Merajut Tali Silaturrahim Kepariwisataan

Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki Sumber Daya Manusia yang handal, bahwa Gempa Jogja yang menerpa hebat bisnis pariwisata 4 tahun lalu telah mampu dilewati dengan baik. Data wisatawan (2005) sejumlah 1.6 juta orang menjadi ±2 juta turis (2008). Sementara Penghasilan Asli Daerah Kota Yogyakarta 2005 terealisasi 106,43% sebesar Rp 391,886 milyar. Hal serupa terungkap dalam Semiloka Analisa Dampak Ekonomi Pariwisata terhadap Perekonomian Daerah (12/10), bahwa setiap kenaikan wisatawan sebanyak 1.000 orang akan meningkatkan 568 tenaga kerja di sektor Jasa Hiburan- Rekreasi, meningkatkan 46 naker sektor Jasa Restoran dan 17 naker di sektor Jasa Perhotelan secara total.

Untuk melayani wisatawan di DIY terdapat 354 Biro Perjalanan Umum /BPW terhubung layanan transportasi, restoran dan akomodasi sejumlah 1.200 kamar terdiri dari 34 hotel bintang dan 382 hotel melati dengan 8.000 kamar. Sektor ini terbangun dari keringat multiprofesi. Layanan penghubung antara kepentingan wisatawan dengan stakeholders, ditempati peran profesional sejumlah 416 Guide dengan 11 Bahasa (HPI DIY, 2009) dan beberapa Pemandu lain. Maka, demi menguatkan hubungan antar kepentingan bisnis Pariwisata, dalam rangka Syawalan 1430 H kali ini Keluarga Besar Ansor Silver Kotagede, DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia Propinsi DIY dan Paguyuban Pengajian Insan Pariwisata (Papita) Yogyakarta mengadakan kumpul “Bersama Merekatkan Tali Silaturahim Kepariwisataan”. Tulisan ini diadaptasi dari pertemuan tahunan tersebut yang diiringi jabat akrab dan ramah tamah.

Acara ikrar syawalan 1430 H ini diawali dengan Salawat bersama Kelompok Salawatan Mataraman Kotagede pada hari Kamis, 15 Oktober 2009 pk19.00-selesai di halaman Ansor Silver Kotagede. Hikmah Syawalan disampaikan oleh Ustd Harpiyanto dari Bantul. Diharapkan para pelaku bisnis Pariwisata dapat mengambil manfaat, menjalin hubungan kemitraan yang baik sekaligus dapat memaknai perkembangan Pariwisata Yogyakarta paska Gempa tersebut diatas dengan mengingatkan pentingnya kordinasi, kepemimpinan dan persaudaraan antar sesama pelaku. Ya, dalam Syawalan ini digalang pula potensi amal insan pariwisata demi ikhwan pelaku pariwisata yang terkena musibah Gempa Sumatra.

Kegiatan ini memberi semangat akan pentingnya solidaritas insan wisata, agar lebih baik dalam menghadapi problema kepariwisataan di masa-masa mendatang. Bukankah kita diperintah Allah SWT berjalan di muka bumi untuk melihat sejarah yang terhampar, hingga tiada mengulangi kesalahan umat terdahulu. QS Mu’min 40:82’Apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang2 terdahulu. Manusia sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya, (lebih banyak) bekas-bekasnya di muka bumi [*], maka apayang mereka usahakan itu tidak dapat menolong. [*]. Maksudnya: bangunan, alat perlengkapan, benteng-benteng dan istana-istana.

Dalam makna silaturahim tercermin hubungan rahim kemanusiaan, garba bisnis dan usaha pemikiran bagaimana meningkatkan mutu dan kwalitas Pariwisata Yogyakarta. Kami praktisi ini berharap, usaha-usaha kerjasama yang telah dilalui beberapa tahun ini dapat terus berjalan dengan baik di tahun-tahun mendatang bahkan meningkat dan terus berkembang. Momentum syawal 1430 H dapat menuntun fitrah kemanusiaan kita untuk saling memahami dan terus belajar menjadi baik. Semoga.**

Yogyakarta, 15 Oktober 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s