MENGUKUR DESTINASI DIY

Dalam temu pelaku wisata yang difasilitasi Disparda DIY terungkap data kunjungan wisman (3,30 %) lima tahun terakhir yang membawa DI Yogyakarta bukan lagi sebagai destinasi utama maupun unggulan, tapi melorot menjadi destinasi prospektif alias kalah dengan Batam, Sulawesi Utara apalagi Bali. Sementara jumlah wisnus tahun 2005 mencapai 1.747.195 orang jauh melebihi angka tahun 2008 yang hanya 1.156.097 wisatawan.

Perkembangan kunjungan wisatawan mancanegara dari tahun 2003 sejumlah 95.629 wisatawan, 103.401 orang (2004),  103.488 orang (2005), 78.145 orang (2006), 103.215 wisatawan (2007), 128.660 kunjungan di tahun 2008. (Sumber: Dinas Pariwisata Propinsi DIY, 2008)

Destinasi di Sleman berjumlah 29 buah, Obyek Daerah Tujuan Wisata di Kulon Progo 14 ODTW, destinasi dalam Kota ada 17, Bantul dan Gunung Kidul masing-masing 7 ODTW. Daya tarik pariwisata harus diukur dengan kesejahteraan yang sampai kepada warga, pengusaha juga penghasilan asli daerah. Tengoklah Singapura Tourism Board atau bagaimana Pemda lain mengelola asset destinasi. Fakta data ini dapat berbicara banyak, agar pemangku kepentingan terus meningkatkan kerjasama pembangunan kepariwisataan, terutama pelaku bisnis ini tidak terlena, seakan kondisi destinasi DIY sehat menyenangkan. Introspeksi amat diperlukan atas lemahnya kesadaran, koordinasi maupun kepemimpinan.

Pengalaman Rakernas HPI X di Papua 23-26 November 2009, betapa citra negatip destinasi Papua disebabkan oleh promosi berita keamanan dan mahalnya tiket penerbangan bisa diimbangi dengan komitmen Kepala Daerah membangun kepariwisataan. Sentani yang baru berusia 8 tahun menjadi ibukota Daerah Otonomi Khusus menyambut baik dengan back-up penuh pembiayaan serta peningkatan kompetensi Pemandu Wisata disana. Pelaku bisnis disana merasakan belum maksimal mampu mengelola alam dengan baik, dan karenanya semua seiring sekata, investasi akan masuk dengan penjelasan Pramuwisata yang membawa peluang kesejahteraan.

Pelajaran dari Rakernas Papua juga menarik diungkap bahwa Pemandu Wisata berperan menentukan pengembangan destinasi, sehingga wujud dukungan Pemda setempat bukan hanya membantu pembiayaan, namun ikut mendampingi peserta Rakernas ke Sentani, seperti dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kalimantan Tengah, Lampung dan Propinsi Bali. Alasan dana bisa diulas, namun mencerminkan kadar besarnya komitmen Pemda terhadap pentingnya Asosiasi Himpunan Pramuwisata Indonesia. Mengukur destinasi DIY dengan melihat kinerja HPI maupun asosiasi lokal lain adalah keniscayaan lain, kenapa sekarang hanya menempati destinasi prospektif.

Terakhir, namun sangat strategis adalah perubahan Perda tentang Pramuwisata dan Pengatur Wisata. Poin ini telah disampaikan Ketua DPD HPI DIY dalam acara Dialog Warga ’Program Legislasi Daerah Tahun Anggaran 2010’ pada Jum’at sore, 4 Desember 2009 di Ruang Rapat Dewan Perwakilan Rakyat Kota Jl Ipda Tut Harsono 43 Yogyakarta. Email : dprd@jogja.go.id atau dprd@intra.jogja.go.id. Semoga kerja konprehensif ini didukung semua pihak, terutama anggota HPI dan rekan-rekan seprofesi. ***

3 thoughts on “MENGUKUR DESTINASI DIY

  1. ananda Rama

    ANda itu hanya banyak ngomong dan banyak nulis.. NATO!!!
    jadi ketua HPI hanya menggerogoti HPI.. masih lebih baik ketua sebelumnya..wlo ga pintar tp tdk menggerogoti organisasi. kamu sama Hawid itu setali tiga uang.. memeras anggota untuk anda tunggangi… MENCARI HIDUP DARI ORGANISASI.. Mengelabuhi teman2 kamu… Kamu itu siapa!!! kamu bukan BOSS jg kamu ga bisa ngatur anggota!!! Paham!!!

  2. unlimited tour guide Penulis Tulisan

    Saudara-saudara silakan baca kritik pedas dari salah satu anggota HPI sendiri, sebagai pucuk pimpinan organisasi sebuah organisasi non komersial, tidak habis berpikir, kok bisa-bisanya punya ide seperti itu, dari mana dapat mencari hidup dari organisasi ? organisasinya saja non komersial.

    Lah wong mbayar mbak Tati saja, dari sumbangan anggota 10 ribu / bulan/orang, sudah sangat berat kok masih saja dioneke mencari hidup dari organisasi. Kalau pingin jadi ketua ya, ngomong saja terus panggil anggota kumpul, nanti serah terima jabatan ketua HPI ini buat anda, pak Harto perpesan “tidak jadi ketua HPI juga tidak patekan !”, tidak perlu glenek-glenik neng mbururi ora lucu kaya bocah cilik. Kalau punya ide silakan dikemukankan. Mung mesake HPI sebuah organisasi profesi yang terhormat kok dipimpin oleh orang-orang yang mlempem, ya keinginan anggota tidak “diakomodir”, ketika ada yang mau jadi volunteer kok tidak disukai.

    Lalu sebenarnya menurut anda apa yang disebut ketua HPI yang bagus?, Apa menurut anda ketua yang bagus yang senang cari muka? apa menurut anda ketua yang bagus yang senang esuk tempe sore dele ?

    Nek maksude sampenyan ketua HPI kuwi kudu gawe gebrakan nyaluk guide fee mundhak limang atus ewu perhari, yo gak apa2, neng bagaimana dengan kualitas pribadi anda, lah wong guiding neng ndalan ngorok ngiler, ngoyak-oyak mampir neng Kabul, Jonggrang lan HS, isih seneng mark-up laporan, ora ditip nesu, nilep optional, kok njaluk diusulke fee 500.000/day kan lucu, lah wong tikangkah polahe isih ngisin-isini kok njaluk organisasi ngundake standard fee, nek saudara orang yang kendel silahkan ngomong dewe bikin deklarasi ” aku hanya mau dibayar RP 500.000/hari, nek ora mending nganggur !” Kita akan applaude, dan memberi sertifikat anda sebagai pelopor guide yang berani pasang tarif sesuai dengan kualitas anda.

    Lah HPI kan tugasnya mengkordinir agar anggota punya daya jual, dengan kompetensi yang sangat tinggi sebagai seorang guide.

    Akan lebih baik kalau bosan jadi guide dan tidak setuju dengan HPI, sebaiknya anda keluar dari HPI saja buat surat pernyataan agar kita tidak lagi mencatat anda sebagai seorang guide di Jogja, dengan demikian anda kalau anda mati kita tidak perlu sms teman-teman guide, dengan mati dengan tenang.

  3. VSO

    saya setuju dgn pendapat ke-2 , bahwa HPI Jogja terutama yg punya PAD ( pendapatan asli Dab) hanya dari sumbangan , itu pun okeh sing absen , hanya cukup buat beli permen kalau rapat plus gaji sekretariat dgn standart UMR.memang HPI financially tidak banyak yg bisa diharapkan, dan memang HPI bukan tempat utk cari uang , tapi sarana pengabdian, dan tentu sbg organisasi formal legal yg di recognize pemerintah RI , juga mampu kita gunakan sbg sarana berjuang , utk peningkatan kesejahteraan anggota,
    pengurus, dlm hal ini , ketua umum , utamanya , dipilih melalu forum resmi , dan keabsahannya sudah kita terima bersama , pengurus , bertugas , salah satu nya sbg pemimpin, ya memimpin anggota , barangkali bahasa yg lebih bijak, begitu , tidak ada keinginan pengurus utk mengatur anggotanya , tetapi kami sbg pengurus / pemimpin wajib utk memimpin, mengarahkan dan mengedepankan kepemimpinan yg bijak utk program program yg sdh menjdai kesepakatan di berbagai forum.
    kawan kawan se perjuangan, kalau boleh saya memberikan advies , mohon kawan kawan ANGGOTA , sesekali datanglah dalam rapat rapat pengurus , rapat yg melelahkan dan menyita waktu , sejujurnya di arahkan , di fokuskan utk muara kesejahteraan anggota.
    hadirilah rapat pengurus, meskipun anda sbg anggota biasa hanya mendengar atau menonton rapat itu , tapi disanalah anda akan share cukup banyak , anda pasti akan prihatin organisasi se mulia ini hanya rapat dgn kipasan FAN yg bising dan bikn sisiran rambut acak adul , bukan se sejuk Lobby hotel berbintang
    tapi disitulah , di suarakan semua aspirasi anggota , yg akan di realisir , pelan tapi pasti , diantaranya adalah GUIDE FEE
    saya katakan di sini, HPI / pengurus sudah punya standar kebijakan ( minimum Fee ) yg adalah Rp.250.000 daily ( ini adalah out put MUSDA 2009 )
    apabila ada yg mau guiding dan menerima upah di bawah rekomendasi ini, saya harus dgn terpaksa mengatakan, meminjam istilah kelompok musik bule IT`S HARD FOR ME TO SAY I AM SORRY` , yang goblok bukan Travel Bironya , tetapi guide ybs lah yg sedang meninggalkan isi otaknya di gudang , pas agi ora dinggo !!

    again , kawan kawan semua , setiap organisasi pasti ada kekurangan dan kelebihannya , tapi dgn rendah hati , bukan bermaksud membela sesama pengurus, tetapi profil mas Andy ketua umum , sangat jauh dari evaluasi yg anda tulis , sir !
    tidak ada aset organisasi yg di hambur hamburkan, karena memang organisasikita bahkan tidak memiliki aset berharga , selain SDM kita bersama, yg selama ini di injak injak oleh mitra kita sendiri, karena kesalahan kita juga

    demikian semoga bermanfaat

    salam wisata
    merdeka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s