Peran Guide dalam Bina Usaha Wisata

Saat ini telah berkembang industri jasa pariwisata di Indonesia; sebuah usaha kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.

Dengan dana promosi sejumlah 15 juta Dollar, angka kunjungan nasional naik dari target 6,5 juta wisatawan, dan sepanjang 2008 telah bisa menyumbang devisa sebesar 7,5 Miliar Dolar AS (± Rp 90 Triliun). Tetangga kita Malaysia, meraih 20 juta wisatawan dengan devisa ± Rp 100 triliun dari anggaran promosi sebesar 80 juta dollar AS. (https://hpijogja.wordpress.com). Kunjungan wisatawan asing ke Daerah Jawa Timur melalui Bandara Juanda tahun 2000 sejumlah 65.041, meningkat 83.679 orang (2004). Data wisman tahun 2008 pada bulan Juli, Agustus, dan Desember mencapai masing-masing 567.400 orang, 599.500 orang, dan 610.400 orang (www.eastjava.com) hingga Jatim memberi kontribusi sebesar 2 persen terhadap jumlah wisman secara nasional (MI, 05/03/2009). Sementara total jumlah di DIY tahun 2004 saja mencapai 1.792.000 orang, 1,6 juta wisatawan (2005) dan berkisar jumlah itu di tahun berikut. Angka-angka ini perlu dicermati untuk kepentingan seluruh elemen wisata terutama pemerintah, pelaku wisata agar bisa dinikmati hasilnya oleh warga masyarakat seluas-luasnya.

Dapat dimengerti jika semua pihak perlu terus memahami karakter dasar industri pariwisata, baik menyangkut kesiapan Pemandu Wisata (Jatim sejumlah 345 dan DIY 415 orang), sarana dan fasilitas kenyamanan, khususnya daya tarik Jawa bagian Selatan sebagai destinasi unggulan. Selain potensi alam, faktor tradisi, atraksi seni budaya, kuliner, kerajinan lokal, peraturan daerah dan aneka usaha jasa pariwisata, terdapat unsur pariwisata yang patut disebut adalah peran penting Pemandu Wisata dan Buku Panduan Wisata bagi keberhasilan, kemudahan dan kenyamanan wisatawan. Hal penting lain adalah kesiapan seluruh warga Pacitan sebagai ‘penerima tamu’ yang baik atas kunjungan wisatawan yang datang.

Unsur Pariwisata menurut UU 10/Th 2009

Dalam pembinaan usaha pariwisata, perlu difahami hal-hal pokok seperti Daya Tarik Wisata yaitu segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. Adapun pihak yang menyediakan barang dan jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dan penyelenggaraannya disebut Usaha Pariwisata. Sedang kumpulan usaha yang saling terkait dalam rangka menghasilkan barang dan atau jasa tersebut bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan itulah Industri Pariwisata.

Daerah tujuan wisata atau Destinasi Pariwisata adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang di dalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan. Lebih luas lagi, Kawasan Strategis Pariwisata adalah kawasan yang memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata yang mempunyai pengaruh penting dalam satu atau lebih aspek, seperti pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya, pemberdayaan sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup, serta pertahanan dan keamanan. Maksud “lingkungan hidup” disini adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.

Unsur terpenting yang bersinggungan langsung dengan layanan wisatawan adalah Pramuwisata atau Pemandu Wisata; yaitu seseorang yang bertugas memberikan bimbingan, penerangan dan petunjuk tentang obyek wisata serta membantu segala sesuatu yang diperlukan wisatawan. Dalam menjalankan tugasnya, pemandu wisata (tourist guide) harus memiliki standar kualifikasi layanan dan kompetensi yang cukup berupa sikap, pengetahuan, ketrampilan teknik serta kode etik profesi kepariwisataan yang telah diratifikasi.

Peta Usaha Pariwisata

Memahami anasir pariwisata yang terkait luas diatas, marilah kita melihatnya menurut kebutuhan yang ada, dengan mengidentifikasi potensi daya tarik destinasi wisata Jawa bagian selatan, terutama daerah Kabupaten Pacitan yang patut dikembangkan. Menurut Pasal 14 UU 10/Th2009 bahwa yang disebut Usaha pariwisata meliputi, antara lain: 1. daya tarik wisata; 2. kawasan pariwisata; 3. jasa transportasi wisata; 4. jasa perjalanan wisata; 5. jasa makanan dan minuman; 6. penyediaan akomodasi; 7. penyelenggaraan kegiatan hiburan dan rekreasi; 8. penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konferensi, dan pameran; 9. jasa informasi pariwisata; 10. jasa konsultan pariwisata; 11. jasa pramuwisata; 12. wisata tirta; dan 13. spa.

Selain potensi wisata alam, paket wisata minat khusus yang telah berkembang yaitu tracking, Gua Gong, Tabuhan, jelajah Desa, Banyu Anget, Sungai dan Pantai Teleng, mampukah kita menawarkan alternatif lain melengkapi daya tarik Pacitan, bagaimana dengan akomodasi serta fasilitas lain juga layanan jasa perjalanan, hotel dan restoran?

Fungsi dan Tugas Pramuwisata

Dari pengertian tentang tourist guide, profesi ini menjadi ujung tombak industri pariwisata dimana sejak orang keluar untuk berwisata sejak itu dibutuhkan peran dari tugas-tugas seorang Guide. Asosiasinya yaitu Himpunan Pramuwisata Indonesia merupakan salah satu dari 46 anggota asosiasi dunia World Federation or Tourist Guide Associations. Bahwa fungsi terpenting Pemandu Wisata adalah menghubungkan wisatawan dengan pusat-pusat ikon destinasi dan khazanah budaya lokal. Tidak berlebihan seorang Guide adalah guru, informan, juru terang, wartawan, humas, pemandu, penerjemah, pendamping, penghibur, motivator, seniman bahkan sebagai pekerja budaya. Profesi Tourist Guide di samping bertugas pokok memandu wisatawan, ia mampu berperan lebih strategis bagi kemajuan industri pariwisata nasional. Dalam sebuah Konferensi Guide Se-Dunia di Bali bulan Januari 2009, Organisasi WFTGA menempatkan Asosiasi pada peran ideal juga marketing system tak tergantikan, diprediksi era mendatang adalah terbukanya akses global pada Pariwisata Budaya dimana Nusantara menjadi titik penyangga peradaban dunia. Baik secara individu maupun organisasi tatalaksana kepemanduan HPI, pemberdayaan profesi Tourist Guide harus terus ditingkatkan. Selain mendampingi dan menerangkan ditail obyek wisata dan potensi destinasi lokal pada para wisatawan, tugas melekat mereka adalah sales marketer produk-produk pariwisata (https://hpijogja.wordpress.com), namun sekaligus ikut menjaga daya tarik wisata dari pihak-pihak yang melakukan kerusakan (fandalisme). Yaitu perbuatan siapapun yang mengubah warna, bentuk, menghilangkan spesies tertentu, mencemarkan lingkungan, memindahkan, mengambil, menghancurkan, atau memusnahkan daya tarik wisata sehingga berakibat berkurang atau hilangnya keunikan, keindahan, dan nilai autentik suatu daya tarik wisata yang telah ditetapkan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah. Tugas Pemandu Wisata dan Pengusaha terkait lain bisa pula dirujuk dalam UU 10/Thn 2009 Pasal 20, bahwa setiap wisatawan berhak memperoleh: a. informasi yang akurat mengenai daya tarik wisata; b. pelayanan kepariwisataan sesuai dengan standar; c. perlindungan hukum dan keamanan; d. pelayanan kesehatan; e. perlindungan hak pribadi; dan f. perlindungan asuransi untuk kegiatan pariwisata yang berisiko tinggi. Yang tergolong “usaha pariwisata dengan kegiatan berisiko tinggi” meliputi, antara lain wisata selam, arung jeram, panjat tebing, permainan jet coaster, dan mengunjungi objek wisata tertentu, seperti melihat satwa liar di alam bebas. Kondisi wisata ’telusur Goa’ maupun karakteristik pantai yang memiliki risiko bagi kunjungan wisatawan perlu dipersiapkan dengan baik terutama bagi Pemandu Wisata dan pelaku di lapangan.

Gua Gong: Destinasi Unggulan Jawa Bagian Selatan

Melihat potensi alam Jawa bagian selatan yang berbukit kapur, diketahui memiliki daya tarik wisata Gua, seperti di Watulimo Trenggalek, Cerme dan Selarong Jogja atau Gua Jatijajar di Kebumen yang ditemukan tahun 1802. Paling fenomenal Gua Gong yang terletak di Kabupaten Pacitan yakni gua horizontal dengan panjang sekitar 256 meter di Dusun Pule, Desa Bomo, Kecamatan Punung, sekitar 30 Km dari Kota Pacitan. Disebut gong menurut cerita, karena dari dalamnya terdengar bunyi-bunyian yang menyerupai suara gong. Alkisah sekitar tahun 1930, di musim kemarau yang berkepanjangan, air sangat sulit diperoleh, untuk air minum dan keperluan sehari-hari warga mengalami kekurangan. Warga berinisiatif untuk mencari air ke dalam gua dan menemukan sendang lalu mandi di dalamnya. Selama 65 tahun dibiarkan terbengkalai, barulah 5 Maret 1995, dimulai eksplorasi terhadap gua tersebut (www.pacitanweb.com). Diketahui kemudian Gua Gong memiliki lima sendang dengan stalaktit dan stalagmit khas yang paling indah di Asia Tenggara.

Menyusuri jalan menuju lokasi gua ini sebenarnya sudah merupakan wisata tersendiri. Wisatawan akan dimanjakan dengan deretan bukit gamping dan hijaunya hutan jati yang menghiasi sisi kanan dan kiri jalan. Memasuki lorong pertama gua, wisatawan akan disambut oleh deretan ornamen yang memenuhi langit-langit gua. Semakin melangkah ke dalam, kian banyak stalaktit dan stalagmit menyambut, memadati lorong gua, menghiasi tiap meter sisi tangga. Ornamen-ornamen itu diperkirakan berusia ratusan tahun. Di beberapa tempat, stalaktit dan stalagmit bertemu hingga membentuk tiang (column) yang menyerupai pilar-pilar bangunan gotik. Ornamen itu terlihat lebih indah karena terkena pantulan cahaya lampu warna-warni. Satu ornamen yang sangat indah adalah sekumpulan tirai (drapery) raksasa yang dipenuhi oleh bintik-bintik mutiara laksana ribuan pendar cahaya kunang-kunang. Suasana gua yang temaram indah semakin menambah gemerlap ribuan titik-titik kecil itu.

Produk paket wisata unggulan seperti Wisata Goa diatas mesti dikemas dengan baik, sehingga kunjungan wisatawan kesana selalu meningkat. Paket wisata dengan minat khusus demikian membutuhkan manajemen berkelanjutan, kerjasama semua pihak dengan komitmen dan kreativitas yang mendukung. Ciri-ciri paket wisata unggulan bagi wisatawan antara lain; produk itu menonjol, unik, berarti, akses mudah, harga bersaing dan lingkungan yang mengesankan kunjungan. Disamping itu wisatawan akan kembali datang ke suatu Daerah Tujuan Wisata atas realisasi pelayanan Tuan Rumah yang baik, maka Permen no. PM 04/UM 001/MKP/2008 tentang Sadar Wisata butuh dilaksanakan. Mengintensifkan Slogan Sapta Pesona dengan variasi agenda kegiatan Sadar Wisata dari kreativitas masyarakat lokal adalah langkah mendesak bagi segenap elemen pariwisata. Pemerintah perlu terus memfasilitasi Gerakan ini menjadi pertemuan kedasadaran baru masyarakat, bahwa Pok Darwis bisa mengantar mereka kepada tujuan kesejahteraan dan Citra Destinasi Wisata yang nyaman. ***

*) Makalah ketua DPD HPI DIY 2009-2013; disampaikan dalam Lokakarya bertema “Fasilitasi Pengembangan Usaha Pariwisata” tanggal 15 Juli 2009 di Pacitan Jawa Timur, diselenggarakan oleh Direktorat Pengembangan Destinasi Pariwisata, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Jakarta.

5 thoughts on “Peran Guide dalam Bina Usaha Wisata

  1. hpijogja Penulis Tulisan

    @ista. pls dibagi ilmu webnya pd yang lain.
    @sef. gpp bagung aja ke hpi jika pas kesana.

    qt berhrp usaha ini meningkat ke fokus yg bersinggungan dengan guide yakni “usaha jasa pramuwisata” seperti semangat Koperasi HPI DIY

    modin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s