MEMBEDAH PERDA PRAMUWISATA

 

Issue-issue krusial dalam Perda Kota Yogyakarta No. 10 dan 11 / Tahun 2002.

Pertama, soal pelimpahan kewenangan kepada Kab/Kota dalam urusan Kepramuwisataan banyak menimbulkan distorsi khususnya hal kewenangan LISENSI PRAMUWISATA dan PENGATUR WISATA (Tour Leader). Fakta ini berakibat menurunnya kualitas layanan kepemanduan dan akhirnya merugikan semua pihak terutama wisatawan.

Kedua; Difinisi dan klasifikasi tentang Pramuwisata tidak jelas. Ketentuan awal klasifikasi Pramuwisata yang terbagi ke dalam: Pramuwisata Muda – Pramuwisata Madya – PENGATUR WISATA, tahu-tahu pada Bab II Pasal 2 misalnya muncul istilah baru, yaitu PENGANTAR WISATA. Disamping pembelokan makna dan pengkaburan fungsi tugas Pramuwisata, istilah ini menyalahi substansi Peraturan yang lebih tinggi KM 82/PW.102/MPPT/88 tentang Pramuwisata dan Pengatur Wisata.

Ketiga; Semangat perda seperti tertulis di judulnya, yakni Tentang Retribusi Perizinan Kegiatan Usaha Bidang Pariwisata, sehingga pasal-pasal tentang Pramuwisata tidak mengakomodasi peningkatan KOMPETENSI Pramuwisata.

Keempat; Bab II Pasal 3 huruf (i) perizinan Pengaturan Pramuwisata dan Pengatur Wisata, pasal pembinaan hanya dimaksudkan konsentrasi pada penarikan Retribusi.

Kelima; Bab III Pasal 3 ayat (1) berbunyi‚’………… sedangkan klasifikasi PENGANTAR WISATA hanya wajib memiliki Tanda Pengenal. ’Apakah maksudnya Pengantar Wisata tidak wajib mengurus Lisensi, dan apakah kategori lisensi Pengantar Wisata dianggap sama dengan Pramuwisata Muda? Atau berhak menjalani tugas-tugas Pengatur Wisata?

Solusi perubahan dari Asosiasi HPI DIY yang mendesak perlu segera direalisasi, terutama masuk dalam Program Legislasi Daerah :

Pertama, kewenangan pemberian izin LISENSI melekat dengan tugas-tugas pembinaan dan sertifikasi kompetensi Pramuwisata – Pengatur Wisata berdasar SKKNI. Kualitas layanan kepemanduan amat ditentukan oleh kesadaran pemangku kepentingan, bukan diletakkan diatas pundak asosiasi.

Kedua; Kewenangan tersebut berhubungan dengan bunyi peraturan, difinisi dan klasifikasi Pramuwisata. Menurut kajian Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Pramuwisata Indonesia Propinsi DIY sebaiknya profesi ini terdiri dari Pramuwisata UMUM dan KHUSUS (destinasi maupun basis minat wisata). Sedang klasifikasi Pemandu Wisata adalah: Pramuwisata Muda – Pramuwisata Madya – Pramuwisata Utama, dimana kategori terakhir bisa mengikuti uji kompetensi PENGATUR WISATA yang dilaksanakan oleh LSP Par atau khusus melalui LSP Pramuwisata.

Ketiga; Perlu adanya Peraturan yang menegaskan berfungsinya mekanisme peningkatan kompetensi Pramuwisata, berkait langsung setiap saat tertentu, sehingga citra dan kualitas kepemanduan terus meningkat, selanjutnya akan memperbaiki citra keseluruhan destinasi. Pendidikan profesi Pramuwisata minimal dibutuhkan waktu 110 jam, dilanjut uji kompetensi yang mensyaratkan seseorang lulus mendapatkan LISENSI Pramuwisata.

Note: Disampaikan Ketuan DPD HPI DIY dalam acara Dialog Warga ’Program Legislasi Daerah Tahun Anggaran 2010’ pada Jum’at sore, 4/12/09 di Ruang Rapat Dewan Perwakilan Rakyat Kota Yogyakarta.

9 thoughts on “MEMBEDAH PERDA PRAMUWISATA

  1. heri Susmardiyanto

    Mas,
    Menurutku Kita tetap pada pembagian 3 tingkatan Guide;
    – Muda (Lokal atau kabupaten)
    – Madya (Propinsi)
    – Utama (Nasional)

    Papta masuk mana? untuk sementara mereka bisa jadi TL untuk ddi Jogja dan sekitarnya bgi divisi Indonesia.
    Tapi kedepan kita warning dinas untuk tidak mencetak lagi guide “klasifikasi Papta”
    dan amat setuju kedepan kita mendorong pemerintah bahwa semua wajib punya sertifikat profesi.

  2. Didit Penulis Tulisan

    Tour guide berdasarkan atitude dan mentalitas dapat dibedakan menjadi 3 level, tingkatan ini didasarkan atas pengamantan sikap, cara kerja dan tingkah-polah (attitude) tour guide, dalam menjalankan profesinya.

    1. Tour guide dengan level Syariat
    ini adalah tataran yang paling rendah bagi seorang tour guide, dengan jam terbang rendah dan pengalaman yang terbatas. Pada level ini seorang tour guide masih mencari jatidiri, akan melakukan apa saja untuk memperkenalkan dirinya kepada user, baik dengan cara yang sopan ataupun denga cara yang kurang sehat. Cara sehat: dia akan memperkenalkan dirinya kepada user
    dari user yang satu ke user yang lain bahwa mempunyai skill yang mumpuni untuk menjadi seorang tour guide . Cara kurang sehat: untuk memperkenalkan dirinya dia kan menceritan tentang pengalaman di depan user yang tidak tahu sama sekali dengan teme pembicaraan, membesar-besarkan dirinya sebagai seorang yang perfect banyak pengalaman, dan suka menelanjangi guide-guide kompetitornya.

    2. Tour guide dengan level Hakikat

    Pada level ini tour guide sudah mulai mapan dengan jam terbang yang banyak, pada tataran kedua ini tour guide sudah mempunyai jati diri dan berani mengambil keputusan untuk berekspressi untuk menjalankan profesinya, akan tetapi rasa ketergantungan dengan user masih sangat kuat, sehingga dia akan sama saja ketakutan apabila sampai user tidak mau memakainya lagi, apapun akan dilakukannya agar kelihatan perfect dan orang yang loyal dengan user. Demikian juga pada ketergantungan pada art shop sangat tinggi sehingga apabila tamu tidak membeli barang sauvenir sedikitpun dia akan bernyanyi berasumsi bahw tourist ybs adalah jelek.

    3. Tour guide dengan level Ma’rifat
    Ini adalah tataran tertinggi seorang tour guide, dinama dia tidak tergantung lagi dengan user dan art shop, sehingga dia berani menolak order yang kelihaan tidak masuk akal. Guide pada tataran ini menganggap owner travel bureau sebagai user adalah satu level, karena level ini tour guide lebih tinggi kedudukannya dari pada owner dan dapat bertindak sebagai Tour Operator yang dapat dan berani menentukan sendiri tarif dan menjual langsung ke konsumen langsung, mengatur sebuah tour arrangement, mendatangkan tourist sendiri dari manca negara. Pada level ini guide tidak perlu ngemis-ngemis ke user lokal dengan mengucap janji setia kepada user dengan mengatakan “penjah gesang nderek njenengan mbak…. Sr !”. Baginya order akan mencari nya bukan dia yang mencari order seperti guide yang berada pada tataran Syariat, dan Hakikat. Baginya artshop yang akan mencarinya, untuk menawarkan barang-barangnya bukan dia yang menjadi salesman sebuah art-shop

  3. Dodot Penulis Tulisan

    Tour guide dapat diklasifikasikan menjadi 2 golongan besar yakni

    1. Tour Guide Pasif – 99% dari komunitas tour guide
    Tour guide pasif adalah tour guide yang menganggap dirinya sebagai lebah pekerja, yang menganggap bahwa profesi sebagai tour guide adalah takdir, seperti takdirnya lebah pekerja disarang tawon, yang tidak mungkin menjadi ratu, atau menjadi sapi perahan yang hanya dapat berkata “Mooooh………..Pejah gesang nderek panjenegan, mpun dinapak-napake kulo manut panjenegan mawon !”

    2. Tour Guide Dinamis – 1% dari komunitas tour guide
    Tour guide adalah tour guide yang sedikit tergantung atau tidak tergantung sama sekali dengan travel biro, tour guide kreatif menganggap bahwa kemampuan yang dimilikinya pantas dijual dimana saja kepada siapa saja yang memerlukan jasanya, sehingga belenggu tabu seorang tour guide menawarkan jasanya langsung kepada konsumen, tidak pernah dapat menghentikan sepak terjangnya. Ibarat seorang prajurit, guide kreatif ini berbekal dengan segala macam peralatan modern seperti laptop, blackberry, ataupun dengan segala macam peralatan penunjang modern seperti kartu credit, account paypal, serta berbagai system modern yang digunakan untuk mempromosikan dirimaya. Guide yang semacam ini sangat berperan dalan pengembagan pariwista di Indonesia menuju perkembangan yang lebih baik. Itulah yang dinamakan SOPHISTICATED TOUR GUIDE

  4. Painem Penulis Tulisan

    versi berikut , tentang klasifikasi Tour Guide , yang tidak mengelompokkan Tour Guide berdasar legalitas birokrasi yang berkaitan dgn bahasa hukum stake holder , tetapi lebih mengedepankan aplikasi di lapangan yg lebih aktual.

    1.Tour Guide Konvensional Ortodoks.

    adalah tour guide, yang sangat mengagung agung kan sbg PENERIMA KERJA , sehingga fungsi Hand Phone, satu satunya sarana canggih yg dimilikinya, begitu dominan, dan di dewa dewakan,dalam tataran ini, tour guide sangat shopping oriented yg menjadikan SIDE INCOME ( komisi belanja,optional dan tips ) sbg TUJUAN utama kerja, justru melupakan Fee yg sangat hakiki, sbg konsekwensi basis substantif , relasi biro dan tour guide, sekali lagi, masih dalam taraf menjadikan side income sbg TARGET UTAMA ( tujuan ) , bukan akibat.seharusnya di balik, side income, semacam Komisi dll, adalah semata mata akibat logis yg kan timbul bersamaan dgn kualitas SDM si tour guide ybs, misal, kalau Guide nya berwawasan, bahasa ala Native Speaker, dan sangat hospitilized, tentu TIPS nya akan cukup buat beli beras satu kwintal ( US $ 50 ) walau hanya bawa tamu transit,

    2.Tour Guide Sophisticated Futuristik.

    adalah Tour Guide, yang menguasai segala lini per pariwisataan, Tour Guide yg lebih dominan menempatkan dirinya sbg PEMBERI KERJA , di belakang Tour Guide seperti ini adalah : PERUSAHAAN Transport, yg merengek di beri tarikan, Pemilik Resto sekelas Pesta Perak, yg menilpon kapan dikirimi group lagi, dan tak lupa, GM hotel berbintang 5 yg lalu lalang ke rumah atau ke tempat kostnya bahkan, utk minta di kirimi Grup seri.Tour Guide seperti ini, ber -equipment sangat amat canggih, berpikiran sangat Revolusioner, dan ber tingkah polah sangat Efisien, semua komponen yg tidak ber akselerasi dgn insan semacam ini, akan ditinggalkan dgn sendirinya, karena tuntutan seleksi alam yg menuntut , High Speed, dalam segala tindakannya , Tour Guide semacam ini, punya segala macam faktor pendukung , diantaranya , utk menunjang services yang aktual, adalah mendiskusikan semua isu isu menarik di R & D yang dimilikinya, sbg unsur mutlak menjawab tuntutan kemajuan , baik bagi calon tamu maupun bagi staff staff nya, R&D dimaksud adalah Research and development, alias Lit bang, penelitian dan Pengembangan, destinasi baru lebih dulu di temukannya, jauh hari sebelum ASITA melakukan survey kelayakan, si Tour Guide sudah menjelajahinya, dan mengirim tamu ke destinasi tersebut, dgn sangat Efisien, seperti misal : PULAU SEMPU , CANDI SELOGRIYO , Kebun Teh TEMBi Wonosobo , Air terjun di lereng SLAMET ( yangdilihatnya dlm perjalanan udara , rute Jogja- jakarta ),dll.
    singkatnya tour guide level ini, akan sangat cepat berlari, meski dia belum mampu beli sepatu.karena efisiensi di letakkan dalam skala prioritas nomer satu, sementara sepatu belum terbeli, dia akan cekeran berlari cepat menuju puncak Semeru.
    Bahkan Tour Guide level ini, sudah melakukan diversifikasi produk, sangat futuristik pemikirannya, dalam diskusi dgn beberapa pelaku business pariwisata dari Eropa dan Asia, disimpulkan, bahwa, saat ini, fungsi Biro Perjalanan, ataupun Tour Opoerator sudah bergeser paradigmanya, suka atau tidak suka, fungsi nya di geser oleh pemilik akomodasi, yg terang terangan melakukan praktek n\business usaha perjalanan, semisal resort berkelas mewah, seperti AMAN JIWO, tamu akan melakukan kontak langsung, dgn si pemilik atau manajemen akomodasi, utk kemudian meminta di jemput di airport, sehingga , tidak akan lagi ditemui insan Biro Perjalanan yg terlibat, SANGAT EFISIEN, setelah itu, tentu transaksi Tour atau exursion akan terjadi di tempat mana tamu menginap.ini lah yang harus disikapi, dengan sombong, si Tour Guide kawakan, akan mengatakan kalimat arogannya : ITU MELANGGAR PERATURAN !!! pertanyaannya : Peraturan yang mana?? dosen UGM yg tidak tahu menahu tentang pariwisata pun akan menjemput tamu bule di bandara , peneliti atau pembicara di universitas, yg 4 hari kemudian setelah acara di kampus selesai, dosen UGm tadi juga akan guiding ke Borobudur..sah sah saja,apalagi manajemen resort terkemuka.
    hal ini di jawab oleh guide futuristik dan sophisticated, KITA JUGA HARUS MENDIRIKAN resort, dgn modal apapun, demikian, utk sekedar membuat kita introspeksi, JAMAN BERUBAH, kita harus menjemput bola, investasikan ilmu dan segala sumber dana yang ada,
    Revolusi belum selesai !
    welcome to the globalism!

  5. hpijogja Penulis Tulisan

    apapun pendapat ttg pramuwisata membutuhkan perjuangan panjang utk merealisasi di lapangan, apalagi ternyata diantara anggota HPI tak semua tertarik ikut menyiapkan yg terbaik buat semua… so what?

    modin

  6. Heri

    Teman-teman semua,
    Saya pengin urun rembug tentang Perda pramuwisata. Kita bisa bahas online. daripada rapat gak ada sing dateng. dan lagi Guide sekarang khan sudah tidak semua spt dulu. malah ada sing gak pernah luput laptop. Yo ra Bos?
    Ditunggu masukannya nggih? Matur nuwun:
    Usulan Perda Pramuwisata dan Pengatur Wisata
    Kota Yogyakarta

    BAB 1
    KETENTUAN UMUM
    Pasal 1
    Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:
    a. Daerah adalah Daerah Kota Yogyakarta.
    b. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kota Yogyakarta.
    c. Walikota adawalikota Yogyakarta.
    d. Pramuwisata adalah seseorang yang bertugas memberikan bimbingan, penerangan dan petunjuk tentang obyek wisata serta membantu segala sesuatu yang dibutuhkan oleh wisatawan.
    e. Pengatur wisata adalah seseorang yang bertugas memimpin dan mengurus perjalanan rombongan wisatawan

    BAB II
    Penggolongan Pramuwisata
    Pasal 2
    1). Yang dimaksud dengan Pramuwisata meliputi:
    a. Pramuwisata Umum
    b. Pramuwisata minat khusus

    BAB III
    Penggolongan, Tugas dan Ruang lingkup
    Pasal 3
    Tingkatan Pramuwisata Umum dan Wilayah kerja:
    a. Pramuwisata Umum Muda
    b. Pramuwisata Umum Madya
    c. Pramuwisata Umum Utama.

    Pasal 4
    Penggolongan Pramuwisata minat khusus:
    a. Pramuwisata Menyelam/Diving
    b. Pramuwisata Selancar/surfing
    c. Pramuwisata Naik gunung/trecking
    d. Pramuwisata Jelajah Gua/caving

    Pasal 5
    Tugas Pramuwisata
    a. Memberikan bimbingan kepada wisatawan baik rombongan maupun perorangan ke obyek wisata.
    b. Memberikan penjelasan tentang rencana perjalanan dan hal-hal penting yang berkaitan dengan program tour.
    c. Memberikan penjelasan tentang daya tarik wisata yang akan dikunjungi dan budaya dan segala informasi yang dibutuhkan oleh wisatawan.
    d. Melayani dan menjaga keselamatan wisatawan dan barang-barang bawaan.

    Pasal 6
    Ruang Lingkup:
    1. Pramuwisata Umum Muda bertugas di suatu obyek wisata atau dalam lingkup kota.
    2. Pramuwisata Umum Madya bertugas di dalam wilayah propinsi dikeluarkannya ijin operasional.
    3. Pramuwisata Umum Utama atau disebut juga Pengatur wisata bertugas di seluruh wilayah Indonesia dan seluruh dunia.
    4. Pramuwisata khusus Menyelam/diving bertugas memberikan bimbingan kepada wisatawan dalam kegiatan menyelam.
    5. Pramuwisata khusus Selancar/surfing bertugas memberikan bimbingan kepada wisatawan dalam kegiatan berselancar.
    6. Pramuwisata khusus naik gunung/trecking bertugas memberikan bimbingan kepada wisatawan dalam kegiatan. naik gunung/trecking
    7. Pramuwisata khusus jelajah gua/caving bertugas memberikan bimbingan kepada wisatawan dalam kegiatan jelajah gua.

    BAB IV
    PERIZINAN
    Pasal 5
    1). Untuk menjadi Pramuwisata wajib memiliki sertifikat dari lembaga dan tanda pengenal yang dikeluarkan oleh Pemerintah sesuai dengan wilayah kerja.
    2) Sertifikat berlaku untuk jangka yang tidak terbatas.
    3) Tanda pengenal sebagai izin operasional berlaku selama 4 (empat) tahun dan wajib diperpanjang.
    4) Bentuk dan ukuran tanda pengenal sebagaimana dimaksud pada ayat 3) pasal ini diatur lebih lanjut dengan keputusan walikota.

    BAB V
    SYARAT-SYARAT UMUM DAN TATA CARA PERMOHONAN IZIN
    Pasal 6
    Pramuwisata Umum Muda
    1) Warga negara Indonesia
    2) Umur sekurang-kurangnya 18 tahun
    3) Pendidikan serendah-rendahnya Sekolah Menengah Umum atau sederajat.
    4) Berkelakuan Baik
    5) Menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan atau salah satu bahasa asing.
    6) Memiliki ketrampilan membawa rombongan wisatawan.
    7) Memiliki pengetahuan umum dan khusus sesuai dengan wilayah kerja.
    8) Lulus ujian sertifikasi yang diadakan oleh lembaga terkait.
    9) Mengajukan permohonan kepada Pemerintah daerah.

    Pasal 7
    Pramuwisata Umum Madya
    1). Warga negara Indonesia
    2). Umur sekurang-kurangnya 22 tahun
    3). Pendidikan serendah-rendahnya Sekolah Menengah Umum atau sederajat.
    4). Berkelakuan Baik
    5). Menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan atau salah satu bahasa asing.
    6). Memiliki ketrampilan membawa rombongan wisatawan.
    7). Memiliki pengetahuan umum dan khusus sesuai dengan wilayah kerja.
    8). Lulus Ujian sertifikasi yang diadakan oleh lembaga terkait.
    9). Mengajukan permohonan kepada Pemerintah daerah.

    Pasal 8
    Pramuwisata Umum Utama/Pengatur wisata
    1). Warga negara Indonesia
    2). Umur sekurang-kurangnya 25 tahun
    3). Pendidikan serendah-rendahnya Sekolah Menengah Umum atau sederajat.
    4). Berkelakuan Baik
    5). Menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan atau salah satu bahasa asing.
    6). Memiliki ketrampilan membawa rombongan wisatawan.
    7). Memiliki pengetahuan umum dan khusus sesuai dengan wilayah kerja.
    8) Memiliki sertifikat Pramuwisata Umum Madya sekurang-kurangnya 5tahun.
    8). Lulus ujian sertifikasi yang diadakan oleh lembaga terkait.
    9). Mengajukan permohonan kepada Kementrian Pariwisata.

    Pasal 9
    Pramuwisata khusus menyelam
    1). Warga negara Indonesia
    2). Umur sekurang-kurangnya 18 tahun
    3). Pendidikan serendah-rendahnya Sekolah Menengah Umum atau sederajat.
    4). Berkelakuan Baik
    5). Menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan atau salah satu bahasa asing.
    6). Memiliki ketrampilan membawa rombongan wisatawan.
    7). Memiliki ketrampilan khusus menyelam.
    8). Lulus ujian sertifikasi yang diadakan oleh lembaga terkait.
    9). Mengajukan permohonan kepada Pemerintah daerah

    Pasal 10
    Pramuwisata Khusus Selancar
    1). Warga negara Indonesia
    2). Umur sekurang-kurangnya 18 tahun
    3). Pendidikan serendah-rendahnya Sekolah Menengah Umum atau sederajat.
    4). Berkelakuan Baik
    5). Menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan atau salah satu bahasa asing.
    6). Memiliki ketrampilan membawa rombongan wisatawan.
    7). Memiliki ketrampilan khusus selancar
    8). Lulus ujian sertifikasi yang diadakan oleh lembaga terkait.
    9). Mengajukan permohonan kepada Pemerintah Daerah.

    Pasal 11
    Pramuwisata Khusus Naik Gunung.
    1). Warga negara Indonesia
    2). Umur sekurang-kurangnya 18 tahun
    3). Pendidikan serendah-rendahnya Sekolah Menengah Umum atau sederajat.
    4). Berkelakuan Baik
    5). Menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan atau salah satu bahasa asing.
    6). Memiliki ketrampilan membawa rombongan wisatawan.
    7). Memiliki ketrampilan khusus naik gunung.
    8). Lulus ujian sertifikasi yang diadakan oleh lembaga terkait.
    9). Mengajukan permohonan kepada Pemerintah daerah.

    Pasal 12
    Pramuwisata Khusus jelajah Gua.
    1). Warga negara Indonesia
    2). Umur sekurang-kurangnya 18 tahun
    3). Pendidikan serendah-rendahnya Sekolah Menengah Umum atau sederajat.
    4). Berkelakuan Baik
    5). Menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan atau salah satu bahasa asing.
    6). Memiliki ketrampilan membawa rombongan wisatawan.
    7). Memiliki ketrampilan khusus jelajah gua.
    8). Lulus ujian sertifikasi yang diadakan oleh lembaga terkait.
    9). Mengajukan permohonan kepada Pemerintah daerah.

    BAB VI
    KEWAJIBAN PRAMUWISATA
    Pasal 13

    Dalam melaksanakan tugasnya setiap Pramuwisata dan Pengatur wisata wajib:
    a. Mentaati kode etik Profesi Pramuwisata.
    b. Melayani dan menjaga keselamatan wisatawan beserta barang bawaannya.
    c. Memakai tanda pengenal.
    d. Bertingkah laku dan bertutur kata yang baik serta berpakaian sopan.
    e. Membantu pemerintah dalam mengembangkan kepariwisataan.
    f. Senantiasa memberikan informasi dan penjelasan yang baik dan benar.
    g. Melaksanakan kewajiban atas pungutan Negara maupun pungutan daerah yang
    ditetapkan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
    h. Menyampaikan laporan secara berkala kepada Walikota atau pejabat yang ditunjuk.
    i. Ikut Menjaga keamanan dan ketertiban umum.

    BAB VII
    LARANGAN
    Pasal 14
    1). Siapapun dilarang mempekerjakan pramuwisata yang tidak memiliki sertifikat
    dan ijin operasional yang dikeluarkan oleh Pemerintah.
    2). Pramuwisata dilarang:
    a. Meminta uang atau barang secara paksa dari penjual atau orang lain yang
    berkepentingan berkenaan dengan pembelian barang atau jasa lainnya oleh
    wisatawan yang sedang diurus.
    b. Memaksa wisatawan untuk menggunakan jasanya.
    c. Melakukan tugas-tugas yang dibebankan oleh wisatawan diluar bidang tugas
    kepariwisataan yang melanggar perundang-undangan yang berlaku.

    BAB VIII
    PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
    Pasal 15
    1) Pembinaan dan Pengawasan dilakukan oleh walikota atau pejabat yang ditunjuk.
    2) Walikota atau pejabat yang ditunjuk dapat meminta laporan hal-hal yang dianggap perlu.
    3) Dalam rangka pembianaan dan pengawasan,sewaktu-waktu petugas dapat melakukan pemeriksaan di tempat.
    4) Mekanisme pembinaan dan pengawasan diatur lebih lanjut dalam keputusan walikota.

    BAB IX
    PENCABUTAN IZIN OPERAIONAL
    Pasal 16
    Sertifikat dan tanda pengenal Pramuwisata dapat dicabut dengan ketentuan sebagai berikut:
    a. Tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 Peraturan Daerah ini.
    b. Terbukti melakukan tindak pidana kejahatan yang berkaitan dengan pelayanan jasa pramuwisata.
    c. Terbukti melakukan tindak pidana pelanggaran peraturan perundang-undangan lain yang berkaitan dengan pelayanan jasa pramuwisata.

    Pasal 17
    a. Pencabutan sertifikat dan tanda pengenal pramuwisata sebagaimana dimaksud dalam pasal 18 huruf a dan c Peraturan Daerah ini dilaksanakan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja setelah diberikan peringatan sebanyak 3 (tiga) kali.
    b. Pemberian peringatan atau pencabutan sertifikat dan ijin operasional dilaksanakan oleh waliota atau pejabat yang ditunjuk.

    BAB XI
    PEMBATALAN IZIN OPERASIONAL
    Pasal 18
    Izin Operasional Pramuwisata dinyatakan tidak berlaku karena salah satu hal sebagai berikut:
    a. Pemegang izin meninggal dunia.
    b. Tidak memenuhi kewajiban daftar ulang sebagaimana dimaksud pada pasal 5 ayat (3).
    c. Alasan kesehatan yang tidak memungkinkan untuk meneruskan tugasnya dengan baik.
    d. Pernyataan tidak berlakunya izin pramuwisata sebagaimana dimaksud pada ayat (a) pasal ini, tidak perlu mendapat putusan pengadilan terlebih dahulu.

    BAB XII
    PENUTUP
    Pasal 19
    Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai pelaksanaannya akan ditetapkan lebih lanjut dengan keputusan Walikota.

    Pasal 20
    Peraturan Daerah ini berlaku pada tanggal diundangkan.

    Ditetapkan di Yogyakarta
    Pada tanggal:
    WALIKOTA YOGYAKARTA

  7. dtur88

    (1). Info terakhir malah diajukan peribahan versi dinparbud kota, intinya perda ttg pariwisata (bukan hanya ttg pramuwisata) akan diwadahi menjadi satu usulan perda yakni PERIZINAN.

    (2) Lengkap sdh harapan teman@ akn menemui jalan buntu…mgkin hrs bawa tulisan usulan kalian di jalan-jalan…hee hwhwkk hikhik

    (3) han han perlu pake sorban, ning ra sah nganggo terompah kaji…pake spatu boat.. ben serem pak ketua mimpin di dpn untuk menyuarakan aspirasi guide se-diy…. opo yen wis koyo ngono..bakal ditampung poooo usulan perda nyungsung geni iki..!

    Wahai seluruh guide jogja….bersatulah, ini pemanasanmu…yg mgkin didiamke sesama konco dewe, atawa diguyu dinas..aponeh dewan…

    Forum ini yo mung kuwi/ ben ketua ono kerjaan, mancing sing ora ono iwake, ngudal-udal fitnah.. maklum dialgo\\ dialog begini buang-buang waktu, kata kang pardjo di atas,
    jadi apa susahnya kita nurut aja..syukur guide fee lancar..daripada guide fee Rp250.000,- ning malah dijothak travel alias nganggur atas nama perjuangan.. anak bojo mangan dialgo dialgo ini poo!

    Tapi, opo iyo, ini buang-buang waktu..so mari berpikir jernih aja..biarkan pak ketua, mas heri, sumiyem, lan konco liyane ngoceh…siapa tahu mengko dprd kota yo moco usulan iki, moco ning yo merjuangke aspirasi apik ning sing dukung setitik…
    kebetulan kali ini kita punya pak ketua yang bersemangat…

    Jadi mari lihat angka (4)di bawah..

    (4)soal perda kota hanyalah bagian kecil peraturan UU kita di pariwisata nasional.
    Peta persoalan lokal gak perlu menguras energi yg besar, di luar program pokok yang diamanatkan musda – rakerda – koperasi dst.
    Insyaallah koperasi akhir januari ini akan ngurus legal dan diatasnya 5 unit usaha akan serius mensejahterakan harkat dan martabat bersama. Rekan-rekan yang keranjingan bicara konsep, yang seneng hanya kerja, yang suka ngajar dan bicara, yg memiliki tenaga dan dana..mari bergabung, jangan hanya berkkoar oleh trauma masalalu anda…!

    Kelima unit usaha Koperasi KSU HPI DIY;
    Unit Simpan Pinjam memiliki kelebihan
    Bab IV pasal 4 Anggaran Rumah Tangga Koperasi memuat pembagian Sisa Hasil Usaha yang akan dibagi sesuai perhitungan kewajiban dalam Rapat Umum Anggota tahunan. Pendapatan bersih dari SHU Koperasi KSU HPI DIY Unit Simpan Pinjam akan dibagi menurut kesepakatan berikut:

    Dana Cadangan 20 %
    Jasa Anggota 40 %
    Pengurus 10 %
    Pengawas 10 %
    Pendidikan 5 %
    Kas HPI 5 %
    Dana Sosial 5 %
    Karyawan 2,5 %
    Dana Audit 2,5 %

    Unit Kursus Guide dan Bahasa
    Unit Informasi Transport
    Unit Jasa Pramuwisata dan Media
    Unit Event Organizer

    SHU yang berasal dari unit-unit usaha lain ini, akan mendapat komposisi pembagian Sisa Hasil Usaha KSU HPI berikut:

    Dana Cadangan 40 %
    Pengurus 10 %
    Pengawas 10 %
    Kas HPI 20 %
    Dana Pendidikan 5 %
    Karyawan 7,5 %
    Sosial 5 %
    Dana Audit 2,5 %

    Semoga rekan-rekan yang belum berminat kini mulai bertanya dan kemudian bergabung serta bersinergi potensi di Koperasi yang dipimpin Sdr Hassan ini.

    Terima kasih…
    modin

  8. Heri

    kayane tanggapan teman-teman tentang perda pramuwisata sudah semakin rame. gimana kalau kita ketemu bersama, rembugan bareng tapi ra sah suwe-suwe mengko buang-buang waktu lan buang energi. karena energi kita sekarang perlu diirit-irit mengingat kita memasuki krisis energi.. he…
    Mas Didit, Mas Dodot, Mas Parjo, sumiyem, Mas Rahman Madura, Pak Ketua, Mas Wowon dan teman-teman pengurus beserta teman yang perhatian terhadap HPI, kami mengundang untuk ketemu kira-kira senin tanggal 11 Januari 2010. Tempat sekretariat HPI jam 14.
    Ingat Kehadiran anda sangat berarti untuk masa depan Kita semua!!
    Jangan sampai gak datang ya??..

  9. hari

    yup bisa aja tapi kok kayanya terlambat ,saya juga mau menanyakan neh apakah kalo menjadi anggota hpi kita bisa disalurkan [guiding maksudnya]ada beberapa temen dari salah satu organisasi yg menanyakan tentang hal ini ,nek awake dewe mlebu hpi pa bakalan gowo tamu?dari situ saya tampung dan saya berusaha mencari infonya dari beberapa kawan yg di hpi tapi jawabanya kayanya kurang memuaskan ,dan hampir temen2 saya udah pengalaman jauh dalam guiding ada yg udah puluhan tahun tapi kayanya ya cuman gitu2 aja gak ada perkembangan sementara kita ingin berkembang lebih jauh tapi masih ada kendala ,jadi kami minta infonya sapa tahu kami juga bisa seperti mereka2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s