HUT HPI: Menelaah Profesi Guide

Tidak terasa Himpunan Pramuwisata Indonesia, sebagai asosiasi nasional Legal Pemandu Wisata berdasar Kepmen Parpostel No: KM.82/PW.102/MPPT-88 telah berusia 21 tahun. Keputusan resmi ini memperkuat eksistensi wadah tunggal profesi Pramuwisata. Sebelumnya pada Musyawarah Nasional 27 Maret 1983 di Malang, asosiasi menggunakan nama Himpunan Duta Wisata Indonesia (HDWI). Munas Palembang 5 Oktober 1988 merubahnya jadi Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), demi menghimpun, mempersatukan, meningkatkan dan membina kesatuan Pramuwisata agar lebih berdaya dan berhasil guna dalam mengembangkan Pariwisata Indonesia.

Data jumlah turis melanglang dunia 924 juta (2008), membuka peluang 238 juta Pekerja sektor ini. Di Indonesia berjumlah 6.5 juta turis dan membuka 6.7 juta Pekerja. Devisa nasional masuk Rp 80 triliun dari wisman dan Rp 123 triliun dari wisatawan domestik (KR 30/07/2009). Di Daerah Istimewa Yogyakarta total wisatawan 1994 ke DIY berjumlah 963.995 orang meningkat jadi 1.792.000 orang (2004), 1.6 juta orang (2005) dan ±2 juta turis tahun 2008. Sementara P.A.D. Kota Yogyakarta thn 2005 terealisasi 106,43% sebesar Rp 391,886 milyar.

Untuk melayani wisatawan di DIY terdapat 354 Biro Perjalanan Umum /BPW terhubung layanan transportasi, restoran dan akomodasi sejumlah 1.200 kamar terdiri dari 34 hotel bintang dan 382 hotel melati dengan 8.000 kamar. Sektor ini terbangun dari keringat multiprofesi. Layanan penghubung antara kepentingan wisatawan dengan stakeholders, ditempati peran profesional sejumlah 416 Guide dengan 11 Bahasa (HPI DIY, 2009) dan beberapa Pemandu lain. Maka, membaca statement pengamat (Kompas, 5 Oktober 2009) bahwa banyak Pramuwisata di  Yogyakarta tak kuasai Budaya Yogya, baru sekedar menjadi Pengantar Tamu, belum menjadi Pemandu Wisata (guide), sungguh memprihatinkan.

MAKNA PROFESI GUIDE

Pramuwisata atau guide merupakan profesi ujung tombak yang mengantarkan wisatawan menikmati dan mendapatkan penjelasan-penjelasan mengenai aset-aset wisata yang dikunjungi dan yang dapat mempengaruhi citra Pariwisata Indonesia secara keseluruhan. Masyarakat perlu mengetahui beda istilah Guide, Pramuwisata, Tourist Guide, Pengatur Perjalanan Wisata (Tour Leader), Pengantar Wisata (Tour Guide). Istilah Pemandu Wisata lebih pas untuk mengganti Guide. Beda makna paling mudah dikenali adalah soal legalitas sang Pemandu Wisata, apakah memiliki lisensi (Muda – Madya – Utama/ Pengatur Perjalanan Wisata) dan menggunakan tanda pengenal (Name Tag) saat bertugas. Namun perbedaan paling azasi tentu bisa diketahui dari jam terbang memadukan sikap,  ketrampilan bahasa, teknik guiding dan wawasan pengetahuan di lapangan guiding.

Menelaah profesi Guide tanpa mengetahui kaitan masalah yang melatar belakangi lebih dalam sungguh membodohkan. Altar paling krusial yakni menyangkut kurikulum pendidikan Pramuwisata, regulasi yang mengatur soal lisensi dan hukum pasar pemakai jasa layanan Guide. Dari sisi kurikulum, saat ini Indonesia menerapkan pendidikan 110 jam selama 3-4 bulan, Spanyol 900 jam, Australia 2 tahun dan paling lama Mesir ditempuh dalam 4 tahun, dilanjut Ujian kompetensi calon Guide. Pendidikan Pramuwisata di DIY 1994 pernah ditempuh selama 3 bulan teori sebulan praktek, namun saat ini setelah kewenangan penerbitan Lisensi Pemandu dikelola Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten / Kota lama pendidikan menjadi 3 hari dan  maksimal 1 minggu. Jadi dengan  waktu yang sesingkat itu kita tahu hasilnya bagaimanan  !

Dari gambaran diatas, salah satu masalah yang menonjol adalah soal kritik penguasaan Wawasan Budaya Yogya, incompetence guide dan pendapat miring lain non-pelaku. Maka usulan menerjunkan para expert profesor menjadi Pemandu Wisata, tidak menyelesaikan masalah. Fakta lain kini terutama di musim ramai wisatawan, DIY selalu kurang Guide, sementara permintaan jasa pemanduan berdatangan. Harus ada solusi serius mengatasi pendidikan Guide, jika DIY menginginkan keberhasilan sektor wisata di masa datang. Itulah sebabnya DPD HPI DIY mengajak stakeholder melaksanakan ‘Guide Course’ selama tiga bulan mulai November ini dengan mengajarkan teori – praktek 15 materi kursus berdasar ketentuan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia.

Kebijakan mendatang, perlu ada keberanian mengembalikan kewenangan soal lisensi ke tingkat Provinsi seperti era pra-Otda yang menempatkan hirarki kompetensi Guide menjadi Pramuwisata Muda–Madya dan Utama. Pramuwisata Utama bekerja di seluruh wilayah Nusantara, hal ini untuk mengatasi problematik lapangan beda wilayah operasional Guide seperti saat ini (borderless). Substansi Peraturan Daerah tentang Pramuwisata pasca era Otonomi disini mengabaikan kompetensi Guide dan mengorbankan layanan wisatawan. Sebaiknya Pengatur Perjalanan Wisata ditempati Pemandu yang berlisensi Pramuwisata Utama, karena tugas-tugas Tour Leader melebihi standar kompetensi Muda-Madya sebelumnya. Semoga penjabaran PP, Permen, Perda dari UU 10/2009 tentang Usaha Jasa Pramuwisata bisa menjawab masalah kompetensi ini.

MATERI GUIDING

Tugas Pemandu Wisata dalam AD HPI Bab iv Pasal 8 adalah  memupuk dan meningkatkan semangat serta kesadaran Nasional sebagai warga negara Republik Indonesia serta memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap pariwisata Indonesia. Menguasai kebudayaan Jawa dengan persepsi penuh hanyalah sebagian tuntutan bagi Guide profesional, sumber informasi utama wisatawan. Materi selanjutnya adalah soal kemasyarakatan, geografi wisata, seni kerajinan, arsitektur, kuliner, transportasi, imigrasi, perhotelan, lands & people, kesehatan, keamanan dan lain-lain kebutuhan wisatawan. Materi pengetahuan tersebut masih harus dilengkapi dengan kemampuan Standar Bahasa dan pengalaman lapangan juga kepribadian kokoh yang berdiri diatas profesi ini.

Enaknya, profesi Pemandu Wisata bisa melanglang buana dan menjelajahi karakter wisatawan berbagai bangsa, belum lagi kepuasan finansial yang cukup untuk hidup layak. Profesi Pramuwisata menjadi jendela keindahan dunia. Sedihnya, menghadapai complain dan jika awam salah mendekati profesi ini, hanya dari sisi penghasilan saja atau resiko moral karena bersentuhan dengan budaya wisatawan yang primisif atau syarat menjadi Guide dari penguasaan Budaya saja.

HPI berharap di Hari Ulang Tahun kali ini, asosiasi ini memiliki arti positif bagi pekerja pariwisata khususnya buat Pemandu Wisata Yogyakarta, Selamat dan Sukses, semoga! ***

Ketua DPD HPI DIY, webblog pribadi http://dtur88.wordpress.com

2 thoughts on “HUT HPI: Menelaah Profesi Guide

  1. modin

    Artikel ini diangkat dikit di kompas 7/10 menjawab statemen Singgih Puspar di kompas 5/10 memprihatinkan jika pengamat ga ngerti ‘guiding’ dia hanya bicara tanpa mengalami ada usulan emang untuk duduk se-meja mari mengupas ‘guiding’ secara profesional ya skill tapi juga dari wawasan ilmu jika pengamat (professor) mau plus guiding lalu silahkan komentar semaunya kompetensi profesi ini msh perlu didukung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s