MAJAPAHIT (1)

Lambang Majapahit

Kata “majapahit” terdiri dari maja dan pahit yakni buah maja yang pahit. Makna turun temurun ini dikatakan merujuk dari rasa pahit seperti buah Maja tanaman setinggi ± 8 meter, berdaun oval tipis memanjang ukuran sedang seperti nangka, jika dicoba rasanya pahit. Kata maja bisa berarti mulia ditemui dalam kosakata yang beragam, seperti nama tempat atau kota Majasari, Majawarna, Mojoagung, Mojosongo, Majalengka, Majapura dan seterusnya. Dalam sebuah kronogram atau candrasengkala yang berbunyi sirna ilang kretaning bumi, konon adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai 0041, yaitu tahun 1400 Saka, atau 1478 Masehi. Arti sengkala ini adalah “sirna hilanglah kemakmuran bumi”. Namun demikian, yang sebenarnya digambarkan oleh candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bre Kertabumi, raja ke-11 Majapahit, oleh Girindrawardhana.

Sementara altar pemaknaan kata Majapahit berasal dari mitos sumpah bahwa Mahapatih Gajah Mada (1313-1364) hanya sudi memakan buah maja tersebut setelah Nuswantara menyatu di bawah bendera Majapahit. Gagasan Mahapatih Gaja Mada melalui sumpahnya dapat terlaksana kecuali menguasai kerajaan Pajajaran (Sunda). Untuk itu, Gajah Mada melakukan Politik perkawinan yang berakibat terjadinya peristiwa Bubat tahun1357. Untuk menjaga keamanan dan memelihara kesatuan daerah kekuasaannya maka Majapahit memperkuat armada lautnya di bawah pimpinan Mpu Nala. Dan juga berusaha menjalinpersahabatan dengan negara-negara tentangga yang diistilahkan Mitrekasatata artinya sahabat (sehaluan) atau hidup berdampingan secara damai.

Ketika Majapahit didirikan, 10 November 1293 sejak era Kertarajasa Jayawardhana (1295-1309), pedagang Muslim dunia dan para penyebar agama sudah mulai memasuki nusantara. Istri Raja Kertabumi (Brawijaya V) adalah Dara Petak asal Campa yang kelak melahirkan Jin Bun (Raden Patah), penguasa Kasultanan Demak. Era generasi awal Walisongo telah juga menunjukkan bukti sejarah sangat kuat, seperti keberadan Sunan Ampel di Surabaya dan Makam Fatimah binti Maimun di Gresik yang berangka tahun 1082 M. Pada tahun wafatnya Kapten Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel (1478), Raden Patah secara mendadak menyerang Majapahit tanpa perlawanan. Raja Kertabumi, ayah Jin Bun sendiri, menjadi tawanan dan dibawa ke Demak dengan harta pusaka sebanyak 7 muatan kuda. Majapahit menjadi bawahan Demak dan diangkatlah Nyoo Lay Wa (1478-1486), lalu diserahkan kepada Girindrawardhana menantu Kertabumi (1486 – 1427).  

Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, Semenanjung Malaya, Borneo, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan sebagian kepulauan Filipina. Namun demikian, batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut tampaknya tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit, tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang mungkin berupa monopoli oleh raja. Majapahit juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, dan Vietnam, dan bahkan mengirim duta-dutanya ke Tiongkok. Dalam catatan Wang Ta-yuan, komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada, garam, kain, dan burung kakak tua, sedangkan komoditas impornya adalah mutiara, emas, perak, sutra, barang keramik, dan barang dari besi. Mata uangnya dibuat dari campuran perak, timah putih, timah hitam, dan tembaga. Selain itu, catatan kunjungan biarawan Katolik Roma tahun 1321, Odorico da Pordenone, menyebutkan bahwa istana Raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata.

Berikut adalah nama Raja-raja yang berkuasa di Majapahit:

Raden Wijaya, bergelar Kertarajasa Jayawardhana (12931309); Kalagamet, bergelar Sri Jayanagara (13091328);  Sri Gitarja, bergelar Tribhuwana Wijayatunggadewi (13281350) Hayam Wuruk, bergelar Sri Rajasanagara (13501389); Wikramawardhana (13891429); Suhita (14291447); Kertawijaya, bergelar Brawijaya I (14471451);  Rajasawardhana, bergelar Brawijaya II (14511453);  Purwawisesa atau Girishawardhana, bergelar Brawijaya III (14561466); Pandanalas, atau Suraprabhawa, bergelar Brawijaya IV (14661468) Kertabumi, bergelar Brawijaya V (14681478);  Girindrawardhana, bergelar Brawijaya VI (14781498); Hudhara, bergelar Brawijaya VII (14981518).

Sesudah abad ke-14, kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah. Terjadi perang saudara (Perang Paregreg) pada tahun 1405-1406, antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana dan pergantian raja yang dipertengkarkan pada tahun 1450-an, serta pemberontakan besar yang dilancarkan oleh seorang bangsawan pada tahun 1468. Saat bersamaan, muncul kekuatan baru yang berdasarkan agama Islam, yaitu Kesultanan Malaka. Catatan sejarah dari Tiongkok, Portugis, dan Italia mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus, penguasa dari Kesultanan Demak, antara tahun 1518 dan 1521 M.

Kehidupan sosial keagamaan Majapahit berjalan dengan baik, bahkan tercipta toleransi. Hal ini seperti apa yang diceritakan oleh Ma-Huan tahun 1413, bahwa masyarakat Majapahit di samping beragama Hindu, Buddha juga ada yang beragama Islam, semuanya hidup dengan rukun. Dari berita Ma-Huan tersebut dapat diketahui bahwa pengaruh Islam sudah ada di kerajaan Majapahit. Kehidupan sosial yang penuh dengan toleransi juga dibuktikan melalui kitab Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular yang didalamnya ditemukan kalimat “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharmamangrua”. *** Bersambung.

Sumber: Sejarah Sunan Ampel, Syamsudduha, JP Press, Surabaya, 2004. Makalah Majapahit, Herman Sinung Janutama, TOJ, 2008. Catatan Sejarah berjudul Kerajaan Majapahit, oleh Marmayadi, 2008.

5 thoughts on “MAJAPAHIT (1)

  1. hpijogja Penulis Tulisan

    pusat kerajaannya di Mojokerto, ditandai dengan adanya puing-puing istana antara lain kolam segaran,

  2. sangkala

    Bohong semuanya!!! Majapahit Runtuh karna sunan giri menghasut raden patah yg awalnya ingin bertemu bapak kandungnya sang raja brawijaya. Sebelum menghadap brawijaya, raden patah di tahan di demak untuk diajarkan islam radikal oleh sunan giri. Kemudian diperintahkan menyerang majapahit untuk menyebarkan agama islam. Awalnya demak kalah. Tapi karna mrasa anaknya sendiri maka brawijaya tidak melanjutkan serangan ke demak. padahal sunan ampel sudah mengatakan pada sunan giri agar jangan merebut kekuasaan majapahit. tapi setelah sunan ampel wafat. sunan giri yg diangkat menjadi sunan utama yg haus kekuasaan dan memimpin islam radikal untuk menyerang majapahit. sedangkan sunan bonang dan sunan kalijaga yang nasionalis tidak setuju. bahkan sunan kalijaga yang menyarankan brawijaya tidak menyerang demak supaya tidak terjadi pertumpahan darah yg lebih besar lagi. Brawijaya hanya kasihan sama raden patah yg menyebabkan beliau mengurungkan niat untuk menyerang balik demak dan brawijaya tidak pernah menjadi tahan raden patah.

  3. tour guide association Penulis Tulisan

    Mohon maaf kita tidak bisa membenarkan dan menyalahkan sejarah.. karena kita tidak hidup dijamannya, analisa tergantung dengan persepsi ahli sejarah yang kita anut.. satu dengan yang lain tidak sama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s