BABARAN KRATON NGAYOGYAKARTA

Asal nama Yogyakarta dari Ayogya kurang tepat, yang benar adalah Ngayogya atas dasar imbuhan kata Jawa nga mengawali kata Yogya (bagus, indah) yang dinisbatkan kepada nama Ayodya nagari di India. Sedang imbuhan kata “karta” muncul kemudian, artinya mapan, sejahtera. Ngayogyakarta sebagai nama kraton oleh Pangeran Mangkubumi dipilih atas dasar lokasi yang memiliki makna strategis dan filosofis. Jadi berbahagialah berada di Yogya yang terlahir ideal, bagus, tepat dan mapan sejahtera, yang kini diperingati pada tanggal 7 Oktober tiap tahunnya oleh warga Kota.
Sejarah Ngayogyakarta berawal dari Giyanti, sebuah perjanjian di sebuah tanah lapang wilayah Karanganyar (bukan Salatiga) antara Belanda dengan Mangkubumi dan Paku Buwono. Dari sini Mataram terpecah menjadi tiga wilayah kraton Surakarta (Kasunanan dan Mangkunegaran) dengan Ngayogyakarta. Sementara wilayah pesisir utara Jawa diambil alih Belanda untuk mengganti beaya perang yang terus bergejolak di Mataram. Nama tertera di dalam akta Giyanti adalah Sultan Paku Buwono, tapi Mangkubumi tetap membubuh tanda tangan, karena memperoleh ilham bahwa Belanda segera meninggalkan tanah jajahan.
Mangkubumi tak menghiraukan permintaan Belanda agar mendirikan kraton di wilayah timur (Surabaya), namun bersikukuh di Mentaok, maka setelah penandatanganan palih nagari, mulailah berdiri Ngayogya. Fakta diatas mirip terjadi kemudian oleh Hamengku Buwono IX, yakni munculnya Amanat Sultan tanggal 5 September 1945 mengawali altar keistimewaan Yogyakarta menegaskan surat kawat penggabungan 18 Agustus ke pangkuan Republik. Bahkan terbukti, Ngayogya telah istimewa sejak berdirinya, dari tata letak, arsitektur kraton maupun filosofi kesejarahan.
Secara geografis letak kraton berada di antara Gunung Merapi dan Laut Selatan, diapit oleh tiga sungai di sebelah timur dan tiga lainnya di barat. Di dalam konsep Hindu tri hitakarana; parhyangan-palemahan-pawongan, posisi Kraton persis berada di tengah antara gunung-laut, hal mana meletakkan bangunan kraton dalam simbol kesucian. Mangkubumi sendiri adalah seorang arsitek kesayangan Paku Buwono, sangat cermat memperhatikan tata fungsi bangunan atas dasar makna-makna dan simbol.
Babaran Kraton Ngayogyakarta pada Jum’at 23/10 malam oleh Pak Sri Yuwono di Ngadinegaran bagi kalangan pecinta budaya Tjap Orang Jadzab dan pelaku jasa pramuwisata ini sungguh menarik, untuk di kupas lebih lanjut pada edisi mendatang. Mari membaca kebenaran sejarah demi kekuatan kemanusiaan dan tentu Pariwisata kita. *** (Bersambung)

2 thoughts on “BABARAN KRATON NGAYOGYAKARTA

  1. masmpep

    sip mas. cuma yang saya tahu perjanjian giyanti untuk ‘membelah’ mataram menjadi jogja dan solo. baru pada perjanjian salatiga, solo ‘dibelah’ menjadi kasunanan dan mangkunegaran. pada perjanjian tahun 1813 menyusul jogja menjadi kasultanan dan pakualaman.

    salam blogger,
    masmpep.wordpress.com

  2. modin

    yaitu soal perjanjian “giyanti”
    mana sultan x malah pernah diajak ke salatiga,
    menurut pak sri yuwono emang yg benar
    peta giyanti karanganyar
    tapi sejarawan perlu cermat membaca ini
    bukankah anak cucu orang jawa juga acuh?

    salam
    mod_in

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s