijadikan tambang.
  1. Sawo (Lat : Manilkara achras) termasuk Famili : Sapotaceae oleh karena itu di beberapa daerah seperti di Thailand disebut Sapotee. Berasal dari Amerika tropis, tinggi 5 – 20 m, percabangan rendah, tajuk lebat, batang kasar, bergetah, bunga kecil-kecil, biji keras mengkilap. Buah muda mengandung banyak Tanin yang berkhasiat sebagai obat. Di Meksiko getah pohon digunakan sebagai permen karet. Kayu sangat baik, keras dan

berat, banyak digunakan untuk pembuatan patung dan perabot rumah tangga. Kulit kayu mengandung banyak tanin, saponin dan sedikit alkaloid, biasanya digunakan untuk menyamak papan perahu dan layarnya.

  1. Sawo Beludru (Lat : Chrysopyllum cainito) juga termasuk suku Sapotaceae tinggi mencapai 20 m, daun mengkilap, permukaan atas berwarna hijau sedangkan bawah berwarna coklat seperti beludru sehingga dengan demikian orang jawa menamakannya Sawo Beludru. Umumnya ditanam di pekarangan sebagai tanaman buah, tanaman hias dan tanaman peneduh. Daging buah dimakan segar atau dibuat selai manisan.
  1. Sawo Kecik (Manilkara Kauki) tinggi sampai 30 m, tersebar banyak di Asia Selatan sampai Australia. Batang daun ataupun buah muda bergetah, di Kraton ataupun di pekarangan rumah-rumah bagsawan Jawa banyak ditanam karena diambil nilai filosofisnya. Dinamakan Sawo Kecik (Becik) yang artinya di dalam ruang lingkup halaman itu orang diharapkan hanya berbicara, berpikir dan bertindak yang baik atau (becik)  saja.
  1. 5. Sawo Tanjung (Lat : Mimusops Elengi)  Sama sebagai suku Sapotaceae tapi pohon ini adalah tanaman asli Asia Selatan tinggi 15 – 25 m, Daun seperti kulit, bunga sempurna serta berbunga sepanjang tahun dengan baunya yang harum dan aroma yang khas. Ditanam sebagai tanaman hias, peneduh jalan. Buahnya yang masih muda bergetah dan dulu sering dipakai sebagai campuran warna untuk mengecat wayang.

  1. 6. Keben/Baringtonia Asiatica  (Lat : Lecythidaceae) tangkai daun pendek, helai daun besar, kaku seperti kulit, dan permukaan atas mengkilat. Buahnya berbentuk piramida bersegi 4, sering ditanam di lingkungan Kraton, khususnya di Yogyakarta di depan Bangsal Sri Menganti karena nilai filosofisnya dari bentuk buah yang bersegi 4 dan menyatu di suatu titik ujungnya seperti gambaran bersatunya berbagai daerah 4 penjuru arah mata angin yang menyatu untuk dapat bertemu dengan Sri Sultan, disamping ditanam sebagai peneduh juga disimbolkan sebagai pohon perdamaian.
  1. 7. Jambu Air (Lat : Syzygium Aqueum).

Famili : Myrtaceae (Water Rose – Apple) tinggi 3 – 7 m, Tanaman asli Indochina dan Indonesia sekarang menyebar sampai pasifik terutama di dataran rendah. Bunga tersusun dalam karangan, berwarna putih atau kuning, benangsari banyak sehingga terkesan seperti rambut, daging buah berair maka disebut jambu air, ada yang berbiji ada yang tidak. Buahnya enak dimakan, baik dalam keadaan segar atau dibuat rujak dan asinan. Rebusan kulit batang atau pucuk daunnya bisa dipakai untuk obat diarea.

Di dalam Kraton Yogyakarta ada 2 jenis jambu air yang  ditanam di halaman Bangsal Sri Manganti ataupun di sebelah selatan Bangsal Manis adalah Jambu Klampok Arum (Jambu Mawar) baunya harum sehingga kalau dimakan, rasanya nafaspun menjadi lebih segar. Arti simbolisnya bahwa disitu diharapkan hanya dibicarakan hal-hal yang baik. Demikian juga dengan Jambu Dersono (Jambu Bol : Lat : Syzygium Malaccense) walaupun kadang rasanya sedikit asam, akan tetapi Dersono (Sudarsono) dalam bahasa jawa artinya bagus. Sehingga diharapkan sama bahwa yang berada di lingkungan itu hanya berbicara, bersikap dan bertindak yang baik-baik saja.   Dari sumber informasi lain mengatakan kenapa ditanamnya dekat bangsal Magangan, karena sudarsono itu berkaitan dengan postur tubuh yang tinggi gagah perkasa, untuk itu orang tua senantiasa berharap bahwa anaknya nanti mempunyai tubuh yang tegap dan tinggi gagah.

  1. Jambu Batu/Jambu Klutuk Jawa (Lat : Psidium Guajava/Guava) Jambu ini       berasal dari Amerika Tropis, jenisnya sangat banyak, rasa daging buahnya pun sangat beraneka ragam, serta banyak mengandung vitamin C, dapat dimakan dalam keadaan segar atau menjadi sari buah. Akar dan kulit pohon dapat dipakai sebagai obat diarea atau disentri : Seduhannya berperan sebagai bahan kesat (Astringen)  lemah pada usus. Di Eropa daun jambu biji dipakai sebagai obat Gastro-Enteritis. Terutama pada anak-anak.

9.         Jambu Mete/Jambu monyet (Lat : Anarcadium Occidentale) tumbuhan asli Amerika Tropik yang sekarang sudah tersebar keseluruh Asia dan Afrika. Di Jawa Barat daun mudanya sering dipakai untuk lalap. Kulit biji banyak mengandung getah yang berminyak  dan dapat menyebabkan gatal pada kulit  badan.  Bijinya  bergizi tinggi dan enak dimakan sehingga menjadi makanan mahal. Buahnya bisa dimakan walaupun rasanya asam tapi bisa diragikan menjadi semacam anggur buah ataupun cuka. Getah pohon sering dipakai sebagai campuran lem kertas agar tidak mudah dimakan serangga.

  1. Kepel (Lat : Stelechocarpus burahol) suku : anonaceae. Tanaman asli Asia Tenggara pohonnya berbatang lurus, tinggi 15 – 20 m kulit batang licin berwarna coklat tua, bunga betina bergerombol menempel pada batang, sedang bunga jantan menempel di cabang-cabang tua, bertangkai pendek buah berbentuk bulat seperti buah sawo, berdaging manis berbiji enam, dan daging buahnya mengandung zat pelancar pengeluaran air seni serta peng-harum keringat.

11.  Sirsat/Nangka Belanda/Nangka sabrang  Jawa  (Lat : Annona Muricata) Suku : Anonaceae (Soursop/Zurzak) tinggi 3 – 8 m, tanaman berasal dari Amerika Selatan dan sekarang sudah menyebar ke seluruh daerah tropis sampai 1000 m – dpl. Munculnya bunga berhadapan dengan munculnya daun, bentuk seperti kerucut, mahkota tebal berwarna kuningmuda dan berbau harum. Buahnya  berbentuk lonjong mengecil di bagian ujungnya. Kulit buah berduri lunak, daging buah lembek, berair. Berwarna putih.

12. Rambutan  (Lat : Nephelium Lappaceum) Asal Indonesia dan Malaysia yang sudah tersebar di seluruh daerah tropika. Tinggi pohon 15 – 20 m, dan rindang. Perbungaan berupa malai, berjenis jantan, betina dan hermafrodit, berwarna hijau kekuning-kuningan. Buah bulat berbulu panjang atau pendek tergantung jenis, berwarna hijau, kuning, merah muda, dan merah tua. Ada 22 macam di Indonesia. Daging buah dimakan segar atau dalam bentuk sari buah. Biji mengandung minyak oleat yang digunakan sebagai bahan sabun atau lilin. Kulit buah mengandung tanin dan sedikit saponin. Pucuk daun muda digunakan sebagai bahan pewarna sutera.

13. Pisang (Musa Sp) Famili : Musaceae (Pisang-pisangan) Tinggi pohon 3 – 5 m. Herba yang hidupnya berumpun. Asal Malaysia yang kemudian menyebar ke seluruh daerah tropika, terutama di daerah dataran rendah sampai 1500 mt Dpl. Batang semu, merupakan kumpulan dari pelepah daun yang tersusun dan saling menutupi. Lurus tidak bercabang, licin dan banyak mengandung air. Bunga muncul dari ujung batang, yang tersusun seperti sisir dalam satu tandan yang berbentuk jantung. Seludang bunga berwarna merah tua, sedang bunga berwarna putih. Pisang akan berbuah satu kali kemudian akan mati, tapi diseputar pohon induk akan banyak tumbuh anakan yang menggantikan posisi induknya. Variasinya sangat banyak, secara garis besar pisang dapat dibagi menjadi menjadi 4 macam yaitu :

  1. Pisang yang buahnya enak bila dimakan langsung, atau tanpa dimasak terlebih dahulu seperti : Pisang Ambon, Pisang Raja, Pisang Susu, Pisang Mas dsb.
  2. Pisang yang buahnya lebih enak kalau dimasak terlebih dahulu seperti Pisang Tanduk, Pisang Raja nangka, Pisang Kepok Kuning dsb.
  3. Pisang yang kurang umum dimakan manusia biasanya sebagai makanan burung ; seperti Pisang Batu, Pisang Kepok Putih, Pisang Monyet dsb.
  4. Pisang yang sesungguhnya hanya merupakan tumbuhan dari famili pisang-pisangan yang hanya bersifat sebagai hiasan seperti bunga Heliconia, Pisang Kipas  dsb.

Sumber Tulisan

Yogyakarta, 24 Oktober, 2009, ditulis dan disampaikan oleh M. Subekti. Materi Kursus Pemanduan Wisata di Training Center HPI Angkatan I yang berlangsung selama tiga bulan dari November – Januari 2010

3 thoughts on “FLORA

  1. dimas handoko

    Makasih buat posting tulisannya pak Bekti…ditunggu kelanjutan tulisannya, jadi yang belum berkesempatan gabung kursus tetap bisa dapat kesempatan nambah wawasan lewat website ini. Ditunggu posting berikutnya…makasih.

  2. hpijogja Penulis Tulisan

    Anggota HPI DIY terkenal linuwih…pls bagi- bagi pengetahuan dan pengalaman buat rekan lain, semua psti menunggu.. artikel lanjutan!

    Hanya Tuhan akan membalas. nuwun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s