CANDI YANG TERLUPAKAN

CANDI GEBANG

Alkisah Jawadwipa terdiam tenang paska letusan Gunung Merapi, maka demi keseimbangan alam pucuknya ditebas, lalu ditancapkan di Gebang dan ribuan tahun kelak itulah Candi Gebang. Sedang paku-paku lain darinya menyebar, pertama adalah Candi Borobudur yang terpasak ke perut Nusa Jawa, pucuk lain sebelumnya sejajar melangkah ke utara lagi terpaku komplek Candi Dieng. Paku-paku bumi ratusan candi itu syarat keseimbangan alam Jawa dan manusia kini menjadikannya sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) bidang religi, sejarah dan wisata budaya, seperti yang dideklarasi BorobudurTrail of Civilisation oleh pejabat setingkat Menteri 6 negara ASEAN Th 2006 lalu.

Pariwisata DIY sarat memiliki keterkaitan ikon peradaban masa lalu, yakni menyangkut tempat peribadatan, seperti Candi, Masjid, Petirtaan, Gereja Hati Kudus dan Goa. Inilah relasi keberadaan Candi Gebang di Desa Gebang, Kelurahan Wedomartani, Ngemplak, Sleman, ± 1 Km ke utara dari arah Kampus UII Condong Catur. Secara astronomis tepatnya 1100 24” 53’.62 BT dan 0,70 45“ 04’.01 LS yang kini sebelah tenggara Perumahan Candi Gebang Permai. Nama Gebang berasal dari nama tempat muasal Desa, artinya gobang, alat pemenggal kepala. Bangunan Gebang berdiri di era candi-candi kuno; ±730-800M semasa pembangunannya dengan Komplek Candi-candi Dieng (adhi – Hyang) di Jawa Tengah, lebih tua dari Candi Buddha Borobudur.

Kapan Candi Gebang berdiri dan soal arsitektur Candi ini menarik diungkap. Ornamen ikonografi sangat minimalis jika disbanding bangunan lain dengan berjalan ke arah timur, yakni temuan candi-candi kuno yang ke timur kian rumit mulai Candi Kedulan – Morangan – Kadisoka – Sambisari dst. Kelompok ini diduga berdiri jauh sebelum abad ke-7, karena keyakinan orang Jawa akan adanya Tuhan sangat mendalam dan oleh temuan bahwa candi sebagai tempat peribadatan di sekitar Jogjakarta telah ada sejak awal-awal abad pertama. Peran local genius tidak dapat dikatakan sedikit, hingga masa keemasan pembangunan candi di abad 8 merupakan keemasan aktualisasi kepercayaan kuno Agami Jawi di masyarakat. (KR edisi 06/02/06 dan 19/01/06).

Bangunan Candi Gobang 5,25 x 5,25 M, tinggi 7,75 M dengan luas 27,3 m2; ditemukan tertutup material vulkanik dalam kondisi runtuh total (November 1936) oleh petani setempat awalnya berupa sebuah Ganesa, lalu Dinas Purbakala meneliti dan ternyata arca itu merupakan bagian dari sebuah bangunan, maka dilakukanlah penelitian mendalam. Lalu ditemukan lingga yaitu di keempat sudut candi. Eskavasi pemugaran candi dilaksanakan tahun 1937-1939 dipimpin oleh V.R. Van Romondt. Bagian kaki Candi mempunyai proporsi yang tinggi dan polos tanpa relief, tidak memiliki tangga masuk, tapi titik pusatnya adalah titik pusat keseluruhan Candi. Pada tubuh Candi terdapat satu bilik berongga menghadap ke timur, berisi sebuah Yoni serta di kanan pintu masuk terdapat relung dengan arca Nandiswara, Dewa penjaga arah mata angin dan di-kiri terdapat Mahakala, arcanya tidak ada, juga sisi utara dan selatan relungnya kosong. Sebelah barat, relungnya berisi Ganesa yang duduk di atas sebuah Yoni, dengan ceratnya mengarah ke utara. Saat upacara keagamaan, arca Ganesa di Candi Gebang ini selalu dibasuh dengan air suci melalui ceruk, lalu ditampung dan dibagikan kepada umat Hindu.

Di bagian atap Candi terdapat relief Kudu, kepala manusia, yang berbeda satu sama lain di setiap atapnya kecuali satu relief tepat di muka Mahakala pada pintu masuk Candi. Relief Kudu ini juga mirip kepala Buddha yang berciri telinga besar, sisi utara dan selatan atasnya memiliki sikap mudra yang khas, seperti berada di sebuah jendela dengan mata menengok ke bawah. Relief Kudu dijumpai juga pada Candi Bima di komplek kuno percandian Dieng (Adhi–Hyang). Lainnya yang tak lazim, terdapat stupa tapi berciri kubah di bagian paling atas Candi Gebang. Asal kata Kudu disini bisa terkait pada nama “gobang”, yaitu alat pancung pemenggal kepala untuk sesembahan suci kepada Tuhan. Hal ini mengingatkan sejarah terpenggalnya kepala Sayyidina Husain cucu Rasulullah SAW oleh Yazid ibnu Mu’awiyah pada Hari ‘Asyura atau 10 Muharram / 10 Oktober 862 M di Perang Karbala Iraq. Bulan Muharram (Suro) merupakan satu dari empat bulan suci yang disebut Al-Qur’an Surat at-Taubah 36. Sedangkan disini, 1 Muharram adalah Hari dimulainya hitungan 1 Syuro pada Kalender Lunar ciptaan Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Apakah relasi kejadian ini kebetulan? Pembangunan Candi, sebagai penanda sejarah jika direlasikan ke masa abad ke-8 bahwa nusantara saat itu telah menjadi jalur utama perniagaan dari Mesir, Madagaskar Afrika, India, Jawa menuju China, diantaranya ditemukan nama Syekh Subakir telah datang berdakwah ke tanah Jawa. Catatan Taufik Abdullah mengatakan bahwa tahun 900-an M, Madrasah Giri Gresik sebagai tempat penyempurnaan ilmu agama Islam dari seluruh penjuru dunia. Juga, di era pembangunan Candi Gebang, terdapat Ratu Sima (Kaling) yang telah menerapkan hukum pancung untuk menegakkan tata pemerintahannya. Pembacaan Semiotika Candi adalah bagian dari kebutuhan sistemik peradaban Jawa, bahwa candi diartikan sebagai penanda sub-sistem masyarakat yang saling terhubung dalam melahirkan pemaknaan lain yang lebih pas bagi masyarakat zamannya. Hal ini berbeda hasil pemaknaannya, jika merujuk pada sumber peneliti asing seperti H.J de Graaf dalam De regering van Panembahan Senopati in Alaga, Den Haag (1954), Lombart dalam Nusa Jawa (2005) ataupun tulisan Peaget tentang Jawa.

Dengan memperhatikan detail Candi Gebang, akan ditemukan hal-hal baru, atau justru awalnya memang demikian keberadaan sebuah Candi di Jawa; berfungsi sebagai tempat peribadatan ataukah sebuah Monumen keagamaan, bersifat agama Hindu, Buddha ataukah Islam. Masih di Candi Gebang bagi penganut Buddha, bisakah meditasi mengelilingi bangunan candi dengan pradaksina, memutar (membumi) ke arah kanan badan Candi; Ataukah meditasi terbalik dengan memutarinya ke arah kiri badan Candi, yaitu pola prasawiya, dengan gerak naik memusat ke atas (mi’raj) sebagai tradisi penyucian spiritual. Filosof Jerman Karl Jaspers berpendapat, simbol laku manusia untuk mencapai kesempurnaan pengetahuan yakni dengan memutari Candi Borobudur secara prasawiya, dan bukan dengan membaca biografi Siddhartha dari kelahiran menuju kematiannya sebagaimana adanya disana yang disebut pradaksina. (Sumber tulisan http://dtur88.wordpress.com).

2 thoughts on “CANDI YANG TERLUPAKAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s