CANDI BOROBUDUR (1)

(I) ASPEK HISTORIS

Pembangunan candi sampai kini masih misteri. Tak bisa dibayangkan  bagaimana mengangkat batu-batu seberat 400 kg hingga ketinggian 40-an meter. Teori mengatakan bahwa orang-orang memakai hellen vlak (istilah Belanda) yaitu diadakan suatu bidang tanah rata tetapi punya kemiringan untuk mendorong atau menarik batu-batu keatas. Setelah bangunan disusun maka tanah penutup itu dibongkar. Kemungkinan besar mereka punya tekhnik yang lebih baik yang tak diketahui orang sekarang seperti gaya levitasi dll.

Banyak sarjana telah berusaha mengupas misteri ‘Borobudur’ tetapi semuanya merupakan hipotesa-hipotesa. Juga perkiraan angka tahun didirikannya Candi ini didasarkan pada tulisan-tulisan di kaki Candi yang tidak terlalu meyakinkan. Dr H.J. Kern dan Dr.NJ. Krom memperkirakan bangunan suci ini telah dirampungkan para pendirinya pada abad IX Masehi. Tetapi pada 1950 Dr J.G. Casparis berhasil membaca Prasasti Karang Tengah (Temanggung) yang menyebutkan nama Borobudur dan menemukan sengkalan / candrasengkala tahun pendirian Candi yang berbahasa Sansekerta dan bahasa Kawi. Huruf yang digunakan adalah huruf Kawi. Huruf Kawi dikenal juga sebagai huruf Jawa Kuno namun Jawa Kuno sebagai bahasa tak bertulis sebenarnya jauh lebih tua daripada bahasa dan huruf Kawi.

Sengkalan ‘RASA SAGARA KSITIDHARA’ = tahun 746 tahun Saka.

Tahun pendirian di samarkan dalam sengkalan dan dibaca terbalik dari kanan kekiri.

Ksitidhara berarti bukit atau gunung dan mempunyai nilai 7. Sagara berarti air atau lautan, mempunyai nilai 4. Rasa berarti perasaan, mempunyai nilai 6. Jadi prasasti Karang Tengah menyebut angka 746 tahun Saka = tahun 824 Masehi karena harus ditambah 78. Angka tahun ini menjadi amat penting dalam hubungannya dengan pendirian Candi ini dan bersifat akurat. Dengan demikian perkiraan Dr Kern dan Dr Krom bahwa Borobudur dibuat abad IX tidak terlalu salah.

Sementara prasasti-prasasti lain yang lebih tua menggunakan huruf Pallawa atau Pra Nagari yang berasal dari India selatan sejak abad ke III. Sengkalan tahun pada prasasti Karang Tengah menggunakan bahasa Sansekerta yang menunjukkan bahwa bahasa ini di Tanah Jawa digunakan sebagai bahasa percakapan resmi di kalangan para cendekiawan dan keluarga-keluarga raja disamping bahasa Kawi sebagai bahasa rakyat.

(II) KATA WIRUPA BOROBUDUR

Tulisan di kaki Candi (bagian Kamadhatu) mendasari teori kedua Doktor masih bisa dilihat. Tulisan dengan huruf Kawi itu berbunyi “wirupa” yang tidak sempat dihapus karena bagian ini ditutup secara terburu-buru. Penutupan bagian kaki dilakukan untuk mengatasi  melesaknya kaki-kaki  Candi oleh beratnya beban sementara bangunan tidak ber-fondasi yang solid dan menyeluruh. Curahan air hujan serta getaran gempa membuat dasar-dasar candi melesak dan miring. Peristiwa ini terjadi pada jaman para pendiri Borobudur (abad VIII).

Sumber lain yang berhubungan dengan Borobudur adalah Serat Centhini yang menyebutkan adanya bangunan yang dinamakan “Poro Budho”. Oleh Dr Krom kata “Poro Budho” diartikan sebagai sekelompok budho-budho atau banyak Buddha.

Teori dari R. Ngabehi Poerbocaroko tahun 1919 menyebutkan bahwa Borobudur terdiri dari dua kata:  BORO dan BUDUR. Menurutnya kata BORO berasal dari kata Sansekerta VIHARA atau wioro (jawa) yang berarti biara atau tempat tinggal para rahib. Jadi Borobudur berarti Wihara diatas Budur. BUDUR sendiri berarti sesuatu yang benjol (bahasa Jawa). Wihara diatas benjolan berarti wihara diatas sebuah bukit (benjolan tanah). Namun tidak ada bukti bahwa Candi merupakan sebuah Wihara. Dr Sttuterheim menguatkan teori tersebut dengan membandingkan kata BUDUR dengan kata BUDU dalam bahasa Minang yang berarti sesuatu yang keluar atau menonjol. Baik BUDUR dalam bahasa Jawa maupun BUDU dalam bahasa Minang mengarah pada pengertian tanah yang menjulang keluar  yaitu sebuah BUKIT.

(III) Dasabodhisatwa Bhumi

Tulisan Dr Casparis tentang nama Borobudur berdasarkan prasasti SHRI Kahulunan dan prasasti Karang Tengah yang ia baca di tahun 1950. Tokoh Shri Kahulunan diketahui sebagai tokoh dalam prasasti Karang Tengah yaitu Ratu Pramodhawardhani dari dinasti Syailendra.

Arti sebenarnya menjelaskan bahwa pada pelajaran sejarah ada prasasti-prasasti yang belum terbaca; yaitu prasasti Karang Tengah dengan angka tahun 824 dan prasasti Sri Kahulunan tahun 842. Baik dalam kitab-kitab Dr. Krom dan Dr. Shutterheim, penemuan dua prasasti itu belum disebutkan. Prasasti itu mengungkapkan raja-raja dinasti Syailendra, disebutkan adanya Raja Indra, Raja Samaratungga, RATU Pramudawardani.

Dalam prasasti itu bahwa Raja Indra dikatakan mendirikan sebuah bangunan suci Wenuwana atau kuil hutan bambu. Dr. Casparis mencocokkan bangunan suci Wenuwana dengan Candi Mendut. Salah satu kalimat dalam prasasti Karang Tengah menyebutkan : “mudah-mudahan SANG Raja Indra yang mendirikan bangunan suci Wenuwana akan mencapai tingkat Bodhisatwa yang ke sepuluh”.

Istilah tingkatan Bodhisatwa yang ke sepuluh sangat penting dalam agama Buddha Mahayana. Dalam bahasa Sansekerta “Dasabodhisatwa bhumi”. Menurut ajaran Mahayana setiap orang yang ingin mencapai pencerahan  sebagai Buddha harus melalui sepuluh tingkatan Bodhisatwa. Tujuan dari kehidupan seorang Mahayanis adalah mencapai kedudukan Budha itu untuk menolong sesama. Ajaran ini disebut ajaran Mahakaruna. Orang yang menjalankan ajaran ini rela dilahirkan berulang kembali untuk melayani manusia agar tidak disesatkan oleh berbagai kepalsuan. Yaitu ajaran palsu, Nabi palsu, Tuhan palsu yang hanya akan menenggelamkan kehidupan manusia kepada penderitaan lahir batin.

Maka Prasasti Karang Tengah berhubungan dengan ajaran Mahayana. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa Raja Indra dipatungkan sebagai Arca yang berkilauan yang dalam bahasa Sansekerta disebut “Wajranala”. Dr. Casparis mencocokkan Wajranala ini dengan Candi Pawon. Untuk memperkuat pendapat ini Dr. Casparis menunjukkan letak Candi di desa Bojronolo, yang berarti petir yang berkilauan. Dengan ini terbukti pula bahwa Candi Pawon merupakan makam Raja Indra.

(IV) Garis Sumbu yang Lurus

Tiga Bangunan Candi Mendut, Pawon dan Borobudur didirikan menurut satu garis lurus yang berhubungan satu sama lain. Yang berhubungan dengan sepuluh tingkat Bodhisattwa tak lain adalah Borobudur dengan sepuluh terasnya. Apabila Borobudur merupakan lambang sepuluh tingkatan Bodhisatwa maka Candi Mendut dan Pawon merupakan dua tingkatan persiapan. Jika Borobudur melambangkan tingkatan Spiritual yang dalam bahasa Sansekerta disebut Lokotara, maka dua Candi sebelumnya melambangkan tingkatan duniawi atau Laukika. Candi Mendut melambangkan Prayogamarga = Jalan Persiapan Yoga, sedang Candi Pawon menggambarkan Sambharamarga = tingkat KEBERSAMAAN SEMESTA.

(V) Arti Stupa

Dalam pengertian agama Budha, stupa merupakan tempat untuk menyimpan abu Sang Budha. Di India tidak ditemukan bangunan Stupa yang bertingkat-tingkat karena hanya mempunyai satu fungsi itu saja. Sedang di Jawa, stupa bertingkat-tingkat sebagaimana Borobudur melambangkan filsafat Dasabodhisatwabhumi selain berfungsi menyimpan abu Budha. Paling tidak Dr. Casparis dalam tesisnya menyebutkan bahwa bangunan bertingkat Borobudur merupakan makam raja-raja Dinasti Syailendra.

Siapakah pencipta Borobudur?

Pada waktu sejarah Indonesia masih ditinjau dari sudut pandang Indiasentris, dikatakan bahwa arsitek Borobudur adalah orang India, sedang orang Indonesia hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang kasar, sulit, kotor dan berbahaya. Dr. Bosch menyatakan bahwa pembuat bangunan Borobudur adalah Bangsa Indonesia sendiri. Pendapat Dr. Bosch didukung oleh keterangan sejarah bahwa pemuda-pemuda Indonesia belajar seni bangunan di Nalanda sejak abad ketujuh di bawah perintah Raja Purnawarman dari Tarumanegara. Dr. Bosch mengatakan bahwa arsitek Borobudur adalah Gunadharma.

(VI) Sang Hyang Adhi Buddha

Wenuwana Mandira adalah bangunan suci yang terletak di hutan bambu. Kata hutan bambu mengingatkan sebuah hutan yang dihadiahkan oleh Raja Magadha bernama Ajatasatru kepada Sang Budha. Wenuwana atau hutan bambu ada di kota RAJGIR bukan di Benares seperti yang dikatakan banyak sarjana Belanda. Sedangkan kota Rajgir itu letaknya 300km dari kota Benares.

Apabila Borobudur ditinjau dari sudut pandang India sebagai sebuah stupa maka dengan sendirinya Borobudur menyimpan abu Budha yang bias dianggap sebagai jimat. Tetapi sangat disayangkan bahwa Candi Borobudur dibongkar 1825 tidak secara teliti, sehingga kemungkinan adanya abu Budha tersebut dibuang sia-sia oleh Residen Hartmann yang dengan gampang mengatakan bahwa yang dibuang adalah abu binatang-binatang kurban. Di dunia mana umat Buddha melakukan kurban binatang? Sesuatu yang tidak pernah terjadi dan tidak akan terjadi.

Dr. Shutterheim mengatakan bahwa dipuncak Borobudur ada peninggalan patung Budha yang tidak selesai yang dianggap sebagai patung Adi Budha atau Buddha yang tidak pernah menjelma dan pangkal semua para Budha. Bagaimana mungkin patung yang tidak selesai mewakili Sang Hyang Adhi Buddha (Buddha Super) = sumber segala para Buddha? Teori ini menyesatkan sebab yang terjadi adalah para kuli memasukkan patung yang gagal kedalam puncak Candi agar memperoleh hadiah uang dari residen Hartrman atas “penemuan” itu.

(VII) Kamadhatu, Rupadhatu, Arupadhatu

Pembagian Borobudur dalam tiga Dhatu yaitu Kamadhatu, Rupadhatu, Arupadhatu tidak bertentangan dengan ajaran Dasaboddhisattwa Bumi.

Kamadhatu= Alam hawa nafsu. Alam ini menampilkan berbagai kehidupan manusia yang masih terbenam oleh alam hawanafsu. Dalam 160 relief Kamadhatu yang merupakan teras paling bawah terdapat lebih dari 111 wujud kenafsuan manusia atau kemelekatan manusia pada hawanafsunya. Hal ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan nafsu bukan saja nafsu seksual sebagaimana digambarkan secara polos di Candi Kanjuraho dekat New Delhi.

Rupadhatu= Alam rupa atau Alam wujud. Alam ini menampilkan semua perwujudan Sang Buddha sebagai titisan Dewa yang memerlukan badan jasmani (Buddha rupang) untuk melaksanakan tugas penyelamatan umat manusia. Sang Buddha sendiri sudah dicerahi namun masih berbadan jasmani untuk kontak langsung dengan manusia atau semua makhluk di dunia.

ARUPA DHATU = alam tanpa wujud dan tanpa nafsu. Alam ini menampilkan alam tanpa wujud atau alam rohani. Pada tingkatan ini manusia telah meninggalkan pengaruh hawa nafsunya dan secara total hidup dalam alam spiritual yang samasekali bersifat non fisik. Disini ada stupa sebanyak 72 dengan Buddha di dalamnya. Ini menggambarkan adanya kesadaran Buddha di ala mini tetapi tak mungkin memakai perwujudan apapaun selain sebagai roh / spirit. Barang siapa mampu menembus alam ini dan “menyentuh” tangan Sang Buddha maka ia akan memperoleh keberuntungan rohani maupun jasmani.

(VIII) SIKAP-SIKAP TANGAN (MUDRA)  SANG BUDDHA

Sikap tangan (MUDRA) dari masing-masing patung Buddha menunjukkan sifat yang khusus dari Sang Buddha berkenaan dengan tugasnya didunia.

1)      Sikap tangan bersaksi menyentuh / memanggil bumi (Bumisparsa mudra)

sikap tangan ini dilakukan Sang Buddha sewaktu menghadapi ancaman dan godaan Mara (Raja kegelapan). Sang Buddha terpaksa memanggil Pretiwi (Bunda Kehidupan Bumi) untuk memberikan kesaksian siapakah diantara Buddha atau Mara yang berhak untuk berada diatas bumi dan menempati tempat meditasinya.

Buddha dengan sikap tangan ini disebut AKSOBYA (YANG TAK TERGANGGU)

2)      Sikap tangan welas asih (Wara mudra).

Sikap tangan ini dipakai jika Sang Buddha melakukan suatu pemberkatan atau pemberian. Buddha dengan sikap tangan ini disebut RATNASAMBAWA (YANG TERLAHIR SEBAGAI MUSTIKA BUMI).

3) sikap tangan Samadhi (meditasi) atau DHYANA MUDRA.

Sikap tangan ini dipakai manakala Sang Buddha bersemedi. Buddha dengan sikap tangan semedi disebut AMITABA (cahaya tanpa batas)

4)      sikap tangan menolak bahaya (Abaya mudra)

sikap tangan ini ditunjukkan Buddha di bagian utara dan Buddha disebut AMOGASIDDHA (yang tak pernah gagal)

5)      sikap tangan mangajar (Witarka mudra)

sikap tangan Buddha yang ada pada teras kelima. Buddha yang mengajar disebut Sang WAIROCANA (yang cemerlang)

6)      sikap tangan Dharmacakra mudra (sikap tangan memutar roda dharma)

sikap tangan ini dimiliki semua Buddha yang ada ditingkat ARUPA DHATU.

Sang Buddha dengan sikap tangan ini disebut WAJRASATTWA (yang seperti petir)

(IX) PRASASTI KELURAK dan KALASAN

Berita Tionghoa mengatakan bahwa sebelum agama Buddha Mahayana berkembang di Indonesia (Jawa), mazab Hinayana telah lebih dulu masuk yaitu sekitar abad ke V-VII. Pada jaman Borobudur mazab Mahayanalah yang lebih berkembang dan lebih diterima masyarakat karena sifatnya yang reseptif terhadap pengaruh dan pemikiran-pemikiran Hindu (Brahmana) yang populer.

Darimana asal muasal wangsa Syailendra? Dari banyak tulisan Dr Casparis yang berhasil membaca prasasti-prasasti Karang Tengah, Kelurak dan Kalasan dapat diketahui bahwa mereka berasal dari Asia Selatan. Wangsa asli yang ada di Indonesia (Jawa) adalah wangsa Sanjaya yang menguasai wilayah-wilayah pegunungan. Sementara bagian Selatan Jawa ada di bawah kekuasaan wangsa Syailendra.

Prasasti Wantil / Prambanan berangka tahun 856 Masehi mengungkapkan adanya peperangan antara dua wangsa itu yang dimenangkan oleh wangsa Sanjaya. Putri Pramodhawardhani dari wangsa Syailendra menjalin hubungan damai melalui perkawinan dengan Raja Pikatan dari wangsa Sanjaya. Menurut prasasti Nalanda / India, adik Pramodhawardhani meninggalkan Bumi Jawa dan menjadi raja di Palembang sebagai Raja Suwarna Bumi. Keturunannya berkembang jadi para penguasa kerajaan  Sriwijaya. Dikatakan bahwa kekuasaan wangsa Syailendra terus berkembang hingga ke Kamboja dengan nama Syailawangsa. ***

Sumber: Makalah Budi Susetyo. Materi disampaikan dalam Kursus Pemandu Wisata Umum Angkatan I Training Center HPI DIY, mulai november – januari 2010. **

One thought on “CANDI BOROBUDUR (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s